
Fazilah merenung di dalam kamarnya memikirkan kata-kata Mama Mirna, dia sendiri juga tidak memiliki calon suami. Apakah dia harus menerima usulan perjodohan dari mamanya? Fazilah merebahkan tubuhnya, ia tidak mau memikirkan semua itu, yang hanya akan membuatnya sakit kepala, nanti jika hatinya sudah tenang akan ia pikirkan lagi.
Sementara di rumah Hilman, Hafidz meminta maaf pada Hilman dan Alina, dia mengakui semua kesalahan yang ia lakukan selama ini pada mereka dan orang disekitarnya, ia juga menceritakan penyebab ia melakukan itu.
"Maafkan saya, pak. Saya sudah membohongi Anda dan juga Ibu, tapi saya melakukan semua itu karena masih mencintai Fazilah, karena jika saya mengatakan yang sejujurnya, dia tidak akan mau dekat dengan saya."
"Kalau kamu mencintainya, kenapa dulu kamu menghianatinya?" tanya Alina,
Alina kesal dengan Hafidz, bagaimanapun juga ia sudah menganggap Fazilah seperti putrinya sendiri, ia tidak rela ada seorang yang pria yang menyakitinya.
"Ada sesuatu yang tidak bisa diceritakan di sini, Bu. Karena saya sudah berjanji tidak akan mengatakannya pada siapapun, tapi sungguh, saya benar-benar mencintai Fazilah, saya tidak berniat untuk mempermainkannya apalagi menyakitinya."
Sesungguhnya Alina sudah menyetujui jika Fazilah bersama dengan Hafidz, tapi jika sudah sepwrti ini, ia tidak bisa apa-apa.
"Kami sudah memaafkanmu dan Bapak harap kamu tidak lagi menyakiti hati Fazilah ataupun wanita lainnya," ucap Hilman.
"Terima kasih, Pak. Saya akan selalu ingat nasehat dari bapak."
Hafidz bersyukur mereka mau memaafkannya, sebagai sesama pria Hilman mengerti? Bagaimana perasaan Hafidz. Mereka juga memberi tahu kalau Fazilah memang orang yang sangat keras kepala, tidak mudah untuk meminta maaf kepadanya.
*****
Emran dan Yasna sudah sampai di rumah. Yasna nampak heran, kenapa rumah sangat sepi? Bukankah anak-anak sudah pulang?
"Semua orang ke mana, Bi?" tanya Yasna pada Bik Ima.
"Mereka ada di dalam kamarnya masing-masing, Bu. Mereka bilang mau istirahat, tidak ingin diganggu," jawab Bik Ima.
Yasna menganggukkan kepalanya mengerti, nanti dia juga akan bertemu dengan anak-anak saat makan malam, begitu pikir Yasna.
"Mas, mau dibuatin teh?" tanya Yasna pada Emran.
"Tidak perlu, saya mau mandi dulu." Emran berlalu tanpa mengajak Yasna, padahal biasanya emran akan selalu menggandeng tangannya, saat memasuki kamar mereka, Yasna pun mengikuti Emran dari belakang dengan menahan kekesalan.
Saat makan malam semua orang masih terdiam, tidak ada yang bicara sama sekali.
"Afrin, mau disuapi sama Bunda?" tawar Yasna dengan tersenyum.
"Tidak usah, Bunda. Aku bisa makan sendiri."
Yasna mengangguk, ia menghela nafas panjang, ia merasa seperti semua orang tidak membutuhkannya sekarang.
__ADS_1
"Aydin suka ikannya?" tanya yasna, yang dijawab dengan anggukan oleh Aydin.
Yasna menghela nafas lagi, dia pun akhirnya ikut diam dan memakan makanannya dengan tidak berselera. Emran hanya melirik Apa yang dilakukan oleh istrinya, tanpa mau ikut campur.
Di tengah malam semua orang terbangun, kecuali Yasna, bahkan Afrin juga bangun. Mereka melakukan sesuatu yang sudah mereka persiapkan sejak pagi. Aydin bertugas membawa kue yang bertuliskan angka 29 dan tertera nama Yasna di atasnya, memang benar hari ini adalah hari ulang tahun Yasna dan mereka ingin memberi kejutan.
Mereka sengaja hari ini tidak menghiraukan yasna, demi kejutan malam ini, semua orang ikut menyiapkan acara yang akan dilakukan di ruang keluarga.
