
"Aydin, kamu kenapa terlihat begitu lesu?" tanya Yasna, yang melihat putranya memasuki rumah dalam keadaan tidak bersemangat. Dia punya firasat, pasti telah terjadi sesuatu.
"Tidak ada apa-apa, Bunda," jawab Aydin.
"Bukannya kamu bilang mau makan malam sama Nayla? Kok pulang-pulang wajahnya lesu? Apa kamu ditolak sama dia?"
"Bukan itu, Bunda."
"Terus apa? Apa dia sudah ada janji sama orang lain dan menolak pergi sama kamu?"
"Nggak juga, malah aku yang ninggalin dia seorang diri di restoran," jawab Aydin dengan suara lirih. Namun, masih dapat didengar Yasna.
"Apa maksud kamu? Kenapa Kamu ninggalin dia sendiri di restoran?" tanya Yasna yang terkejut mendengar apa yang putranya katakan.
Yasna sudah menganggap Nayla seperti putrinya, bagaimana jika terjadi sesuatu pada gadis itu, pasti Yasna akan merasa bersalah pada almarhum Ibu Asih.
"Begini, Bunda ...." Aydin pun menceritakan semua yang terjadi di restoran dan juga di rumah Airin. Dia juga menjelaskan jika dia sudah pergi ke rumah Nayla. Namun, rumah itu kosong karena gadis itu menginap di rumah bibinya.
Yasna sangat terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa itu terjadi? Saat ini dia benar-benar kecewa pada putranya. Wanita itu semakin tidak yakin apa Aydin bisa mengambil hati Nayla.
"Ya sudah, sebaiknya kamu mandi dulu, sana! Mengenai Nayla, bisa kamu jelaskan besok pagi. Mudah-mudahan dia mau menerima Maaf kamu."
Yasna mencoba untuk tidak khawatir. Dia tidak ingin putranya semakin tidak tenang karena wanita itu bisa melihat rasa bersalah Aydin.
"Amin, mudah-mudahan Bunda. Aku juga tahu kesalahanku sangat besar."
"Syukurlah, kalau kamu menyadarinya."
"Aku ke kamar dulu, Bunda." Aydin berlalu menuju kamarnya.
Setelah kepergian Aydin. Yasna juga pergi ke kamarnya untuk mencari ponsel. dia ingin menghubungi Nayla. Mudah-mudahan gadis itu mau mengangkatnya. Namun, berkali-kali wanita itu mencoba menghubungi, ternyata nomornya tidak aktif. Dia juga tidak tahu nomor ponsel bibinya Nayla.
'Mudah-mudahan Nayla sampai rumah dengan selamat jika tidak, aku akan sangat merasa berdosa pada gadis itu. karena Aydin meninggalkannya begitu saja tanpa ada rasa tanggung jawab.'
"Ada apa, Sayang?" tanya Emran saat memasuki kamarnya. Dia melihat Yasna begitu sangat khawatir.
"Aydin, Mas. Dia meninggalkan Nayla di restoran sendiri. Aku khawatir pada gadis itu. Aku sudah coba hubungi nomor ponselnya, tapi tidak aktif."
"Sudah, kamu tenang saja. Pasti Nayla baik-baik saja. Ayo, kita tidur!"
Yasna mengikuti suaminya terbaring di atas ranjang. Meski matanya tertutup, tapi hati wanita itu masih gelisah. Dia tidak bisa tidur sebelum mengetahui keadaannya.
"Tidur, Sayang." tegur Emran dengan mata yang masih tertutup.
"Mas, belum tidur?"
"Mana bisa, aku tidur. Dari tadi kamu gerak-gerak terus."
__ADS_1
"Maaf, aku enggak bisa tidur. Masih kepikiran soal Nayla."
"Kamu berdoa saja, supaya dia bisa sampai rumah bibinya dengan selamat. Kalau kamu seperti ini, dia akan merasa bersalah. Mungkin ponselnya habis baterai dan dia lupa charger, makanya ponselnya mati."
"Iya, Mas." Yasna menuruti keinginan suaminya. dia terus berdoa untuk keselamatan Nayla hingga dia ketiduran.
Sementara di kamar Aydin. pria itu juga tidak bisa tidur, dia memikirkan bagaimana keadaan Nayla. Apa gadis itu sudah sampai di rumah bibinya dalam keadaan selamat? Berkali-kali juga Aydin mencoba menghubungi nomor ponselnya. Namun, masih tetap tidak aktif.
*****
Di pagi hari, di rumah Bibi Rini, Nayla sibuk di dapur bersama wanita paruh baya itu. Mereka menyiapkan sarapan untuk semuanya. Sebentar lagi Paman Doni akan berangkat bekerja jadi, mereka harus cepat.
"Kamu kalau di rumah juga masak, Nay?"
