Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
76. Bu Yasna


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Yasna.


"Waalaikumsalam, sudah pulang, Na. Bagaimana acara pernikahannya?" tanya Karina.


"Pernikahannya dibatalkan, Ma."


"Batal? Kok bisa?"


Bukannya Yasna tidak ingin menjawab, hanya saja dia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin dia menceritakan apa yang terjadi terhadap Fazilah pada mertuanya.


"Entahlah, Ma, tiba-tiba acaranya dibatalkan begitu saja."


Karina mengerti kalau Yasna tidak ingin menceritakannya, dia pun tidak bertanya lagi.


"Aku mau mandi dulu, Ma. Habis ini mau jemput anak-anak." Yasna segera ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah itu dia menjemput Afrin dan Aydin di sekolah. Hari ini, dia mengajak anak-anak pergi ke kantor Papanya dan pergi jalan-jalan bersama.


Emran sudah mengatakan akan pulang setelah makan siang, karena dia ingin pergi ke resepsi Fazilah. Sekarang acaranya tidak jadi, makanya mereka akan menggunakan waktu untuk pergi bersama.


"Kita mau ke mana, Bunda?" tanya Afrin.


"Mau jemput papa di kantor."


"Memang Papa mau pulang, Bunda? Biasanya Papa pulangnya sore," sela Aydin.


"Hari Papa pulang siang, habis ini kita jalan-jalan mau?"


"Mau."


Setelah sampai Yasna menghubungi Emran dan mengatakan Jika dia dan anak-anak sudah ada di depan perusahaan, tapi Emran memintanya untuk masuk.


Sebenarnya Yasna enggan, pasti akan banyak pasang mata yang akan memperhatikannya dan cari perhatian padanya, tapi karena suaminya maksa dia pun mengajak anak-anak turun.


Saat akan memasuki lift, seseorang menghadang Yasna.


"Permisi, Bu, mau bertemu siapa? Anda harus membuat laporan dulu." ucap seorang resepsionis perempuan.


"Saya mau bertemu dengan Pak Emran, Mbak," jawab Yasna.


"Apa Anda sudah membuat janji?"


"Apa saya harus buat janji dulu?"


"Tentu, Bu, Pak Emran tidak bisa bertemu dengan orang sembarangan," ucap resepsionis itu dengan melirik sinis ke arah Yasna.


"Apa maksudmu dengan mengatakan orang sembarangan, kamu pikir saya tidak pantas bertemu dengan Pak Emran!"


"Maaf, Bu, saya hanya menjalankan tugas."

__ADS_1


"Tapi, Pak Emran sendiri yang meminta saya langsung masuk ke kantornya."


"Tapi, saya tidak mendapat pesan apapun."


"Kenapa harus mengatakannya sama kamu? Apa urusannya sama kamu?" Yasna mulai merasa tidak enak.


"Tentu, karena saya petugas resepsionis yang harus waspada pada setiap tamu yang datang."


"Bu Yasna," sapa Hendra yang baru keluar.


"Hendra, bilang pada bosmu, kalau aku tidak boleh masuk, untuk apa memintaku datang."


"Siapa yang melarang Anda masuk, Bu?"


Hendra melihat ke arah resepsionis yang saat ini sedang menundukkan kepalanya, dia tahu jika wanita itu yang melarang Yasna masuk.


"Maaf, Bu, saya tidak tahu kalau Anda adalah istri dari Pak Emran," ucap resepsionis itu.


"Walaupun saya bukan istri Pak Emran seharusnya kamu lebih sopan pada orang lain." Yasna pergi begitu saja dengan mengajak anak-anak, dia kesal karena merasa direndahkan oleh wanita tadi.


"Apa kamu pegawai baru?" tanya Hendra.


"Benar, Pak. Saya mohon maaf, saya tidak tahu kalau--"


"Lain kali lihat dulu siapa yang kamu ajak berbicara." Hendra pergi menyusul Yasna, tanpa mau mendengar wanita itu melanjutkan perkataannya.


Di dalam lift, Yasna berkali-kali memgembuskan napasnya, dia tidak ingin suaminya tahu kalau saat ini dia sedang kesal. Sudah dipastikan Emran akan memecat wanita itu, Yasna tidak setega itu.


Mereka berjalan menuju ruangan Emran, saat ingin mengetuk pintu Yasna mendengar suaminya marah-marah. Entah dengan siapa, dari yang dia dengar sepertinya pria itu tengah marah dengan Celina, karena beberapa kali Emran menyebut namanya, hanya saja Yasna sama sekali tidak tahu apa masalah mereka.


