Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
122. S2 - Semakin kagum


__ADS_3

"Sepertinya, sudah sangat larut. Kami harus pulang, Pak Emran," ucap pak Romi.


Pria itu merasa tidak enak karena sudah mengganggu keluarga atasannya itu. Sebenarnya saat istrinya mengajak ke sini Romi menolak, tapi apa daya jika istrinya sudah mengomel sepanjang malam.


"Oh, iya, Pak Romi. Saya mengerti. Terima kasih sudah mau mampir dan juga terima kasih makanannya. Anda sudah sangat repot repot membawakannya," sahut Emran.


"Tidak, Pak. Kita hanya membawa sekadarnya saja. Kami Pamit, Pak." Keluarga Pak Romi berpamitan pada keluarga Emran.


Emran dan keluarganya mengantar keluarga Pak Romi ke depan, hingga mobil mereka pergi meninggalkan rumah itu. Terdengar helaan napas dari mereka, seolah mereka telah terbebas dari masalah.


"Kamu apa-apaan, sih, Kak? Tadi itu Bunda sampai bingung mau ngomong apa," cecar Yasna setelah kepergian keluarga Pak Romi sambil memukul bahu Aydin.


"Apa, sih, Bunda. Aku tuh cuma cari alasan saja. pasti mereka mau jodoh-jodohin aku sama putrinya yang sok cantik itu. Makanya Aydin ngarang cerita."


"Tapi, nggak gitu juga. Itu namanya kamu menjelekkan diri kamu sendiri. Pasti keluarga Pak Romi mengira kalau kamu itu bukan pria yang baik."


Sebagai seorang ibu, Yasna tidak rela jika nama baik putranya jelek di mata orang lain, tapi ini malah Aydin sendiri yang mejelekkan namanya.


"Biar saja, lebih baik begitu. Mereka tidak akan menjodohkan putrinya dengan aku dan aku tidak perlu berpura-pura baik," ucap Aydin cuek. Dia tidak peduli dengan pandangan orang lain terhadapnya, yang penting keluarganya selalu percaya dengan apa yang dia lakukan.


"Kamu ini ada-ada saja. Terserah kamu. Ayo, kita masuk, sudah malam. Kalian tidurlah."


"Iya, Bunda," sahut Aydin. "Kamu tidur di kamar sendiri. Jangan coba-coba masuk kamarku, ya, aku capek," ucap Aydin pada adiknya danqsegera berlalu lebih dulu.


"Kamu tidur di kamar kakak, Dhek?" tanya Yasna pada Afrin yang dijawab dengan cengengesan oleh gadis itu.


"Iya, Bunda, semalam ketiduran habis cerita. Maunya sih balik ke kamar, eh, malah ketiduran sampai pagi."


"Terus kakak tidur di mana?"


"Kakak tidur di sofa."


"Kamu, ya, kakak juga capek masak suruh tidur di sofa."


Sebenarnya Yasna senang, itu menunjukkan kedekatan antara kedua anaknya. Banyak anak yang tidak dekat dengan saudaranya, karena alasan mereka sudah besar atau mereka berbeda jenis kelamin. Yasna bersyukur itu tidak terjadi pada anak-anaknya.


"Maaf, Bunda. Namanya juga ketiduran," sesal Afrin.


"Ya sudah, kamu tidur sana! Jangan ke kamar kakak."

__ADS_1


"Iya, Bunda." Afrin segera pergi ke kamarnya. Begitu pun dengan Emran.


"Mas mau dibuatin teh atau kopi?" tawar Yasna sebelum sampai di kamarnya.


"Nggak usah, Sayang, aku juga udah ngantuk. Ayo, kita tidur saja!"


"Iya, Mas." Yasna mengikuti sang suami memasuki kamarnya. Dia juga sudah sangat mengantuk sejak tadi.


*****


Hari ini Yasna ada janji dengan Nayla untuk bertemu. Mereka akan membahas beberapa bahan promosi untuk butik mereka, yang akan dibuka satu minggu lagi. Mengenai kain, Nayla memilih membelinya saja. Dia sudah berusaha mencari suplier, tapi itu sangat sulit untuk bisnis pemula seperti dirinya. Meski kini yang dia beli terbilang murah, tapi tetap mengutamakan kualitas.


"Gaun kamu bagus-bagus, ya, Nay," ucap Yasna saat melihat-lihat hasil rancangan Nayla.


Yasna mengakui kehebatan Nayla, sebagai seorang yang baru terjun di dunia ini. Mudah-mudahan apa yang gadis itu buat bisa diterima semua orang.


