Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
226. S2 - Hormati tamu


__ADS_3

Afrin duduk dengan diapit kedua orang tuanya. Gadis itu tampil apa adanya, dia sama sekali tidak ada persiapan apa-apa karena memang tidak satu pun orang memberi tahunya. Lebih penting lagi, gadis itu tidak mengharapkan adanya acara ini.


"Jadi begini, Pak Emran. Saya sebagai orang tua Khairi datang kesini berniat melamar Afrin untuk menjadi istrinya Khairi. Kiranya Pak Emran sekeluarga merestui mereka," ucap Hamdan.


"Maaf sebelumnya, Om. Saya sudah mengatakan kalau saya ingin membatalkan rencana pernikahan ini, kenapa kalian datang untuk melamar?" sela Afrin dengan menahan kesal.


"Sayang ...." tegur Yasna.


"Enggak, Bunda, aku sudah mengatakannya bahwa aku tidak mau menikah dengan dia."


"Mohon maaf, Om Emran dan Tante Yasna, saya dan orang tua saya datang ke sini ingin melamar Afrin untuk jadi istri saya. Saya tidak peduli lamaran saya kali ini diterima atau tidak, yang pasti dari awal Afrin sudah menerima dan saya meyakini akan jawaban itu. Jika saat ini dia menolak, itu bukan masalah untuk saya karena bagi saya, jawaban yang kemarin itu lebih dari dalam hatinya. Mengenai rencana pernikahan akan dilaksanakan dua minggu lagi. Tepatnya hari Jumat pukul satu siang, seperti keinginan Afrin sebelumnya. Acaranya akan di laksanakan di gedung samping perusahaan papa. Kami sekeluarga akan menunggu kedatangan keluarga Om Emran. Semoga saja saya tidak kecewa, tapi jika memang Afrin benar-benar tidak mencintai saya lagi, tidak apa-apa, Anda sekeluarga tidak perlu datang. Saya akan menerimanya dengan ikhlas," ucap Khairi tegas.


Ini adalah keputusannya yang terakhir. Jika memang nanti Afrin tidak datang di hari pernikahan, dia akan melupakan gadis itu untuk selamanya. Khairi bukan pemuda ingusan yang bisa diajak main-main dalam menjalin hubungan.


"Sayang, tapi itu ...." sela Mama Merry.


"Tidak apa-apa, Ma. Aku memang sudah menyiapkan segalanya, tapi aku tidak mungkin memaksa seorang gadis menikah denganku tanpa ada rasanya cinta," ucap Khairi pada mamanya dan beralih menatap Afrin. "Tapi jika kamu masih mencintaiku, silakan datang aku akan menunggumu sampai jam tiga. Saya juga akan mengirimkan penata rias ke sini. Sekalian juga gaun yang akan kamu gunakan di acara pernikahan kita. Itu saja yang ingin aku sampaikan di sini. Selebihnya, semua keputusan ada pada Afrin. Jangan pernah merasa terbebani atas apa yang akan terjadi padaku. Cukup tanyakan pada hatimu, apa yang kamu rasakan," ucap Khairi panjang lebar.


Semua orang diam mendengarkan kecuali Merry, dia tidak rela jika Khairi harus melakukan hal seperti itu. Apa yang dilakukannya sama saja mempermalukan diri sendiri. Bagaimana jika Afrin benar-benar tidak datang, semua orang akan menggunjingnya.


Apalagi Khairi juga mengumumkan acara ini secara besar-besaran. Mau taruh di mana muka mereka. Wanita itu menatap Afrin dengan tatapan benci, tidak seharusnya kemarin dia mendukung putranya untuk menikah dengan gadis yang labil itu.

__ADS_1


"Sepertinya, sudah tidak ada lagi yang bisa saya sampaikan. Saya dan kedua orangtua saya permisi. Maaf jika kedatangan kami secara mendadak, membuat keluarga Om Emran repot," ucap Khairi yang akan beranjak. Namun, dicegah oleh Emran.


"Tunggu dulu, jangan terburu-buru kami sudah masak jadi, sayang kalau tidak dimakan. Sebaiknya kita makan dulu," ucap Emran.


"Iya, tadi Rani juga sudah masak. Mari!" ajak Yasna. Sebenarnya mereka enggan, tapi mau tidak mau keluarga Khairi menerima tawaran itu, demi menghormati tuan rumah.


Mereka semua mengikuti Yasna ke ruang makan. Hanya afrin yang masih duduk di ruang tamu. Gadis itu masih dengan keterkejutannya, memikirkan setiap kata yang Khairi ucapkan tadi. Dia bingung jalan mana yang harus dilaluinya.


