Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
234. S2 - Menginap di rumah mertua


__ADS_3

"Kita mau ke mana, sih, Mas?" tanya Afrin saat mereka baru keluar dari halaman rumah.


"Kan, sudah aku bilang tadi, mau makan malam," jawab Khairi tanpa melihat ke arah istrinya.


"Di rumah, kan, juga bisa, Mas. Lagian aku juga banyak kerjaan."


"Sudah, kamu diam saja, biar nanti aku yang kerjain."


"Ah, kamu dari tadi juga bilang gitu. Bukannya selesai malah semakin lama. Mana besok harus dikumpulkan." Khairi tersenyum mendengar gerutuan dari istrinya.


Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di sebuah restoran. Khairi memesan makanan kesukaan Afrin. Namun, wanita itu hanya cemberut karena dia masih marah pada suaminya dan tidak menanggapi apa pun kata-kata suaminya.


"Sudah, dong, Sayang. Jangan cemberut terus, nanti cantiknya hilang, loh!" bujuk Khairi agar Afrin tidak marah lagi, tetapi hal itu justru membuat istrinya semakin merajuk.


"Kenapa kalau cantiknya hilang? Kamu mau cari yang lain?"


Khairi terdiam, sepertinya apa pun yang akan dia katakan, akan salah di mata istrinya. Afrin saat ini sedang kesal. Biar nanti saja dia bujuk lagi. Khairi mengirim pesan pada Ivan. Dia memberikan perintah kepada asistennya itu untuk melakukan sesuatu. Tidak berapa lama pesanan mereka datang.


Di meja terdapat beberapa makanan kesukaan Afrin. Wanita itu senang karena Khairi masih mengingatnya. Padahal dia hanya mengatakan sekali.


"Dimakan dulu, Sayang, nanti saja marahnya. Jangan cemberut terus."


Afrin pun segera memakannya. Dia juga sangat lapar, tadi siang wanita itu hanya makan sedikit dan sekarang ada kesempatan untuk makan banyak.


"Pelan-pelan, Sayang. Nanti tersedak, kalau masih kurang kita bisa pesan lagi," tegur Khairi yang melihat Alvin makan dengan begitu cepat.


"Sudah, cepat makan terus kita pulang," sahut Afrin. "Mas, sudah sering ke sini?" tanyanya.


"Tidak juga, hanya beberapa kali saat makan siang bersama dengan rekan bisnis. Memangnya kenapa?"


"Tidak ada apa-apa, hanya saja masakan di sini enak. Kali aja Mas sering ke sini."


Afrin sendiri tidak pernah datang ke sini, tempat ini sangat tenang. Sering juga dijadikan tempat pebisnis melakukan pekerjaannya. Itulah kenapa dia tidak pernah ke sini karena rata-rata, semua orang yang berada di sini itu sibuk.


"Dari sini ke kantor itu jauh, Sayang. Lagipula aku juga jarang makan di luar kalau nggak lagi meeting. Biasanya Ivan yang beliin nggak tahu di mana dia beli."

__ADS_1


Afrin mengangguk dan melanjutkan makannya. Setelah selesai makan mereka segera meninggalkan restoran. Malam sudah larut, wanita itu juga sudah sangat mengantuk. Hingga dalam perjalanan, dia tertidur.


Khairi tersenyum melihat istrinya sudah terlelap. Diusapnya kepala sang istri membuat wanita itu menggeliat. Susah payah dia mendapatkan wanita ini, seenaknya saja orang lain membuatnya kesulitan.


Khairi berhenti di pinggir jalan saat melihat seseorang yang sudah menunggunya, siapa lagi kalau bukan asistennya. Ivan mendekat ke arah mobil atasannya dan menyerahkan laptop yang diminta Khairi.


"Terima kasih."


"Sama-sama, Tuan."


"Apa tadi ada yang melihatmu?"


"Iya, Tuan. Tadi ada Nyonya Merry, beliau bertanya dan saya jawab apa adanya," jawab Ivan yang diangguki Khairi. "Jika sudah tidak ada keperluan lagi, saya permisi," ucap Ivan yang kembali diangguki oleh Khairi.


"Aku harap mama mengerti maksudku berkata seperti tadi, karena papa juga tidak pernah memperlakukan mama seperti pembantu di rumah. Meski dulu tidak memiliki seorang pun pembantu."


