Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
302. S2 - Apa perlu puluhan tahun?


__ADS_3

Usai makan siang, Khairi dan Afrin pamit pulang. Bu Nur dan Laily juga perlu istirahat. Mereka tidak ingin mengganggu kegiatan ibu dan adiknya. Keduanya pergi ke apartemen lainnya yang ada di gedung ini untuk mengambil kunci mobil. Untung saja masih ada satu mobil di sini jadi, mereka tidak perlu naik taksi.


"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Afrin saat melihat arah mobil yang dikendarai sang suami tidak menuju rumah.


"Mau beliin ponsel untuk Laily, aku lihat dari kemarin dia tidak pegang ponsel. Nanti kamu pilihan buat dia, ya! Aku tidak tahu selera wanita. Kalau kamu mau beli sekalian juga tidak apa-apa."


"Aku tidak perlu, kita pilihan buat Laily saja. Ponselku masih bagus."


Khairi pun berhenti di konter terbesar di sana. Berbagai merk dan model ponsel tersedia. Pria itu mengikuti istrinya memilih benda pipih itu, hingga pilihannya berhenti tepat disebuah ponsel dengan keluaran terbaru. Milik Afrin dan Khairi saja tidak sebagus itu.


"Ini saja, Mas," ujar Afrin.


Khairi mengamati ponsel itu. Memang sangat bagus, pantas saja Afrin begitu tertarik tanpa bingung mau pilih yang mana. Pria itu mengangguk sambil tersenyum.


"Kekasih Anda sangat pintar memilih. Ini ponsel keluaran terbaru, Tuan. Sangat jarang yang bisa membeli karena harganya tinggi," ujar Penjaga toko.


"Kalau begitu saya pilih yang ini. Satu hal lagi, dia bukan kekasih saya, tetapi istri saya," sahut Khairi sambil menarik pinggang Afrin dengan lembut membuat wanita itu tersenyum.


"Oh, maaf, saya tidak tahu. Saya pikir Anda belum menikah. Tuan dan Nona masih terlihat sangat muda. Sekali lagi saya minta maaf."


"Tidak apa-apa, Mbak. Jangan terlalu diambil hati ucapan suami saya. Dia memang suka iseng," sahut Afrin.


"Sayang, kamu tidak mau beli ponsel seperti itu? Itu keluaran terbaru, loh, Sayang," ucap Khairi.


"Setiap bulan juga selalu ada keluaran terbaru, bukan cuma hari ini jadi, tidak perlu. Ponselku juga masih bagus," sahut Afrin.


Pegawai toko hanya diam mendengarkan. Awalnya dia pikir wanita yang ada di depannya ini membeli ponsel untuk dirinya sendiri, ternyata tidak. Kalau untuk suaminya juga sepertinya tidak karena Khairi tadi juga sempat memainkan ponselnya dan itu juga keluaran baru-baru ini.


Khairi menggesekkan kartu kreditnya saat pegawai toko meminta pembayaran. Tidak lupa juga pria itu memberi kartu perdana untuk ponsel yang dibelinya.


"Ini ponselnya, Tuan, Nyonya. Terima kasih atas kunjungannya," ucap Pegawai itu dengan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Terima kasih, Mbak."


Khairi dan Afrin meninggalkan toko dan melaju menuju rumah. Tubuh mereka sudah sangat lelah. Dua malam mereka tidak tidur dengan baik. Malam ini mereka akan membayarnya dengan tidur sepuasnya. Mudah-mudahan tidak ada sesuatu yang mengganggu keduanya.


*****


"Apa kamu tidak mau memaafkan ayahmu?" tanya Nur saat mereka sedang menonton televisi.


Laily hanya diam. Dia juga tidak tahu apa yang akan dilakukan nanti. Apa selamanya seperti ini? Gadis itu juga tidak mau. Akan tetapi, hatinya terlalu sakit saat melihat pria yang sudah menyakitinya secara tidak langsung itu.


Bayang-bayang itu selalu saja hadir, padahal Laily sudah berusaha untuk melupakan semuanya. Untuk saat ini mungkin lebih baik dia tidak bertemu papanya dulu hingga hatinya benar-benar ikhlas.


"Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Ibu tidak akan memaksamu, tapi cobalah berdamai dengan keadaan. Insya Allah semua akan baik-baik saja, begitu pun dengan hatimu," lanjut Bu Nur.


"Aku sedang berusaha, Bu, tapi semua itu tidak mudah. Setiap aku ingin melupakan semuanya, bayang-bayang kenangan buruk masa lalu hadir begitu saja dan itu sangat menyakitkan," sahut Laily menundukkan kepalanya dengan menahan air matanya agar tidak menetes.


"Pelan-pelan, jangan dipaksakan. Saat waktunya nanti hatimu akan terbuka dengan sendirinya. Asal kamu mau berusaha."


Laily mengangguk, dia ragu apa nanti bisa memaafkan ayahnya atau tidak. Melihatnya saja sudah ingin marah, apalagi bicara dengan pria itu.


"Iya, istirahatlah. Besok kakakmu akan mengajak jalan-jalan," ucap Nur yang diangguki Laily.


Gadis itu berlalu menuju kamarnya meninggalkan sang ibu seorang diri. Saat ini otaknya tidak bisa bekerja dengan baik. Mungkin besok setelah istirahat semuanya akan baik-baik saja.


*****


Sejak kepulangannya dari apartemen yang ditempati Nur dan Laily, Hamdan sama sekali tidak melakukan apa pun. Pria itu selalu melamun. Bahkan dia sama sekali belum minum obatnya. Hal itu tentu saja membuat Merry khawatir. Berkali-kali wanita itu meminta sang suami untuk makan dan meminum obatnya. Namun, Hamdan selalu berkata nanti, nanti dan nanti.


Merry mendesah pelan melihat sang suami yang duduk di balkon dengan pandangan kosong. Wanita itu merasa ikut sedih atas penolakan yang diterima Hamdan. Namun, wanita itu mengerti bagaimana perasaan gadis itu.


Ditinggalkan ayah dari sejak di dalam perut. Mengalami berbagai hal kesulitan dan dia yakin, jika Laily pasti juga sering dihina oleh teman-temannya karena miskin.

__ADS_1


"Ma, apa papa belum mau makan?" tanya Afrin yang baru pulang bersama suaminya.


Tadi Merry mengirim pesan pada Khairi. Dia mengatakan jika papanya tidak mau makan dan minum obat. Sudah berbagai cara dilakukannya, tetapi tidak juga membuat Hamdan beranjak.


"Belum, dari tadi papa cuma duduk-duduk saja tanpa memakan apa pun," jawab Merry dengan menatap ke arah suaminya.


"Biar aku yang bicara," ucap Khairi yang segera mendekati papanya.


Merry dan Afrin hanya melihatnya. Jarak mereka tidak terlalu jauh, tetapi cukup untuk mendengar pembicaraan kedua pria itu.


"Mau menyiksa diri?" tanya Khairi saat duduk di kursi samping papanya.


"Maksudmu?" tanya Hamdan.


"Apa dengan seperti ini Laily akan luluh? Justru dia akan semakin membenci sosok papa. Orang yang sudah menelantarkannya begitu saja dan kini malah mati bunuh diri," ucap Khairi membuat semua orang terkejut.


Bagaimana bisa pria itu memiliki pemikiran seperti itu? Dia juga berbicara tanpa berbasa-basi. Papa Hamdan hanya menghela napas kemudian menatap putranya.


"Bagaimana Laily tadi? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Hamdan.


"Baik, aku tahu dia terluka, tetapi dia berusaha baik-baik saja."


"Apa yang harus Papa lakukan? Dia sepertinya sangat marah sama Papa."


"Itu wajar, dia selama ini hidup dalam kesulitan jika dia menerima maaf dari Papa begitu saja, justru akan terlihat aneh. Mengingat apa yang terjadi padanya selama ini," ujar Khairi. "Papa harus berusaha lebih keras lagi agar mendapat maaf darinya. Sama seperti perjuangan hidupnya selama puluhan tahun."


"Apa Papa harus menunggu sampai puluhan tahun juga untuk mendapatkan maafnya?"


"Kenapa tidak jika memang itu diperlukan."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2