Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
228. S2 - Terlambat


__ADS_3

Hari yang ditunggu Khairi akhirnya tiba, Hari ini adalah hari pernikahannya. Pria itu masih berharap Afrin mau datang. Namun, sampai detik ini tidak ada kabar apa pun dari gadis itu. Dia sudah bertekad untuk terus menunggunya hingga nanti jam tiga, sesuai janjinya.


Waktu menunjukkan pukul 12.30. Khairi sudah siap dengan jas yang dipakainya berikut juga dengan peci hitam. Pria itu menatap wajahnya di cermin, meski tubuhnya kini sedikit kurus. Namun, tidak mengurangi ketegasannya.


Pintu kamar diketuk seseorang dari luar. Terlihat Mama Merry memasuki kamar tersebut. Wanita itu tersenyum melihat putranya.


"Anak Mama tampan sekali," ucap Merry dengan tersenyum yang dibalas oleh pria itu dengan senyum juga. Senyum yang terlihat hambar di mata siapa pun yang melihatnya.


"Apa kamu yang sudah sangat yakin, kalau kamu akan tetap lanjutkan acara ini? Sampai detik ini tidak ada kabar apa pun dari Afrin maupun orang suruhanmu."


"Apa pun yang terjadi, aku akan tetap melanjutkan acara ini, Ma."


"Tapi Mama nggak mau, kalau kamu sampai dihujat orang-orang karena pengantin wanita tidak datang."


"Khairi yakin Afrin akan datang, Ma."


"Kamu nggak bisa bohongin Mama" sahut Merry. "Mama juga lihat ada keraguan di mata kamu."


Khairi menundukkan kepala. Memang benar seperti yang mamanya katakan. Beberapa hari ini dia juga memikirkan hal itu. Sepertinya pria itu sudah tidak memiliki kesempatan untuk bisa bersama dengan Afrin, tetapi sebagai laki-laki, Khairi sudah berkata bahwa dia akan menunggu gadis itu. Maka dia akan menunggunya sampai waktu yang sudah diucapkan sebelumnya.


"Hai, kakak! Aku tidak menyangka kalau kamu akan menikah secepat ini. Padahal aku mengira kamu akan menjadi bujangan tua," ucap seorang pemuda yang bernama Adit.


Dia lebih muda satu tahun dari Khairi. Anak Mama Mery dari pernikahannya dengan mantan suami pertamanya. Selama ini pemuda itu tinggal dengan papa kandungnya di luar negeri. Setiap kali Merry merindukan putranya, dia akan pergi berkunjung ke sana.


"Ngapain lo datang ke sini?" tanya Khairi dengan ketus. Pasalnya adiknya itu tidak pernah datang ke rumah.


"Gue nggak lama, kok! Setelah lo sah, gue balik lagi."


"Gue juga nggak nyuruh lo datang."


"Aelah ... gue juga baru datang lo udah ngusir gue terus. Tahu gitu gue di sana aja nikmatin waktu santai gue."

__ADS_1


"Terserah lo. Sini! Lo nggak mau peluk gue?'


Pemuda itu pun segera memeluk sang kakak. Mereka memang tidak begitu dekat. Akan tetapi, hubungan mereka cukup baik sebagai seorang saudara tiri.


"Gue kangen banget sama lo," ucap Khairi pelan.


"Aku juga merindukanmu, Kak," sahut Adit


Keduanya meluapkan kerinduan yang sudah lama terpendam. Dulu Adit pernah membenci Khairi karena mengira kakaknya itu, telah merebut mamanya. Namun, papanya menjelaskan jika dia dan Merry tidak bisa bersatu dan sampai kapan pun mamanya akan menyayangi dan mencintainya. Akhirnya pemuda itu pun mengerti dan meminta maaf pada mamanya dan juga kakaknya


"Sudah, jangan lama-lama. jij*k gue," ucap Khairi dengan sedikit mendorong tubuh adiknya.


"Siapa juga yang mau peluk lama-lama, najis," sahut Adit dengan mengibaskan bekas pelukan mereka.


Pintu kamar diketuk seseorang dari luar. Khairi segera meminta orang itu untuk masuk. Dua orang wanita masuk dengan menunduk. Tubuh mereka juga bergetar karena takut.


"Maaf, Tuan. Non Afrin meminta kami pergi dari rumahnya," ucap seorang penata rias.


