Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
202. S2 - Saling meminta maaf


__ADS_3

"Kenapa kamu malah menangis?" tanya Yasna yang bingung.


"Maafin aku, Bunda. Aku sudah membuat Nuri jadi seperti ini," ucap Nayla masih dengan menangis.


"Sudah, jangan dibahas lagi. Semua sudah berlalu, yang penting sekarang Nuri baik-baik saja," ucap Yasna dengan mata berkaca-kaca.


Nayla segera memeluk mertuanya. Beruntungnya dia memiliki mertua sebaik Yasna. Jika itu orang lain, sudah pasti akan menyalahkannya, seperti yang dilakukan Aydin.


"Ma," panggil Nuri pelan.


"Cucu Oma sudah bangun?" tanya Yasna membuat Nuri menangis. "Kenapa malah nangis?"


"Atit," ucap Nuri sambil menunjukkan pergelangan tangannya yang tertancap jarum infus.


"Sakit, ya, Sayang. Sini Oma tiupin, biar nggak sakit lagi."


Yasna meniup pergelangan tangan Nuri yang terdapat jarum infus. Gadis kecil itu memperhatikan apa yang omanya lakukan.


"Sudah tidak sakit lagi, kan?" tanya Yasna yang tidak mendapat jawaban, justru gadis kecil itu merentangkan tangannya tanda minta digendong.


Yasna segera menggendongnya. Dia tahu saat ini cucunya dalam mode manja. Setiap anak pasti akan melakukan hal yang sama.


"Papa, atit." Nuri mengadu pada Aydin dengan mencebikkan bibirnya seakan ingin menangis.


"Mana yang sakit?"


"Nih," tunjuk Nuri pada pergelangan tangannya. Aydin pun melakukan hal yang sama seperti yang Yasna lakukan, meniup pergelangan tangan putrinya.


Melihat hal itu membuat Nayla merasa sedih sekaligus bersalah. Dia yang membuat putrinya berada di sini dan harus merasakan jarum infus. Wanita itu merasa menjadi seorang ibu yang tidak berguna. Untuk melindungi satu putri saja dia tidak mampu.


Gadis kecil itu merentangkan tangan meminta gendong papanya. Aydin pun menggendong dengan hati-hati.


"Anak Papa harus cepet sembuh. Nanti kalau sembuh, kita beli mainan terus main sama-sama," ucap Aydin.


"Li ainan anya."


"Beli mainan banyak, Papa," ucap Yasna seakan tahu jika putranya tidak mengerti.

__ADS_1


"Tentu, Nuri mau mainan apa saja, pasti Papa belikan asal Nuri sembuh."


"Eka ada," sahut Nuri. Aydin yang tidak mengerti pun menatap Yasna. Seolah bertanya apa yang dimaksud putrinya.


"Boneka panda," jawab Yasna.


"Iya, nanti Papa belikan boneka panda."


Pagi itu Nuri sudah banyak berbicara, membuat semua orang lega. Terutama Nayla, dia tidak berani mendekat. Wanita itu takut dengan tatapan dari suaminya. Meski sang suami sudah mengizinkannya untuk masuk, tetapi tidak ada tatapan hangat apalagi kata sapaan.


Siang hari Afrin datang dengan membawa makanan dan juga pakaian untuk kedua orang tuanya. Dia sudah mendengar semua cerita dari Mbak Rani karena sebelum Yasna pergi ke rumah sakit bundanya itu memberi pesan pada ART-nya.


Gadis itu sempat marah pada kakak iparnya, tetapi setelah bertemu, dia merasa kasihan. Pasti Aydin sudah memarahinya.


"Ikutlah denganku. Ada yang perlu kita bicarakan," bisik Aydin pada Nayla setelah Nuri tertidur.


Aydin berlalu diikuti Nayla dibelakang. Sementara Yasna dan Emran saling pandang. Sebagai orang tua, tentu saja ada rasa khawatir dalm diri mereka, tetapi itu masalah rumah tangga anak-anaknya. Bukan urusan mereka lagi.


"Apa Kak Aydin memarahi Kak Nayla, Bunda?" tanya Afrin.


"Kamu ini kecil-kecil suka sekali gosip," cibir Yasna. "Sudah, jangan ikut campur urusan rumah tangga orang."


*****


Aydin dan Nayla pergi ke restoran di dekat rumah sakit. Keduanya terdiam cukup lama, hingga pria itu lebih dulu mengeluarkan suaranya.