Tadi Khairi mengirim pesan pada Ivan untuk mengambilkan laptop Afrin yang berada di kamarnya. Pria itu berniat mengajak istrinya menginap di rumah mertuanya saja. Dia tidak ingin kembali ke rumah. Itu hanya akan memperumit masalah yang sebenarnya tidak ada.


Setelah kepergian Ivan, Khairi melajukan mobilnya menuju rumah keluarga Emran. Mereka pasti sudah tidur dan benar saja, saat mobil memasuki halaman rumah mertuanya, semua terlihat sepi, lampu juga sudah dimatikan. Untung saja ada pak satpam yang membukakannya gerbang.


Khairi turun dan memencet bel rumah hingga beberapa kali, barulah terbuka. Ternyata Rani yang membukakan pintu. Di belakangnya ada Emran yang memang belum tidur. Pria itu baru selesai mengerjakan pekerjaannya, saat ingin ke kamar dia mendengar suara bel rumah.


"Waalaikumsalam, kamu malam begini ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Emran.


"Tidak ada, Pa. Tadi saya dan Afrin sedang makan malam di luar dan kemalaman. Kalau pulang ke rumah juga jauh jadi, kami mau menginap di sini saja malam ini. Apa boleh?"


"Tentu saja boleh. Afrin mana?"


"Tertidur di mobil, Pa. Saya akan menggendongnya."


"Iya, bawa masuk saja."


Segera Khairi menggendong sang istri dan membawanya ke kamar dengan diantar Rani karena dia tidak tahu di mana kamar istrinya.


"Terima kasih, Mbak. Maaf sudah mengganggu waktu tidur, Mbak," ucap Khairi setelah menidurkan istrinya.

__ADS_1


"Iya, Tuan. Sama-sama, saya juga belum tidur," sahut Rani. "Saya kembali ke kamar dulu."


"Iya, Mbak."


Rani pun meninggalkan Khairi bersama dengan istrinya. Pria itu menutup pintu dan menguncinya. Dia juga ingin beristirahat karena tubuhnya sudah sangat lelah.


*****


Sementara di rumah, Merry sedang merenung. Dia tidak menyangka Khairi tidak akan pulang ke rumah. Suaminya juga masih berada di ruang kerjanya, belum keluar sejak makan malam tadi. Dia tahu sudah melakukan kesalahan pada Afrin. Wanita itu akan meminta maaf kepada menantunya besok. Mudah-mudahan saja Afrin mau memaafkannya.


Pintu kamar terbuka, ternyata Papa Hamdan yang masuk. Merry segera mendekati suaminya. Dia tidak ingin mendapat kemarahan dari pria itu lebih lama lagi.


"Maafin Mama, ya, Pa. Mama tahu, Mama bersalah," ucap Merry.


"Seharusnya Mama tidak minta maaf sama papa. Minta maaflah pada semua orang yang sudah mama sakiti."


"Iya, Mama akan minta maaf sama Afrin nanti. Tadi Khairi meminta Ivan buat ngambil laptop Afrin. Mama yakin malam ini dia nggak pulang," ucap sama Merry dengan mata yang berkaca-kaca.


Hamdan yang melihat istrinya seperti itu menjadi tidak tega. Dia pun mendekati Merry dan memeluknya.


"Dia butuh waktu untuk menenangkan diri, Ma. Biarkan saja, nanti kalau sudah waktunya, kita bicara sama dia."


"Terima kasih, Pa," ucap Merry dengan membalas pelukan suaminya. "Mengenai Bik Asih tolong jangan pecat dia. Dia sudah lama kerja sama kita. Kasih saja dia peringatan, dia pasti mengerti. Mama tahu, dia hanya menuruti keinginan anaknya untuk menjadi suami Khairi."


"Mama tahu akan hal itu, tapi kenapa masih memberi celah untuk Bik Asih? Khairi sudah menikah dan sudah memilih tujuan hidupnya. Jangan pernah mengusik kehidupannya kalau tidak ingin kehilangannya. Kita sama-sama tahu bagaimana watak Khairi, dia akan mempertahankan apa yang dia miliki dan dia tidak akan berpikir panjang jika ada seseorang yang menyakiti orang yang dia sayangi," tutur Hamdan membuat Merry semakin merasa bersalah.


"Maaf, Pa."


"Sudahlah, kita pikirkan lagi besok. Sekarang kita istirahat dulu," ucap Hamdan yang diangguki Merry.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2