"Jarang-jarang, sih, bik. Makan sendirian. Jadi, kadang suka malas. sukanya beli saja lebih praktis."
"Jangan terlalu sering beli. Lebih enak masak sendiri, bisa melatih juga buat terbiasa. Nanti kalau punya suami masakannya jadi lebih enak. Memang suami kamu, mau kamu beliin terus? Nanti, malah suka lagi, sama yang punya warung."
Rini tahu ponakannya itu sebenarnya sangat pandai memasak. Mungkin karena dia hanya sendirian jadi, takut mubazir kalau nggak ada yang makan.
"Nggak sering juga, Bik. Aku juga kadang-kadang suka masak sendiri."
"Itu bagus, biar tangannya nggak kaku kalau pegang pisau."
"Bibi bisa saja, masa pegang pisau saja kaku."
"Ya, bisa saja." Mereka tertawa bersama.
"Nggak ada apa-apa paman. Bibi saja yang suka bicara aneh-aneh," sahut Nayla.
"Bibi tidak bicara apa-apa," kilah Rini.
"Paman sudah mau berangkat?" tanya Nayla.
"Iya, sebentar lagi, masih ada waktu untuk sarapan."
"Sebentar, ya, Paman. Nayla siapin makanannya dulu. Bibi duduk saja, biar aku yang siapin."
Gadis itu menyiapkan makanan di meja. Mereka pun makan bersama-sama. Makan apa pun memang terasa nikmat jika dimakan bersama-sama, meski hidangannya sederhana.
Setelah sarapan, Paman Doni pergi bekerja dengan menggunakan motornya yang sudah selesai diperbaiki. Sementara Nayla menggunakan mobilnya sendiri.
"Bik, nanti malam aku nggak ke sini. Aku pulang ke rumah," ucap Nayla saat berpamitan.
"Iya, tidak apa-apa," sahut Bik Rini. "Apa tidak sebaiknya rumah kamu dikontrakin saja, Nay dan kamu tinggal di sini sama Bibi."
"Tidak, Bik. Aku masih nyaman tinggal di sana. Kadang-kadang saja aku merasa kesepian."
__ADS_1
"Ya sudah, terserah kamu, tapi kamu janji, harus sering-sering ke sini."
"Aku berangkat, Bik. Assalamualaikum," pamit Nayla dengan mencium punggung tangan Rini.
"Waalaikumsalam."
Gadis itu melajukan mobilnya menuju butik. Nayla mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Tidak lama, akhirnya dia sampai. Di sana sudah ada sebuah mobil yang sangat Nayla kenali. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Aydin.
Nayla menghela napas. Dari kemarin, dia sudah berusaha menguatkan hatinya. Kali ini sepertinya ujian telah dimulai dan dia harus kuat. Gadis itu tidak ingin seperti almarhumah ibunya, yang ditinggal begitu saja oleh sang suami.
Nayla tidak ingin apa yang dialami almarhum ibunya terjadi pada kehidupannya, karena itu dia harus tegas pada setiap laki-laki yang mendekatinya. Gadis itu turun dari mobil dan Aydin segera mendekat.
"Nay, aku minta maaf soal kejadian kemarin," ucap Aydin begitu sampai di depan Nayla.
"Sebaiknya kita masuk dulu, Mas. Tidak enak dilihat banyak orang."
Aydin hanya mengangguk dan mengikuti langkah Nayla menuju butiknya. Tampak juga Fika yang sudah menunggu di depan pintu, dia juga heran, pagi sekali pria itu sudah ada di depan butik.
"Kamu sudah lama menunggu, Fik?" tanya Nayla.
"Baru saja, Mbak."
"Kamu beres-beres sendiri nggak papa, ya? Mbak masih ada tamu," ucap Nayla membuat Aydin sedikit terkejut. Kemarin dia dianggap teman sekarang kenapa malah tamu.
"Iya, tidak apa-apa. Mbak."
Nayla segera memasuki ruangannya bersama dengan Aydin. Gadis itu membuka lemari pendingin, ingin memgambil minuman untuk tamunya.
"Mas, mau minum apa?" tanya Nayla.
"Tidak perlu, aku hanya ingin bicara sama kamu. Aku ingin minta maaf soal kejadian semalam."
Nayla mengambil dua kaleng minuman dan meletakkan satu di depan Aydin. Dia tidak tahu pria itu menyukainya atau tidak.
"Tidak apa-apa, aku juga sudah melupakannya."
"Jadi, kamu memaafkan aku? Aku lega mendengarnya."
"Aku memang sudah memaafkan kamu, tapi untuk kesepakatan kita, seperti yang aku katakan semalam, sebaiknya Mas merupakan semua itu."
Tidak mudah memaafkan orang lain, tapi Nayla mencoba mengikhlaskannya, meski terasa sulit. Kalau untuk memulai hubungan, Nayla harus memikirkan dengan matang.
.
.
.
__ADS_1
.
.