Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
71. Membandingkan


__ADS_3

Fazilah meninggalkan David seorang diri, biarlah Fazilah dianggap jahat, dia hanya tidak ingin terlibat apapun lagi dengan David.


Tanpa mereka sadari, seseorang sedari tadi menguping pembicaraan mereka, yang tidak lain adalah Hisyam, dia mengikuti Fazilah dan David saat mereka memasuki restoran.


Hisyam duduk di belakang Fazilah hingga mereka tidak tahu keberadaannya. Apalagi mereka hanya fokus pada pembicaraan, hingga tidak melihat sekitarnya.


'Ternyata banyak sekali yang tidak aku ketahui tentang dirimu, tapi aku tidak ingin menyerah. Aku sudah mulai jatuh cinta padamu dan aku akan berjuang untuk itu,' batin Hisyam.


Hisyam pun memilih untuk pergi dari sana, ia tidak jadi bertemu dengan Fazilah. Mungkin nanti akan ada saatnya untuk menanyakan tentang mantan dari wanita itu dan juga pria yang tadi bersamanya.


*****


Pagi-pagi sekali suami Celina sudah menjemput istri dan anak-anaknya. Celina sempat kesal karena ia ingin pulang agak siang, tapi suaminya pagi-pagi sekali sudah datang.


"Ma, aku pamit pulang dulu," ucap Celina.


"Iya, hati-hati," sahut Karina.


"Kak Emran, Mbak Yasna, aku pulang dulu."


"Iya, hati-hati, jangan lupa obat demam buat Revan," sahut Yasna, sementara Emran hanya menganggukan kepalanya.


"Tante, Kak Emran, Mbak Yasna, saya pulang dulu. Saya harus pergi ke kantor juga jadi, nggak bisa lama-lama," pamit suami Celina.


"Oh iya, tidak apa-apa. Saya juga mengerti," sahut Emran, Celina dan suaminya pun meninggalkan rumah Emran.


"Anak-anak belum bangun, Sayang?" tanya Emran.


"Sudah, Mas, tadi Aydin sudah mandi mungkin saat ini sedang bersiap, Afrin juga sudah siap dari tadi."


"Ayo, kita sarapan dulu!" ajak Mama Karina.


"Aku panggil anak-anak dulu, Ma," ucap Yasna yang diangguki Karina.


Setelah makan anak-anak pergi ke sekolah diantar oleh Yasna, sedangkan emran membawa mobil sendiri. Karina memberi kode kepada Emran untuk tidak berangkat dulu, ada sesuatu yang ingin dia bicarakan.


"Mas, nggak berangkat?"


"Iya, ini juga mau berangkat, nunggu kalian jalan dulu, lagi pula Mas nggak ada meeting pagi."


"Ya udah, aku antar anak-anak dulu, assalamualikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah mobil yang ditumpangi Yasna dan anak-anak tidak terlihat, Emran segera masuk kembali ke dalam rumah, ia mencari mamanya yang sedang berada di ruang keluarga.


"Ada apa, Ma?"


"Duduklah dulu ... tadi malam mamanya Celina menelepon Mama. Dia memberitahu kalau kita tidak boleh mengizinkan Celina nginep di sini lagi."


"Memangnya kenapa, Mah?"


"Rumah tangga Celina sedang tidak baik-baik saja."


"Maksudnya apa? Aku tidak mengerti."

__ADS_1


"Tante Windi bilang, Celina masih menaruh hati padamu, dia masih ingin kamu jadi suaminya, dia sering bertengkar dengan suaminya dan membandingkan suaminya dengan kamu."


Emran terkejut mendengar kata-kata mamanya, ia tidak menyangka Celina bisa berpikir demikian. Bukankah Celina sudah memiliki anak bersama suaminya? Kenapa dia bisa berpikir untuk mencintai pria lain? Apalagi sampai berpikir untuk menjadi istrinya.


"Itu sama sekali tidak masuk akal, Ma. Bagaimana dia bisa berpikir seperti itu?"


"Mama juga tidak tahu, karena itu Tante Windi memperingatkan kita, agar tidak terlalu dekat dengan Celina, Tante Windi tidak mau rumah tangga putrinya hancur. Mama juga nggak mau kamu menyakiti hati istrimu, dia terlalu baik."


"Iya, Ma. Aku ngerti, aku akan mencoba untuk menjauh dari Celina."


