
"Apa mungkin Afrin sedang patah hati?" tebak Aydin.
"Kamu ini ada-ada saja," sahut Yasna menolehkan kepalanya ke arah Aydin.
"Mungkin benar, Sayang. Afrin kan sebelumnya bilang, kalau dia minta izin pacaran," sahut Emran.
Yasna diam memikirkan kata-kata suami dan anaknya, tapi Afrin bukan orang yang seperti itu, dia selalu menuruti apa pun kata-katanya. Wanita itu berpikir, apa mungkin dia terlalu keras pada putrinya? Dia hanya tidak ingin Afrin terpengaruh pergaulan bebas.
"Ya sudah, tidak usah terlalu dipikirkan. Nanti kita coba tanya dia lagi," pungkas Emran.
Yasna mengangguk. Sebenarnya Emran juga ragu kalau Afrin sedang patah hati. Dia sangat tahu kalau putrinya itu selalu menuruti apapun yang dikatakan oleh istrinya, tapi dia tidak ingin Yasna kepikiran dan membuat wanita itu tidak tenang.
"Aku mau ke kamar dulu, ya, Bunda," pamit Aydin segera dia beranjak menuju kamarnya. Pria itu ingin mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum selesai.
"Iya, jangan begadang."
Setelah kepergian Aydin suasana ruang tamu terasa sepi. Emran dan Yasna sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Mas, apa benar Afrin nggak apa-apa? Aku masih khawatir sama dia. Sepertinya terjadi sesuatu?" tanya Yasna yang merasa gelisah.
"Aku juga merasa seperti itu, Sayang, tapi kita juga harus mempercayakan semuanya pada Afrin mungkin ini juga cara untuk membuatnya, agar lebih dewasa lagi, dalam menghadapi masalah." Emran mencoba menenangkan sang istri.
"Tetap saja, Mas. Aku tidak tenang sebelum tahu masalahnya." Yasna menundukkan kepalanya, dia merasa sedih karena tidak tahu mengenai apa yang terjadi pada putrinya.
"Sudah, lebih baik kita banyak berdoa saja, untuk anak-anak agar mereka diberi kemudahan, dalam menghadapi setial masalah yang menguji mereka."
"Iya, Mas."
Meski sang suami sudah menenangkannya. Tetap saja, jauh di dalam hatinya dia masih menghawatirkan keadaan putrinya, tapi dia tidak ingin membuat suaminya kahawatir.
Sementara di dalam kamar Afrin menangis. Ingin sekali dia bercerita kepada orang tuanya jika di sekolah dia difitnah, tapi ini adalah pilihan yang dia ambil jadi, dia harus menerima segala konsekwensinya.
Emran sudah memberi peringatan pada Afrin, mengenai segala kemungkinan baik dan buruknya tentang pilihannya, tapi putrinya itu tetap tegas ingin menutupi identitas dan sekarang dia difitnah seperti ini. Afrin tidak tahu harus bagaimana.
Teman-teman sekelas semuanya menuduh dia menjadi sugar Baby, tapi dia masih bersyukur Nuri dan Siska masih mempercayainya. Afrin kecewa pada Vira karena dia lebih mempercayai foto, dari pada dirinya. Padahal dari ketiga sahabatnya itu Vira lah yang paling dekat dengannya.
Afrin berdoa, semoga dia diberikan kekuatan, dalam menghadapi cibiran dari teman-temannya dan Semoga semua fitnah yang mereka tuduhkan padanya, bisa terbukti jika itu tidaklah benar.
__ADS_1
*****
Hari ini Afrin berangkat sekolah bersama sang kakak. Dalam perjalanan gadis itu terlihat lesu, tidak biasanya begitu. Padahal setiap berangkat sekolah dia selalu paling bersemangat. Afrin termasuk murid yang pandai, dia sangat suka membaca dan berhitung. Aydin menyadari kesedihan adiknya, tapi dia tidak ingin terlalu memaksakan Afrin jika gadis itu tidak mau bercerita.
Hingga sampailah mereka di depan sekolah Afrin. gadis itu mencoba tersenyum, semoga saja semuanya baik-baik saja hari ini.
"Jaga diri, ya, Dek. Kakak berangkat dulu," pamit Aydin setelah menurunkan Afrin.
"Iya, Kak ... Kakak juga hati-hati." Afrin melambaikan tangannya, saat Aydin melajukan motor.
Afrin menghela napas kasar, pasti hari ini semua teman-temannya akan memcibir dirinya, tapi dia akan berusaha kuat dan tidak terpengaruh dengan kata-kata mereka. gadis itu tidak ingin terlalu memikirkan hal itu, yang hanya akan mempengaruhi belajarnya.
Afrin menarik napas beberapa kali dan mulai melangkahkan kakinya.
