Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
159. S2 - Bingung mau apa


__ADS_3

Acara resepsi berlangsung dengan sangat meriah. Lima ribu tamu undangan tampak memenuhi tempat diselenggarakan acara tersebut. Sepasang pengantin baru, berdiri menyalami tamu yang berbaris mengantre.


Terlihat Nayla sudah sangat kelelahan, Aydin yang tahu sang istri sudah sangat kelelahan pun memintanya kembali ke ruangan. Namun, ditolak oleh wanita itu.


“Nay, kamu kembali ke kamar saja, biar aku sendiri yang menyalami para tamu,”  ucap Aydin yang tidak ingin istrinya kelelahan.


“Tidak apa-apa, Mas. Aku masih kuat, kok, lagian mana ada pengantin pria seorang diri menyalami tamu. Nanti ada wanita yang menempati tempat di samping kamu lagi,” ucap Nayla dengan nada bercanda.


“Kamu bisa saja, aku tidak akan pernah membiarkan wanita manapun menempati tempat yang sudah kamu tempati. Kamu bisa pegang kata-kataku.”


Nayla tersenyum dia sangat senang mendengar ucapan Aydin. Istri mana yang tidak senang jika mendengar kata-kata menyejukkan seperti itu. Entah itu sebuah gombalan atau tidak yang pasti dia sangat senang bisa berdiri di sini, bersama pria yang sudah mengisi hatinya.


“Untung papa tidak mengundang semua relasinya, kalau diundang semua bisa mati berdiri kita,” gumam Aydin dengan menarik napas panjang.


“Segini banyak belum semua, Mas?” tanya Nayla dengan menatap suaminya.


“Belum, ini tidak seberapa, banyak yang tidak diundang.”


Nayla memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pusing. Dia tidak tahu harus berkata apa, tetapi untungnya sang mertua sangat baik padanya dan tidak mengundang semua relasinya. Ini saja sudah membuatnya kelelahan.


Wanita itu masih menemani sang suami, tetapi saat ini posisinya sambil duduk, itu pun dengan paksaan Aydin tentunya.


Ucapan selamat mengalir dari setiap bibir orang yang datang. Banyak doa juga yang diperuntukkan untuk pasangan pengantin. Hingga tidak terasa waktu hampir tengah malam dan satu persatu tamu mulai meninggalkan gedung.


Acara resepsi telah usai. Pasangan pengantin pergi menuju sebuah hotel milik Emran yang berada di dekat gedung. Aydin mengajak istrinya menuju sebuah kamar yang memang diperuntukkan untuk mereka. Sebuah ruangan pribadi yang biasanya digunakan oleh Emran sekeluarga selama tinggal di sana.


Nayla memandang takjub kamar hotel itu. Dia tidak menyangka akan melihat kamar hotel semewah ini, lebih tepatnya seperti sebuah rumah karena menggunakan satu lantai. Ada beberapa kamar tidur juga di sana.


“Kenapa malah berdiri di sana? Ayo, masuk!” ajak Aydin yang diangguki oleh Nayla.


“Kenapa kita tidak di kamar yang biasa saja? Ini terlalu besar," tanya Nayla dengan melihat sekelilingnya.


“Tidak apa-apa, ini memang ruangan untuk keluarga saat ada pesta di sekitar sini.”


“Lalu, kenapa sekarang semuanya tidak menginap di sini?”

__ADS_1


“Mereka tidak akan mau. Takut mengganggu kita.”


“Tapi aku yang merasa tidak enak, masa ruangan sebesar ini hanya tinggal kita berdua. Di sini juga banyak kamar.”


Aydin tidak mempedulikan gerutuan istrinya. Dia menggenggam telapak tangan Nayla dan membawanya ke sebuah ruangan. Wanita itu hanya menurut saat sang suami menarik tangannya.


Wanita itu membelalakkan matanya melihat pemandangan yang ada di kamar. Semua lengkap dengan hiasan seperti layaknya pengantin baru. Nayla tidak pernah berharap seperti ini, tapi diperlakukan seperti ini juga membuatnya senang sekaligus malu.


"Kamu mandilah dulu, bajunya ada di lemari yang ada di sana," tunjuk Aydin pada sebuah lemari yang ada di sudut kamar.


