Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
262. S2 - Di rumah Rani 2


__ADS_3

"Maaf, Tuan. Di dalam ada wanita yang bernama Vira. Dia bilang ingin bertemu dengan Anda," ucap Iwan pada Khairi yang baru datang.


"Vira? Kenapa dia ke sini?" tanya Khairi dengan wajah heran.


"Saya tidak tahu, Tuan. Tadi saya sudah mencoba untuk menahannya, tapi dia ngotot mau bertemu dengan Anda dan menunggu di dalam."


"Kamu ikut saya sekarang,," ucap Khairi yang diangguki oleh Iwan. Sekarang dia yang menggantikan posisi Ivan untuk sementara waktu, selama calon pengantin itu mengambil cuti.


Khairi memasuki ruangannya diikuti oleh Iwan. Dia tidak mau hanya berdua dengan seorang wanita selain Afrin. Apalagi ini adalah kantor pasti akan menimbulkan fitnah nanti.


"Selamat pagi," sapa Khairi.


"Selamat pagi juga, apa kabar? Sudah lama tidak bertemu," sahut Afrin.


"Iya, apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan padaku? Hingga membuatmu datang kemari?"


"Aku ingin meminta sesuatu padamu, anggap saja ini bayaran atas semua yang kamu lakukan padaku."


"Bayaran apa? Saya tidak merasa melakukan apa pun padamu."


"Apa kamu lupa telah membatalkan perjodohan kita dan membuat keluargaku malu!" Khairi mengangguk. Kini dia mengerti maksud dan tujuan kedatangan Vira. Ternyata wanita ini benar-benar tidak tahu malu. Bukankah itu kesalahan keluarganya sendiri kenapa meminta pertanggungjawaban orang lain?


"Lalu apa yang kamu inginkan?" tanya Khairi dengan dingin.


"Aku ingin kamu menikahiku, terserah saja kamu mau menjadikan aku istri kedua. Aku hanya butuh status, setelah itu kamu boleh menceraikanku untuk membuatku jadi janda. Setidaknya setelah ini aku bebas melakukan apa pun."


Khairi tidak habis pikir, bagaimana bisa ada orang yang mempunyai pemikiran seperti Vira. Pria itu tidak pernah berniat untuk mempermainkan sebuah pernikahan. Apalagi hanya untuk menutupi perbuatan yang tidak dia lakukan.


"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"


"Aku akan memohon pada Afrin agar dia menikahkan aku denganmu. Aku yakin dia akan menyetujuinya."


Khairi tertawa, dia mengejek kepercayaan diri Vira. Ternyata wanita yang ada dihadapannya ini tidak begitu mengenal sahabatnya. Pria itu sangat tahu Afrin tidak akan mungkin setuju untuk dimadu. Apalagi jika pernikahan itu hanya untuk main-main.


"Kamu terlalu percaya diri, silakan saja memohon padanya, yang jelas sampai kapan pun aku tidak akan pernah menikah denganmu. Lakukan saja semua yang ingin kamu lakukan. Sebelum kamu menyesalinya."


"Apa kamu tidak ada rasa kasihan padaku? Tolong pikirkan bagaimana perasaanku. Setidaknya aku ingin memiliki status saja."

__ADS_1


"Apa ini juga berhubungan dengan Video yang tersebar itu?" tanya Khairi yang tidak mendapatkan jawaban dari Vira. "Jika benar seperti itu, maka itu adalah masalahmu, selesaikan sendiri jangan membawaku ke dalam masalahmu," pungkas Khairi.


Dia tidak ingin terlibat dengan masalah orang lain. Apalagi wanita seperti Vira. Bisa saja setelah mereka benar-benar menikah, wanita itu menolak bercerai. Khairi tidak bisa membayangkan hal itu.


"Sebaiknya kamu segera pergi dari sini. Saya masih punya banyak pekerjaan yang lebih penting."


Vira pun beranjak dan pergi dari sana dengan menahan kekesalan.


*****


"Mbak Rani, acara nikahnya di rumah?" tanya Afrin saat melihat dekorasi.


"Iya, Non. Acaranya di rumah saja, lagi pula di kampung mah semuanya dilakukan di rumah. Bahkan biasanya resepsi juga, tapi karena Nak Ivan banyak temannya di kota jadi, acara resepsinya dilaksanakan di sana," jawab Bik Rahmi.