"Yasna!" Emran terkejut, saat membuka pintu ternyata istrinya ada di sana.


*****


"Kalau kamu berani berangkat akan aku acak-acak pesawatnya," ancam Fazilah.


"Memang kamu berani ngacak-ngacak pesawat?"


"Tau ah." Fazilah segera berlalu meninggalkan Hafidz.


Saat dia akan menaiki motornya, Hafidz segera mencegahnya.


"Ayo, ikut aku!" Hafiz menarik tangan Fazilah, memintanya masuk kedalam mobil dan meninggalkan bandara.


"Bagaimana dengan mama dan Hisyam?" tanya Fazilah.


"Kita akan ke sana dan meminta maaf pada mereka, kamu jangan khawatir, aku akan menanggung semuanya," ucap Hafidz dengan menggenggam tangan Fazilah.


"Bagaimana kalau mereka marah dan menuntut kita."

__ADS_1


"Aku tidak takut apapun, asalkan kamu berada disisiku."


Fazilah menyandarkan kepalanya di bahu Hafidz, diaa percaya sepenuhnya pada pria ini. Apapun yang mereka lakukan nanti, dia akan menerimanya.


"Aku sangat bahagia meskipun aku tahu, kebahagiaanku berada di atas kesedihan orang lain, tapi aku tetap merasa bahagia dan aku akan sangat berterima kasih pada Hisyam."


"Aku sangat merasa bersalah padanya, pasti saat ini keluarganya sangat marah padanya."


"Kamu jangan terlalu khawatir, dia pasti bisa mengatasinya dan aku akan membantunya nanti."


Fazilah menganggukkan kepalanya mengerti, meski hanya sebentar mengenal keluarga Hisam, tapi dia sangat tahu kalau keluarganya sangat menjunjung harga diri. Itulah yang membuatnya Fazilah merasa was-was.


Akhirnya mereka sampai di rumah Fazilah, rumah tampak sepi, meski masih ada keluarga Hisyam di sana. Mereka sengaja menunggu kedatangan Fazilah dan kekasihnya.


Fazilah dan Hafidz memasuki rumah tampak orang tua Hisyam dan Hisyam sendiri, juga mama Mirna.


"Akhirnya yang ditunggu datang juga," sindir Mama Marisa.


Fazilah menundukkan kepalanya, dia tahu seberapa besar kesalahannya.


"Maafkan kami, Nyonya, tapi saya bersedia menanggung semuanya. Anda bisa melakukan apapun pada saya, asalkan Anda tidak menyalahkan Fazilah," ujar Hafidz.


"Baiklah, kamu bilang apapun, bukan?"


"Iya, Nyonya."


"Saya ingin kamu berjanji, akan mengabulkan apapun keinginan kami."


"Saya berjanji akan mengabulkan apapun permintaan Anda dan keluarga." Hafidz berkata tanpa ragu.


"Kalian sebagai saksinya, kalau dia sudah berjanji akan mengabulkan apapun permintaan kita."


Semua orang menangguk sebagai jawaban, termasuk Mama Mirna meskipun dia agak ragu.


"Baiklah, saya ingin meminta semua harta yang kamu miliki, sekarang juga."


Semua orang tercengang mendengar permintaan Marissa, terutama Hisyam.


"Mama apa-apaan sih? Kenapa meminta hartanya? Kita sudah cukup mampu." Hisyam tidak menyangka mamanya akan meminta hal itu pada Hafidz. Memang mereka tidak sekaya pria itu, tapi dia cukup mampu memenuhi kebutuhan keluarga.


"Kenapa memangnya? Bukankah dia sudah berjanji akan mengabulkan semua permintaan kita?"


"Tapi, mah--"


"Sudahlah, kamu jangan ikut campur urusanku dengan pria ini." Marissa memotong ucapan Hisyam. "Bagaimana? Apa kamu tidak sanggup? Kalau kamu tidak bisa mengabulkannya, kamu harus melepaskan Fazilah."


"Jangan, Fidz, jangan berikan semuanya, aku tahu kamu membangun semuanya dengan kerja keras, lebih baik kamu lepaskan aku."


"Tidak, aku akan mempertahankanmu apapun resikonya," sahut Hafidz. "Baiklah, Nyonya, Saya akan menyerahkan semua harta saya kepada Anda."

__ADS_1


Fazilah merasa bersalah karena Hafidz akan kehilangan semua hasil kerja kerasnya, hanya karena dirinya.


__ADS_2