Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
276. S2 - Papa kambuh


__ADS_3

Yasna dan Nayla sedang menyiapkan makan malam untuk suami mereka. Wulan pun datang karena dia juga tidak ada pekerjaan. Sebagai seorang majikan Yasna juga tidak setega itu memberikan pekerjaan di hari kedatangannya.


"Boleh saya bantu, Bu,'' ucap Wulan.


''Saya kan sudah bilang sama kamu buat kerja besok saja, Mbak," ucap Nayla.


''Iya, Bu, tapi saya bosan di kamar terus. Saya hanya ingin sedikit membantu."


"Ya sudah, tidak apa-apa. Kamu bisa melihat-lihat dulu di mana letak bumbu, perabotan atau lainnya," sahut Yasna.


"Iya, Bu."


Mereka pun masak bersama-sama. Wulan sesekali membuka lemari yang ada di dapur dan menanyakan sesuatu jika dia tidak tahu. Wanita itu begitu takjub dengan hasil masakan Yasna yang begitu enak. Dia merasa minder karena hasil masakannya tidak seenak majikannya.


Beberapa kali Wulan menghela napas membuat orang yang ada di sana menatapnya. Yasna berpikir jika wanita itu merasa keberatan dengan pekerjaannya.


"Kenapa, Wulan?" tanya Yasna sambil menatap ART-nya.


"Saya merasa minder, Bu. Masakan Ibu begitu enak. Tidak seperti masakan saya," sahut Wulan nada sedih.


"Jangan bicara begitu. Saya yakin masakan kamu enak, buktinya kamu bisa bekerja sampai lima tahun."


"Itu hanya kebetulan saja, Bu."


"Saya juga baru belajar, Mbak. Kalau memang, Mbak, berniat bekerja pasti bisa. Lagipula setiap masakan orang pasti punya cita rasa tersendiri."


"Tentu, saya akan berusaha lebih keras lagi," sahut Wulan dengan penuh semangat.


Yasna dan Nayla tersenyum mendengarnya. Mereka senang melihat orang yang punya semangat tinggi. Apalagi Wulan pekerja keras tidak akan sulit bagi wanita itu untuk belajar.


"Ya sudah, ayo, kita siapkan makan malamnya. Nanti saya kenalkan kamu sama seluruh penghuni rumah ini," ucap Yasna.


"Iya, Bu."


Mereka bertiga menghidangkan makanan di meja. Tidak lama Emran dan Aydin turun. Keduanya bersiap untuk menikmati hidangan makan malam.


"Pa, Aydin kenalin, ini Wulan, dia yang akan menggantikan Rani," ucap Yasna membuat Emran dan Aydin sama-sama melihat ke arah Wulan.


"Papa tidak ada masalah siapa pun yang akan menggantikan Rani. Asalkan dia tahu apa yang harus dikerjakan, itu sudah cukup," sahut Emran dengan nada dingin. "Kamu tahu, kan, apa saja pekerjaanmu?"


"Iya, Tuan," sahut Wulan dengan menundukkan kepalanya takut.

__ADS_1


Aura Emran yang berwibawa dan tegas sangat terlihat saat berbicara dengan Wulan. Bahkan untuk bernapas saja terasa sangat sulit. Wanita itu berpikir jika Emran kejam. Padahal istrinya baik dan lembut.


"Apa kamu tahu tentang alergi istri saya?"


"Iya, Tuan. tadi Bu Nayla yang menceritakan tentang itu"


"Baguslah kalau begitu. Selamat bekerja, semoga kamu bisa melewati ujian dari istri saya."


"Iya, Tuan. Saya akan berusaha." sahut Nayla masih dengan menunduk.


"Ya sudah, ayo, kita sarapan dulu," ajak Yasna.


"Saya ke belakang dulu, Bu," pamit Wulan.


"Kamu nggak ikut makan? Ayo, makan malam dulu!" ajak Yasna yang ditolak Wulan karena takut.


"Tidak, Bu. Saya nanti saja di belakang." Wulan segera pergi sebelum Yasna memaksanya.


Yasna menghela napas. Wulan dan Rani memang sama saja. Pantas saja jika keduanya berteman. Dulu Rani juga selalu menolak jika diajak makan bersama dengan berbagai alasan.


"Sudahlah, Bunda. Nanti juga Mbak Wulan ambil sendiri. Sama seperti Mbak Rani dulu," ucap Nayla.


Yasna pun melanjutkan acara makan malam bersama dengan keluarganya. Tanpa semua orang tahu Wulan di belakang sedang menetralkan detak jantungnya. Dia tidak pernah berpikir jika akan memiliki atasan yang begitu tegas.


