Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
116. S2 - Dipecat


__ADS_3

Di ruangan kerja Emran, hawa di sekitar ruangan terasa dingin. Ketiga orang yang tengah berdiri hanya bisa terdiam dengan menundukkan kepala mereka. Tidak ada satu pun yang berani untuk duduk, padahal sofa di ruangan itu masih kosong.


Emran menatap ketiga orang tersebut dengan saksama. Sangat disayangkan karena mereka terlihat seperti orang-orang baik. Terutama untuk Sapto, dia sudah cukup lama bekerja di perusahaan ini. Emran dengan terpaksa harus memberhentikannya. Dia tidak bisa memaklumi kesalahannya.


"Maaf sebelumya, tapi karena kalian sudah membuat keributan di perusahaan saya. Terutama dengan skandal yang kalian miliki, terpaksa saya memecat kalian, tapi kalian tenang saja, saya tidak akan memblacklist kalian jadi, kalian bisa mencari pekerjaan di perusahaan lain," ucap Emran akhirnya setelah terdiam cukup lama.


"Pak, saya mohon jangan pecat saya," ucap Sapto sambil bersujud di depan Emran. Dia tidak ingin kehilangan pekerjaannya. Usianya tidak muda lagi, pasti akan sangat sulit mencari pekerjaan.


Hati Emran tidak akan luluh. Dia sudah tahu mengenai apa yang terjadi. Pria itu paling tidak suka dengan seorang penghianat. Bisa saja suatu hari nanti, dia akan dihianati.


"Maafkan saya, tekad saya sudah bulat dan keputusan tidak bisa diganggu gugat. Sebaiknya Anda meninggalkan perusahaan ini dengan segera, kalau tidak mungkin satpam yang akan bertindak. Saya tidak suka dengan kekerasan."


Sapto pun tidak bisa membela dirinya lagi. Dia tahu kesalahannya sangat fatal. Seharusnya dia bisa menjaga diri agar tidak terbawa nafsu.


" Apa, Bu Sapto, tidak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Emran.


"Tidak, Pak, saya tahu keputusan Anda sangat tepat dan saya sangat mendukungnya," jawab Bu Sapto.


"Apa Anda tidak takut dengan penghasilan suami Anda akan berkurang? Cukup besar juga gaji suami Anda sebagai kepala HRD."


"Tidak, Pak, karena selama ini juga saya menghidupi diri saya dengan kerja keras saya sendiri. suami saya hanya bekerja mencari uang untuk kesenangan pribadinya jadi, tidak ada pengaruhnya untuk saya."


Emran menganggukkan kepalanya. Dia tahu keputusannya sudah sangat tepat hari ini. Suami macam apa yang tidak memberi nafkah pada istrinya. Padahal gajinya cukup besar.


"Kamu, apa tidak ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Emran pada Airin.


"Ada, Pak, tapi saya ingin bicara berdua saja dengan Anda."


"Kenapa hanya berdua? Apa ini suatu rahasia?"


"Iya, Pak," jawab Airin mantap.


Sapto dan istrinya pun segera pergi setelah tahu Airin hanya ingin berbicara berdua saja. Pasangan suami istri itu tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka.


"Kami permisi dulu, hanya saja sebelum saya pergi, saya ingin mengatakan kepada Anda, Pak Emran. Jangan mudah tergoda dengan ular betina. Terima kasih, saya permisi." Bu Sapto pergi lebih dulu diikuti sang suami dari belakang.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Emran setelah kini hanya tinggal mereka berdua.


"Tolong jangan pecat saya. Saya akan memberikan apa pun yang Anda minta, asal saya masih bisa bekerja di sini," ucap Airin dengan suara dibuat selembut mungkin.


"Sayangnya saya tidak tertarik dengan apa pun yang kamu miliki karena saya sudah memiliki semuanya. Bahkan apa yang saya miliki jauh lebih berharga dari apa yang kamu punya. Satu lagi, saya tidak suka barang bergilir."


"Apa Anda tidak tergoda dengan kecantikan saya? Saya bisa memuaskan anda. Saya juga yakin kalau saya lebih hebat daripada istri anda."

__ADS_1


"Ternyata kamu lebih liar dari yang saya kira."


"Jadi Anda sudah mengenal saya sebelumnya?" tanya Airin dengan senyum menggoda. Dia sudah percaya diri bahwa Emran akan tergoda. Gadis itu mengira jika pria yang ada dihadapannya ini tahu tentang dirinya pasti dari rekan kerjanya. Mengingat sudah banyak sekali partner Airin.


"Tidak hanya mengenal saja. Saya juga tahu kamu menjalin hubungan dengan putra saya."


"Putra Anda? Siapa? Mas Aydin?"


"Iya, dia putra saya satu-satunya."


Airin terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa, Aydin yang selama ini dikenalnya sebagai pria biasa saja, ternyata putra dari pemilik peeusahaan ini.


"Jadi, Mas Aydin itu putra Anda?"


