
Pagi ini Afrin pergi ke sekolah. Dia tidak mungkin libur terus menerus, gadis itu menunggu kakaknya di meja makan seorang diri. Orang tuanya belum juga pulang dari rumah sakit, mereka harus menunggu keadaan Kakeknya stabil.
"Kamu sekolah, Dek?" tanya Aydin yang baru saja keluar dengan pakaian kerjanya.
"Iya, Kak."
"Kamu mau berangkat sama Kakak atau sama Pak Hari?"
"Sama kakak saja, seperti biasanya."
"Kirain mau sama Pak Hari. Secara semuanya sudah kebongkar," cibir Aydin. Dia tahu adiknya tidak ingin bertemu dengan teman-temannya, tapi gadis itu juga merindukan sahabat-sahabatnya.
"Enakan sama Kakak."
"Ya sudah, ayo, sarapan!"
Mereka menikmati hidangan yang disiapkan oleh Mbak Rani. Biasanya mereka selalu menikmati masakan buatan Yasna, tapi hari ini tidak. Meskipun masakannya juga enak, tapi mereka lebih menyukai masakan bundanya.
Setelah menghabiskan sarapan. Mereka pergi dengan menggunakan motor Aydin. Begitu sampai di sekolah Afrin segera turun dan berpamitan pada kakanya menuju ke ruangan kelas. Dalam perjalanan menuju kelas, semua murid menyapanya.
Hal seperti inilah yang paling tidak dia sukai. Padahal sebelumnya, mereka tidak pernah melirik apalagi menyapa, tapi kini semua mencari muka di depannya. Entah apa yang mereka harapkan dari Afrin.
"Pagi, Afrin," saapa seorang siswi yang tidak Afrin kenal.
"Pagi," sahut Afrin dengan tersenyum dipaksakan.
"Pagi, Afrin."
"Pagi."
Sampai di ruangan kelas, hanya ada beberapa murid. Sedangkan ketiga sahabatnya belum ada yang datang. Afrin memutuskan untuk duduk dibangkunya sambil membaca bukunya.
"Hai, Frin. Sekolah juga akhirnya, kita udah tungguin dari kemarin," sapa Sisca yang baru datang bersama Nuri dan Vira.
"Maaf, ya, kemarin aku ada urusan, kakek masuk rumah sakit."
"Iya, kami juga ngerti. Kakek sakit apa?" tanya Nuri.
"Biasalah, usia semakin tua, ada saja yang sakit."
__ADS_1
"Afrin, aku minta maaf sama kamu soal kemarin," ucap Vira yang sedari tadi diam. "Tapi, kenapa kamu tidak cerita jika kamu anak pengusaha yang bernama Emran. Padahal kita kan sudah seperti saudara."
Dalam hati, Afrin ingin sekali memaki Vira. Bagaimana tidak? Jika dia memang menganggap Afrin saudara tidak mungkin hanya karena sebuah foto Vira menjauhinya, tapi gadis itu bukan orang yang suka memperpanjang masalah.
Biarlah temannya itu berkata apa, yang penting saat ini Afrin tahu, siapa yang benar-benar peduli padanya.
"Aku hanya ingin punya teman yang benar-benar menganggapku teman itu saja. Lagi pula aku tidak pernah menutupi siapa orang tuaku. Bukankah aku sering menceritakan kedua orang tuaku?"
Semua orang terdiam. Mereka seolah tersindir dengan kata-kata Afrin, padahal gadis itu tidak bermaksud demikian.
****
Satu bulan telah berlalu. Hari ini Ayah Hilman sudah diperbolehkan pulang. Sebelum itu seorang dokter memeriksanya. Semua keluarga ikut menjemputnya termasuk keluarga Gibran, yang saat ini sudah memutuskan untuk tinggal bersama Ayah Hilman dan Ibu Alina.
Saat Gibran pulang waktu itu, perusahaan memecatnya karena dia pergi secara mendadak, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Akhirnya kini pria itu bekerja di perusahaan Emran. Sebagian orang banyak yang mencibir, tapi Gibran tidak peduli karena dia punya kualitas untuk bekerja meski melalui koneksi.
"Maaf, Pak. Saya periksa dulu sebentar," ucap seorang Dokter Fahmi, dokter yang menangani penyakit Ayah Hilman.
"Iya, Dokter, silakan."
