Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
286. S2 - Nur Hamil?


__ADS_3

Semua sudah selesai makan, begitu pun dengan Papa Hamdan yang makan sendiri tentunya dengan bubur yang dibawakan perawat. Pria itu sudah bisa melakukan kegiatan kecil, meski dengan sangat pelan. Hamdan ingin berbicara dengan Khairi, tetapi dia merasa tidak enak karena ada Merry. Afrin yang mengerti pun segera mengajak mertuanya keluar.


"Ma, ayo, kita keluar! Kita beli baju, Mama, kan, sudah beberapa hari nggak keluar? Pasti bosen. Di sini juga ada Mas Khairi," ajak Afrin.


"Boleh," jawab Merry tanpa banyak beralasan.


Kedua wanita itu pun pergi meninggalkan dua laki-laki berbeda umur itu. Afrin akan mengajak mertuanya ke sebuah butik terdekat. Akan tetapi, Mama Merry menolak.


"Kita ke taman saja, Frin," ucap Mama Merry dengan lesu.


"Kenapa, Ma? Mama nggak mau ke butik? Mau ke tempat lain? Atau ke butik langganan Mama?"


"Tidak perlu, Mama tahu kamu mengajak keluar agar papa dan Khairi bisa bicara berdua," sahut Mama Merry tenang dengan terus melangkahkan kakinya menuju taman yang sepi


"Ma–Mama tahu dari ... mana?"


Afrin terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut mama mertuanya. Dari mana wanita itu tahu? Apa Papa Hamdan yang menceritakannya saat dia keluar tadi? Lalu, kenapa mereka diminta keluar jika semua sudah tahu.


Mama Merry berjalan dan duduk disebuah kursi panjang. Ada banyak orang di sana. Dari anak-anak hingga orang tua, dari yang sehat sampai yang sakit. Wanita itu hanya bisa melihat mereka tanpa mau ikut berbaur.


"Tadi Mama tidak tidur saat kalian membicarakan tentang masa lalu papa."


Afrin duduk di samping Mama Merry dengan pelan, seolah takut kursi itu akan roboh jika diduduki. Semua kata tercekat di tenggorokannya. Rasa bersalah tiba-tiba saja datang.


"Maaf, Ma. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti Mama. Aku hanya ...."


"Mama mengerti. Tidak perlu merasa bersalah. Lagi pula ini bukan salah kamu. Semua ini salah saya karena sudah datang dalam kehidupan Hamdan," ucap Merry dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Mama tidak boleh bicara seperti itu. Mama harus percaya jika jodoh, rezeki, maut, itu hanya Tuhan yang mengatur. Manusia hanya menjalankan perannya dan berusaha menjadi lebih baik. Mama jangan pesimis hanya karena masa lalu papa. Kalau memang Mama Nur kembali, Mama harus tunjukkan jika Mama adalah istri yang kuat. Itu yang Papa butuhkan untuk menemaninya saat ini, besok dan seterusnya," ujar Afrin memberi semangat pada Mertuanya.


Sebenarnya dalam hati wanita itu ragu, tetapi dia tidak ingin membuat Mama Merry down. Meski harapan yang dikatakan Afrin semu, setidaknya itu untuk membangun mental mertuanya. Dia juga seorang wanita, sangat tahu bagaimana rasanya jika suami kita lebih memilih wanita lain. Apalagi itu masa lalunya.


"Terima kasih kamu sudah mendukung Mama. Padahal sebelumnya Mama sudah sering menyakiti hatimu," ucap Mama Merry dengan menggenggam telapak tangan menantunya.


"Mama jangan seperti itu, bagiku Mama juga sama seperti bunda. Kalian ibuku," sahut Afrin tersenyum.


"Kalau Nur datang, apa kamu juga menganggapnya sama?" tanya Mama Merry dengan menatap kedua mata Afrin, berharap menantunya memberi jawaban yang membuat hatinya lega.


Afrin mengerti jika Mama Merry tengah mengalami rasa cemburu. Apalagi mengingat bagaimana sang suami masih mengingat masa lalunya dengan baik. Namun, wanita itu tidak ingin memberi jawaban yang hanya akan membuatnya senang sesaat dan selanjutnya hanya kepedihan.


