
"Tidak, Non. Bu Aini hanya tinggal berdua dengan Mbak Laily. Banyak yang suka sama Bu Aini, tapi beliau menolaknya dengan alasan hanya ingin hidup berdua dengan putrinya. Banyak yang bilang kalau Bu Aini takut calon suaminya tidak bisa menerima Mbak Laily. karena dulu saat anaknya masih kecil, ada pria yang ingin menikah dengan Bu Aini, tapi tidak mau menerima Mbak Laily dan mengusulkan membawanya ke panti asuhan. Sejak saat itu, Bu Aini selalu menolak setiap lamaran yang datang untuknya," jawab Wulan panjang lebar.
"Apa pekerjaan Bu Aini selain mengajar mengaji?" tanya Afrin lagi.
"Kalau musim panen atau tanam padi, biasanya beliau ikut ke sawah. Jika musim kemarau begini hanya di rumah saja, nggak ada pekerjaan. Cari pekerjaan di kampung susah, Non. Makanya saya pergi merantau."
"Kalau Laily, apa masih sekolah? Atau sudah bekerja?"
"Mbak Laily sudah lulus sekolah. Dia bekerja di restoran sebagai pelayan di sana."
"Mbak, apa selama ini Ma–em maksud saya Bu Aini hidup dengan kesulitan?" tanya Khairi yang sedari tadi diam.
"Jangan ditanya lagi, Tuan. Ibu saya yang punya sawah sepetak saja hidup kekurangan, apalagi Bu Aini dengan gaji guru mengaji yang seikhlasnya."
Khairi tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya hidup ibu dan adiknya. Selama ini dirinya hidup dalam kelebihan, tetapi wanita yang sudah melahirkannya hidup dalam kekurangan. Betapa sakit hatinya memikirkan semua itu. Kalau seperti ini, siapa yang harus disalahkan?
Omanya sudah meninggal. Papanya memang salah, tetapi mamanya juga salah karena tidak berusaha menjelaskannya secara langsung. Kembali lagi pada takdir, memang inilah jalan hidup mereka, ada kesedihan dan air mata.
Afrin mengusap bahu sang suami. Dia tahu pasti ada rasa bersalah dalam hati pria itu. Meski semua bukanlah kesalahan dari Khairi. Semua itu memang jalan yang harus dilalui oleh Mama Nur. Afrin juga tidak bisa membayangkan apa saja yang sudah dialami oleh ibu mertua dan adik iparnya.
Pak Hari hanya diam mendengarkan. Dia tidak tahu siapa itu Bu Aini? Namun, dari yang dia tangkap dari pembicaraan ini, bahwa wanita itu sepertinya sangat penting bagi anak dan menantu majikannya itu.
Selama perjalanan, banyak sekali yang diceritakan Wulan mengenai perjalanan hidup Bu Aini. Awal kedatangannya banyak yang menghujatnya karena dikira hamil di luar nikah, tetapi setelah dia menunjukkan bukti perceraiannya, barulah para warga percaya. Setelah itu dia diminta oleh kepala desa untuk mengajar mengaji, saat ada salah satu warga yang tidak sengaja mendengar suaranya mengaji.
Tidak terasa akhirnya mereka sampai di desa kelahiran Wulan. Perjalanan yang lancar membuat perjalanan lebih singkat, empat jam sudah cukup untuk perjalanan mereka. Apalagi Khairi dan Pak Hari bergantian menyetir jadi, tidak perlu beristirahat. Sementara Wulan sempat tertidur meski hanya sebentar.
__ADS_1
Tepat jam tiga lebih sepuluh menit, mereka sampai di depan rumah sederhana keluarga Wulan. Semua orang turun, begitu pun dengan Pak Hari yang sudah lelah dan ingin merebahkan tubuhnya. Tampak sepi di kanan kiri. Pasti semua warga masih tidur.
"Assalamualaikum, Bu," ucap Wulan sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam," sahut seorang wanita dari dalam. Pintu rumah terbuka menimbulkan suara berderit. Keluarlah ibu Wulan yang memakai daster dengan hijab panjangnya.
"Ibu!" seru Wulan segera memeluk ibunya. Mereka sama-sama menangis, pasti karena rindu yang selama ini sudah menumpuk. Dua tahun keduanya berpisah, tidak terlalu banyak perubahan satu sama lain. Mereka pun sering menghubungi lewat video call.
