
Satu minggu sudah Khairi belajar mengaji, setiap pulang bekerja dia akan mampir ke rumah Ustaz Ridhwan. Pria itu hanya diberi waktu satu jam untuk belajar. Ustaz tidak mau terlalu memforsir apa yang diajarkan, takut malah semakin membuat Khairi tertekan.
Pria itu sendiri juga merasa nyaman saat Ustaz Ridwan mengajarinya mengaji dan tidak membosankan. Padahal sebelumnya dia takut tertidur saat Ustaz Ridhwan memberi penjelasan.
Hari ini Khairi akan ke luar kota. Dia ada pertemuan dengan klien di sana. Sebelum itu dia ingin bertemu dengan gadis pujaan hatinya agar perjalanannya tenang. Pria itu pergi ke kampus di mana Afrin menimba ilmu bersama Ivan.
Di parkiran sebuah kampus, Khairi menunggu pujaan hatinya. Tidak berapa lama akhirnya yang ditunggu datang juga.
"Selamat pagi, Sayang," ucap Khairi saat bertemu dengan Afrin yang baru keluar dari mobil.
"Kamu pagi-pagi sudah ada di sini. Apa kamu sekarang sudah menjadi pengangguran?" cibir Afrin yang baru saja datang tapi sudah ada pengganggu.
"Aku hari ini mau keluar kota. Aku ke sini mau pamitan sama kamu."
"Kalau kamu mau keluar kota, ya pergi saja. Kenapa harus pakai ke sini segala?"
"Aku, kan, mau pamitan sama kamu, Sayang."
"Nggak usah pamitan. Langsung pergi saja, nggak usah balik juga nggak pa-pa."
"Kok kamu gitu sih, sama aku! Semangatin aku dong, biar aku kerjanya lancar dan bisa cepat balik, biar kamu nggak kangen sama aku."
"Idiih siapa juga yang kangen sama kamu," sahut Afrin dengan mendengus tidak suka.
Gadis itu benar-benar tidak tahu, bagaimana ada pria dengan kepedean tingkat tinggi seperti Khairi ini. Sudah berkali-kali Afrin mengusirnya, tetapi tetap saja dia dengan tidak tahu malunya selalu saja datang.
"Kamu nggak usah bohong, Sayang. Aku tahu kamu itu pasti kangen banget sama aku. Cuma kamu gengsi saja."
Afrin memihat keningnya, bukan karena sakit, tetapi karena dia tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Gadis itu sudah kehilangan kata-kata saat bicara dengan temannya itu.
"Terserah kamu mau bicara apa. Aku mau masuk, sebentar lagi kelas mau dimulai," pungkas Afrin.
"Aku juga mau berangkat. Kamu jaga diri baik-baik, ya! Sekarang kamu jauh dari aku."
"Iya," sahut Afrin agar pria itu segera pergi.
__ADS_1
"Bye-bye, Sayang," pamit Khairi dengan memberi kiss bye buat Afrin.
Afrin tidak peduli, dia memilih berjalan menuju kelasnya. Sementara Khairi menatapnya dari jauh hingga tidak terlihat. Sudah satu minggu dia tidak bertemu gadis pujaannya itu dan sekarang dia harus dipisahkan oleh jarak. Kali ini dia akan ke luar kota dalam waktu yang lama. Pria itu sudah menolak saat papanya meminta dia ke luar kota dan bertemu dengan sahabat papanya untuk memulai kerja sama.
"Ayo, Van! Kita berangkat," ajak Khairi berjalan menuju mobilnya dan segera meninggalkan kampus.
Sementara itu di dalam ke kelasnya Afrin duduk seorang diri. Tidak berapa lama Zahra datang dan duduk di sampingnya.
"Tadi itu siapa, Frin?" tanya Zahra.
"Siapa?" tanya Afrin balik karena dia tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh Zahra.
"Pria tadi yang bicara sama kamu di luar yang pakai jas, ganteng banget."
"Enggak tahu, orang gak jelas juga."
"Tadi 'kan ngobrol sama kamu, masa kamu nggak tahu, sih! Jangan-jangan itu pacar kamu ya?"
"Enak saja, aku nggak punya pacar dan aku nggak mau punya pacar."