"Iya dan saya bersyukur karena dia sudah memutuskan hubungan kalian. Kalau tidak, saya tidak tahu bagaimana masa depannya nanti, memiliki istri sepertimu. Sudah tidak ada yang ingin kau bicarakan, bukan? Sebaiknya kamu segera pergi, sebelum satpam yang menyeret mu."


Mau tidak mau, Airin segera meninggalkan ruangan Emran dengan langkah gontai. Dia masih tidak percaya dengan apa yang gadis itu dengar. Bahwa Aydin ternyata putra dari pemilik perusahaan ini. Airin sungguh menyesal karena telah menyia-nyiakan pria itu. Seharusnya dia bisa bersama Aydin saat ini.


'Kenapa aku bisa begitu bodoh. Bukankah selama ini Mas Aydin sudah menunjukkan jika dia orang kaya. Dia sering mengajakku ke restoran mewah, juga ke tempat-tempat yang bagus. Meski hanya memakai motor. Bodoh ... bodoh ... bodoh ...." Airin memukuli kepalanya karena kebodohannya.


Setelah beberapa detik berpikir, dia teringat sesuatu. Wanita itu segera mencari ponselnya dan mencoba menghubungi Aydin. Airin akan berusaha untuk mengambil hatinya kembali. Apa pun pasti akan dia lakukan.


Dia yakin jika Aydin masih memiliki perasaan padanya. Satu kali panggilan tidak ada yang mengangkatnya. Airin tidak putus asa, dia melakukan panggilan lagi hingga panggilannya diangkat. Terdengar suara laki-laki dari seberang.


"Halo, mas. Boleh saya bertemu? Saya ingin membicarakan sesuatu."


"Maaf, ya, Rin. Aku sedang bekerja, kalau kamu mau ketemu, nanti saja sepulang kerja."


"Iya, tidak apa-apa. Nanti saya tunggu di depan perusahaan, ya, Mas."


"Iya, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Aydin merasa heran. Kenapa Airin tiba-tiba menghubunginya? Padahal selama mereka menjalin hubungan, tidak pernah sekalipun gadis itu menghubunginya. Selalu Aydin yang lebih dulu menghubungi. Dia mencurigai sesuatu, segera pria itu melakukan panggilan pada Papanya.


"Halo, Pa. Papa bongkar rahasiaku?"


"Iya."


"Kenapa Papa membongkarnya? Bagaimana kalau dia bilang ke semua orang?"


"Dia tidak akan membongkarnya. Kalau dia membongkarnya berarti dia harus siap kehilangan kamu. Dia nggak akan mungkin mengatakan pada siapapun, sebelum dia mendapatkan kamu."

__ADS_1


"Kenapa Papa bisa begitu yakin?"


"Karena dia ingin memiliki kamu. Tidak mungkin dia memberi celah pada orang lain untuk memilikimu. Kalau orang lain sampai tahu siapa kamu, pasti mereka akan mengejarmu dan kesempatan Airin akan sangat kecil."


"Hah, Papa terlalu menyanjungku."


"Lihat saja pasti benar pemikiran Papa."


"Aku jadi curiga, Papa pasti dirayu, kan, sama dia?"


"Nggak, mana ada Papa dirayu," kilah Emran. Dia tidak ingin putranya tahu bahwa memang benar dirinya dirayu oleh seorang gadis. Apalagi gadis itu pernah menjadi kekasih putranya.


"Aku tidak percaya sama papa."


"Terserahlah, lanjutkan saja pekerjaanmu. Jangan ganggu Papa. Papa punya banyak pekerjaan." Emran segera menutup panggilan, membuat Aydin mendengus. Pasti terjadi sesuatu tadi di ruang kerja Emran jika tidak, mana mungkin papanya itu salah tingkah.


Tidak mau terlalu memikirkan hal itu. Aydin kembali fokus pada pekerjaannya. Mengenai Airin biarlah nanti sepulang kerja dia berbicara dengan gadis itu.


Sementara Airin yang saat ini berada di Sebuah taman terlihat bingung. Dia tidak tahu harus mencari pekerjaan di mana lagi, sedangkan pengobatan ayahnya masih terus berjalan dan masih membutuhkan banyak uang. Tidak lama setelah itu ponsel yang berada di dalam tasnya berdering. Tertera nama mamanya di sana.


"Halo, Ma."


"Rin, ayahmu sudah tidak ingin melanjutkan pengobatannya lagi."


"Apa maksud, Mama? Kenapa ayah tidak mau melanjutkan pengobatannya?"


"Dia melihat video kamu di ponsel. Kamu bersama seorang wanita di perusahaan tempat kamu bekerja. Wanita itu mengatakan kalau kamu menjadi simpanan pria kaya. Apa itu Benar, Rin?"


Airin terkejut. Dia tidak menyangka jika apa yang terjadi di perusahaan telah menyebar di media sosial. Kejadiannya bahkan masih dua jam yang lalu.


"Mama lihat video apa? Yang ada di video pasti orang lain!" kilah Airin.


"Kami sudah melihat semuanya. Kamu tidak perlu berbohong. Ayah sudah memutuskan untuk memberhentikan pengobatannya dia tidak mau berobat dengan uang haram."


"Mama jangan percaya. Itu bukan aku."


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2