Ibunya Wulan menatap semua orang, dilihat dari pakaiannya, wanita itu tahu jika mereka pasti orang kaya. Memang sebelumnya Wulan sudah mengatakan pada ibunya jika dia akan pulang, tetapi tidak mengatakan dengan siapa.
"Bu, ini Non Afrin dan Tuan Khairi. Mereka anak dan menantu majikanku. Kalau ini Pak Hari, beliau juga bekerja dengan Pak Emran," ujar Wulan menjelaskan. Sebelumnya, dia sudah menceritakan siapa majikannya dan bagaimana orangnya.
"Perkenalkan, Bu, saya Afrin," ucap Afrin dengan mengulurkan tangannya. Wanita paruh baya itu pun menyambutnya dengan ramah. Begitu pun dengan Khairi dan Pak Hari.
"Saya Nia, ibunya Wulan," sahut Bu Nia. "Ayo, masuk. Maaf, di rumah tidak ada apa-apa. Toko juga masih tutup. Wulan tidak bilang kalau majikannya ikut datang jadi, saya tidak mempersiapkan apa pun."
Wulan mengambil tikar dan digelar di ruang tamu. Di rumah mereka memang tidak ada kursi. Setiap tamu yang datang memang selalu duduk di tikar yang sudah kusam dan berganti warna.
Semua orang duduk di sana. Wulan masuk ke dalam dan kembali dengan membawa beberapa gelas berisi air putih. Ini sudah tengah malam jadi, dia tidak mungkin membangunkan pemilik toko untuk membeli gula dan teh.
Lagi pula Khairi dan Afrin tidak mungkin minum teh dengan gula yang dia beli. Pasti memakai gula rendah kalori, seperti di rumah majikannya. Sedangkan di kampungnya sudah pasti tidak ada.
"Silakan, Non. Maaf, hanya ada air putih saja," ucap Wulan merasa tidak enak. Dia sangat tahu bagaimana kehidupan majikannya dengan beraneka macam makanan dan minuman.
"Tidak apa-apa, Mbak. Yang penting bisa melegakan tenggorokan," sahut Afrin membuat Wulan tersenyum.
__ADS_1
"Bu, Putri ada di mana?" tanya Wulan pada ibunya mengenai keberadaan putrinya.
"Ada di kamar ibu."
Wulan pun bergegas pergi untuk melihat putrinya yang sudah dua tahun dia tinggal. Sementara Afrin berbincang dengan Bu Sari. Khairi dan Pak Hari hanya tersenyum mendengarkan. Saking asyiknya berbincang hingga tidak terasa, azan subuh berkumandang.
Mereka pamit mau ke masjid. Untungnya Afrin membawa mukena di dalam mobil jadi, tidak perlu merepotkan tuan rumah dengan meminjamnya. Wulan ikut bersama mereka, putri juga belum bangun, masih bisa pergi dulu.
Usai Shalat subuh, ingin sekali Khairi pergi ke rumah Bu Nur, tetapi melihat keadaan yang sedikit gelap, dia membatalkannya.
Anak Wulan sudah bangun, Afrin memberikan mainan dan boneka yang dibelinya semalam. Anak usia tujuh tahun itu terlihat bahagia. Dia bilang, ini adalah mainan pertama yang dimilikinya. Sebelum ini, neneknya hanya membuatkannya boneka dari baju bekas yang dijahit.
"Mbak Wulan, kita ke rumah Bu Aini sekarang, bagaimana?" tanya Khairi.
Wulan menoleh ke arah Afrin yang ada di depannya yang juga menatapnya. Sebenarnya ini masih terlalu pagi, tetapi melihat begitu besarnya keinginan Khairi, akhirnya wanita itu mengangguk. Dari semalam pria itu sama sekali tidak tidur.
"Boleh, Tuan, tapi mobil nggak bisa masuk, Kita jalan kaki. Tidak apa-apa, kan?" tanya Wulan balik.
"Tidak apa-apa, Mbak," sahut Khairi cepat.
"Sebentar, saya panggil ibu dulu. Biar temenin Putri main." Wulan pun memanggil Ibunya dan pergi bersama Khairi dan Afrin. Sementara Pak Hari menunggu di mobil sambil menghubungi istrinya.
.
.
__ADS_1
.