"Afrin," sapa Siska membuat gadis itu menoleh ke belakang.
"Hai, Sis," sahut Afrin dengan tersenyum. "Hai, Ra." Afrin menyapa Vira yang datang bersama Sisca.
Namun, Vira hanya diam tidak menjawab. Mereka berjalan bersama menuju ruang kelasnya. Vira yang semula duduk bersama Afrin, memilih duduk bersama Siska di belakang dan meminta Nuri untuk duduk bersama Afrin di depannya.
Afrin hanya tersenyum, dia tidak ingin memasukkan hal itu ke dalam hati dan terus memikirkannya. Terserah mereka berpikir apa tentang dirinya. Gadis itu berharap agar gosip itu segera mereda.
"Tidak apa-apa, aku juga tidak mau ambil pusing," sahut Afrin tersenyum, padahal dalam hati dia menangis. Ingin sekali dia marah pada temannya itu kenapa hanya karena sebuah gambar bisa menghancurkan kepercayaan dan persahabatan mereka.
*****
Aydin sudah sampai di perusahaan. Sekilas dia seperti melihat Airin turun dari sebuah mobil mewah, tapi pria itu tidak yakin apa yang dia lihat karena jarak mereka yang terlalu jauh.
"Apa itu tadi Airin, ya? Tapi, kok, dia turun dari mobil mewah? Apa aku salah lihat atau mungkin dia sama sepertiku yang berpura-pura miskin. Tidak mungkin kalau dia berpura-pura karena waktu itu aku pernah mengantar dia pulang, biar nanti saja aku tanyakan padanya," gumam Aydin.
Pria itu segera berlalu memasuki perusahaan. Saat memasuki lift bersamaan dengan Airin yang ingin naik.
"Hai, Rin," sapa Aydin, saat mereka baru memasuki lift.
"Hai, Mas. Baru datang?" tanya Airin.
"Iya, kamu dari tadi?"
__ADS_1
"Ya, cukup untuk bersiap-siap dan mengambil peralatan," jawab Airin.
'Berarti yang tadi aku lihat, bukan Airin karena tidak mungkin dia bisa secepat itu, mengambil peralatan pekerjaannya.' batin Aydin.
Aydin tidak jadi bertanya pada Airin mengenai apa yang dia lihat tadi. Mungkin dia hanya salah lihat. Kalau dia tetap bertanya, takutnya Airin akan tersinggung.
"Kenapa lihatin akunya seperti itu, Mas?" tanya Airin yang merasa aneh dengan tatapan Aydin.
"Tidak ada apa-apa." Aydin salah tingkah, ternyata Airin melihat dirinya yang menatap gadis itu. "Rin, bisa nanti setelah pulang kerja, kita makan malam, sebentar saja," ajak Aydin.
"Boleh, kebetulan hari ini aku nggak ada acara," sahut Arini dengan tersenyum.
"Nanti aku tunggu di depan kantor, ya, sepulang kerja."
"Iya, Mas. Tapi, apa Mas nggak malu? Aku, kan, pakai baju cleaning service." Airin menundukkan kepalanya, dia tidak ingin Aydin menjadi bahan pembicaraan orang lain.
"Kenapa malu? Aku sama sekali nggak malu, kita juga nggak nyuri."
Airin menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Mas. Nanti aku tunggu," jawab Airin dengan tersenyum malu-malu.
Karena terlalu asik berbicara, hingga mereka tidak menyadari jika mereka sudah sampai di lantai, di mana Airin harus mengerjakan pekerjaannya.
"Saya duluan, ya, Mas. Sampai jumpa nanti," pamit Airin saat pintu lift terbuka. Dia segera berlalu meninggalkan Aidin seorang diri dalam lift.
Aydin mengangguk. Dia senang karena Airin menerima tawarannya. pria itu merasa tertarik dengan Airin karena dia wanita yang sederhana dan ramah, pada siapapun. Dalam hati dia ingin menjadikan gadis itu sebagai istrinya dan mudah-mudahan, orang tuanya menyetujui Airin menjadi menantu mereka meskipun gadis itu dari keluarga tidak mampu.
Aydin yakin bundanya akan menyetujui karena Yasna, bukan wanita yang memandang orang hanya karena hartanya, tapi mengenai Emran, dia sedikit ragu. Pria itu berharap mudah-mudahan Yasna mau membantunya untuk membujuk Emran.
Sepulang bekerja Aydin menunggu Airin di depan kantor. Sebelumnya dia sudah mengirim pesan pada bundanya, bahwa pria itu akan pulang terlambat karena ada acara dengan temannya. Aydin tidak sepenuhnya berbohong karena memang, dia akan makan malam dengan Airin yang saat ini hanya berstatus teman.
.
.
.
.
__ADS_1
.