
"Nay aku tahu, aku salah. Aku sungguh-sungguh ingin meminta maaf. Kamu boleh marah atau memakiku tidak apa-apa, tapi tolong beri aku kesempatan untuk tetap dekat sama kamu," ujar Aydin.
"Maaf, Mas. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak ingin menjalani hubungan dengan seorang pria, yang tidak bisa bertanggung jawab, dengan apa yang dia lakukan dan tidak bisa menepati janjinya."
Aydin hanya bisa menunduk. Dia tahu sudah melakukan kesalahan, tapi pria itu punya alasan melakukan itu. Aydin tahu, Nayla seorang yang berpendirian tegas dan dia tidak mungkin memaksa gadis itu.
"Maaf, aku sudah membuat kamu kecewa. Perasaan memang tidak bisa dipaksakan dan aku juga tidak mungkin memaksamu untuk membuka hatimu untukku. Aku bersyukur kamu sudah mau memaafkanku, tapi satu hal yang aku yakini, bahwa jika memang berjodoh kita akan tetap dipersatukan, apa pun caranya."
Nayla terdiam, benar apa yang dikatakan Aydin jika memang mereka berjodoh, apa pun caranya, pasti mereka akan bersatu, tapi untuk saat ini setidaknya gadis itu berusaha untuk mencari seseorang yang bisa dipercaya dan bisa menjaganya.
"Baiklah, aku harus pergi. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu," ucap Aydin sambil berdiri. "Terima kasih, atas waktunya. Aku permisi dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aydin meninggalkan ruangan Nayla dan meninggalkan butik dengan segera. Saat ini hatinya sedang terluka. Bekerja pun pasti sudah tidak bisa konsentrasi. Pria itu memutuskan untuk pulang. Satu-satunya tempat yang bisa menenangkan pikirannya adalah di pangkuan bundanya.
Setelah kepergian Aydin, Nayla merasa ada sesuatu yang hilang. Hatinya terasa hampa, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya kini. Wanita itu hanya berusaha untuk mencari seorang pendamping, yang bisa dia jadikan sebagai sandaran.
*****
Di rumah keluarga Emran, Yasna sedang ada di taman samping. Dia sedang menyiram tanaman. Terdengar suara mobil memasuki rumah. Wanita itu berpikir siapa pagi-pagi sudah datang.
Yasna mematikan kran air dan ingin melihat siapa yang datang. Namun, belum sempat dia keluar, sudah dikagetkan dengan kedatangan Aydin yang memeluknya. Wanita itu yakin pasti sudah terjadi sesuatu dengan putranya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Yasna dengan mengusap punggung Aydin. Pria itu hanya diam tidak menjawab.
"Kita duduk dulu di sana, yuk!" ajak Yasna.
Aydin hanya mengangguk dan mengikuti bundanya berjalan menuju sebuah gazebo di taman itu. Yasna duduk, sementara pria itu merebahkan kepalanya dipangkuan bundanya.
"Apa ini ada hubungannya dengan Nayla?" tanya Yasna. Aydin hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Bunda mengerti apa yang dirasakan oleh Nayla. Dia pasti sudah memikirkan semua ini dengan matang. Kamu hanya perlu memberinya waktu. Setelah dia benar-benar tenang dan sudah ikhlas menerima semuanya, cobalah untuk bicara."
__ADS_1
Meski putranya tidak menceritakan apa yang telah terjadi, tapi wanita itu sudah bisa menebak, apa yang telah terjadi. Dia sebagai wanita pun akan melakukan hal yang sama seperti yang Nayla lakukan.
Tidak akan mudah memaafkan seorang pria, yang sudah memilih wanita lain ketimbang dirinya. Meski dengan alasan kesehatan ayah dari wanita itu, mungkin jika wanita yang tidak dikenal Aydin, Nayla akan memaklumi, tapi dia adalah mantan kekasih dari pria itu lalu, letak di mananya Nayla harus mengerti.
"Apa dia akan memaafkan aku, Bunda? Dia pendiriannya sangat teguh. Tidak akan mudah untuk membuatnya goyah."
"Jika kamu benar-benar tulus mencintainya, tunjukkan. Seorang wanita akan luluh jika diperhatikan dan di cintai dengan tulus. Sebaiknya kamu juga tenangkan dulu hatimu. Pikirkan baik-baik, apa benar hatimu sudah menyukai Nayla? Atau hanya sekadar mengikuti apa yang Bunda inginkan? Karena Bunda juga tidak mau hubungan kalian di dasarkan atas keinginan Bunda. Jika benar seperti itu, Bunda akan merasa sangat bersalah."