"Ayo, Sekarang kita bangunin bunda!" ajak Emran.
"Ayo!" sahut Aydin dan Afrin.
Mereka berjalan beriringan menuju kamar yang di tempati Yasna, Emran membuka pintu terlihat istrinya tengah terlelap.
"Ayo, kita nyanyikan lagu bersama-sama! Papa nyalakan dulu lilinnya." Emran menyalakan lilin yang berada di atas kue yang dibawa Aydin. "Satu, dua, tiga."
"Selamat ulang tahun ... selamat ulang tahun ... selamat ulang tahun, Bunda ... semoga panjang umur." mereka bernyanyi bersama-sama sambil bertepuk tangan.
Yasna yang mendengar keributan akhirnya terbangun, ia sangat terkejut melihat semua orang berada di kamarnya, apalagi melihat Aydin yang sedang membawa kue ulang tahun, Ia sendiri lupa, kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Yasna tidak bisa mengungkapkan semuanya dengan kata-kata, ia sungguh terharu melihat semua orang yang begitu perhatian dan menyayanginya.
"Kalian tahu ulang tahun Bunda?" tanya Yasna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Selamat ulang tahun ya, nak," ucap Karina.
"Terima kasih, Ma." jawab Yasna dengan memeluk Karina.
"Selamat ulang tahun, Bunda!" ucap Aydin dan Afrin bersamaan.
"Terima kasih."
"Sekarang kita tiup lilinnya dulu, sebelum meleleh," ucap Emran.
"Ayo, Bunda! tiup lilinnya!" seru Afrin, ia sangat bersemangat merayakan ulang tahun Yasna.
Yasna berdoa dalam hati, sebelum meniup lilinnya.
'Ya Allah, jangan engkau ambil kebahagiaan ini, mereka kini segalanya untukku, aku ingin bahagia bersama mereka selamanya dan semoga seterusnya akan seperti ini,' doa Yasna dalam hati.
Yasna meniup lilinnya dengan dibantu Afrin.
__ADS_1
"Apa kalian sudah merencanakan ini semua sebelumnya?" tanya Yasna.
"Maaf, Bunda. Kami memang sengaja tidak menghiraukan Bunda dari pagi, karena kami tidak ingin rencana ini jadi kacau." jawab Aydin.
"Bunda pikir kalian marah, sama Bunda."
"Tidak, memang kami marah kenapa? Tidak ada alasan buat kami marah."
"Sudah, ayo! Kita ke ruang tengah, semua sudah siap di sana, kita makan-makan dulu, merayakan ulang tahun Yasna yang apa adanya, maaf ya, Na," sesal Karina.
"Ini sudah lebih dari cukup, Ma. Ada kalian semua di sini saja sudah menjadi kado terindah untukku."
"Ayo, turun! Hari yang bahagia tidak boleh sedih-sedihan," sela Emran, ia tidak ingi istrinya menangis di hari bahagianya, meskipun air mata bahagia.
Mereka menuju ruang tengah yang sudah dipenuhi berbagai macam hidangan, mereka merayakan dengan penuh canda tawa.
"Apa kuenya dibeli di toko ibu? Kok rasanya seperti kue buatan ibu?" tanya Yasna setelah memakan sepotong kue.
"Ini memang kue yang dikirim oleh nenek," jawan Afrin.
"Jadi, nenek juga tahu kalau kalian mau memberi kejutan untuk Bunda?"
"Iya."
Berarti ibunya juga tahu kalau hari ini ulang tahunnya? Pasti besok ia akan disibukkan dengan makan berbagai macam makanan buatannya.
"Habis ini kalian tidur, ya! Ini sudah hampir pagi, tidur sebentar nanti Bunda bangunin, biar kalian tidak ngantuk di sekolah."
"Iya, Bunda."
Pukul 01.00 semua orang kembali ke kamarnya masing-masing, Yasna tidak ingin berlama-lama mengganggu istirahat semua orang. Yasna dan Emran juga memasuki kamar mereka.
"Sejak kapan, Mas, merencanakan semua ini?"
"Sebenarnya ini rencananya Aydin, dia ingin memberi kamu kejutan dan akhirnya melibatkan kami semua, dia ingin kamu bahagia dan merasa memiliki kami."
.
.
.
__ADS_1
.
.