"Tapi sepertinya dia suka sama kamu. Dari cara dia memperlakukan kamu tadi, seperti seseorang yang sangat spesial."
Zahra mengangguk dan tidak bertanya lagi. Dia tahu jika Afrin tidak menyukai Khairi, tapi pria itu yang ngotot ingin mengejar temannya.
Usai kelas pertama Afrin pergi ke kantin bersama dengan Zahra. Saat kelas berlangsung tadi dia mendapat pesan dari Vira untuk bertemu di kantin bersama dengan Sisca juga. Sekarang gadis itu ke sana dan ternyata kedua temannya sudah menunggu.
"Maaf, lama," ucap Afrin begitu duduk.
"Kita juga baru sampai," sahut Sisca.
"Frin, katanya kamu nggak suka sama Khairi Kenapa kamu tadi bicara sama dia?" tanya Vira yang tidak ingin berbasa-basi.
"Dia sendiri yang datang dan bicara sama aku," jawab Afrin cuek.
"Tapi sepertinya kamu juga nanggepin dia. Itu sama saja kamu memberi harapan padanya."
__ADS_1
"Aku nggak memberi harapan padanya. Dia sendiri yang selalu datang dan ganggu aku. Sudah berkali-kali aku mengusirnya, tetap saja dia nggak mau tahu. Tadi juga aku bicara sedikit saja nggak ada ke arah hal-hal yang serius."
Afrin mengerti jika saat ini, Vira secara tidak langsung telah memojokkan dirinya karena berusaha untuk mendekati Khairi. Padahal temannya itu saat ini juga berusaha mendekati pria itu lewat papanya karena mereka kebetulan ada kerjasama bisnis.
"Kamu tahu, kan, Frin. Kalau aku sedang mengejar dia? Jadi jangan sampai kamu juga ikut mengejarnya. Kita 'kan sahabat, itu kalau kamu ingin persahabatan kita hancur," ucap Vira.
'Disaat seperti ini kamu menganggap aku sahabat, tapi di saat lainnya, kamu tidak memperlakukanku layaknya sahabat. Bukankah persahaban kita sudah lama hancur, sejak semua orang tahu identitasku?' tanya Afrin yanv hanya bisa dia utarakan dalam hati.
"Iya, aku tahu. Aku juga tidak mengejar Khairi," jawab Afrin.
Dia tidak ingin membuat masalah dengan Vira. Gadis itu sangat tahu bagaimana temannya yang suka menang sendiri dan tidak mau tahu bagaimana perasaan orang lain.
Afrin tiba-tiba teringat dengan perlakuan Vira dulu terhadap Nuri, yang selalu seenaknya memerintah karena dia merasa orang tidak punya pasti akan mau menurutinya. Gadis itu pernah menghindari Vira dan tidak ingin bergaul dengannya, tetapi temannya itu berusaha dekat dengannya. Afrin tidak tahu apa tujuan sebenarnya.
"Sudah tidak ada yang ingin dibicarakan? Aku sama Zahra mau pergi dulu. Masih ada urusan yang harus kami selesaikan," ucap Afrin.
Padahal mereka tidak ada pekerjaan apa pun. Itu hanya alasan Afrin yang ingin pergi dari sana. Terlalu malas meladeni orang munafik seperti Vira. Dia tidak ingin merusak moodnya hari ini jadi, lebih baik pergi.
"Kalian mau ke mana? Kalian juga belum makan apa-apa?" tanya Siska.
"Enggak usah, kami buru-buru."
"Ayo, Ra!" ajak Afrin.
Zahra ikut saja. Dia juga tidak tahu kenapa Afrin mengajaknya pergi padahal sebelumnya gadis itu mengatakan mereka akan makan di kantin saja. Saat sampai malah ngajak pergi.
"Kita mau ke mana, Frin?" tanya Zahra begitu mereka sudah keluar dari kantin.
"Kita pergi ke depan kampus saja. Cari makan di sana. Males gabung sama mereka."
Zahra mengangguk, dia mengakui jika memang Vira bukan teman yang baik, tetapi gadis itu tidak punya kuasa akan Afrin yang berteman dengan siapa. Lagi pula dia juga baru kenal.
.
.
__ADS_1
.
.