"Assalamualaikum," ucap Khairi dan Afrin saat keduanya memasuki rumah.


"Waalaikumsalam, kalian baru pulang? kamu bawa apa itu?" tanya Mama Merry pada Afrin.


"Martabak, Ma. Tadi Mas Khairi bilang jika Mama suka jadi, kami mampir," sahut Afrin sambil menunjukkan apa yang dibawanya.


"Iya, kamu masih ingat apa kesukaan Mama!" seru Mama Merry.


"Tapi sedikit saja, Ma. Ingat kolestrol Mama," tegur Khairi.


"Kalau gitu, ngapain kamu beliin Mama? Kalau begini caranya mana bisa Mama makan sedikit," sahut Mama dengan wajah ditekuk.


Sebenarnya Khairi membelikan martabak untuk mamanya agar hubungan istri dan mamanya bisa lebih dekat. Akan tetapi pria itu melupakan mengenai penyakit mamanya. Ingin mengambil kembali pun dia tidak tega.


"Baiklah, untuk kali ini saja. Lain kali tidak ada lagi," sahut khairi.


Senyum menghiasi wajah Mama Merry. Tidak menunggu waktu lama wanita itu segera memakan martabak yang dibawa oleh menantunya. Afrin begitu senang melihat Mama Merry memakan apa yang dia bawa. Padahal sebelumnya wanita itu mengira jika mertuanya itu akan menolak.

__ADS_1


Sementara Mama Merry memakan martabak, Khairi dan Afrin ingin pergi ke kamar. Mereka harus menata barang-barang yang keduanya yang dibawa dari apartemen.


"Kami masuk dulu, Ma. Mau bersih-bersih dulu," pamit Khairi.


"Kalian jangan lama-lama habis ini kita makan malam dulu," ucap Mama Merry saat melihat anak dan menantunya ingin pergi ke kamar.


"Iya, Ma. Mama juga jangan banyak-banyak nanti malah enggak jadi makan," tegur Khairi.


"Iya."


Khairi dan Afrin melanjutkan langkahnya menuju kamar mereka. Keduanya ingin membersihkan diri terlebih dahulu dan saat akan menata barang. Terdengar ketukan pintu yang seperti sedang terburu-buru. Afrin yang berada di dekat pintu pun membukanya. Tampak Fatma di depan pintu dengan tubuh gemetar.


"Iya, ada apa? Kenapa kamu kayak gitu?" tanya Afrin yang melihat Fatma gemetar.


"Itu ... itu Tuan Hamdan badannya menggigil," jawab Fatma yang terlihat ketakutan. Khairi yang mendengar pun segera mendekat.


"Ada apa? Apa yang terjadi dengan papa? Bagaimana bisa seperti itu? Saya tidak tahu, Tuan."


Khairi pun segera berlari menuruni tangga untuk melihat keadaan papanya diikuti Afrin dan Fatma yang ikut juga berlari. Semua orang terlihat khawatir dengan keadaan Papa Hamdan. Beliau jarang sekali sakit karena itu semua panik.


Begitu Khairi sampai di kamar terlihat Papa Hamdan menggigil. Namun, tubuhnya penuh dengan keringat. Terlihat Mama Merry duduk di sampingnya dengan menangis. Wanita itu segera berdiri saat melihat putranya datang.


"Papa kamu," ucap Mama Merry sambil menutup mulutnya agar tangisnya tidak pecah. "Ayo, kita bawa ke rumah sakit!" usul Mama Merry.


"Fatmah, tolong panggilkan Pak Jono agar membantuku mengangkat papa," perintah Khairi.


"Iya,Tuan." Fatmah segera berlari keluar.


"Biar aku siapkan mobilnya, Mas," sahut Afrin yang diangguki oleh Khairi.


Wanita itu kembali ke kamarnya untuk mencari kunci mobil sang suami. Untungnya pria itu selalu meletakkan kunci mobil di gantungan jadi, tidak sulit mencarinya. Afrin pun segera keluar untuk mengeluarkan mobil yang sudah suaminya masukkan ke dalam garasi.


Tepat di saat mobil berhenti di depan pintu, Khairi dan Pak Jono menggendong Papa Hamdan yang sudah bermandikan keringat. Afrin membantu membuka pintu belakang, Mama Merry segera masuk dan memangku kepala suaminya.


Khairi mengambil kemudi. Di sampingnya Afrin yang mencoba untuk menenangkan sang suami agar berhati-hati saat menyetir.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2