
Terdengar nada tersambung, tetapi tidak juga ada yang mengangkat. Aydin sempat kesal hingga akhirnya ada yang mengangkat juga.
"Assalamualaikum," ucap seorang wanita di seberang, siapa lagi kalau bukan Rini.
"Waalaikumsalam, maaf, Bik. Apa Nayla ada di sana? Dari tadi aku muter-muter nyari dia, tapi tidak ada satu pun yang tahu. Semua orang khawatir, dia perginya cuma berdua bersama Nuri," tanya Aydin dengan penjelasannya.
Rini terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa. Nayla melarangnya untuk mengatakan pada siapa pun, tetapi wanita itu tahu keluarga Yasna pasti khawatir. Lagipula keluarga Emran bukan orang yang bisa dibohongi.
"Kenapa diam? Apa Nayla di sana, Bik?" tanya Aydin lagi.
"Iya, dia ada di sini." Akhirnya itu yang Rini berikan. Dia tidak ingin semua ini menjadi masalah dikemudian hari.
"Kalau begitu aku akan ke sana."
"Aydin, tunggu dulu! Biarkan Nayla dan Nuri di sini. Nayla juga perlu waktu untuk berdua dengan putrinya."
"Apa maksud Bibi? Di rumah juga dia selalu bersama dengan putrinya."
"Tapi jika di rumah kalian mereka tidak memiliki waktu untuk berdua, selalu ada orang lain yang menarik perhatian Nuri, hingga melupakan ibunya."
"Bukankah itu wajar bagi seorang anak? Kenapa harus mempermasalahkannya? Selama dia baik-baik saja itu bukan masalah, kan? Seharusnya Nayla bersyukur banyak yang menyayangi Nuri."
"Semua ibu di dunia ini juga ingin dekat dengan putri mereka, termasuk Nayla. Mengertilah Aydin, untuk kali ini saja."
"Tapi, Bik. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada putriku. Dia--"
Belum selesai Aydin berbicara, Rini sudah memotong kata-katanya.
"Nayla tidak mungkin mencelakai putrinya. Dia pasti akan menjaga dengan segenap jiwa dan raganya."
Keduanya terdiam, sebenarnya Aydin masih berat, tetapi dia tidak mungkin memaksa Nayla pulang. Mungkin mereka memang perlu waktu berdua agar lebih dekat.
"Baiklah, Bik. jika itu memang yang terbaik untuk mereka. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Rini menutup panggilannya, kemudian menemui Nayla yang sedang membujuk Nuri untuk tidur. Namun, gadis kecil itu menolak tidur dan merengek mencari orang yang dekat dengannya.
"Ma ... Pa ... Ante ... Ani," racau Nuri.
"Iya, Sayang ini Mama. Ini ada Nenek juga."
__ADS_1
"Ma ... Papa."
"Nay, apa tidak sebaiknya kamu pulang? Bibik takut Nuri tertekan dan jatuh sakit. Mbak Yasna pernah berkata kalau Nuri tidak bisa ditekan. Bisa-bisa nanti dia masuk rumah sakit."
"Ini masih nggak pa-pa, kok, Bik. Kemarin waktu pertama kali ketemu sama aku dia menjerit, makanya sakit. Sekarang, kan, tidak. Dia hanya merengek saja jadi, masih wajar."
Rini juga kasihan melihat Nayla yang tidak bisa dekat dengan putrinya, tetapi Nuri bukan anak yang bisa dipaksa. Wanita itu berdoa agar semua baik-baik saja.
*****
"Nuri mana, Bunda?" tanya Afrin yang baru saja bergabung di ruang tengah.
"Di rumah Mbak Rini sama mamanya."
Afrin mengangguk. Terbiasa dengan kehadiran gadis kecil itu, membuat rumah terasa sepi. Semua merasakan hal itu. Mungkin ini sudah saatnya mereka melepas Aydin sekeluarga. Meski terasa berat, tapi itu memang sudah jalannya.
"Keperluan Nuri sudah disiapkan di sana, Kak?" tanya Yasna pada putranya.
"Sudah, Bunda," ucap Aydin berbohong. Dia tidak mungkin mengatakan yang sesungguhnya pada Yasna. Pasti akan membuat wanita itu sakit hati.