"Ayo, Sayang! Kamu tidak ikut makan?" tanya Emran.


"Tidak perlu, Pa. Nanti saja, Afrin mau ke kamar." Gadis itu berlalu menuju kamarnya. Dia benar-benar marah pada Khairi, pria itu mengatakan jika dia tidak memaksa Afrin untuk menikah dengannya, tetapi dengan apa yang dilakukannya itu, bukankah termasuk paksaan?


Khairi memakan makanannya dengan susah payah. Pria itu sebenarnya sudah tidak selera makan, tetapi demi untuk menghormati calon mertuanya, dia paksakan untuk menelan makanan itu. Bukan hanya Khairi saja, semua orang yang ada di ruangan itu hampir sama. Lidah mereka tidak bisa merasakan apa pun dan itu semua karena satu orang gadis.


Setelah kepergian keluarga Khairi, Emran dan Yasna memasuki kamar putrinya. Keduanya ingin berbicara dengan gadis itu dan juga perlu mendengarkan keluh kesahnya. Sebagai orang tua mereka mengerti bagaimana perasaan Afrin saat ini.


Yasna mengetuk pintu kamar Afrin, terdengar sahutan dari dalam yang memintanya untuk segera masuk saja. Wanita itu bersama suaminya memasuki kamar putrinya, tetapi baru beberapa langkah Afrin sudah mengatakan sesuatu.


"Kalau Papa sama Bunda ke sini mau maksa aku buat nikah sama Khairi, sebaiknya tidak usah. Aku tetap tidak mau menikah dengannya," ucap Afrin tanpa melihat orang tuanya.


"Siapa bilang Papa sama Bunda mau maksa kamu buat nikah sama dia?" tanya Emran yang duduk di tepi ranjang di samping putrinya. Sementara Yasna di sisi yang lain. Kini gadis itu berada di tengah orang tuanya.

__ADS_1


"Bunda ke sini cuma mau ngingetin kamu. Seharusnya tadi waktu mereka pulang kamu keluar. Sikap kamu tadi itu tidak sopan. Bunda tidak pernah mengajari kamu untuk bersikap seperti itu. Meskipun kamu tidak menyukai mereka, tapi kita tetap harus menghormati mereka. Bagaimana jika itu kamu? Kamu berkunjung ke rumah orang, tapi tuan rumah sama sekali tidak menghargai kedatanganmu. Bagaimana perasaanmu?" tanya Yasna.


Afrin hanya diam dengan menundukkan kepalanya. Dia akui jika telah melakukan kesalahan, tetapi diwaktu yang sama, gadis itu kesal melihat sikap Khairi yang seenaknya.


"Bukankah Khairi sendiri yang mengatakan, kalau kamu tidak perlu repot memikirkan bagaimana perasaannya! Kalau kamu benar-benar sudah tidak mencintainya, kamu tidak perlu memikirkan bagaimana keadaannya. Cukup hormati dia sebagai tamu yang datang ke rumah kita, itu saja. Bukankah yang memperumit semuanya itu kamu!" ucap Yasna lagi.


Afrin merasa dirinya kini terpojok. Kedua orangtuanya membela Khairi. Meski mereka tidak mengatakannya secara langsung, tetapi dari kata-kata mereka itu mengarah ke sana.


Yasna juga sebenarnya geram dengan sikap putrinya. Sudah jelas-jelas gadis itu masih mencintai Khairi, tetapi masih saja menolak untuk menikah. Sekali-kali sepertinya Afrin perlu ditegaskan.


"Bunda benar, Sayang. Kalau kamu tidak mau menikah dengan Khairi, kamu tidak perlu repot. Kamu juga tidak perlu memikirkan bagaimana nanti pernikahannya. Papa tahu, pasti itu akan sangat mempermalukan mereka. Mungkin juga akan mempengaruhi bisnis mereka, tetapi kamu tidak perlu khawatir. Papa akan bantu mereka jika memang kejadiannya seperti itu jadi, kamu tidak perlu merasa bersalah karena Papa juga tidak mau putri Papa menikah dengan seorang pria yang tidak dicintainya. Papa juga ingin melihat putri Papa bahagia bersama dengan orang yang dicintainya dan mencintainya."


Afrin diam sambil menundukkan kepalanya mendengarkan kedua orang tuanya berbicara. Dalam hati dia merasa bersalah karena sudah berburuk sangka pada kedua orang tuanya.


"Mungkin nanti Papa bisa mengirim gadis lain untuk dinikahkan dengan Khairi," usul Yasna.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2