
"Ibu, tidak lihat. Mata Mas Khairi begitu berbinar, mana mungkin mengantuk. Saking semangatnya untuk bertemu, Ibu," ucap Afrin sambil bergelayut di lengan mertuanya.
Nur senang istri Khairi tidak seperti menantu para tetangganya. Wanita itu memperlakukan dirinya seperti ibu sendiri. Sudah pasti putranya sangat bahagia dengan pernikahannya. Itu bisa dilihat dari tingkah laku mereka. Meski keduanya tidak bersikap mesra di depannya, tetapi Nur tahu kalau mereka saling melindungi.
Pak Hari sedari tadi hanya bisa diam sesekali melirik Khairi dan tiga wanita yang ada di belakang lewat spion. Dia penasaran, kenapa tiba-tiba pria yang ada di sampingnya memanggil perempuan paruh baya itu, Mama? Ada hubungan apa diantara mereka?
Khairi yang tahu jika sopir mertuanya ini sedari tadi melirik ke arahnya pun menjelaskan siapa kedua wanita itu.
"Pak Hari, kenalkan ini Mama dan adikku."
"Salam kenal, Nyonya, Nona," ucap Hari. Meski sempat terkejut, dia tetap menyapa wanita itu dengan menundukkan sedikit kepala ke arah spion.
"Jangan panggil Nyonya, Pak. Saya bukan siapa-siapa," ucap Bu Nur.
"Iya, Pak. Saya juga nggak nyaman di panggil seperti itu," sela Laily.
"Anda adalah keluarga majikan saya, tidak mungkin saya lancang memanggil nama."
"Sudah, Bu, Laily! Tidak apa-apa. Sekarang Laily, kamu tolong tunjukkan arah mall terdekat atau kamu kasih tahu saja nama mallnya biar Pak Hari yang cari lewat ponsel," sahut Afrin.
"Iya, Kak. Aku tunjukkin saja." Laily pun menunjukkan arah mall terdekat.
Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di mall. Khairi berjalan lebih dulu bersama ibunya. Dia juga ingin menggandeng adiknya di sisi lainnya. Namun, gadis itu menolak disentuh. Bukan merasa jijik atau apa, Laily merasa aneh disentuh laki-laki.
Bu Nur sudah menjelaskan, jika tidak masalah karena mereka kakak adik, tetapi Laily tetap menolak. Khairi pun tidak memaksanya. Akhirnya gadis itu berjalan dibelakang ibunya dengan menggandeng kakak iparnya. Tentu saja itu atas inisiatif Afrin. Sementara Pak Hari menunggu di mobil.
Mereka membeli beberapa gamis untuk Bu Nur dan Laily, begitupun dengan Khairi dan Afrin. Keduanya terpaksa membeli baju karena tidak ingin ibu dan adiknya merasa tidak nyaman. Usai berkeliling, mereka pergi ke sebuah restoran.
Perut mereka berdemo meminta untuk diisi. Berkeliling telah menguras isi perut mereka.
"Kenapa pesan banyak sekali, Nak?" tanya Nur sambil memperhatikan setiap makanan yang ada di meja.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Ma. Kalau tidak habis nanti bisa dibungkus bawa pulang," ucap Khairi. Padahal itu bukan dirinya sama sekali. Namun, untuk membuat ibunya nyaman, terpaksa dia mengatakannya.
Nur jadi teringat masa lalunya, saat diajak Hamdan makan di luar. Dulu makanan sebanyak ini terhidang di atas meja baginya hal biasa. Seiring berjalannya waktu, melihat makanan sebanyak ini, menurutnya itu mubadzir karena sudah pasti akan terbuang sia-sia.
Ini pertama kalinya bagi Laily makan di restoran yang mahal. Meski dia bekerja di restoran, tetap saja gadis itu tidak bisa makan seenak dan semahal ini. Laily makan dengan begitu lahap. Apalagi Afrin yang selalu menambahkan semua menu ke dalam piring adik iparnya. Meski sedikit, tetapi makanan di meja sangat banyak jadi, begitu cepat membuatnya kenyang.
"Ma, mau pesan lagi? Mungkin ada menu yang, Mama, inginkan?" tanya Khairi.
"Tidak ada, ini sudah lebih dari cukup," jawab Nur. "Nak, bisakah kamu memanggil Ibu saja, seperti adikmu! Ibu merasa aneh dipanggil Mama."