"Tentu, Ma. Mama Nur memang tidak membesarkan Mas Khairi, tetapi beliau yang melahirkannya. Aku tidak membenarkan apa yang dilakukannya. Hanya saja dia ibu kandung suamiku dan aku harus menghormati dan menyayanginya. Rasa sayangku pada Mama Merry dan Mama Nur itu sama, tidak ada yang beda."


Mama Merry mengangguk dan tidak bertanya lagi. Afrin memang wanita yang baik, tidak heran jika dia masih bisa berbuat baik padanya. Meski mertuanya dulu pernah membencinya.


Sementara itu di dalam kamar ruang rawat, dua orang pria berbeda umur itu hanya diam. Siapa lagi kalau bukan Papa Hamdan dan Khairi. Mereka memikirkan apa yang akan dikatakan. Mengingat berapa besar rahasia yang pria paruh baya itu miliki.


Helaan napas panjang terdengar bersahutan membuat Khairi jengah. Dia tahu jika Papa Hamdan tadi memberi kode pada Afrin untuk membawa Mama Merry keluar, tetapi kenapa sekarang malah diam?


"Kalau tidak ada yang ingin, Papa, bicarakan sebaiknya aku pergi," ucap Khairi yang ingin beranjak.


"Maafkan, Papa," ucap Hamdan dengan menunduk.


"Maaf untuk apa? Apa Papa melakukan kesalahan?" tanya Khairi pura-pura bodoh.


"Banyak ... Papa banyak melakukan kesalahan. Bahkan Papa tidak bisa menjabarkannya satu persatu," jawab Hamdan membuat Khairi berdecih sinis.

__ADS_1


"Katakan saja, aku akan mendengarkan semua kesalahan yang sudah Papa lakukan," ucap Khairi santai.


Hamdan menarik napas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan untuk meredakan sesak di dadanya. Pria itu pun menceritakan semua pada putranya, sama seperti yang dia ceritakan pada Afrin tadi. Khairi merasa sakit hati. Memang pria itu sudah mengetahui semuanya, tetapi tetap saja hatinya terluka mendengar semua pernyataan dari papanya.


Anak mana yang tidak sakit hati setelah mendengar jika ibunya diperlakukan semena-mena seperti itu. Mengerjakan pekerjaan pembantu padahal dia seorang menantu. Difitnah melakukan hal hina padahal niatnya baik ingin menolong. Kenapa Omanya begitu tega melakukan hal itu? Bukankah dia juga seorang wanita?


"Kenapa, Papa, tidak percaya padanya?" tanya Khairi.


"Itu adalah kebodohan Papa. Seandainya Papa tidak menghakiminya begitu saja dan mencari tahu kebenaran haru itu, Ini semua tidak akan terjadi," ujar Papa Hamdan dengan meneteskan air matanya.


"Tapi sayangnya semua sudah terlambat. Menyesal pun tidak ada gunanya," sahut Khairi membuat air mata Hamdan mengalir deras dan menangis dalam diam.


Khairi tidak tega melihat papanya seperti ini. Terlebih keadaan pria itu masih belum sehat betul. Sebagai seorang anak, dia tahu jika Hamdan orang yang keras kepala, tetapi tidak menyangka jika akan sekeras itu hingga mengabaikan tanggung jawabnya.


"Pa, apa Papa tahu jika Mama sedang hamil saat Papa menceraikannya?" tanya Khairi. Dia tahu jawabannya, hanya ingin memastikan saja.


"Apa? Ha—hamil?" tanya Hamdan tergagap. Dia terkejut mendengar berita ini. Pria itu tidak tahu mengenai berita ini dan tidak ada satu orang pun yang memberitahunya termasuk Nur. Dari mana Khairi tahu?


"Iya, mama hamil saat itu, tapi kenapa Papa membiarkan dia pergi?" tanya Khairi dengan nada kecewa.


"Kamu tahu dari mana kalau Nur hamil? Dia tidak mengatakan apa pun saat itu. Perutnya juga datar!"


"Aku menemukan kunci di dalam tas kerja Papa. Aku penasaran kunci apa itu. Aku mencari benda yang kiranya cocok. Setelah kucari diseluruh ruangan Papa, ternyata tidak ada. Semalam aku meminta Bik Asih dan Fatma untuk menjaga menemani Mama di sini agar aku lebih leluasa untuk mencarinya. Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2