Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
90. S2 - Mogok


__ADS_3

Aydin dan Afrin merasa bersalah. Mereka memang tidak pernah pergi bersama Yasna, setelah memutuskan untuk menutupi identitas. Satu keluarga itu hanya bisa pergi bersama jika ada di luar kota, atau di luar negeri.


"Ada apa ini? Kok, sepertinya lagi melow," tanya Emran yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Tidak ada apa-apa, Pa. Bunda cuma lagi pengen peluk anak-anak Bunda," jawab Yasna berbohong, dia tidak ingin anak-anaknya menjadi sasaran kemarahan Emran.


Pria itu sebelumnya sudah memperingati anak-anaknya, agar tidak usah menutupi identitasnya karena akan membuat kebersamaan keluarga berkurang, tapi mereka memaksa dan berjanji akan mengutamakan keluarga.


"Sudah, Aydin mandi dulu sana, habis itu langsung ke sini. Semuanya sudah menunggu."


"Baik, Bunda." Aydin segera pergi ke kamarnya dan membersihkan diri.


Sementara Emran, Yasna dan Afrin menunggu di ruang keluarga, sambil menonton acara televisi.


"Pa, apa benar, nggak ada wanita yang dekat dengan kakak?" tanya Afrin pada papanya.


"Sejauh yang Papa lihat sih, nggak ada," jawab Emran.


"Kalau sama anaknya Pak Romi, apa masih belum tertarik juga?" tanya Yasna sambil melihat suaminya.


"Belum, kayaknya dia nggak suka. Tadi, Pak Romi mengundang Aydin untuk makan malam di rumahnya, tapi Aydin malah memanfaatkan ulang tahun pernikahan kita, sebagai alasan untuk menolak."


"Padahal Kak Vania orangnya baik, tapi kenapa kakak menolaknya?" Afrin terlihat berpikir.


"Kadang kita juga butuh hal yang lainnya, bukan cuma baik saja ... mungkin Kak Aydin punya kriteria khusus," sela Yasna.


"Sudahlah, lagi pula Aydin juga masih terlalu muda, masa depannya masih panjang. Biarkan dia memilih calon pendamping hidupnya sendiri," ucap Emran yang diangguki Yasna.


"Kalau Afrin, boleh pacaran nggak, Bunda?" tanya Afrin dengan menaik turinkan alisnya.


"Nggak ada, ya! Kamu nggak boleh pacar-pacaran, kalau kamu mau pacaran nanti, saat kamu sudah lulus sekolah dan bekerja. Terserah kamu mau menikah juga nggak pa-pa."


"Kakak saja suruh cari cewek. Aku nggak boleh."


"Memang kamu sudah punya pacar?" tanya Yasna.


"Nggak ada, Bunda," jawab Afrin cengengesan.


"Kalau enggak punya, ngapain minta izin buat pacaran?"


"Kan, cuma nanya, Bunda."


"Mumpung kamu belum punya pacar. Bunda peringatin, kamu nggak boleh punya pacar, mengerti?"


"Iya," jawab Alvin dengan cemberut, membuat Yasna tersenyum dan segera memeluk sang putri. Dia sangat tahu, gadis itu sangat mematuhi apapun perintahnya meskipun dengan cemberut.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu, Aydin keluar dengan pakaian santainya. Mereka segera menuju ke ruang makan dan menikmati makan malam. Sesudah makan malam, semua orang kembali ke kamarnya masing-masing. Hanya tinggal Yasna dan Rani yang membersihkan meja.


Setelah membersihkan meja makan, Yasna berniat kembali ke kamar. Namun, Aydin mencegahnya. Dia ingin berbicara dengan wanita itu.


"Boleh bicara sebentar, Bunda," pinta Aydin.


"Tentu, mau bicara di mana?"


"Di taman belakang saja."


Yasna menggandeng Aydin ke taman belakang. wanita itu duduk, sementara putranya merebahkan kepala di pangkuannya. Hal yang selalu membuat Aydin merasa nyaman saat bersama Yasna.


"Ada apa? Kenapa diam saja, katanya mau bicara?" tanya Yasna karena sedari tadi Aydin hanya diam saja.


"Aku minta maaf, ya, Bunda," ucap Aydin.


"Minta maaf buat apa?" Yasna heran, kenapa Aydin meminta maaf. Apakah putranya itu melakukan kesalahan?