"Kapan kamu membeli baju itu? Bagaimana kamu tahu ukuran tubuhku? Kamu, kan, tidak pernah bertanya padaku?" tanya Nayla beruntun dengan menatap Aydin.


"Bunda yang membelikannya. Aku juga tidak begitu mengerti tentang pakaian seorang wanita."


"Baiklah, aku mandi dulu."


Nayla mengambil baju yang ada di lemari dilihat dari kainnya saja, Nayla tahu jika baju itu pasti sangat mahal. Namun, dia tidak mau protes. Biarlah mereka melakukan apa yang mereka sukai saat ini. Wanita itu menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai, Nayla keluar, tetapi dia tidak mendapati Aydin di sana. Wanita itu memutuskan untuk keluar. Nayla ingin mencari sesuatu untuk dimakan, perutnya sudah sangat lapar sedari tadi. Saat sedang sibuk di dapur. Aydin datang dan mengejutkannya.


"Kamu cari apa, Nay?" tanya Aydin.


"Tidak perlu, nanti akan ada pelayan yang mengantar ke sini. Di sini juga tidak ada apa-apa."


"Iya, Mas. Tadi aku mencoba mencari sesuatu, ternyata tidak ada apa pun di lemari pendingin. Cuma ada minuman sama buah."


Tidak lama terdengar suara bel berbunyi. Nayla segera keluar untuk membukakan pintu ternyata benar seorang pelayan yang sedang mengantarkan makanan untuk mereka.


"Silakan dinikmati, Tuan, Nyonya. Saya permisi dulu," ucap pelayan itu sebelum meninggalkan ruangan.


"Iya, terima kasih," sahut Nayla.


"Mas, makanan sudah datang. Ayo, makan!" Nayla memanggil Aydin yang berada di kamar.


"Iya."

__ADS_1


Mereka makan dengan lahap, karena mereka sudah sangat lapar. Usai makan Nayla membereskan piring. Sementara Aydin pergi ke kamarnya.


Selesai dengan pekerjaannya, Nayla akan pergi ke kamar, tetapi tiba-tiba dia berpikir, apa yang akan dilakukan Aydin nanti? Wanita itu mondar-mandir di depan pintu, tidak tahu bagaimana caranya dia masuk.


Aydin yang sedang menunggu di kamar pun heran karena sedari tadi Nayla tidak kunjung masuk. Seharusnya dia sudah selesai dengan pekerjaannya. Wanita itu hanya membereskan dua piring jadi, tidak perlu membutuhkan waktu lama.


Pria itu pun memutuskan untuk melihat sang istri. Saat membuka pintu Aydin terkejut melihat Nayla yang mondar-mandir di depan pintu. Begitupun dengan wanita itu yang terkejut melihat pintu terbuka.


"Kamu kenapa mondar-mandir di sana, Nay?" tanya Aydin dengan menyernyitkan keningnya.


"Tidak ada, hanya ... hanya ... itu, hanya ...." Nayla tidak melanjutkan kata-katanya. Dia bingung harus mengatakan apa.


Aydin menatap Nayla dengan intens dan akhirnya dia mengerti, tanpa harus dijelaskan. Pria itu hanya tersenyum sambil memandang sang istri.


"Ya sudah, ayo, masuk! Sudah malam, sebaiknya kita tidur."


Nayla pun memasuki kamar. Dia tidak tahu, apa yang harus dilakukannya kini. Wanita itu hanya menurut apa pun yang dikatakan oleh suaminya.


"Ayo, sini tidur," perintah Aydin dengan menepuk kasur disebelahnya."


Nayla bagai kerbau yang dicocok hidungnya, hanya menurut saja tanpa banyak bertanya. Tidak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya.


"Jangan takut, aku tidak akan melakukannya malam ini. Aku tahu kamu sangat lelah jadi, sebaiknya kita tidur saja," ucap Aydin. "Bolehkan aku tidur dengan memelukmu?" tanya Aydin yang hanya diangguki oleh Nayla.


Aydin memeluk sang istri dengan erat. Dia sangat bahagia, akhirnya semua berjalan sesuai keinginannya. Nayla pun ikut memeluk sang suami. Ini pertama kali bagi mereka tidur dengan lawan jenis.


Status mereka kini berubah. Prioritas mereka juga berubah, tetapi baik Aydin maupun Nayla tidak akan pernah melupakan orang-orang yang mereka sayangi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


 


__ADS_2