
Hari ini Aydin dan Nayla akan pindah ke apartement milik pria itu. Yasna dan Rani ikut membantu. Sementara Emran tetap pergi ke kantor. Afrin juga pergi ke sekolah diantar papanya.
Mereka tidak perlu lagi membersihkan apartement itu karena sebelumnya, Aydin sudah membayar orang untuk membersihkan semua ruangan. Tanpak beberapa barang baru yanf sengaja dibeli oleh pria itu.
Keadaan Nayla sudah membaik. Tamu bulanannya sudah datang. Hal itu tentu saja membuat Aydin kecewa karena harus libur dulu untuk menikmati malam syahdu dan bergelora bersama istrinya.
Yasna dan Rani pergi ke supermarket terdekat. Tidak ada bahan makanan apa pun di lemari pendingin. Di apartement hanya tinggal Aydin dan Nayla. Kesempatan yang tidak ingin disia-siakan oleh pria itu.
Aydin melihat Nayla sedang menata baju di lemari. Pria itu segera memeluk istrinya dari belakang membuat wanita itu memekik karena terkejut.
"Mas, ngagetin aja. Kalau aku jantungan gimana?" gerutu Nayla.
"Dari tadi kamu sibuk terus, aku sampai dicuekin," gumam Aydin dengan hidungnya yang menelusuri leher jenjang Istrinya.
"Siapa yang nyuekin kamu, Mas? Kita semua sama-sama sibuk bukan?" sahut Nayla pelan. Dia merasa kegelian karena ulah suaminya.
"Makanya kamu jangan sibuk. Ini biar nanti Rani saja yang beresin. Kamu duduk saja sama aku. Kita pindah ke sini juga biar bisa berduaan, kan?"
Sebelumnya, memang Aydin mengatakan jika mereka akan lebih leluasa saat tinggal berdua saja. Nayla termasuk wanita yang pemalu untuk menunjukkan kemesraannya di depan orang lain, ataupun keluarganya sendiri.
"Baiklah, ayo, duduk! Tapi, jangan minta Mbak Rani beresin. biar nanti aku yang beresin sendiri. Keperluan suamiku hanya aku yang boleh menyentuhnya."
"Iya, terserah kamu saja."
Nayla duduk di ranjang dengan bersandar di kepala ranjang. Sementara Aydin memilih berbaring dengan berbantalkan paha Nayla. Kepala pria itu menghadap ke perut istrinya.
"Sayang, kamu ingin punya anak berapa?" tanya Aydin sambil mengusap perut Nayla. Sesekali pria itu mencium perut istrinya yang datar dan tertutup oleh baju.
"Aku sedikasihnya saja, Mas. Berapa pun anak kita nanti, aku pasti akan sangat senang," jawab Nayla dengan tersenyum. "Tapi, Mas, bagaimana kalau aku tidak bisa memberikan kamu anak? Apa kamu akan meninggalkanku?"
Setiap wanita pasti memiliki rasa takut yang sama, seperti yang Nayla rasakan. Berbagai macam pikiran buruk terbayang dalam benak setiap orang. Hanya doa yang mereka gantungkan agar apa yang ditakutkan tidak terjadi.
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu. Ada pepetah mengatakan ucapan adalah doa jadi, jaga setiap kata yang keluar dari mulutmu."
"Maaf, Mas. Aku hanya takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," sahut Nayla dengan menundukkan kepalanya dan otomatis Aydin bisa melihat wajah istrinya yang sedih.
Pria itu segera bangun dari tidurnya dan merangkul pundak Nayla agar istrinya itu bersandar padanya. Sekuat-kuatnya wanita, pasti juga membutuhkan tempat bersandar dan Aydin tahu itu.
"Aku ingin menceritakan sesuatu tentang bunda. Aku menceritakannya tidak ada maksud apa pun, hanya ingin kamu tahu bahwa keluargaku tidak mempermasalahkan kekurangan setiap orang," ujar Aydin. Dia terdiam sejenak ingin melihat reaksi istrinya.
Nayla pun terdiam, dia merasa ada sesuatu tentang Yasna dan itu sangat penting. Wanita itu menunggu sang suami melanjutkan ceritanya.
