
Aydin tidak habis pikir dengan istrinya yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Pampers adalah kebutuhan anaknya sehari-hari, bagaimana dia bisa lupa?
'Untuk hal yang sekecil ini pun, kamu lupa Nay. Bagaimana aku bisa tenang jika melihat Nuri jauh dari bunda. Aku juga tidak tega menjauhkan mereka, Nay,' batin Aydin.
"Ada apa, Kak? Kenapa diam?" tanya Afrin saat melihat kakaknya yang melamun. Seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Tidak apa-apa. Kamu kalau mau pergi, pergi saja. Biar Nuri Kakak yang jaga."
"Belum saatnya, nanti aku juga akan pergi."
"Pergi ke mana sore-sore?"
"Tadi katanya disuruh pergi, giliran sekarang mau pergi, malah tanya ke mana sore-sore," gerutu Afrin.
"Kalau perginya sekarang, masih siang. Kalau nanti sudah sore. Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Aydin lagi.
"Mau ketemu teman."
"Beneran teman?"
"Iya lah, siapa lagi?"
"Bukan pacar kamu?"
"Bukanlah, aku gak mau pacar-pacaran. Aku ingin sukses dulu."
"Kamu bisa bicara seperti itu sekarang, tapi setelah kamu menemukan seseorang yang spesial, kamu tidak akan berbicara seperti itu."
"Sok tahu. Aku nggak mau bicara lagi sama kakak."
"Ya sudah, sana pergi!"
"Iya, ini juga mau pergi," sahut Afrin. "Nuri cantik, Tante mau pergi dulu, ya! Kamu sama papa di sini ... da dah," ucap Afrin sambil melambaikan tangan pada Nuri.
Gadis kecil itu tersenyum sambil melambaikan tangannya. Kini hanya tinggal Aydin dan sang putri. Sesekali pria itu berbicara seolah menanyakan pada Nuri, apa yang harus dimasak, membuat gadis kecil itu semakin antusias dengan mainannya.
Aydin sering melihat Yasna yang melakukan itu saat bermain dengan Nuri jadi, dia mengikutinya. Meski rasanya kekanakan, tetapi melihat senyum putrinya membuat pria itu senang.
"Hai, Sayang! Lagi main apa? Boleh Mama ikut?" tanya Nayla yang baru saja datang.
"Macak," jawab Nuri.
"Masak apa?" tanya Nayla lagi, gadis kecil itu hanya diam menunduk. "Boleh Mama bantuin masaknya?" Nuri hanya mengangguk sambil terus bermain.
__ADS_1
Saat keduanya sedang asyik bermain, tiba-tiba suara seseorang membuat Nuri pergi.
"Assalamualaikum," ucap seorang wanita yang tidak lain adalah Yasna.
"Ikumcalam." Nuri segera berdiri, berjalan dengan cepat untuk menyambut Yasna.
"Cucu Oma, hati-hati! Nanti juga Oma ke sana," ucap Yasna.
Nuri meminta gendong Yasna dengan mengangkat kedua tangannya. Wanita itu segera menggendong. Gadis kecil itu sudah bisa berjalan dengan lancar, tetapi tetap saja Yasna khawatir akan terjatuh.
"Kenapa lari-lari, Sayang?"
"Ma."
"Iya, ini sama oma. Lagi main sama mama, ya?" tanya Yasna saat melihat ada Nayla di dekat mainan gadis kecil itu.
Nuri mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban, membuat Yasna gemas hingga menciumi pipi cucunya. Hal itu semakin membuat Nayla merasa sedih karena dia tidak bisa melakukan hal seperti yang mertuanya lakukan pada Nuri.
Nayla juga sangat ingin seperti itu. Dia hanya bisa melakukannya saat Nuri tertidur, itu pun tidak bisa lama karena di tengah malam pasti gadis kecil itu terbangun dan mencari keberadaan Yasna.
Orang tua mana yang tidak ingin melakukan kebersamaan dengan anak-anaknya. Nayla juga ingin berfoto berdua bersama putrinya dengan tawa yang sangat lebar. Dia ingin memamerkan diakun media sosial. Selama ini mereka hanya foto sendiri-sendiri. Meski bersama, Nuri selalu dalam gendongan Yasna atau Afrin.
