Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
268. S2 - Bingung ingin memulai


__ADS_3

"Mbak Rani, apa kabar? Sudah cukup lama nggak ketemu," sapa Afrin.


"Baru juga satu bulan, Non," sahut Rani.


"Ya, tetap saja terasa sudah cukup lama. Bagaimana rasanya?" tanya Afrin menggoda.


"Rasanya apa?" tanya Rani yang memang tidak mengerti.


"Mbak, jangan pura-pura tidak mengerti. Rasanya itulah, bagaimana?" tanya Afrin dengan menaik turunkan alisnya.


Rani yang sudah mengerti pun bingung harus menjawab apa karena memang sampai detik ini, dia belum tahu rasanya bagaimana. Kalau pun tahu juga wanita itu tidak mungkin menceritakannya kepada Afrin atau siapa pun.


"Kenapa, Mbak?" tanya Afrin.


"Tidak apa-apa," jawab Rani dengan salah tingkah.


Afrin menatap Rani, dia merasa aneh dengan tingkah wanita itu. Seperti ada sesuatu disembunyikan, tetapi untuk saat ini sepertinya bukan waktu yang tepat untuk bertanya karena ada bundanya. Pasti Rani merasa tidak nyaman. Meski Yasna dengan senang hati mendengarkannya, pasti tetap ada rasa tidak nyaman.


Setelah berpikir sejenak Afrin mendapatkan ide agar Rani mau bercerita. Dia tersenyum menatap ART bundanya itu. Wanita itu juga perlu melakukan sesuatu.


"Habis ini kita jalan-jalan, yuk, Mbak Rani!" ajak Afrin.


"Katanya tadi nggak mau ke mana-mana? Ini malah ngajakin jalan-jalan," sela Yasna.


"Tadinya nggak mau ke mana-mana, tapi tiba-tiba aja pengen jalan-jalan sama Mbak Rani. Kalau Bunda mau ikut, ayolah!"


"Engga, Bunda di rumah saja. Kalau kalian mau pergi, pergi saja."


"Ayo, Mbak Rani. Mau, kan?" ajak Afrin lagi.


"Pekerjaan saya masih banyak, Non."


"Sudahlah, lupakan pekerjaan hari ini. Lagipula semuanya juga sudah selesai. Sekali-kali kamu harus memanjakan diri," sela Yasna. Sebagai wanita dia tahu jika Rani juga butuh refreshing.

__ADS_1


"Iya, Mbak Rani. Ayo, cepat siap-siap sana! Pakaian Mbak Rani masih ada yang di sini kan?" tanya Afrin.


"Masih ada, Non," jawab Rani. "Tunggu sebentar, saya ganti baju dulu," pamit Rani yang diangguki oleh Afrin.


Wanita itu berlalu memasuki kamarnya. Dia mencari pakaian yang kiranya pantas untuk dipakai jalan di mall. Sementara Afrin menunggunya di ruang keluarga bersama dengan Yasna yang menikmati acara televisi.


"Memangnya kamu mau ngajak Rani ke mana?" tanya Yasna pada putrinya.


"Aku mau ajak ke salon, belanja ngabisin duit suaminya," jawab Afrin asal.


"Kamu ini," ucap Yasna sambil mencubit hidung Afrin. "Ingat! Jangan pulang larut. Nanti Khairi datang jemput kamu, kamunya belum datang. Memang kamu sudah pamit sama suamimu?"


"Sudah, Bunda baru saja," jawab Afrin.


Rani yang sudah siap pun keluar dari kamar yang dulu dia tempati, menuju ruang keluarga di mana Afrin menunggunya.


"Sudah siap, Mbak?" tanya Afrin yang melihat Rani keluar.


"Sudah, Non."


"Iya, hati-hati. Ingat jangan pulang larut!"


"Iya, Bunda. Kami cuma sebentar," pamit Afrin sambil mencium punggung tangan Yasna.


"Saya pergi dulu, ya, Bu," pamit Rani yang diiyakan oleh majikannya itu.


Kedua wanita itu pergi menggunakan mobil Yasna yang tadi Afrin pinjam. Mereka menuju sebuah mall. Istri dari Khairi itu memilih mengajak untuk berbelanja lebih dulu. Rani hanya menurut saja, dia juga tidak memiliki tujuan.