"Baiklah, kalau itu keinginan Mama. Aku akan memanggil Ibu mulai hari ini."
"Kak, nanti kalau nggak habis kita bawa pulang, ya? Buat makan malam," ucap Laily pada Afrin.
"Iya," sahut Afrin. "Kamu kerja di restoran, kan? Di mana tempatnya?"
"Ada di depan rumah sakit yang kita lewati tadi, Kak."
Akhirnya wanita paruh baya itu menurut saja. Sepertinya percuma menolak apa yang sudah diinginkan Khairi. Putranya memang mewarisi sifat mantan suaminya, keras kepala dan mau menang sendiri. Dia berdoa agar rumah tangga pria itu tidak terganggu oleh apa pun.
Begitu sampai di rumah sakit, Khairi mendaftar ke bagian administrasi. Pria itu memilih periksa ke dokter umum dulu. Dia belum tahu ibunya sakit apa, begitupun dengan Laily yang tidak pernah tahu.
"Tidak apa-apa, Pak. Ibu baik-baik, hanya perlu banyak istirahat," ucap dokter setelah memeriksa keadaan Bu Nur.
"Tapi, Ibu saya sering batuk, Dok!" ujar Khairi.
"Itu memang wajar, Pak. Mengingat usia Ibu yang sudah tidak muda lagi. Dari yang saya lihat tenggorokan ibu sepertinya ada sedikit radang. Saya akan memberi resep untuk, Ibu. Jangan sampai telat, ya!"
"Iya, Dokter. Terima kasih," sahut Nur dengan tersenyum.
Mereka kembali pulang setelah Khairi menebus obat di apotek. Dia merasa lega, ternyata ibunya sakit biasa saja. Sebelumnya pria itu khawatir terjadi sesuatu pada wanita itu karena dia masih ingin menghabiskan waktu dengannya.
__ADS_1
"Ibu sudah bilang, kalau Ibu tidak apa-apa, tapi kamu malah ngotot ingin ke rumah sakit," ucap Bu Nur saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Setidaknya sekarang kita bisa tenang mendengar keadaan, Ibu, baik-baik saja," sahut Khairi.
Ponsel dalam tas Afrin berdering, tertera nama Bunda di sana. Segera wanita itu mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Bunda."
"Waalaikumsalam, Sayang. Kamu ke mana saja? Kenapa tidak memberi kabar?" tanya Yasna yang berada di seberang.
Dari pagi sebenarnya wanita itu ingin menghubungi putrinya, tetapi dia takut jika Afrin tengah sibuk jadi, Yasna menundanya. Hingga siang hari belum ada kabar karena itu dia nekat menghubungi putrinya.
"Iya, maaf, Bunda. Kami baru saja jalan-jalan sama Ibu, terus periksa ke rumah sakit. Alhamdulillah, Ibu baik-baik saja," jawab Afrin.
"Mana mertua kamu? Bunda mau ngomong, video call saja. Bunda juga pengen kenalan sama orangnya."
"Iya, Bunda." Afrin pun mengganti panggilan dengan video call dan mengarahkannya ke arah mertuanya, tetapi masih terlihat ada dirinya.
"Bu, ini bunda saya, mau bicara dan berkenalan sama Ibu," ucap Afrin pada mertuanya sambil memperlihatkan ke arah kamera.
"Assalamualaikum, Ibu. Perkenalkan nama saya Yasna, Bundanya Afrin," ucap Yasna sambil tersenyum ke arah besannya yang ada di layar ponsel.
"Waalaikumsalam, Bu. Saya Nur Aini, Ibunya Khairi dan ini putri saya, namanya Laily," sahut Nur.
"Wah, cantik sekali! Sayangnya anak saya yang laki-laki sudah menikah," sahut Yasna bercanda membuat mereka tertawa pelan.
Kedua besan itu pun berbincang. Hingga mobil berhenti di depan rumah. Terpaksa Afrin memutuskan sambungan. Sebelum ponsel mati, Yasna sempat berpesan pada besannya jika nanti ke kota, dia harus mampir ke rumah. Ibu dari Khairi pun tidak ingin memberi harapan palsu karena itu dia mengatakan Insya Allah.
.
.
__ADS_1
.