"Begitu lebih baik."


"Sudah siang, aku berangkat kerja dulu ya, Ma."


"Iya, hati-hati."


Emran pun berangkat bekerja dengan menggunakan mobil. Dalam perjalanan Emran memikirkan kata-kata mamanya lalu ia mengingat kejadian kemarin di pantai dan juga semalam. Memang tingkah Celina seolah ingin dekat dengannya, tapi dia tidak pernah berpikir bisa sejauh itu.


'Dhek, maafkan Kakak ... Kakak tidak bisa menjaga istrimu lagi, dia sudah punya orang yang akan menjaganya dan Kakak juga ada seseorang yang harus Kakak jaga.'


****


Hari ini Fazilah dan Hisyam akan melakukan fitting baju pengantin, pria itu menjemput tunangannya ke rumah. Fazilah sendiri sudah siap jadi, merela segera berangkat.


Dalam perjalanan, tidak ada percakapan sama sekali, hanya suara musik dari radio sebagai pengusir sepi.


"Kamu kok diem aja sih, Fa?" tanya Hisyam.


Namun, yang ditanya hanya diam saja sambil memandangi jalanan.


"Iya, ada apa?"


"Kamu kok diam aja?"


"Nggak pa-pa, aku hanya sedang ada beberapa pekerjaan yang belum selesai tadi."


"Apa ada sesuatu yang mengganjal di pikiran kamu? Cerita saja, aku akan mendengarkannya."


"Hanya sedikit pekerjaan saja, tidak apa-apa."


"Kamu mau cerita sesuatu tidak? cerita tentang masa lalu mungkin."


"Tidak," jawab Fazilah dengan memalingkan wajahnya.


Hisyam bisa melihat jika Fazilah enggan membahas hal itu, ia pun tidak lagi bertanya. Satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di butik yang mereka tuju.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pegawai.


"Bisa bertemu dengan Bunda Vini?"


"Sebentar, dengan siapa?"


"Bilang saja, Hisyam yang datang."


"Baiklah, tolong tunggu sebentar, akan saya panggilkan." wanita itu masuk ke dalam butik.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu, seorang wanita yang bernama bunda Vini akhirnya keluar juga. Seorang wanita yang masih terlihat sangat muda dan cantik.


"Hai, Hisyam, apa kabar?"


"Baik, Bunda. Kalau Bunda sendiri bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah, baik, apa ini calon istri kamu?" tanya Bunda Vini sambil melihat ke arah Fazilah.


"Iya, Bunda. Perkenalkan ini istri saya namanya Fazilah."


"Halo, Tante, nama saya Fazilah," ucap Fazilah dengan mengulurkan tangannya dan disambut oleh Vini.


"Panggil saja, Bunda Vini."


"Iya, Bunda."


"Ayo, kita masuk! Kamu lihat saja gaun-gaun di sana. Kalau kamu tidak suka, kamu bilang gaun seperti apa yang kamu inginkan, nanti akan aku buatkan."


Mereka masuk ke dalam butik, terlihat banyak gaun berjajar, Fazilah dibuat Terkesima, begitu cantik gaun-gaun di sana.


"Bagaimana? Kamu suka yang mana?"


"Semuanya cantik-cantik, Bunda."


"Kamu mau pakai semuanya?" ucap Bunda Vini sambil tertawa.


"Tidak, Bunda."


"Sebaiknya lihat-lihat dulu."


"Iya, Bunda."


Fazilah menelusuri setiap gaun yang terpajang di sana, Hisyam mengikuti langkah Fazilah, hingga berhenti di salah satu gaun yang terlihat sangat cantik menurutnya.


Setelah cukup memilih, Hisyam mengajak Fazilah makan di sebuah restoran, karena sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya, ia pun menanyakan pada wanita itu mengenai mantannya.


"Kemarin ada sarang pria yang menemuiku, dia mengatakan kalau dia mantan kekasihmu."


"Si--siapa?"


"Namanya Hafidz, dia memohon padaku untuk melepaskanmu agar kalian bisa bersama lagi. Bagaimana menurutmu, apa yang harus aku lakukan?"


Fazilah bingung harus menjawab apa, karena jujur ia juga ingin kembali bersama, tapi ia tidak bisa melakukannya.


"Jika aku bilang, lepaskan aku, apa kamu akan melepaskanku?"


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2