"Oh, iya, saya mau menginformasikan kepada Tuan Emran. Seperti yang Anda minta kemarin untuk bertemu dengan keluarga pendonor. Hari ini dia akan datang ke sini untuk menjenguk Tuan Hilman. Mungkin sebentar lagi dia akan datang. Apa Anda mau menunggunya atau mau langsung pulang?" tanya Dokter Fahmi.
"Nanti akan saya informasikan lagi saat dia datang. Saya permisi dulu."
"Iya, Dokter. Terima kasih."
"Ran, apa kamu sudah pernah bertemu dengan pendonor atau keluarganya?" tanya Gibran pada Emran.
"Belum, Kak. Ini juga baru pertama kali aku bertemu dengan mereka. Sebelumnya aku hanya bisa menghubungi lewat sambungan telepon saja. Waktu itu aku ingin bertemu dengannya dan dia bilang masih ada pekerjaan jadi, aku belum bertemu."
"Aku sangat berhutang nyawa pada keluarga itu," ucap Gibran dengan menerawang, bagaimana dia akan membalas kebaikan mereka.
"Iya, kamu benar. Ayah juga merasa berhutang nyawa pada keluarga mereka," sela Ayah Hilman.
Satu jam menunggu, akhirnya yang ditunggu pun datang dengan dokter yang tadi memeriksanl Hilman.
"Permisi, maaf, perkenalkan ini adalah keluarga pendonor," ucap Dokter Fahmi dengan menunjuk seorang gadis yang ada di sampingnya.
"Nayla!"
__ADS_1
"Tante Yasna!" seru Yasna dan Nayla bersamaan. Mereka sama-sama terkejut dengan keberadaan masing-masing.
"Nayla, maaf sebelumnya. Siapa yang mendonorkan jantung untuk ayah saya?" tanya Yasna hati-hati, dia tidak ingin menyinggung Nayla. Apalagi membuatnya sakit hati.
"Ibu saya yang mendonorkannya, Tante. Sebelum beliau meninggal. Beliau mendengar seorang Dokter Fahmi, berbicara dengan dokter yang menangani ibu saya jika ada seseorang membutuhkan donor jantung. Ibu mengatakan setidaknya dia berguna untuk orang lain, meskipun dia sudah meninggal karena itu, beliau mendonorkan jantungnya," ujar Nayla dengan meneteskan air mata.
Meskipun dia sudah ikhlas, tetap saja jika mengingat ibunya, pasti dia akan merasa sedih. Saat ini dia tidak memiliki siapa pun untuk dijadikan sandaran.
"Tante sangat berterima kasih kepada almarhum ibu kamu. Pasti beliau orang yang sangat baik. Tante tidak bisa membalas apa pun atas kebaikan beliau, hanya ungkapan terima kasih dan doa agar beliau di tempatkan, di tempat yang paling mulia di surganya nanti."
Yasna merasa beruntung ada orang sebaik almarhum ibunya Nayla. Beliau masih memikirkan orang lain di akhir usianya. Sungguh beruntung Nayla dibesarkan wanita hebat seperti almarhum.
"Terima kasih, Tante. Saya rasa itu sudah cukup untuk ibu saya."
"Sebelumnya, memang ibu kamu sakit apa, kalau boleh tahu?"
"Ibu saya sakit ginjal, Tante. Padahal ibu tidak pernah mengeluh apa pun. Mungkin memang sudah takdirnya."
"Kamu mengenal dia, Na?" tanya Aina mendekati mereka berdua.
"Iya, Bu. Namanya Nayla, dia pemilik butik tempat Yasna menanamkan saham."
"Wah kamu hebat sekali, masih muda, tapi sudah mau berbisnis," ucap Nenek Alina. "Nenek mau ngucapin terima kasih, ya, sama kamu dan almahum Ibu kamu yang sudah mendonorkan jantungnyanya untuk suami nenek. Nenek gak bisa membalasnya dengan apa pun."
"Jangan seperti itu, Nek. Saya juga senang jika jantung ibu saya bermanfaat untuk suami nenek."
"Kamu mau, kan, ikut ke rumah Nenek?" tawar Nenek Alina.
"Iya, Nay. Kamu ikut, ya? Tante juga mau berbincang sebentar sama kamu."
Mereka mencoba membujuk Nayla untuk ikut ke rumah. Yasna juga masih dengan keinginannya untuk menjodohkan Nayla dengan Aydin.
.
.
.
.
__ADS_1