Wajah Khairi memerah. Dia benar-benar marah kali ini. Sungguh mereka tidak bisa diandalkan.


"Maaf, Tuan. Jika kami tidak pergi, maka kami akan diseret oleh para pengawal karena itu kami pergi."


Khairi mengusap wajahnya dengan kasar, ternyata Afrin benar-benar sudah tidak ingin menikah dengannya.


"Mama sudah bilang, kan, sebaiknya batalkan saja acara ini."


"Tidak bisa, Ma. Aku sudah mengatakan akan menunggunya sampai jam tiga. Aku seorang pria harus menepati janji. Aku akan menunggunya sampai jam tiga. Sekarang sudah jam satu lebih lima menit. Ayo, kita ke sana! Semua tamu pasti sudah menunggu," ucap Khairi dengan tersenyum, meski dalam hati dia menangis.


Khairi berjalan diikuti Mama Meri dan adiknya langkah yang biasanya terlihat tegap dan penuh wibawa, kini terasa lemah dan tidak berdaya. Semua kekuatannya menghilang bersama perginya cinta Afrin pada pria itu Semakin mendekati aula, langkahnya semakin pelan, dia tidak sanggup memasuki ruangan tersebut.


Pelan, tapi pasti. Khairi membuka pintu untuk memasuki aula. Baru saja pintu terbuka, pria itu mematung di tempatnya, dia tidak menyangka dengan apa yang dia lihat. Tanpa disadarinya, setetes air mata telah jatuh di pipinya. Bukan karena sedih, tapi itu air mata bahagia.

__ADS_1


Di depan penghulu, telah duduk seorang wanita dengan memakai kebaya berwarna putih, lengkap dengan hijab dan hiasan melati di atas kepalanya. Sungguh pemandangan yang sangat menggetarkan hatinya.


"Kakak, kenapa berdiri saja di sini?" tanya Adit. "Itu kakak ipar, ya? Cantik sekali!"


Khairi dengan cepat mengusap sudut matanya. Dia tidak ingin terlihat cengeng di hari yang bahagia ini. Ya, wanita yang duduk di depan penghulu adalah Afrin. Gadis itu tampil cantik dengan senyumnya. Aydin mendekati Khairi yang masih berdiri di tempat.


"Bagaimana, sih, Bro? Lo janji, kan, jam satu sama adek gue. Ini sudah jam satu lebih lima belas menit! Apa acaranya mau dibatalkan?" tanya Aydin yang sengaja ingin menggoda pengantin pria.


"Tidak, tidak, maaf saya terlambat. Jangan dibatalkan," ucap Khairi membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa. Bahkan Afrin pun tersenyum.


"Ya sudah, sana! Ngapain lo masih berdiri di sini."


"Ah, iya." Khairi berjalan dengan cepat menuju tempat di mana calon istrinya duduk.


"Tadi aja jalannya lelet banget, sekarang kayak orang lagi ngejar maling," gerutu Adit yang mendapat tatapan tajam dari sang kakak. Namun, pemuda itu tidak peduli. Dia memilih duduk di samping tamu laki-laki.


Sementara Mama Merry bisa bernapas lega. Dari tadi dia takut kalau gadis itu tidak datang. Akan tetapi, rasa tidak sukanya pada Afrin masih tetap melekat di hatinya. Wanita paruh baya itu tidak suka dengan sikap Afrin yang seolah menperlakukan putranya seperti budak.


"Maaf, ya, Sayang. Aku terlambat," ucap Khairi sambil berbisik yang dijawab oleh Afrin dengan sebuah anggukan. "Kamu cantik sekali hari ini," lanjutnya memuji.


"Maaf, ini mau dimulai acaranya, apa mau ngobrol saja?" tanya pak penghulu.


"Silakan dimulai, Pak," sahut Khairi dengan tersenyum.


Pria itu merasa lega dan sangat bersyukur. Apa yang dia takutkan tidak terjadi. Tuhan masih menjodohkannya dengan sang pujaan hati, tetapi dia masih penasaran, bagaimana bisa Afrin berada di sini? Sebelumnya penata rias mengatakan kalau mereka diusir oleh keluarga Emran. Masalah itu nanti saja dia tanyakan, yang penting saat ini dia bisa menikah dengan pujaan hatinya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2