Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
167. S2 - Mual


__ADS_3

"Suamimu tidak akan mengkhianatimu," ucap Yasna mencoba meyakinkan menantunya itu.


Nayla memandang sang mertua mencari keyakinan dari sorot mata wanita paruh baya itu. Seorang ibu yang sudah membesarkan anaknya, pasti sangat tahu bagaimana sifat putranya.


"Aku percaya pada suamiku, Bunda. Aku yakin dia tidak akan menghianatiku," ucap Nayla membuat Yasna bernafas lega.


Pernikahan mereka masih seumur jagung. Usia mereka juga masih muda, sangat rentan akan emosi sesaat. Jujur dalam hati Yasna, ada rasa takut rumah tangga putranya tidak akan semulus seperti yang dia bayangkan.


Banyak rintangaan yang akan mereka hadapi. Hanya doa yang bisa Yasna berikan. Dia tidak bisa terlalu ikut campur dalam kehidupan rumah tangga putranya. Biarlah Aydin dan Nayla sama-sama belajar mengatur keluarga mereka sendiri.


"Kepercayaan memang sangat penting dalam setiap hubungan. Bunda berharap kalian sama-sama memegang teguh kepercayaan itu," ucap Yasna dengan menggenggam kedua telapak tangan Nayla.


"Iya, Bunda," sahut Nayla dengan tersenyum.


*****


"Kamu kenapa sih, Sayang? Pulang dari rumah Bunda, kamu diam saja, ada apa?" tanya Aydin dengan memperhatikan Nayla yang tengah melamun.


"Tidak ada apa-apa, Mas."


Setelah makan malam bersama keluarga Emran. Aydin dan Nayla memutuskan untuk pulang. Sedangkan Nuri, setelah mengerjakan tugasnya bersama Afrin dan teman-teman. Dia langsung pulang ke rumahnya sendiri. Afrin ingin mengajaknya menginap di rumah lagi, tetapi gadis itu menolak.


Nuri tidak ingin menambah dosa dengan memandang suami orang. Sudah berulang kali dia mencoba menepis perasaannya, tetapi semakin gadis itu berusaha, semakin besar pula bayangan kehadiran Aydin dalam hatinya.


Pasti jika orang lain mengetahuinya. Mereka akan mengira itu hanya cinta monyet. Apalagi mengingat Nuri yang saat ini masih SMA. Namun, gadis itu tidak peduli. Dia juga tidak pernah berniat merebut suami orang apalagi menjadi istri kedua.


Aydin dan Nayla kini sudah berada di apartemen. Mereka berbaring di atas ranjang. Pria itu sudah sangat mengantuk berbeda dengan sang istri yang masih terjaga.


"Mas, jika ada seorang wanita yang menyukaimu dan dia gadis yang baik, juga sangat tulus padamu. Apa kamu akan menerimanya?" tanya Nayla dengan menatap kedua mata suaminya.


"Maksud kamu apa sih, Sayang? Aku sama sekali tidak mengerti maksud kamu, menerima apa? Aku sudah memiliki kamu. Kalau maksudmu mau menerima dalam pekerjaan, kalau dia mampu, kenapa tidak?" ucap Aydin dengan kesal.


Pria itu sangat tahu maksud dari perkataan istrinya. Hanya saja dia tidak menyukai pembicaraan seperti itu. Baginya istri hanya satu dan itu adalah Nayla.

__ADS_1


"Mas kamu tahu betul, apa yang aku katakan. Jika dia mencintai kamu dan mau menerima statusnya sebagai istri kedua, apa kamu menerimanya?"


"Tidak," jawab Aydin dengan cepat.


Tidak ada niat sedikit pun dalam hati Aydin untuk memperistri wanita lain. Dia tidak akan pernah melakukannya. Bahkan untuk memikirkannya saja pria itu tidak pernah.


"Maaf, Sayang. Aku tidak ingin membicarakan ini. Aku capek, mau istirahat." Aydin segera membalikkan tubuhnya membelakangi istrinya.


Dia tidak ingin membahas hal seperti ini. Tidak sekarang dan selamanya. Nayla yang melihat sang suami membelakanginya merasa bersalah. Benar kata bunda, seharusnya dia tidak membahas hal ini dengan suaminya.


"Mas, jangan seperti ini. Aku minta maaf jika kata-kataku menyakitimu, tetapi jangan membelakangiku," ucap Nayla dengan mata yang berkaca-kaca. Tangannya mencoba menarik lengan suaminya.