"Iya, Bi. Memang seperti itu, kalau temannya Kak Ivan ke sini, kasihan nanti kejauhan," sahut Afrin.


"Ini nanti sore ada acara apa, Bi? Sepertinya Semuanya sibuk?" tanya Yasna sambil memperhatikan kesibukan orang yang berada di sana.


"Nanti malam ada acara pengajian, Bu. Hanya mengundang tetangga sekitar saja. Kami di kampung memang semuanya mengandalkan tetangga. Jarang sekali mengundang orang luar."


"Itu Bagus, Bu. Daripada tinggal di kota, kita tetangga saja nggak ada yang kenal. Semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing," ujar Yasna yang diangguki Rahmi.


"Iya, Mbak Rani. Kita hanya semalam saja, kok!" jawab Afrin.


"Iya, Ran, kalau nggak ada kamar. Kami tidur di ruang tamu ini saja nggak papa," sela Yasna.


"Jangan, dong, Bu. Masa di ruang tamu. Bu Yasna bisa tidur di kamar saya, biar nanti saya tidur di kamar ibu," sahut Rani.


"Tidak, masa di kamar pengantin. Tidur di tempat lain saja," tolak Yasna.


Rahmi tampak berpikir, kemudian berkata, "Ada satu kamar tamu hanya saja tidak ada kasurnya, hanya kasur lantai tipis."


"Tidak apa-apa, Bi, di sana saja," sahut Yasna.


"Pasti nanti punggungnya sakit, Bu."


"Saya dulu juga pernah susah, Bi. Saya malah tidur di lantai dengan alas tikar saja, tidak ada kasurnya. Afrin masih muda sudah pasti bisa tidur di mana saja "

__ADS_1


"Iya, Bi, saya bisa tidur di mana pun. Jangan khawatir tentang saya."


"Baiklah, mari, saya antar! kopernya biar dibawakan sama Rani."


Mereka memasuki kamar tamu, ruangan yang sempit hanya muat tempat tidur dan dua lemari. Padahal rumah Rahmi ukurannya cukup besar dibanding lainnya di kampung ini. Lalu bagaimana dengan rumah yang lebih kecil seperti yang ada di sekitar. Apa yang terjadi pada mereka?


Hati Afrin merasa ngilu. Dia iba melihat mereka yang hidup dengan kekurangan. Namun, masih bisa tersenyum dengan lebar. Betapa hebatnya mereka, sedangkan banyak diluar sana yang hidup dengan kelebihan, tetapi masih saja mengeluhkan keadaannya.


Wanita itu bersyukur dilahirkan di keluarga yang berada dan mempunyai akhlak yang baik. Meski dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu kandung. Tuhan mengirimkan seorang ibu sambung yang luar biasa baiknya.


"Kenapa, Non Afrin diam saja? Apa, Non Afrin, tidak suka dengan ruangannya? Kalau tidak mau, kita bisa cari ruangan lainnya," tawar Rahmi.


"Tidak, Bi. Ini saja sudah bagus," jawab Afrin.


"Ya sudah, kami keluar dulu, kalau ada apa-apa panggil saya atau Rani saja," pamit Rahmi. Dia segera meninggalkan kamar tamu bersama Rani. Mungkin atasannya itu masih jadi butuh istirahat.


Ponsel dalam tas Yasna berdering, tertera nama Emran di sana. Segera wanita itu mengangkatnya.


"Halo, assalamualaikum," ucap Yasna.


"Waalaikumsalam, Sayang. Kamu sudah sampai?" tanya Emran yang berada di seberang telepon.


"Sudah, Mas. Baru saja sampai," jawab Yasna.


"Kamu nyaman, kan, di sana? Kalau tidak, ajak Hari mencari hotel terdekat."


"Tidak usah, Mas. Aku di sini saja. Kami di sini juga mau bantu-bantu. Kala di hotel itu namanya liburan. Besok saja setelah acara selesai, kita nginep di hotel sama yang lain."


"Di sana tidak ada yang godain kamu, kan?" tanya Emran, entah kenapa dia masih kepikiran, apa yang dibicarakan oleh menantunya tadi pagi.


"Mas ini bicara apa, sih? Aku itu sudah tua, siapa juga yang mau godain? Ada-ada saja."


"Walaupun kamu sudah tua, tapi kamu masih sangat cantik, Sayang, karena itu aku takut kamu digodain para pria hidung belang di sana."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2