
"Nggak papa Gimana? Nanti bisa bengkak. Sudah Jangan membantah, kali ini kamu harus menuruti perintahku."
Fazilah terharu, inilah yang tidak bisa ia lupakan dari sosok Hafidz, yang begitu perhatian bahkan dalam hal sekecil apapun.
'Bagaimana aku bisa melupakanmu, kalau hal sekecil ini pun, membuatku merasa menjadi wanita yang spesial,' batin Fazilah.
Mereka memasuki mobil yang sudah disiapkan oleh anak buah Hafidz, di sana sudah ada sopir. Hafidz dan Fazila duduk di belakang.
"Kita tidak perlu ke klinik, aku tidak apa-apa."
"Hanya sebentar saja, setelah itu terserah padamu mau ke mana, tapi jangan berbuat seperti tadi, karena aku tidak selamanya ada di dekatmu."
"Aku tidak apa-apa, sungguh! Aku tidak mau ke sana."
"Tapi kamu--"
"Aku ingin ke bukit."
"Bagaimana dengan lukamu?"
"Sudah aku katakan, aku tidak apa-apa, nanti dikompres juga nggak bengkak."
"Baiklah," sahut Hafidz. "Kita ke bukit, Pak," ucap Hafidz pada sopir.
"Iya, Tuan."
Hafidz mengirim pesan pada anak buahnya untuk membelikan obat dan juga membawakan es batu ke bukit, ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Fazilah, bahkan luka sekecil apapun.
*****
Keluarga Emran telah sampai di pantai, tempat tujuan mereka, anak-anak berlari karena mereka begitu sangat senang.
"Ayo, kita main di tepi pantai!" ajak Afrin pada sepupunya.
Mereka semua bermain di tepi pantai, bahkan Aydin yang biasanya hanya diam pun ikut bermain.
"Kak Emran, ayo, kita kesana! Kasihan anak-anak kalau nggak ada yang jaga, aku juga cuma bisa fokus sama si bungsu," ajak Celina dengan menarik tangan Emran tanpa menunggu jawaban dari pria itu.
Celina bahkan tidak bicara dulu dengan Yasna apalagi mengajaknya, Yasna merasa seperti dirinya lah orang luar saat ini.
Yasna memilih duduk di bawah pohon besar seorang diri, sementara Emran, anak-anak dan juga Celina sedang bercanda ria di tepi pantai, ia bisa melihat bagaimana Celina dan Emran bersama anak-anak seperti keluarga bahagia, ia merasa seperti orang asing yang sudah ada di antara mereka.
Tanpa sadar air mata Yasna menetes, ia tiba-tiba teringat kenangan dulu saat bertemu suaminya sedang bersama wanita lain, bedanya dengan sekarang suaminya sedang bersama dengan mantan adik iparnya.
Karena terlalu lama menunggu Yasna memilih berjalan-jalan di sekitaran pantai, itu lebih baik menurutnya, daripada harus melihat keakraban suaminya dengan mantan adik iparnya.
Emran, Celina dan anak-anak telah selesai bermain, mereka kembali ke bibir pantai, Emran mencoba mencari keberadaan Yasna, karena seingatnya tadi Yasna ada di bawah pohon. ia mengedarkan pandangan ke segala arah. Namun, tak juga menemukan keberadaan istrinya.
"Cel, Yasna tadi di mana?" tanya Emran.
__ADS_1
"Saya tidak tidak tahu, Kak. Tadi Mbak Yasna di sini, tapi nggak tahu sekarang di mana."
"Aydin, tahu di mana Bunda?"
"Tidak, Pa. Aku nggak lihat."
"Kalian tunggu di sini sama tante Celina, Papa mau cari Bunda dulu, Aydin jaga adek, jangan kemana-mana."
"Iya, Pa."
Emran berlari mengitari pantai, mencari keberadaan sang istri, tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang wanita yang berdiri di atas batu memandangi pantai, ia meyakinkan pandangannya jika itu adalah Yasna. Setelah benar-benar yakin jika itu adalah Yasna, ia segera menghampiri wanita itu.
"Kenapa kamu di sini, Sayang? Aku cari kamu kemana-mana."
Yasna yang mendengar suara suaminya pun berbalik.
"Aku terlalu menikmati pemandangan pantai jadi, melupakan semuanya," jawab Yasna sekaligus menyindir Emran, ia pergi meninggalkan tempat itu begitu saja.
