
Hari pernikahan Fazilah tinggal satu hari lagi, membuat wanita itu semakin tidak tenang, dia memutuskan untuk bicara dengan mamanya, terlepas nanti mamanya mau membantu atau tidak.
"Ma, aku ingin membicarakan sesuatu sama Mama," ucap Fazilah pada mamanya, saat mereka usai menikmati makan malam.
"Mau bicara apa?"
"Aku ... aku ingin membatalkan pernikahan Ini, Ma."
"Apa maksud kamu? Kamu jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda, aku tidak mencintainya, Ma. Awalnya aku berusaha untuk menerima ini semua, tapi seiring berjalannya waktu, aku tidak bisa, aku mencintai pria lain."
"Kamu tahu, kan, semuanya sudah dipersiapkan oleh mereka, kamu tidak bisa seenaknya."
"Aku tahu, Ma."
"Tolong jangan seperti ini, waktu itu kamu juga ikut menerimanya dari awal. Pernikahan sudah ada di depan mata dan kamu tidak bisa membatalkannya begitu saja. Bukan hanya kita yang malu, tapi keluarga mereka juga dan Hisyam, apa kamu tega mempermalukannya? Dia pria yang baik, selama ini juga dia baik padamu. Tidak pernah memperlakukan kamu secara kasar."
Fazilah diam, semua yang dikatakan mamanya memang benar. Hisyam memang selalu memperlakukannya dengan baik.
"Mama mohon jangan batalkan pernikahan ini." Mama Mirna memohon pada putrinya itu dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Ma, jangan seperti ini, jangan memohon padaku," ucap Fazilah. "Baiklah, aku akan menikah dengan Hisyam."
Fazila akhirnya menyerah, ia tidak ingin lagi melihat mamanya yang memohon padanya, mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus tetap menikah dengan Hisyam.
Malam hari Fazilah tidak bisa tidur, ia memikirkan pernikahannya yang akan dilakukan besok. Tiba-tiba kenangan masa lalu bersama Hafidz datang, air mata mengalir begitu saja tanpa bisa dicegah.
Terlalu banyak kenangan yang terjadi diantara mereka, Hafidz memang pria yang baik, apalagi mereka pernah mengukir kenangan indah bersama.
'Maafin aku, sepertinya kita memang tidak berjodoh, semoga kamu bertemu dengan wanita yang jauh lebih baik daripada aku.'
*****
"Mas, aku besok nggak bisa anterin anak-anak, aku harus ke rumah Fazilah pagi-pagi sekali," ucap Yasna.
"Iya, aku mengerti. Biar kamu diantar Pak Hari, nanti anak-anak aku yang antar," sahut Emran.
"Tidak usah, Mas. Aku naik taksi saja, biar Pak Hari yang antar anak-anak."
"Jangan, kamu biar diantar Pak Hari, aku nggak izinin kamu pergi kalau sendiri."
"Baiklah, biar Pak Hari yang antar."
__ADS_1
"Bagaimana kelanjutan hubungan Fazilah dengan Hafidz?"
"Selesai, mau bagaimana lagi, pernikahan sudah ada di depan mata, Fazilah juga tidak akan mungkin tega permalukan mamanya, Hisyam juga pria yang baik, mudah-mudahan Fazilah bisa menerimanya dengan ikhlas."
"Jangan suka memuji pria lain."
"Aku nggak muji, aku mengatakan yang sebenarnya."
"Pokoknya nggak boleh ngomongin kebaikan pria lain."
Yasna diam tak menyahut, ia tidak mau berdebat dengan suaminya karena suaminya tidak akan pernah mau mengalah, apalagi membahas seorang pria.
Keesokan paginya, Yasna pergi ke rumah Fazilah sebelum anak-anak terbangun, ia pergi bersama Pak Hari. Begitu sampai di rumah Fazilah, terlihat beberapa kerabat yang tidak Yasna kenali, mungkin saudara jauh.
"Assalamualaikum," ucap Yasna.
"Waalaikumsalam, Yasna. Masuk saja, Fazilah ada di kamarnya," sahut Tante Mirna.
"Terima kasih, Tante, saya masuk dulu."
Yasna pergi ke kamar Fazilah, dia mengetuk pintu beberapa kali dan terdengar sahutan dari dalam untuk memintanya masuk.
"Assalamualaikum, calon pengantin."
"Aku siapin keperluan suami dan anak-anakku dulu, lagian kamu juga masih dirias."
"Kak Emran nggak datang, Na?"
