
"Di mana orangnya?" tanya Khairi begitu sampai di perusahaan
"Ada di ruang meeting, Tuan," jawab Ivan. Khairi berjalan ke ruang meeting diikuti asistennya.
"Sekarang pekerjaan kamu lelet, ya! Apa karena Rani?" tanya Khairi sekaligus menyindir Ivan. Biasanya asistennya itu mampu menghandle semua klien, tetapi hari ini dia tidak bisa menangani seorang klien.
"Bukan begitu, Tuan. Hanya saja klien ini, dia benar-benar memaksa ingin bertemu dengan Anda. Saya sudah mengatakan jika hari ini Anda sedang cuti, tapi dia tetap memaksa."
"Kalau bukan karena memang kita membutuhkan dia, mana mungkin aku datang," gerutu Khairi sambil terus berjalan ke arah ruang meeting. Sampai di depan pintu Khairi berhenti. Dia melihat penampilannya, barangkali ada yang belum sempurna. Pria itu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Perlahan dia membuka pintu.
"Selamat pagi," sapa Khairi pada kliennya yang ternyata seorang wanita dengan pakaian yang sangat minim. Membuat Khairi jij*k, tetapi dia berusaha terlihat baik-baik saja.
"Halo, apa kabar? Masih mengingatku?" tanya wanita itu dengan menatap Khairi dengan tatapan menggoda.
Khairi memperhatikan wajah kliennya. Dia merasa seperti mengenal wanita itu, tapi di mana? Pria itu pun mencoba mengingat-ingat, siapa wanita yang ada di depannya kini.
"Apa kamu lupa padaku?" tanya gadis itu lagi.
Tiba-tiba terlintas bayangan sosok gadis, semasa putih abu-abu di kepala Khairi. Gadis yang selalu pergi bersamanya ke mana pun. Dilihat dari wajahnya hampir sama, tapi penampilannya dulu tidak seperti ini. Apa mimpinya telah merubah dia jadi seperti ini?
"Luna!" seru Khairi.
"Ternyata kamu masih mengingatku." wanita yang bernama Luna itu tersenyum, dia mendekati Khairi dan mengalungkan tangannya di leher pria itu. "Aku senang kamu masih mengingatku, Sayang. Kuharap kita juga bisa menjalin hubungan seperti dulu."
Khairi segera melepaskan tangan Luna dan sedikit mendorong tubuh gadis itu. Dia benar-benar tidak suka diperlakukan seperti itu seolah dirinya pria brengs*k yang biasa bermain dengan para wanita.
__ADS_1
"Maaf, Nona Luna, silakan duduk. Kita akan bahas kerjasama kita," ucap Khairi mencoba untuk profesional. Bagaimanapun juga dia membutuhkan kerjasama ini.
Sejujurnya ingin sekali Khairi memukul wanita itu karena sudah berani-beraninya menyentuh tubuhnya. Meskipun mereka dulu pernah memiliki hubungan. Tidak sepantasnya luna melakukan itu karena hubungan mereka juga sudah lama berakhir, sejak beberapa tahun yang lalu.
Luna adalah mantan kekasih Khairi semasa SMA. Keluarga tidak ada yang mengetahui hubungan mereka. Hanya penghuni sekolah yang tahu, tapi tidak seorang pun yang berani membicarakannya. Setelah lulus, Luna memutuskan untuk keluar negeri dan mengejar cita-citanya sebagai seorang model. gadis itu memang dikenal sebagai gadis yang sangat cantik dan elegan.
Khairi dan Luna mengakhiri hubungan mereka karena pria itu tidak mau menjalin hubungan jarak jauh. Mungkin dulu bagi Khairi Luna yang gadis yang paling cantik, tetapi saat ini tidak ada wanita manapun yang bisa menyamakan apalagi menggantikan posisi Afrin.
"Kita tidak perlu membahasnya. Biarkan asisten kita saja yang mengurus semuanya. Aku hanya ada perlu sama kamu," ucap Luna dengan tersenyum.
Khairi bisa melihat banyak sekali perubahan dalam sikap Luna. Pergaulan wanita itu sepertinya sangat mengerikan. Padahal Luna adalah wanita yang lugu dan selalu ramah pada siapa pun.