"Biasa saja, kok, Tante. Saya masih perlu banyak belajar."


"Beneran loh ini bagus, aku jadi tertarik ingin membeli semuanya."


"Jangan dong, Tante. Kalau Tante beli semuanya. Aku promosi pakai apa, dong?" sahut Nayla terkekeh.


"Iya, saya tahu. Nanti kalau kamu buat baru, saya buatin satu, ya?"


"Terima kasih," sahut Yasna. "Mengenai acara pembukaan, kamu sudah persiapkan semuanya, Nay?"


"Sudah, Tante, semuanya hampir selesai. Kita buat acara sederhana saja. ini acara syukuran jadi, saya buat acara doa bersama."


"Itu lebih baik, yang penting doanya agar butik ini semakin maju."


"Iya, Tante, itu juga yang menjadi tujuan saya mengadakan acara itu. Saya tidak ingin menghamburkan uang hanya untuk pesta sesaat."


"Saya semakin kagum sama kamu, Nay. Kamu tidak hanya baik, tapi kamu juga sangat pintar. Kamu tidak hanya memikirkan diri kamu sendiri, tapi juga orang lain yang ada disekitarmu."


"Saya hanya kasihan melihat mereka, Bu. Mereka sudah berusaha mencari pekerjaan, tapi tidak juga mendapatkannya. Padahal mereka ada keluarga yang harus dinafkahi, apalagi ada orang tua yang sedang sakit. Itu membuat hati saya terasa teriris karena saya juga merasakannya. Saat ibu saya sakit, saya tidak punya uang sama sekali, untuk membawanya berobat."


Nayla merasa sedih mengingat apa yang terjadi padanya dulu. Tidak ada seorangpun yang membantunya. Dia tidak ingin orang lain merasakan apa yang dirasakan. Cukup gadis itu dan ibunya saja yang merasakan.


Yasna juga semakin kagum pada Nayla. di usianya yang saat ini, dia lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Padahal banyak gadis yang seusianya lebih mementingkan kesenangan pribadi. Bahkan tak jarang sampai merepotkan orang tuanya.

__ADS_1


"Tante, ini sudah siang. Sebaiknya kita makan siang dulu."


"Iya, keasyikan ngobrol sama kamu sampai lupa perut belum diisi. Ayo, kita makan! Biar Tante yang traktir."


"Jangan, Tante. Saya saja yang takdir."


"Mana bisa begitu, saya tidak terima penolakan. Sekarang saya yang traktir besok kamu. Ayo!" ajak Yasna sambil menarik tangan Naila.


Yasna tidak ingin menyusahkan gadis itu. Dia tahu Nayla masih kesulitan keuangan jadi Yasna berusaha untuk tidak membuatnya tersinggung dengan apa yang dia berikan.


Mereka menaiki mobil Nayla menuju sebuah restoran yang ditunjukkan oleh Yasna.


"Kita makan di sini saja. Tante lebih suka masakan khas Indonesia."


"Iya, Tante. Saya termasuk pemakan segala, kok, Tante." Mereka sama-sama tertawa.


"Kamu ini ada-ada saja, ayo!" Yasna mengajak Nayla masuk ke restoran itu.


Baru beberapa langkah Yasna masuk. Dia seperti melihat seseorang yang dikenalinya. Setelah diperhatikan dengan saksama, memang benar wanita itu mengenalinya. Diam-diam Yasna tersenyum, dia merencanakan sesuatu.


"Ayo, kita ke sana!" Yasna berjalan sambil menarik lengan Nayla dan mengajaknya duduk di sebuah kursi yang masih kosong. Mereka memesan makanan sesuai selera masing-masing.


"Bunda," sapa seseorang laki-laki yang tidak lain adalah Aydin.


"Aydin! Kamu juga di Sini? Kamu nggak kerja?" tanya Yasna yang berpura-pura tidak tahu keberadaan putranya padahal sebelumnya sudah melihat.


"Kerja, Bunda. Di sini juga kerja. Aku baru selesai meeting."


"Kamu sudah makan, belum? Bunda sama Nayla mau makan. Kalau kamu mau biar Bunda pesankan." tawar Yasna.


"Boleh, Bunda. Tadi juga baru makan sedikit," sahut Aydin sambil melirik ke arah Nayla.


Padahal pria itu sudah kenyang, tapi entah kenapa bibirnya ingin dia berbohong. Padahal di kantor banyak sekali pekerjaan yang belum diselesaikan.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2