Aydin memikirkan apa yang Yasna katakan. Jujur dari awal dia hanya kagum pada Nayla. Seiring berjalannya waktu, pria itu ingin agar Nayla menjadi pendampingnya seumur hidup. Biarlah orang berkata jika dia serakah karena memang seperti itulah kenyataannya.
"Tidak, Bunda. Aku benar-benar menginginkannya sebagai seorang istri. Awalnya aku hanya kagum, tapi semakin ke sini aku semakin jatuh cinta padanya. Dia wanita yang spesial."
"Karena dia spesial itulah yang membuatnya sulit didapatkan. Kamu harus berjuang untuk itu."
"Pasti, Bunda. Aku akan berjuang untuk mendapatkan hatinya." Aydin yakin bisa membuat Nayla membuka hatinya kembali.
"Jangan lupa berdoa juga, minta sama Allah agar melembutkan hati Nayla."
"Amin," Sahut Yasna. "Karena masalah ini juga kamu nggak ke kantor?"
"Iya, Bunda." Aydin bangun dari pangkuan Bundanya sambil cengengesan."
"Tidak baik seperti itu, Kak. Sebesar apa pun masalah kita, tetap harus menjalankan kewajiban. Kalau perusahaan punya pemimpin kayak kamu, perusahaan mau gimana nanti? Jangan bawa masalah pribadi ke pekerjaan. Kamu harus profesional."
Yasna tidak ingin anak-anaknya menjadi pribadi yang bisa lari dari tanggungjawab karena kekuasaan. Uang memang mampu membuat orang melakukan segala hal, dia tidak ingin Aydin juga termasuk orang yang seperti itu.
"Aku tidak bisa berpikir, Bunda, jika ada masalah. Karena itu, daripada stress di kantor, lebih baik aku pulang."
"Cobalah untuk lebih bertanggungjawab lagi. Bunda tidak pernah mengajarkan kalian lari dari tanggung jawab."
"Iya, Bunda. Maafkan aku." Aydin menyesal, karena sudah membuat bundanya kecewa, tetapi seperti itulah kenyataannya. Dia tidak akan bisa berpikir jika sedang ada masalah.
*****
__ADS_1
Sementara itu di butik Nayla, Sarah datang menemui gadis itu. Dia ingin membicarakan sesuatu dengan gadis itu, lebih tepatnya meminta ssesuatu.
"Permisi, Naylanya ada, Mbak?" tanya Sarah pada Fika yang sedang melayani pembeli.
"Sebentar, saya panggilkan dulu." Fika menghubungi Nayla lewat sambungan telepon. Dia mengatakan jika ada Sarah di depan. Atasannya itu pun meminta Fika untuk membiarkan Sarah masuk.
"Silakan masuk, bu. Mbak Nayla sudah menunggu."
"Terima kasih." Sarah pergi menuju ruangan Nayla. Cukup dua kali Sarah mengetuk pintu dan sudah terbuka oleh gadis itu. Nayla tersenyum menyambutnya.
"Silakan masuk, Tante. Seperti inilah ruangan saya."
"Ini sudah bagus, kamu hebat bisa membangun butik baru seperti ini. Di luar juga cukup banyak yang datang," ucap Sarah sambil mengamati ruangan Nayla.
"Alhamdulillah, semua juga berkat orang-orang yang mendukung saya, Tante. Termasuk Tante juga."
"Kamu bisa saja, Tante tidak melakukan apa-apa." sahut Sarah. "Nay, Tante tidak ingin berbasa-basi. Tante akan langsung saja mengatakan apa yang ingin Tante bicarakan sama kamu. Tidak apa-apa, kan?"
Sarah menatap wajah Nayla, berharap gadis itu mau menuruti keinginannya. Dia tahu keinginannya begitu sulit untuk dilakukan, tetapi Sarah akan membuat Nayla menyetujuinya.
"Tidak apa-apa, Tante, silakan. Memangnya Tante mau mengatakan apa?" tanya Nayla penasaran. Dia ingin tahu apa yang wanita itu ingin bicarakan. Melihat dari mimik wajahnya, seperti sangat serius.
"Tante ingin kamu menjadi suami Rizki dan menjadi menantu Tante, anggap saja ini permintaan Tante yang pertama dan terakhir untuk kamu."
.
.
.
.
.
__ADS_1