Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
275. S2 - Pindah


__ADS_3

"Siapa namamu?" tanya Yasna pada seorang wanita yang ada di depannya.


"Nama saya Wulan, Bu."


"Apa kamu punya CV?"


"Ada, sebentar." Wulan mengambil sebuah dokumen yang sudah dia persiapkan sebelumnya untuk diberikan kepada calon majikannya. Yasna melihat dan membaca dengan saksama CV yang dari wanita itu.


"Sudah berapa lama kamu bekerja sebagai asisten rumah tangga?" tanya Yasna.


"Lima tahun, Bu," jawab Wulan.


"Di sini dijelaskan jika kamu seorang janda dan memiliki anak. Usia anak kamu juga lima tahun. Apa setelah melahirkan kamu langsung bekerja? Lalu anak kamu ada di mana?"


"Saya bekerja saat usia anak saja tiga bulan. Sekarang anak saya diasuh sama ibu saya di desa."


"Kamu cerai mati atau pisah sama mantan suami kamu?"


"Kami berpisah."


Ada rasa tidak nyaman saat Wulan harus menceritakan tentang masa lalunya, tetapi demi untuk mendapatkan pekerjaan ini, dia harus menjawabnya. Semua pertanyaan dari Yasna juga masih dalam batas wajar. Wulan mengerti, mungkin calon majikannya takut jika dia akan menjadi duri dalam rumah tangganya. Wanita itu bisa menjamin jika itu tidak akan pernah terjadi.


Meskipun seorang janda, tetapi Wulan bukan perempuan murahan. Dia masih tahu batasan sebagai seorang pembantu. Wanita itu tidak mungkin melewati batas. Wulan tahu bagaimana rasanya dikhianati jadi dia tidak mungkin melakukan itu.


"Kenapa tidak kamu titipkan kepada mantan suami kamu saja?" tanya Yasna.


"Mantan Suami saya sudah menikah lagi. Saya tidak tega meninggalkan anak saya bersama dengan wanita lain. Apalagi Wanita itu sudah menghancurkan rumah tangga saya," jawab Wulan yang bisa dimengerti oleh Yasna tanpa harus dijelaskan lebih lanjut. Dia juga pernah ada dalam posisi itu.


"Rani sudah menjelaskan padamu, kan, kalau saya akan uji coba kamu selama satu bulan ini. Jika kamu bisa bekerja di sini dengan baik dan saya puas dengan pekerjaan kamu, saya akan menerima kamu. Jika tidak, saya minta maaf, tidak bisa menerima kamu."


"Iya, Bu. Saya mengerti. Mbak Rani sudah menjelaskan semuanya."


"Ayo, saya antar ke kamar kamu."


"Biar saya saja, Bunda," sela Nayla yang diangguki Yasna.


"Kamu ikuti putri saya," ucap Yasna.


Wulan pun mengikuti Nayla dari belakang menuju kamar di sebelah kamar Rani dulu. Yasna tidak ingin orang lain menempati kamar itu dulu karena masih ada, beberapa barang Rani juga yang ada di sana.


"Ini kamar Mbak Wulan, semoga betah di sini."

__ADS_1


"Iya, Bu, terima kasih."


"Baiklah, saya tinggal dulu, mau lihat putri saya sudah bangun atau belum."


"Ibu memiliki seorang putri? Saya kira belum menikah," ujar Wulan yang segera menutup mulutnya.


"Tidak apa-apa. Dia putri saya satu-satunya," sahut Nayla. "Oh, iya, apa Mbak Rani sudah memberitahu kalau bunda saya alergi udang?"


"Tidak, Bu. Mbak Rani tidak bilang."


"Bunda saya alergi udang, kalau mau masak udang boleh, tapi pakai peralatan yang ada di bawah meja dapur. Soalnya bunda kalau ada bau udang sedikit saja pasti alerginya kambuh. Jadi pakai alat yang lain."


"Terima kasih, Bu. Hampir saja saya melakukan kesalahan."


"Iya, tidak apa-apa."


"Kalau yang lainnya tidak apa-apa, kan, Bu? Tidak ada yang alergi lagi?"