Aydin melihat ke arah Nayla. Dia bisa tahu kalau istrinya itu cemburu melihat kedekatan bunda dan putrinya. Pria itu mengerti karena mereka dekat sejak Nuri lahir. Berbeda dengan istrinya kini yang sudah dikuasai oleh rasa iri.
"Kalau begitu, ayo, kita main lagi!" ajak Yasna, tetapi Nuri menggeleng. "Kenapa tidak mau?"
"Mau minum susu? Bentar, ya, Oma buatin dulu. Nuri di sini sama Mama sama Papa."
"Papa."
"Iya, ini sama Mama, sama Papa." Yasna menurunkan Nuri ditengah-tengah Nayla dan Aydin, tetapi gadis itu pindah dan lebih memilih duduk di pangkuan papanya.
"Anak Papa haus?" tanya Idin yang diangguki Nuri.
"Lain kali kalau mau minum, minta sama Papa atau sama Mama, ya!" ucap Aydin yang kembali diangguki oleh Nuri.
Pria itu mendengar celoteh putrinya. Meski tidak begitu mengerti apa yang dikatakannya, Aydin tetap mengangguk dan mengiyakan.
"Ini susunya sudah jadi," ucap Yasna sambil menyerahkan botol susu pada Nuri.
Gadis kecil itu menerimanya dengan gembira menbuat Yasna tersenyum. Emran pun datang bergabung dengan mereka.
"Bunda, pampers sama kebutuhan Nuri lainnya, sudah Papa taruh di kamar Nuri," ucap Emran.
__ADS_1
"Iya, Pa. Terima kasih. Kalau yang di kresek hitam tadi itu punya Papa."
"Iya, sudah Papa bawa ke kamar."
Nayla teringat jika kemarin, dia mengatakan akan membelikan pampers dan susu untuk Nuri, tetapi kenapa bisa sampai lupa?
"Maaf, Bunda. Aku lupa padahal kemarin aku bilang mau beliin," ucap Nayla yang merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, tadi Bunda ada urusan di luar sekalian beli juga tadi," jawab Yasna berbohong.
Sudah jelas dia memang keluar untuk membeli kebutuhan Nuri. Biasanya wanita itu selalu membeli lewat online jadi, Yasna tidak perlu keluar rumah. Akan tetapi, Nayla sudah lebih dulu mengatakan akan membelinya karena itu Yasna tidak jadi beli dan saat menggantikan pampers tadi, ternyata itu yang terakhir.
Yasna merasa ada sesuatu yang dipikirkan oleh Nayla, tetapi dia tidak tahu apa itu.
*****
"Halo, Nona Afrin. Kita ketemu lagi," sapa seorang pria yang tidak lain adalah Khairi. Diikuti Ivan dibelakangnya.
Saat ini Afrin sedang berada disebuah kafe bersama dengan Vira dan Sisca. Mereka baru saja pulang dari sebuah kampus untuk melihat-lihat.
"Dari mana kamu tahu namaku?" tanya Afrin dengan memicingkan matanya.
"Itu bukan masalah yang besar untukku. Aku hanya tinggal menjentikkan jariku dan semua bisa aku dapatkan. Termasuk kamu," ucapnya dengan bangga, justru membuat Afrin semakin ilfeel.
"Kamu terlalu percaya diri." Afrin mendengus. Dari awal Afrin tidak menyukai pria itu.
Dapat dia lihat jika Khairi bukanlah pria yang tepat, untuk dijadikan sebagai seorang pemimpin keluarga. Afrin juga tidak berniat untuk menjalin hubungan dengan seorang pria.
"Kamu pengusaha Khairi Wisnuharja, kan?" tanya Vira menyela percakapan mereka berdua.
Semua orang menatap Vira. Apa gadis itu mengenal Khairi? Itu menjadi pertanyaan yang ada dibenak mereka.
"Iya," jawab Khairi dengan nada datar. Berbeda saat berbicara dengan Afrin yang penuh dengan kelembutan.
Semua orang di sana menatap heran pada pria itu. Mereka berpikir jika Khairi memiliki kepribadian ganda. Dalam sekejap sikapnya berubah dari yang tadinya hangat kini menjadi dingin.
Afrin juga sama herannya, tetapi dia tidak ingin menunjukkannya. Biarlah itu mrnjadi urusan pria itu. Gadis itu tidak ingin ikut campur.
.
.
.
__ADS_1
.
.