"Sebenarnya, Bunda Yasna bukanlah ibu kandungku. Papa menikah dengan bunda saat usiaku dua belas tahun. Saat pertama kali papa membawa bunda ke rumah, aku tidak menyukainya, aku sering berbuat jail dan juga mengerjainya."
Mengalirlah cerita Aydin tentang perkenalannya dengan Yasna hingga kini dia telah menikah. Pria itu menceritakan semua tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Bahkan untuk hal yang sangat kecil pun dia ceritakan.
Nayla sempat terkejut. Dia tidak menyangka jika Yasna hanya ibu sambung karena wanita itu begitu tulus menyayangi Aydin dan Afrin. Siapa pun pasti akan merasakan hal yang sama saat berada ditengah-tengah keluarga itu.
"Bunda tidak pernah sekali pun marah padaku apalagi pada Afrin. Dia selalu sabar menghadapi kenakalan kami. Itu juga yang membuat keluarga kami begitu menyayanginya, termasuk keluarga almarhumah mama. Bunda juga selalu mengingatkan kami untuk datang ke makam mama. Besok kita ke makam mama, ya? Aku belum mengenalkanmu padanya," ucap Aydin.
"Karena itu jangan pernah berpikiran buruk tentang aku dan keluargaku. Kami bukan orang yang suka ikut campur urusan pribadi masing-masing. Hanya jika kami terlibat masalah, baru mereka akan turun tangan."
"Memangnya, Mas, pernah terlibat masalah?" tanya Nayla dengan menatap Aydin.
"Sepertinya, bunda sudah datang. Ayo, kita keluar! Tidak enak di kamar terus," ucap Aydin mengalihkan pembicaraan.
Pria itu menarik tangan Nayla agar mengikutinya. Wanita itu hanya menurut. Dia tidak tahu jika tujuan Aydin mengajaknya keluar kamar, hanya untuk mengalihkan pembicaraan.
Aydin bersyukur saat melihat Yasna sudah ada di dapur bersama Rani. Terlihat begitu banyak yang dibeli oleh bundanya membuat pria itu menggelengkan kepalanya.
"Bunda, ini mau dimakan berapa orang? Di sini cuma ada aku dan Nayla. Kenapa beli bahan makanan segini banyak?" tanya Aydin.
"Buat persediaan nanti. Kalian sama-sama kerja, pasti sibuk jadi, Bunda sengaja belanja banyak."
__ADS_1
"Terserah, Bunda, saja."
"Afrin sama papa nanti ke sini. Kita makan malam buat merayakan kepindahan kamu. Tidak apa-apa, kan?"
"Tidak apa-apa, tapi Bunda jangan masak. Biar aku pesenin saja. Bunda di rumah sudah masak masa di sini masak juga?"
Aydin tahu, Yasna pasti senang saat diminta memasak, tetapi dia tidak ingin memperlakukan orang tuanya seperti pembantu di tempat tinggalnya. Pria itu lebih suka berbincang dan bercanda bersama bundanya.
*****
Malam hari semua berkumpul di ruang tengah. Mereka menggelar permadani untuk makan bersama karena meja makan tidak muat. Berbagai hidangan sudah berjajar di sana.
Rani juga ikut serta kali ini. Yasna sudah mengatakan kalau hari ini ART-nya itu harus melupakan statusnya untuk hari ini dan menganggap mereka keluarga. Meski wanita itu mengangguk, tapi dia masih membatasi diri dan Yasna tidak mau memaksa.
"Kak, kalau aku lagi males pulang, aku boleh nginap di sini?" tanya Afrin.
"Tidak boleh." Bukan Aydin yang menjawab, tetapi Yasna.
"Kenapa tidak boleh, Bunda?" tanya Afrin dengan cemberut.
"Kalau semua anak Bunda pergi, Bunda sama siapa?" Suara Yasna sudah mulai serak.
Dia sudah menahannya sedari pagi untuk tidak menangis dengan kepindahan Aydin. Akan tetapi, wanita itu sudah benar-benar tidak bisa menahan air matanya lagi. Semakin ditahan, semakin sesak pula dadanya.
.
.
.
.
__ADS_1
.