"Afrin, kamu sudah dapat kampus yang kamu inginkan? Atau kamu mau menikah saja?" tanya Emran yang sengaja ingin menggoda putrinya.
"Nggak mau! Aku mau kuliah. Aku juga sudah dapat kampus yang aku mau."
"Papa jangan coba-coba jodohin aku, ya! Aku nggak mau." Afrin menatap papanya dengan pandangan yang tajam.
*****
Malam hari Yasna terbangun dengan keringat bercucuran. Dia bermimpi buruk tentang Nuri, wanita itu mencoba untuk tenang, tetapi bayangan mimpi terlihat sangat jelas, Yasna mengambil ponselnya dan menghubungi Nayla. Namun, nomornya masih tidak aktif.
Kekhawatirnya Yasna semakin besar. Dia pun membangunkan sang suami.
"Pa ... Papa."
"Iya, Sayang. Ada apa? Kamu nggak bisa tidur?" tanya Emran dengan suara seraknya.
"Aku baru saja mimpi buruk tentang nuri. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Ayo, Pa! Kita bangunin Aydin, suruh dia pergi ke rumah Mbak Rini untuk melihat keadaan Nuri."
"Kenapa tidak dihubungi saja."
"Ponsel Nayla nggak aktif. Ayo, Pa! Kita ke kamar Aydin."
__ADS_1
Mau tidak mau Emran menuruti keinginan istrinya untuk membangunkan Aydin. Yasna berjalan lebih dulu disusul Emran yang masih sangat mengantuk.
Begitu sampai di depan kamar putranya, wanita itu mengetuk pintu dengan sangat keras agar pemilik kamar segera bangun dan benar saja, pintu kamar terbuka, tampak Aydin yang mengucek matanya.
"Iya Bunda, ada apa?" tanya Aydin sambil menguap.
"Aydin, kamu pergilah ke rumah Bik Rini sekarang, ya! Bunda khawatir terjadi sesuatu pada Nuri. Bunda tadi mimpi buruk tentang anak itu."
"Tapi, Bunda ini sudah sangat larut, besok saja," ucap Aydin yang baru saja melihat jam di dinding ternyata masih tengah malam.
"Kalau nunggu besok kelamaan sekarang saja. Kalau perlu kamu nginap juga di sana. Bunda cuma ingin tahu keadaan Nuri, setelah lihat keadaannya baik-baik saja, Bunda akan tenang."
Aydin yang melihat raut kecemasan di wajah bundanya merasa tidak tega. Pria pun mengiyakan keinginan Yasna. Meski saat ini dia dalam keadaan yang sangat ngantuk. Dia juga takut terjadi sesuatu.
"Baiklah, Bunda. Aku akan pergi ke sana. Aku mau cuci muka sama ganti baju dulu."
"Iya, cepat, jangan lama-lama."
"Iya, Bunda." Aydin menutup pintunya dan bersiap.
Yasna dan Emran pun meninggalkan kamar Aydin. Mereka memutuskan untuk menunggu di ruang tamu. Kembali ke kamar pun percuma, wanita itu pasti tidak bisa tidur.
Meski Emran mengantuk, dia tetap menemani sang istri sampai tenang. Tidak berapa lama Aydin keluar dengan pakaian santai. Namun, masih terlihat rapi. Pria itu juga membawa jaket yang belum dipakainya.
"Kenapa Bunda tidak tidur? Bunda juga harus jaga kesehatan. Ini juga aku mau ke sana."
"Bunda nggak bisa tidur juga," sahut Yasna. "Nanti kalau sampai sana, kasih kabar sama Bunda, ya! Jangan lupa."
"Iya, Bunda. Aku pergi dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aydin berlalu meninggalkan kedua orang tuanya. Terdengar suara mobil meninggalkan halaman rumah, membuat kedua orang yang berada di ruang tamu itu menghela napas panjang.
"Sekarang Aydin sudah berangkat, kan, Sayang. Ayo! Sekarang kita tidur," ajak Emran.
"Aku nggak bisa tidur, Pa."
"Dicoba dulu, sambil nunggu telepon dari Aydin."
Atas paksaan dari Emran akhirnya sang istri mau ke kamar. Hingga tiga puluh menit berlalu, ponsel Yasna berdering tertera nama Aydin di sana. Segera wanita itu mengangkatnya.
__ADS_1
"Halo, assalamualaikum."
"Apa!"