"Maaf, soal kejadian tadi pagi. Aku hanya sedang emosi," ucap Aydin tanpa melihat lawan bicaranya.


Nayla yang semula menunduk kini mendongakkan kepalanya. Dia tidak menyangka jika suaminya akan meminta maaf. Wanita itu mengira sang suami mengajaknya keluar untuk dimarahi, tetapi kini malah meminta maaf padahal dirinya yang bersalah.


Mendengar Aydin meminta maaf membuat rasa bersalahnya semakin besar. Betapa beruntungnya dia memiliki suami dan mertua seperti mereka. Bukankah itu sama saja dengan tidak bersyukur?


Mungkin musibah ini juga teguran untuknya agar lebih bersyukur lagi atas apa yang sudah wanita itu miliki. Di luar sana banyak suami yang ringan tangan tanpa sebab dan banyak pula mertua yang hanya terima beres, tanpa tahu apa pun tentang menantunya.


Seharusnya Nayla sangat bersyukur memiliki suami sebaik Aydin, meski pria itu mudah tersulut emosi. Dia juga memiliki mertua yang sayang dan perhatian padanya.


"Mas tidak salah. Seharusnya aku yang meminta maaf. Mas sudah benar dengan marah padaku," ujar Nayla yang kembali meneteskan air mata.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan menangis lagi," ucap Aydin. Pria itu memang tidak tega jika sudah melihat orang yang dicintainya menangis. Apalagi dia tahu jika Nayla sudah dari semalam terus menangis.


"Aku minta maaf, kesalahanku benar-benar sangat fatal. Maafkan aku," ucap Nayla dengan menangis. Dia tidak bisa lagi menahan diri. Air matanya tumpah seketika.


Melihat Nayla yang seperti itu membuat Aydin berpindah duduk disebelah istrinya dan mencoba menenangkan. Untung saja mereka berada di ruang privat jadi, tidak ada yang melihat mereka.


Aydin merangkul pundak Nayla agar wanita itu bersandar padanya. Keduanya merasa nyaman dengan pelukan ini. Pelukan orang tercinta memang membuat mereka tenang. Seharusnya mereka melakukannya saat musibah datang. Bukannya saling menyalahkan.


"Sejujurnya aku masih marah padamu, tapi bunda mengingatkanku pada perjuanganmu mepertahankan Nuri dulu. Tidak ada seorang ibu dengan sengaja ingin mencelakai anaknya. Jangankan mencelakai, melihat mereka tersakiti saja para ibu tidak akan tega, tapi aku harap kamu juga mengerti jika Nuri tidak bisa dipaksa apalagi sampai tertekan."


"Iya, Mas. Aku minta maaf soal itu. Aku akan berusaha pelan-pelan mendekatinya. Maafkan aku."


"Sudah, jangan minta maaf terus. Dari tadi kamu minta maaf."


"Mas, sudah maafin aku? Mas, nggak akan ninggalin aku, kan? Nggak akan ngusir aku, kan?" tanya Nayla bertubi membuat Aydin tertawa.


"Kamu dapat pemikiran seperti itu dari mana?" tanya Aydin sambil menyentil kening istrinya membuat wanita itu mengaduh kesakitan. "Aku tidak mungkin meninggalkan istri cantikku ini, apalagi sampai mengusirnya."


Netra Nayla berkaca-kaca mendengar ucapan Aydin. Dari tadi pagi berbagai pemikiran buruk datang padanya, tetapi kini wanita itu merasa lega. Sang suami mau memaafkannya.


Seorang pelayan mengetuk pintu dan membukanya untuk mengantar makanan. Beberapa hidangan tertata rapi di meja. Semuanya makanan kesukaan Nayla.


"Sekarang makanlah dulu. Kamu pasti dari tadi pagi belum makan. Aku sengaja memesan makanan kesukaanmu," ujar Aydin dengan menata piring yang ada di depan Nayla.


"Mas. juga pasti belum makan. Ayo, kita makan sama-sama!" ajak Nayla yang diangguki Aydin.


Mereka pun menikmati hidangan dengan sesekali saling menyuapi.


"Setelah ini kita pulang dulu, ya! Tadi Afrin nggak bawa baju kita. Nuri juga pasti masih tidur," ucap Aydin yang diangguki Nayla.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2