"Kamu kenapa tadi tidak ikut bermain di pantai?" Emran berjalan mengikuti Yasna.
"Ikut bermain, setelah ditinggal begitu saja?" Yasna menghela nafas kesal. "Anak-anak sudah selesai, kan? Ya udah, ayo, pulang!" Yasna semakin melebarkan langkahnya, meninggalkan Emran yang tengah dilanda kebingungan.
Emran merasa Yasna saat ini tengah kesal, tapi kesal karena apa Emran tidak tahu.
"Anak-anak, sudah selesai, kan? Ayo, kita pulang!" ajak Yasna.
"Bunda, Afrin lapar," rengek Afrin.
"Jangan dong, Mbak. Kita makan di restoran aja, lebih dekat. Kalau nunggu sampai rumah, kasihan anak-anak, Afrin juga sudah kelaparan," sahut Celina.
"Iya, Na. Kita makan di restoran dekat pantai saja, makanan di sana enak, kok!"
"Ayo, anak-anak! Kita ke restoran dulu." Celina berjalan lebih dulu bersama anak-anak.
Lagi-lagi Celina tidak mengajak Yasna, ingin sekali Yasna pulang segera, tapi ia tidak ingin membuat anak-anak sedih.
"Ayo, Bunda!" ajak Aydin dengan menggandeng tangan Yasna.
"Ayo, Sayang!" ajak Emran dengan merangkul pinggul Yasna.
Yasna tersenyum melihat kearah mereka bergantian, ia senang suami dan putranya masih memperhatikannya, ternyata mereka tidak pernah melupakannya, mungkin dia saja yang terlalu sensi.
"Bunda, jangan pernah mau kalah sama pelakor. Bunda harus tunjukan kalau Bunda wanita hebat," ucap Aydin, membuat Yasna menatapnya, seolah bertanya dari mana Aydin tahu?
"Bunda enggak usah malu, aku tahu kok apa yang ada dalam pikiran Bunda." Aydin mencoba menebak apa yang Yasna pikirkan.
"Jadi, kamu cemburu sama Celina?" tanya Emran disela langkah mereka.
"Enggak, siapa yang cemburu," Kilah Yasna,
__ADS_1
"Lain kali kalau cemburu jangan ditahan, Sayang. Katakan padaku, kalau perlu marah lah, agar tidak ada kesalahpahaman diantara kita suatu hari nanti."
"Maafin Aydin juga ya, Bunda. Tadi nggak perhatian sama Bunda."
"Enggak ini bukan salah kamu, Bunda yang salah, seharusnya Bunda lebih mengerti."
"Sudah, kita sudah sampai, nggak enak juga sama Celina," ucap Emran.
"Lebihh nggak enak sama Celina, daripada sama aku."
"Enggak gitu juga, Sayang. Aku cuma--
"Sudah, ayo, ke sana! Nggak enak sama Celina," sahut Yasna dengan menirukan ucapan Emran.
Yasna berjalan lebih dulu bersama Aydin, sementara di belakang, Emran mengikuti mereka dengan menggelengkan kepala.
"Kak Emran, mau pesan apa?" tanya Celina.
"Kepiting saus pedas, sama ayam goreng sambal saja."
"Kakak 'kan nggak suka pedas, kenapa pesan pedas?"
"Bukan buat saya, buat istri saya."
Yasna tersenyum mendengarnya, Emran memang selalu tahu apa kesukaannya, padahal dia tidak pernah mengatakannya.
"Aydin mau pesan apa?"
"Sama seperti Papa saja."
Mereka makan dengan lahap, mungkin efek kelelahan setelah bermain di pantai. Setelah menghabiskan makanannya, mereka memutuskan untuk pulang, anak-anak juga sudah lelah.
Mereka sampai di rumah saat sudah petang, Mama Karina menawarkan Celina menginap saja dan Celina menyetujuinya.
"Kamu nginap di sini saja, Cel. Kasihan anak-anak sudah capek," tawar Karina.
"Iya, Ma."
"Jangan lupa izin sama suamimu, kalau perlu suruh saja dia ke sini juga."
"Iya, Ma."
Celina segera menghubungi suaminya dan mengatakan akan menginap di rumah Mama Karina.
.
.
.
__ADS_1
.
.