Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
211. S2 - Bukan kekasih


__ADS_3

Semalaman Afrin duduk di samping Khairi. Menunggu pria itu tersadar hingga dia tertidur. Emran dan Yasna memilih untuk pulang karena Nuri sedari tadi sudah merengek mencarinya. Meski gadis kecil itu sudah dekat dengan mamanya, tetapi tetap saja terkadang mencari sang oma.


Fajar menjelang. Namun, Khairi belum juga sadar. Terdengar azan subuh berkumandang. Afrin terbangun dan melakukan salat di dalam ruangan itu. Setelahnya dia mengaji di kursi samping ranjang Khairi dengan menggunakan ponselnya.


Tanpa gadis itu sadari ternyata pria yang ada disampingnya sudah sadar dan menatap dia sambil tersenyum. Betapa bahagianya Khairi saat pertama kali membuka mata, ada sang pujaan hati di sampingnya. Awalnya dia mengira itu hanya mimpi. Namun, saat diperhatikan ternyata memang itu benar sungguhan.


Setelah menyelesaikan mengajinya, Afrin menoleh ke arah Khairi dan dia terkejut ternyata pria itu tersenyum kearahnya.


"Kamu sudah sadar?" tanya Afrin.


"Sudah dari tadi, saat kamu mengaji. Suara kamu bagus."


"Sebentar aku panggilkan dokter." Afrin ingin beranjak. Namun, dicegah oleh Khairi.


"Tidak perlu, kamu duduk di sini saja. Nanti juga saat waktu kunjungan dokter ke sini. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu untuk saat ini."


"Tapi dokter perlu memeriksamu. Bagaimana keadaanmu sekarang!" Afrin tetap kekeh ingin memanggil dokter, tapi Khairi dengan cepat menarik tangan gadis itu hingga hampir terjatuh di atasnya. Untung saja tangan satunya bisa menyangga di sisi ranjang.


"Asalkan kamu ada di sini, aku akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku," bisik Khairi tepat di wajah gadis itu.


Afrin segera bangkit dan merapikan dirinya. Gadis itu salah tingkah, tidak tahu harus berbuat apa.


"Kamu ini, sudah seperti ini masih saja ngegombal," ucap Afrin dengan menyandarkan tubuhnya di kursi.


Dia tidak habis pikir dengan pria itu. Dari kemarin gadis itu mengkhawatirkannya, tetapi ternyata Khairi baik-baik saja bahkan terlihat sangat baik. Kalau tahu begini, lebih baik dia tidur di rumah.


"Aku tidak ngegombal, Sayang. Aku mengatakan yang sejujurnya. Kamu tahu betapa bahagianya aku, saat pertama kali membuka mata, ternyata orang yang ada di sampingku adalah kamu. Aku berharap ini juga akan terjadi di kemudian hari dan seterusnya," sahut Khairi dengan menatapnya.


Sementara gadis itu hanya diam membeku. Ini pertama kalinya dia dekat dengan seorang pria. Apalagi berada dalam satu ruangan tertutup seperti ini. Meski saat ini mereka ada di rumah sakit, tetap saja rasanya aneh bagi Afrin.


"Oh, iya, apa pria itu menyakitimu?" tanya Khairi.


Afrin yang mengerti siapa yang dimaksud dengan pria itu pun memilih menggeleng. Dia tidak ingin membuat Khairi khawatir, mengingat keadaan pria itu yang masih belum pulih benar. Gadis itu yakin jika anak buah papanya dan Khairi sudah mengurusnya.


"Terus sekarang dia ada di mana?"


"Kantor polisi. Sudah kamu jangan memikirkan dia. Lebih baik kamu jaga kesehatan agar segera sembuh."

__ADS_1


"Aku malah tidak ingin sembuh. Aku ingin sakit terus."


"Kok gitu! Semua orang pasti ingin sembuh, kenapa kamu malah nggak mau?"


"Saat aku sembuh nanti, pasti kamu akan pergi dari sini, tetapi disaat aku sakit kamu ada di sini karena itu, aku lebih memilih sakit."


"Sudah deh, enggak usah gombal terus. Aku mual tahu dengarnya," ucap Afrin dengan cemberut. Namun, tidak bisa menutupi jika saat ini wajahnya bersemu merah.


