Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
158. S2 - Panggilan Sayang


__ADS_3

Aydin kembali ke kamarnya dengan membawa sebuah nampan, yang berisikan dua piring makanan dan dua gelas jus. Saat memasuki kamar dilihatnya Nayla sudah tertidur. Mungkin karena terlalu lelah. Pria itu meletakkan nampan yang berisi makanan tadi ke atas meja. Dia mendekati sang istri dan menyelimutinya.


Aydin pun ikut membaringkan tubuh di samping wanita itu. Pria itu mengecup kening Nayla dan memeluk tubuh mungil sang istri. Dia mengangkat sedikit kepala wanita itu agar bisa berbantalkan lengannya. Aydin ikut memejamkan matanya, hingga tidak terasa dia juga ikut terlelap.


Dua jam lebih, akhirnya Nayla terbangun. Dia terkejut melihat dirinya berada dalam pelukan Aydin. Ini pertama kalinya dan wanita itu merasa asing. Nayla tidak juga beranjak, dia memandangi wajah tampan sang suami.


Dia tidak pernah melihat pria itu dengan jarak sedekat ini. Tadi saat Aydin mengecup keningnya pun dia tidak sadar, sehingga tidak melihat wajah sang suami, tapi kini dia benar-benar sadar dan jarak wajah mereka pun sangat dekat. Nayla mengulurkan tangannya mencoba mengusap wajah sang suami. Namun, dia urungkan. Wanita itu takut Aydin terbangun.


Nayla melihat sebuah lengan berada di pinggangnya. Dia mencoba melepaskannya dengan perlahan, tetapi pelukan itu malah semakin erat. Ternyata sang suami sudah terbangun. Benar saja saat wanita itu melihat ke arah sang suami ternyata, matanya sudah terbuka.


"Mau ke mana, Sayang?" tanya Aydin dengan suara lembut.


Nayla mematung. Baru kali ini Aydin memanggilnya dengan panggilan sayang. Sebelumnya dia hanya memanggil dengan nama.


"Kenapa diam? Bolehkan aku memanggil sayang?" tanya Aydin.


"Terserah, Mas, saja. Apa panggilan yang membuat nyaman."


Nayla tersenyum saat Aydin menatapnya.


"Ayo, kita makan dulu! Kamu pasti sudah lapar, kan? Tapi makanannya pasti sudah dingin. Sudah kita tinggal tidur hampir dua jam."


"Tidak apa-apa, Mas. Saya bukan pemilih soal makanan, lagi pula itu seharusnya menjadi tugas saya untuk menghidangkan makanan untuk Mas, tapi ini malah Mas yang ngambil."


"jangan terlalu memikirkan hal itu. Saat kita hidup bersama-sama nanti, semua pekerjaan kita lakukan bersama," ucap Aydin yang diangguki Nayla. "Oh, ya, kita perlu membahas tentang tempat tinggal kita nanti. Aku terserah kamu, mau tinggal di mana. Di rumah kamu, Papa atau kita tinggal di apartemen milikku."


"Mas punya apartemen?" tanya Nayla.


"Punya, aku juga kadang tinggal di sana saat aku malas berkendara pulang ke rumah."


"Berarti tempatnya dekat dengan perusahaan tempat Mas bekerja?"


"Iya," jawab Aydin. "Tapi semua terserah kamu mau tinggal di mana."


"Mas, sudah tanya sama Papa dan Bunda?"

__ADS_1


"Aku belum membicarakan apa pun pada mereka. Aku ingin dengar pendapatmu dulu. Kalau kamu sudah memutuskan pilihan, baru aku akan membicarakannya dengan bunda dan papa."


"Sebenarnya aku ingin tinggal sendiri, bukan maksud aku untuk tidak mau bersama dengan orang tua, Mas. Hanya saja aku pasti lebih bisa mandiri kalau hanya berdua," ucap Nayla hati-hati.


Gadis itu tidak ingin menyakiti hati Aydin apalagi orang tuanya, yang sudah sangat baik padanya. Dia hanya ingin melayani suaminya dengan baik karena Nayla tahu, jika mereka tinggal bersama orang tua Aydin, pasti semua sudah ada yang menyiapkan dan gadis itu tidak ingin seperti itu.