Aydin yang mendengar suara Nayla yang seperti yang serak segera membalikkan tubuhnya. Dia segera memeluk sang istri. Pria itu tidak suka mendengar sang istri membahas masalah seperti tadi, sekalipun banyak wanita di luar sana yang ingin menjadi istri kedua, ketiga atau seterusnya. Aydin tidak akan melakukannya.


"Maafkan, aku, tapi aku tidak suka kamu membahas hal seperti tadi. Sudah aku katakan berkali-kali, tidak akan pernah ada wanita lain diantara kita. Apalagi sampai menggantikan tempatmu. Hanya kamu yang berhak menempati dan memilikinya tidak ada wanita lain," bisik Aydin.


Nayla mengangguk, air matanya tidak bisa dibendung lagi. Sungguh dia sangat mencintai suaminya. Wanita itu tidak akan sanggup jika Aydin benar-benar akan menduakannya.


"Sudah malam, sekarang kamu tidurlah," ucap Aydin yang masih memeluk sang istri.


Pria itu merenggangkan pelukannya, mencoba melihat wajah sang istri yang sudah sembab. Dirapikannya helaian rambut yang menutupi wajah cantik sang istri, ada rasa bersalah dalam hatinya. Karena merasa belum bisa membahagiakan Nayla.


Dalam satu bulan pernikahan mereka, memang Nayla tidak pernah mengeluh apa pun tentang dirinya, tetapi dia merasa masih ada sesuatu yang kurang. Aydin akan selalu berusaha membuatnya bahagia dan merasa paling dicintai, agar istrinya tidak lagi memikirkan hal bodoh seperti tadi.


'Aku berjanji, tidak akan pernah menghianatimu. Hanya kamu satu-satunya wanita yang ada dalam hatiku sekarang dan selamanya,' batin Aydin dengan menatap wajah polos sang istri.


*****


"Kamu sudah shalat, Sayang?" tanya Aydin saat dia akan shalat, ternyata ada Nayla yang sudah menggunakan mukena sedang menunggunya.


"Iya, Mas. Kemarin nggak tahu cuma sedikit datang bulannya. Habis itu sudah tidak ada lagi."


"Ya sudah, ayo, aku imami!"

__ADS_1


"Iya, Mas."


Mereka pun salat berjamaah. Usai shalat Nayla ingin menyiapkan sarapan. Namun, saat membuka kulkas tiba-tiba perutnya terasa mual, mencium aroma yang keluar dari lemari pendingin tersebut. Wanita itu berlari menuju kamar mandi di dekat dapur dan memuntahkan isi perutnya, yang hanya berupa air.


Aydin sedang berada di kamar. Pria itu mendengar suara istrinya muntah segera mencari keberadaan Nayla.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Aydin yang tidak dijawab oleh Nayla, karena wanita itu masih berusaha mengeluarkan isi perutnya.


"Kamu kenapa?" tanya Aydin lagi setelah Nayla berhenti memuntahkan isi perutnya.


"Nggak tahu, tiba-tiba perutku rasanya mual saat membuka kulkas."


"Emang kulkas isinya apa saja, sampai membuat kamu mual?"


"Seperti biasanya, nggak ada yang aneh."


Nayla juga merasa aneh, padahal isi lemari pendingin itu masih sama seperti kemarin, tetapi kenapa hari ini sangat bau. Semuanya juga masih terlihat segar, baik itu sayuran, ikan dan daging. Nanti saja dia membersihkan kulkas, barangkali ada kotoran yang masih menempel saat wanita itu membersihkannya kemarin.


"Ya sudah, kamu jangan masak dulu. Nanti kita beli saja di luar, kamu juga masih lemes gitu," ucap Aydin.


"Iya, Mas. Apa kamu nggak apa-apa tiap hari makan di luar? Kemarin aku nggak masak, kita makan di rumah Bunda. Hari ini aku juga nggak maksa lagi," sahut Nayla sedih.


"Sudah jangan terlalu memikirkan hal itu. Lebih baik kamu jaga kesehatan kamu dulu." Aydin segera membimbing istrinya menuju kamar mereka agar Nayla bisa beristirahat.


Wanita itu menurut saja karena memang tubuhnya benar-benar sudah tidak memiliki tenaga.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2