Pintu ruangan diketuk seseorang dari luar kemudian pintu terbuka.


"Selamat pagi," sapa dokter yang baru saja memasuki ruangan diikuti oleh seorang perawat.


"Selamat pagi, Dokter," sahut Afrin dengan tersenyum.


"Jangan tersenyum pada pria lain," tegur Khairi yang membuat Afrin langsung melihat ke arah pria itu dengan menyernyit. Sementara dokter tersenyum.


"Tenang saja, Tuan. Saya sudah memiliki istri, tidak mungkin merebut kekasih Anda," ucap dokter tersebut membuat Afrin malu.


"Sudah, Dokter. Tidak usah dihiraukan kata-katanya. Dia memang suka ngaco kalau lagi sakit. Lagi pula saya bukan kekasihnya," sahut Afrin.


"Saya bisa melihat itu, Tuan," ucap dokter sambil tersenyum. "Maaf, Tuan. Saya periksa dulu lukanya."


Dokter membuka baju bagian punggung yang dipakai oleh Khari. "Alhamdulillah semuanya baik. Untung saja pelurunya tidak mengenai organ vital jadi, semuanya baik-baik saja."


"Kapan saya bisa pulang, Dokter?" tanya Khairi.


"Masih belum, Tuan. Apa Anda sudah tidak betah tinggal di rumah sakit ini? Padahal ada gadis cantik yang sudah menemani Anda."


"Justru itu, Dokter. Saya sebenarnya tidak ingin pulang. Di sini saja agar dia mau menungguku. Kalau pulang, pasti dia tidak mau dekat-dekat denganku."


Dokter tertawa mendengarnya begitu pun dengan perawat yang tadi bersamanya. "Itu bisa diatur, Tuan. Saya juga semakin senang."


"Kalau kamu mau di sini! Ya sudah, di sini saja sendiri. Lebih baik aku pulang daripada nungguin orang sehat di rumah sakit. Dikira enak apa," gerutu Afrin.


"Kalau kamu nggak mau nungguin aku di sini, di rumah juga boleh."


"Ogah, lebih baik aku tiduran di rumah," sahut Afrin dengan nada jutek.

__ADS_1


Dokter dan perawat hanya tersenyum melihat interaksi antara sepasang kekasih ini. Mereka sering melihat kemesraan para remaja, tetapi baru kali ini keduanya melihat kekasih yang selalu bertengkar.


"Baiklah, Tuan Khairi. Saya permisi dulu nanti akan ada perawat yang mengantar obat ke sini."


"Terima kasih, Dokter," ucap Khairi yang diangguki oleh dokter.


Dokter dan perawat itu meninggalkan ruangan dan tersisa kini hanya Khairi dan Afrin. Pria itu masih memandangi pujaan hatinya yang cemberut. Justru terlihat sangat menggemaskan baginya.


"Ngapain sih kamu? Dari tadi ngeliatin aku terus?" tegur Afrin yang merasa tidak nyaman.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu semakin cantik jika cemberut seperti itu."


Afrin tidak menyahut. Dia asyik bermain dengan ponselnya padahal gadis itu tidak fokus pada apa yang dilihat.


"Sudahlah, tidak usah pura-pura main ponsel. Lebih baik sekarang kamu suapin aku, aku sudah kelaparan," ucap Khairi membuat Afrin tersadar jika memang dari kemarin pria itu belum makan apa pun.


"Di sini enggak ada makanan. Perawat belum membawa ke sini. Aku belikan bubur dulu, ya!"


"Kok bubur! Aku nggak mau, kayak anak kecil saja," tolak Khairi.


"Kamu, kan, lagi sakit! Makannya harus bubur."


"Apa nggak ada makanan yang lain?" tanya Khairi memelas.


"Tidak ada, kalau pun ada juga nggak boleh. Aku pergi keluar dulu, ya! Beli bubur."


"Jangan, di luar sudah pasti ada anak buahku, kan? Suruh saja mereka!" perintah Khairi yang diangguki Afrin.


Gadis itu keluar dan memerintah salah satu anak buah Khairi yang berjaga di depan pintu untuk membeli bubur. Tidak lupa juga Afrin memberi uang lebih untuk mereka membeli makanan.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2