"Baiklah, sudah putuskan kalau kita akan tinggal di apartemen. Nanti kita bicara sama bunda, papah dan ayah," ujar Aydin. "Ya sudah, ayo, kita makan! Keburu periasnya datang."


Nayla segera beranjak mengikuti sang suami yang sudah lebih dulu berjalan. Mereka duduk di sofa dan menikmati makan siang dengan sesekali saling pandang dan tersenyum.


*****


Seluruh keluarga sudah berkumpul di tempat yang akan dijadikan tempat resepsi. Mereka berkumpul disatu meja sambil menunggu pengantin memasuki ballroom.


“Silakan dinikmati, Pak Roni. Maaf jika hidangannya tidak sesuai karena acaranya mendadak jadi, kami juga tidak sempat mencicipinya terlebih dulu. Semua makanan kami hanya memilih lewat gambar saja," ucap Emran.


“Tidak apa-apa, ini juga sudah sangat mewah untuk kami. Seharusnya kami berterima kasih, Anda sudah menggelar acara semewah ini," sahut Roni.


Rini yang mendengarnya, hanya bisa berdecih. Dia sudah sangat tahu bagaimana watak mantan kakak iparnya itu. Sudah dipastikan hanya untuk mencari muka saja pada besannya.


“Saya sayang memakannya, Mbak. Ini cantik banget makanannya," jawab Rini dengan menatap makanan yang ada di depannya.


Yasna tertawa kecil. “Mbak, bisa saja. Dimakan saja tidak apa-apa. Nanti ambil lagi buat bawa pulang.”


“Boleh, Mbak Yasna?”


“Tentu boleh," jawab Yasna dengan tersenyum.


Dia teringat saat pertama kali Emran mengajaknya ke pesta. Wanita itu ingin makanannya dibungkus saja, untuk dibawa pulang dan suaminya pun menurutinya, meski banyak pasang mata yang melihat kearah mereka. Padahal Emran bisa saja membelinya di restoran mahal, tetapi demi membuat sang istri senang dia menurutinya.


“Baiklah, nanti saya mau bawa pulang.”


“Ibu, bikin malu saja,” bisik Doni yang masih bisa didengar oleh Nayla.


“Tidak apa-apa, Pak Doni. Saya justru senang jika makanannya banyak yang suka. Saya juga kalau mau sesuatu saya bawa pulang. Pak Doni juga kalau mau silakan ambil, jangan sungkan. Kita di sini semua keluarga," sela Yasna.

__ADS_1


“Iya, Bu Yasna.”


Doni merasa sangat malu dengan kelakuan istrinya, tetapi mau bagaimana lagi, memang begitulah Rini dan untungnya keluarga Yasna tidak seperti orang kaya lainnya, yang suka menggunjing bahkan mengolok-olok orang lain. Terutama orang dari kalangan bawah sepertinya.


*****


"Mbak, sudah, jangan tebal-tebal make upnya," pinta Nayla. Dia merasa sedari tadi, bedaknya ditambahi terus. Wanita itu merasa kurang percaya diri jika make upnya terlalu tebal. Nayla sudah terbiasa dengan yang terbiasa


"Tidak tebal, kok, Mbak. Hanya merapikan saja," sahut penata rias.


"Jangan cantik-cantik, Mbak. Aku tidak ingin dia jadi pusat perharian banyak orang," sahut Aydin.


"Mas ini bagaimana, sih, yang namanya pengantin sudah pasti akan menjadi pusat perhatian orang karena orang yang datang sudah pasti ingin melihat bagaimana pasangan pengantin," sahut perias.


Setiap MUA pasti ingin hasil kreasinya tampak cantik dan sempurna, tapi saat ini dia sedang mendapatkan klien yang berbeda karena tidak ingin sang istri terlihat cantik.


Perias itu menghela


Nayla hanya mengulum senyum. Dia tahu perias saat ini sedang menahan kesal karena permintaan dirinya dan sang suami, yang tidak seperti pengantin kebanyakan. Selalu menginginkan tampilan sempurna.


"Maaf, ya, Mbak. Saya tidak terbiasa dengan make up yang sebanyak ini," ucap Nayla dengan nada menyesal.


"Tidak apa-apa, Mbak. Saya mengerti."


.


.


.


.


.


 

__ADS_1


__ADS_2