"Mas Emran nanti datang di resepsi, sekarang banyak pekerjaan."
Fazilah menganggukkan kepalanya mengerti.
"Sudah, Mbak." ucap perias.
"Iya, terimakasih.
Perias itu pergi meninggalkan Fazilah dan Yasna. Tiba-tiba pintu balkon terbuka, tampaklah seorang pria yang yang sudah mengisi hati Fazilah memasuki kamar, siapa lagi kalau bukan Hafidz.
"Hafidz!" seru Fazilah.
Fazilah segera berlari menuju pintu dan menguncinya, ia takut ada seseorang yang datang dan masuk.
"Kamu kenapa bisa ke sini? Berbahaya, kalau ada yang masuk bagaimana?"
__ADS_1
Tanpa memedulikan pertanyaan Fazilah, Hafidz segera memeluk wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri orang lain. Fazilah berusaha memberontak. Namun, pria itu membisikan kata-kata yang membuat Fazilah terdiam.
"Biarkan seperti ini, mungkin ini yang terakhir, selanjutnya aku tidak akan bisa memelukmu lagi."
Yasna akan pergi, tapi Fazilah melarangnya.
"Jangan pergi, Na. Nanti orang-orang akan curiga," ucap Fazilah pelan yang masih dalam pelukan hafidz.
Yasna menggerutu dalam hati, bagaimana temannya itu membiarkannya di sini sebagai penonton kemesraan mereka, tapi yang dikatakan Fazilah memang benar. Yasna pun memilih memutar tubuhnya membelakangi mereka.
Hafiz melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah Fazilah dengan kedua tangannya.
"Kamu harus bahagia, Fa, agar pengorbananku tidak sia-sia, aku ikhlas kamu bersama dengan dia mungkin kamu benar, kita tidak berjodoh. Setelah kata sah terucap mungkin aku tidak akan ada di kota ini lagi."
"Kamu mau ke mana?"
"Aku tidak mungkin berada di sini, tempat yang akan membuatku semakin terluka, aku memutuskan untuk pindah ke luar negeri. Jam sepuluh pesawat akan berangkat jadi, masih ada waktu untuk menyaksikan pernikahanmu. Kamu jangan khawatir, di mana pun aku berada, aku akan selalu berdoa agar kamu selalu bahagia."
Fazilah tidak bisa menahan air matanya yang mulai mengalir dan bertambah deras. Ia juga sama terlukanya seperti Hafidz, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hatinya yang sakit kini semakin bertambah sakit saat mendengar bahwa Hafidz akan pergi.
"Jangan menangis nanti riasannya luntur, nanti jelek masa pengantin kalah sama tamu undangan," ledek Hafidz. "Jadilah wanita yang kuat, agar tidak ada seorang pun yang bisa merendahkanmu," ucap Hafidz dengan tersenyum dengan air mata yang menetes.
Hafidz berusaha kuat di depan wanita yang dicintainya ini, tapi perpisahan ini terlalu menyakitkan untuknya.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu."
"Jangan berkata seperti itu, mulai hari ini belajarlah mencintai suamimu, jangan pernah membantah perintahnya, karena aku ingin kita berjumpa di surga nanti."
Hafidz mencium kening Fazilah sebagai perpisahan mereka, entah kapan mereka bisa bertemu kembali, Fazilah menutup mulutnya agar suara tangisnya tak keluar. Bukan seperti ini yang mereka inginkan, tapi keadaan yang memaksa mereka.
Yasna yang membelakangi mereka juga ikut menangis. Ia tahu, pasti sangat berat berada di posisi mereka, disaat kita masih sangat mencintai pasangan kita, keadaan memaksa untuk berpisah mungkin ini yang dinamakan pengorbanan. Mereka mengorbankan cinta mereka dengan alasan kehormatan keluarga.
Ingin sekali Hafidz membawa pergi Fazilah saat ini juga, tapi ia tidak ingin menikah tanpa restu dari orang tua, ia tahu pasti akibat tidak mendapat restu.
"Aku pergi dulu, semoga kamu selalu bahagia." Hafidz menggenggam tangan Fazilah dan menciumnya, ia kemudian pergi melewati Balkon kembali dan turun menggunakan tangga.
Fazilah merasa berat berpisah dengan Hafidz, ia terisak dalam pelukan Yasna, mereka berdua sama-sama menangis. Yasna tahu betapa terlukanya sahabatnya saat ini.
.
.
.
__ADS_1
.