Afrin mengajak Rani berkeliling mencari pakaian yang cocok untuknya. Istri dari Ivan sama sekali tidak membeli baju, sama seperti kebiasaannya dulu. Membuat Afrin geram dan memaksanya membeli baju dan beberapa perlengkapan lainnya.


"Ayo, Mbak Rani! Cari yang kamu suka. Kak Ivan kasih atm sama Mbak Rani, kan? Atau jangan-jangan nggak dikasih?" tanya Afrin dengan memicingkan matanya.


"Dikasih, kok, Non. Cuma saya tidak enak kalau belanja pakai ATM Kak Ivan, tanpa bilang dulu."

__ADS_1


"Itu sudah diberikan sama Mbak Rani jadi, terserah mau belanja apa saja. Kenapa harus bilang dulu? Ayo, aku carikan baju yang cantik dan pas buat Mbak Rani. Bagaimana kalau beli lingerie saja," usul Afrin.


"Aku nggak mau, malu pakainya," sela Rani dengan cepat.


"Berarti, Mbak, di rumah sudah punya dan pernah pakai?"


"Tidak! Aku tidak pernah pakai, kemarin waktu menikah ada yang kasih kado begituan. Aku malu, jangankan memakai, hanya melihat bajunya saja sudah malu," ujar Rani membuat Afrin menahan tawa karena dia juga salah satunya pemberi kado itu. "Kenapa, Non, tertawa?"


"Tidak apa-apa, Mbak. Hanya lucu saja. Ya sudah, ayo, kita cari pakaian buat Mbak Rani, biar makin cantik dan membuat Kak Ivan semakin jatuh cinta."


Afrin menarik tangan Rani menuju toko pakaian, tempat biasa dia membeli baju. Wanita itu juga mengajaknya membeli beberapa alat make up dan parfum. Meski mendapat penolakan dari Rani, tetapi tidak dihiraukan sama sekali oleh Afrin jadi, asistennya itu ikut saja, berdebat pun sepertinya percuma saja.


Begitu selesai belanja mereka pergi ke sebuah restoran untuk makan siang. Di sana sudah sangat ramai padahal ini bukan hari libur.


"Non, kita pulang saja ya nggak enak sama Bu Yasna. Aku tadi pagi masak cuma sedikit pasti makanannya sudah habis sekarang."


Ini pertama kalinya dia pergi lama, tanpa melakukan tugasnya terlebih dahulu.


"Sudahlah tidak usah mikirin Bunda lagi. Bunda juga bisa masak. Kemarin waktu Mbak Rani nikah, Bunda yang masak sendiri sama Kak Nayla," ucap Afrin yang memang sengaja ingin berbicara dengan Rani. "Ayo!"


Afrin menarik tangan Rani untuk ikut bersamanya. Mau tidak mau akhirnya istri dari Ivan mengikutinya. Mereka memasuki sebuah restoran yang ada di mall tersebut dan memesan sebuah masakan.


"Mbak Rani, masih perawan?" tanya Afrin tanpa berbasa-basi membuat wanita yang ditanya tersedak ludahnya sendiri. Bahkan sampai terbatuk hingga matanya berair. "Kenapa terkejut begitu , Mbak? Benar, ya, tebakan aku?"


Rani diam, tidak tahu harus menjawab apa. Memang benar dia sampai saat ini masih perawan, tetapi apa mungkin dia harus mengatakannya pada orang lain. Bukankah itu termasuk rahasia orang berumah tangga? Afrin yang melihat Rani terdiam, tahu jawabannya tanpa harus mendengar jawaban dari wanita itu.


"Maaf, ya, kalau aku terlalu ikut campur. Aku tahu ini masalah rumah tangga Mbak Rani dan Kak Ivan. Aku hanya ingin mengatakan jika itu juga termasuk hak dan kewajiban kalian. Kalau kalian tidak bisa melakukan itu, untuk apa kalian menikah? Dan itu hanya akan semakin menambah dosa saja."


Afrin memperhatikan raut wajah Rani yang terlihat sedih. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu. Akan tetapi, dia tidak bisa memaksanya. Setiap orang berhak menyembunyikan rahasianya, pikir Afrin.


"Aku bingung harus bagaimana? Aku juga malu jika aku yang memulainya," ucap Rani dengan suara lirih. Namun Afrin masih bisa mendengarnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2