"Maaf, aku sudah tidak pernah menemani Bunda jalan-jalan. Padahal selama ini, Bunda selalu ada buat aku dan adik."


"Jangan terlalu dipikirkan. Apapun yang kamu lakukan jika kamu bahagia, Bunda juga akan bahagia karena kebahagiaan Bunda, hanya melihat senyum kalian," ucap Yasna dengan tersenyum, meski sebenarnya dia juga sangat merindukan kebersamaannya bersama anak-anak.


"Bunda tahu? Aku merasa menjadi anak yang paling beruntung karena bisa mendapatkan ibu sebaik Bunda."


"Justru, Bunda yang beruntung karena memiliki anak-anak seperti kalian yang selalu menyayangi Bunda," ucap Yasna dengan membelai rambut Aydin.


"Tentu, boleh. Memang siapa yang mau melarang," jawab Yasna. "Sudah malam, sebaiknya kamu masuk ke dalam. Udara juga semakin dingin."


"Iya, Bunda ... Bunda juga harus segera masuk."


Yasna mengangguk melihat Aydin kembali masuk ke kamarnya, sementara wanita itu masih memandangi langit yang bertabur bintang.


'Mbak Dinda, terima kasih sudah melahirkan anak-anak sebaik dan sepintar mereka. Mbak Dinda tenang saja, aku akan selalu menjaga mereka dengan baik. Mereka juga tidak akan melupakan Mbak, meski ada aku di sini karena aku yang akan selalu mengingatkan mereka, untuk datang ke makam Mbak Dinda.'


Yasna memilih kembali ke kamarnya di sana sudah ada Emran yang belum tidur.


"Kok lama sih, Sayang?"


"Tadi Aydin ingin ngobrol sebentar sama aku," jawab Yasna.


"Ngobrol apa?"


"Hanya ungkapan terima kasih saja karena aku sudah menjadi Bundanya dan dia menjadi anakku."


Emran tersenyum mendengarnya, inilah yang selalu dia inginkan. Keluarga yang saling menyayangi meski tak ada ikatan darah diantara mereka.

__ADS_1


*****


Pagi ini, seperti biasa anak-anak akan pergi menggunakan motor Aydin. Namun, saat akan menyalakan motornya, pria itu mengalami kesulitan. Sepertinya ada masalah dengan mesinnya.


"Ada apa, Kak?" tanya Afrin.


"Nggak tahu nih, Dek. Tiba-tiba nggak bisa nyala," jawab Aydin dengan berusaha menyalakan motornya.


"Kok bisa? Aku sudah terlambat, bagaimana ini? Pakai motor Bunda saja."


"Ada apa ini?" tanya Yasna saat keluar ingin mengantar suaminya ke depan.


"Motor Kakak nggak bisa nyala. Kita pakai motor Bunda saja, ya?" pinta Afrin.


"Motor Bunda, kan, ada di toko kue nenek, waktu itu Bunda bawa motor ke sana dan pulangnya naik mobil sama Papa." jawab Yasna membuat Afrin tertunduk lesu.


"Terus sekarang gimana, dong? Aku sudah terlambat."


"Bareng Papa saja," usul Yasna.


Semua orang saling pandang seolah bertanya, bagaimana dengan usul Yasna.


"Papa terserah kalian, mau ikut apa enggak? Papa ada meeting pagi jadi, harus cepat berangkat."


"Atau kalian mau bawa mobil Bunda?" tawar Yasna.


"Nggak usah, Bunda. Aku bareng Papa aja, tapi nanti turunnya agak jauh dari sekolah, ya, Pa," pinta Afrin. Dengan terpaksa Afrin menyetujuinya karena dia tidak punya pilihan lain.


"Terserah kamu, mau turun di depan komplek juga nggak pa-pa," Sindir Emran.


"Apa sih, Papa," sahut Afrin cemberut.


"Kalau Aydin gimana?" tanya Yasna.


"Sama sajalah, turun agak jauh dari kantor."


"Ya sudah, ayo, berangkat!" ajak Emran. "Saya nyetir sendiri saja, Pak Hari. Lebih baik Bapak bawa motor Aydin ke bengkel saja," ucap Enran pada Pak Hari.


Mereka semua menaiki mobil dan meninggalkan Yasna yang berdiri di halaman rumah.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2