"Maaf, hubungan kita hanya sebatas rekan kerja. Selain itu tidak ada, apalagi hubungan pribadi. Saya sudah memiliki istri dan saya sangat mencintainya. Saya juga tidak suka bermain api," ujar Khairi dengan tegas.
Dia tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan rumah tangganya. Baginya Afrin adalah segalanya dan pria itu tidak ingin kehilangannya, hanya karena wanita seperti Luna. Khairi pasti akan sangat menyesal jika hal itu terjadi.
Dia tidak tertarik dengan apa yang Luna katakan. Simpanan? Istri kedua? Dia bisa mati di tangan Papa Emran sebelum hal itu terjadi. Memikirkannya saja sudah membuat pria itu merinding, apalagi melakukannya.
"Mungkin di luar sana memang banyak pria seperti yang kamu katakan, tapi kamu salah jika menilaiku sama seperti mereka. Bagiku cukup memiliki satu orang wanita yang selalu setia menemaniku dalam keadaan apa pun. Dia juga bisa menerimaku apa adanya."
"Kamu yakin dia seperti itu? Aku meragukannya. Aku yakin, jika kamu jatuh miskin, dia pasti akan menjauhimu. Ingat, kan, kalau kerja sama kita itu sangat berarti untuk perusahaanmu, kalau kamu menolak keinginanku, maka aku akan membatalkannya dan sudah pasti kamu akan jatuh miskin, istrimu itu akan meninggalkanmu dan mencari orang yang lebih kaya, ha ha ha," ucap Luna yang diakhiri dengan tawa mengejeknya. Namun, Khairi tidak peduli. Dia sudah sangat mengenal Afrin dan istrinya itu tidak sama seperti wanita diluar sana.
Ivan sedari tadi hanya diam mendengarkan, begitu juga dengan asisten luna. Gadis itu juga sedari tadi menatap Khairi dan Ivan bergantian membuat Ivan risih.
"Dengar, Nona Luna, Saya paling tidak suka diancam, apalagi oleh wanita seperti Anda dan satu lagi, Afrin tidak seperti gadis-gadis di luar sana. Tanpa aku pun, dia bisa mendapatkan apa yang diinginkan jadi, untuk apa pria kaya."
__ADS_1
"Jadi, kamu menolak tawaran saya?" tanya Luna yang tidak mendapat jawaban dari Khairi. "Karena aku baik, kamu tenang saja. Aku masih bisa menunggumu. Aku akan memberimu waktu selama satu minggu. Aku harap kamu bisa memikirkan tawaranku tadi. Baiklah aku permisi. Pikirkan perusahaanmu."
Luna meninggalkan Khairi bersama dengan asistennya. Dalam hati pria itu bertanya, bagaimana Luna bisa tahu jika ini adalah perusahaannya. Waktu masih bersama dulu, dia tidak pernah menceritakan tentang keluarganya.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak tahu kalau Anda pernah memiliki hubungan dengan Bu Luna," ucap Ivan pelan.
"Sejak kapan dia pemilik perusahaan ini? Bukankah pemiliknya orang luar negeri?"
"Sudah sekitar satu tahun lalu. Menurut berita yang beredar ...." Ivan berhenti berbicara membuat Khairi menatapnya.
"Kenapa kamu berhenti? Katakan saja, tidak ada hubungannya denganku."
"Menurut berita yang beredar, dia pernah menjadi simpanan pemilik perusahaan sebelumnya dan dia meminta perusahaan itu agar menjadi miliknya."
"Bukankah dia seorang model?"
"Benar, Tuan, tapi semenjak dia dilabrak istri produser karena berselingkuh dengan suaminya, karirnya menurun dan tidak ada yang mau mengontrak."
"Ternyata, lama tidak bertemu semakin membuatmu tidak terkendali," gumam Khairi.
'Dan ternyata Anda memiliki mantan juga, saya pikir Nona Afrin adalah yang pertama dan terakhir. Ternyata sebelumnya sudah ada. Mudah-mudahan Non Afrin adalah yang terakhir.' batin Ivan.
.
.
__ADS_1
.
.