"Iya, yang lainnya tidak apa-apa, hanya bunda saja. Saya pergi dulu. Mbak Wulan bisa bekerja mulai besok, untuk saat ini bisa santai dulu sambil membereskan barang Mbak Wulan."


"Iya, Bu, Terima kasih."


Nayla pun pergi meninggalkan Wulan seorang diri.


Sebenarnya wanita itu juga tidak tega pada ibunya yang sudah tua, yang kini harus merawat anaknya. Hanya saja dia tidak punya pilihan lain. Wulan juga tidak mungkin membawanya bekerja. Apalagi pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga, sudah pasti akan membutuhkan tenaga yang besar. Dia tidak bisa fokus memperhatikan sang anak.


*****


Afrin dan Zahra telah selesai kelasnya. Mereka berjalan menuju luar gedung kampus. Keduanya ingin memesan taksi. Tatapan Afrin berhenti pada sebuah mobil yang sangat ia kenali.


"Itu bukannya kak Khairi, Frin?" tanya Zahra.


"Iya, kok dia nggak bilang, ya, kalau mau jemput?" jawab Afrin dengan bergumam.


"Tadi aja marah-marah karena nggak dianterin. Sekarang dijemput malah ngedumel."


"Siapa yang ngedumel? Aku cuma heran saja. Dia tadi nggak bilang apa-apa. Aku kira Kak Ivan yang jemput."


"Ya sudah, kamu pulang sana! Aku mau berangkat kerja dulu," pamit Zahra.


"Kita bareng saja," ucap Afrin yang merasa tidak enak karena tadi dia yang mengajak Zahra pulang bersama.

__ADS_1


"Enggak ah, aku enggak mau ganggu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Afrin dan Zahra pun saling melambaikan tangan.


"Sudah selesai kelasnya, kan, Sayang?" tanya Khairi dengan mendekati istrinya.


"Sudah, Mas. Kalau belum sudah pasti aku masih ada di dalam kelas. Kamu pertanyaannya aneh sekali," jawab Afrin.


"Sayang, kok, kamu jawabnya ketus gitu? Lagi ada masalah atau lagi datang bulan?" tanya Khairi.


"Siapa yang ketus? Biasa saja."


"Ini apa namanya kalau tidak ketus? Ya sudah, ayo, kita pulang!" ajak Khairi. Afrin pun mengikuti suaminya tanpa banyak bertanya. Mereka menaiki mobil meninggalkan universitas menuju apartemen.


"Kita ke apartemen, ya, Sayang! Beresin barang kita, hanya beberapa saja, tidak semuanya."


"Terserah, Mas, saja," sahut Afrin. "Mas tumben ambil cuti, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Afrin sambil menatap suaminya.


"Tidak ada, hanya pengen cuti saja. Tadi ada yang diobrolin beberapa hal mengenai pekerjaan sama papa. Kamu tahu, kan, kalau papa tidak bisa lagi bekerja jadi, aku yang pegang kendali semuanya. Tadi aku tanya beberapa hal sama dia."


"Memang tidak ada yang bisa dipercaya? Sampai harus turun tangan sendiri?"


"Tidak ada, dulu sempat ada, tapi ternyata orang itu berkhianat sama papa. Akhirnya sampai hari ini papa tidak pernah percaya pada orang lain selain keluarganya."


"Kalau sekretaris?"


"Ada sekretaris, tapi papa belum percaya sepenuhnya sama dia. Mungkin nanti aku coba cari seseorang yang bisa dipercaya. mudah-mudahan masih ada orang baik yang bisa jujur."


"Amin, semoga saja."


Mobil mereka pun sampai di apartemen tempat tinggal mereka selama ini. Keduanya turun menuju unit milik Khairi. Beberapa orang juga menyapa mereka. Interaksi Afrin dengan penghuni apartemen memang cukup baik. Tidak heran jika banyak yang mengenalnya.


"Sayang, kita bawa satu koper saja jangan banyak-banyak. Nanti kalau kalau ada sesuatu yang kurang kita bisa beli."


"Kalau begitu, Mas, bawa sedikit saja bajunya. Di rumah juga ada baju kamu. Kalau aku nggak ada sama sekali."


"Iya, terserah kamu saja."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2