Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
58. Pelaku yang sebenarnya


__ADS_3

Pagi-pagi sekali ponsel Emran berbunyi, tertera nomor baru di sana, dengan enggan ia mengangkatnya.


"Halo, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, dengan Bapak Emran?" tanya seseorang di seberang telepon.


"Iya, benar. Ini siapa, ya?"


"Maaf, Pak. Saya dari kepolisian, kami memohon kehadiran dari Nona Fazilah ke kantor kami, maaf kami menghubungi nomor Anda, karena kami tidak memiliki nomor Nona Fazilah."


"Tidak apa-apa, saya akan memberitahukannya."


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama."


"Dari siapa, Mas?" tanya Yasna setelah Emran menutup ponselnya.


"Dari kantor polisi, mereka meminta Fazilah datang."


"Kenapa, Mas? Apa kecelakaan kemarin memang disengaja?"


"Aku tidak tahu, mereka hanya meminta Fazilah datang," jawab Emran. "Kamu saja yang hubungi Fazilah, bilang saja nanti kita jemput ke rumahnya."


"Iya, Mas." Yasna segera menghubungi Fazilah dan menyampaikan pesan suaminya.


"Mas, dia ada di rumah ibu, kita jemput dia di sana."


"Iya, habis ngantar anak-anak kita jemput Fazilah."


"Ayo, turun! Semua orang sudah menunggu kita," ajak Yasna.


Mereka turun beriringan dan ternyata benar, semua orang sudah menunggu, tapi ada seseorang yang baru datang, dia tersenyum kearah Emran membuat Yasna mendengus kesal, siapa lagi kalau bukan Tisya, hanya dia yang selalu membuat Yasna kesal.


"Selamat pagi, Emran," sapa Tisya.


"Kalau kamu ke sini hanya ingin merebut perhatianku, sebaiknya kamu pulang, aku tidak ingin selera makanku hilang," ucap Emran.


Semua orang menatap Emran, mereka tidak percaya Emran bisa bicara seperti itu, biasanya dia hanya diam tidak menanggapi.


"Kamu kenapa kejam begitu, Ran? Dulu kamu tidak seperti ini."


"Karena sekarang ada hati yang harus aku lindungi dan perasaan yang harus aku jaga. Aku tidak ingin kehilangannya hanya karena rasa hormat pada tamuku," ucap Emran dengan menekan kata terakhir.


"Baiklah, aku akan pulang, semoga kalian berbahagia." Tisya berdiri dari duduknya, tapi tiba-tiba terdengar suara kain sobek, ternyata gaun Tisya.


"Astaga, gaunku! Kenapa bisa nyangkut seperti ini!" Tisya kesal, ia sudah tahu ulah siapa itu.


"Kenapa, Sya?" tanya Karina, tapi tidak dijawab oleh Tisya.

__ADS_1


"Kenapa kamu selalu mengerjai aku? Kenapa tidak wanita itu saja," ucap Tisya dengan menunjuk Yasna.


"Apa maksudmu mengajari anakku untuk mengerjai Bundanya?" tanya Emran.


"Dia kan selalu mengerjai wanita-wanita yang dekat dengan kamu, sekarang hanya wanita itu yang ada di dekatmu, kenapa tidak mengerjainya saja? Kenapa aku?" Tisya benar-benar kesal sekali.


"Inilah yang membuatku tidak memilihmu, sebaiknya kamu pergi, sebelum anakku semakin membuatmu kesal."


Tisya akhirnya pergi tanpa pamit. Sejak awal kedatangannya, Aydin tidak pernah suka dengannya, bahkan sekarang pun masih sama. Bagaimana Yasna bisa bertahan dengan anak seperti itu? Hal itu selalu menjadi pertanyaan dibenak Tisya.


"Sudah, ayo, makan!" ucap Yasna.


Mereka menikmati sarapan dengan tenang. Setelah selesai Emran dan Yasna mengantar anak-anak ke sekolah, setelah itu menjemput Fazilah di rumah Ibu.


"Fa, kamu setiap hari ke rumah ibu?" tanya Yasna saat mereka dalan perjalanan menuju kantor polisi.


"Iya."


"Tiap hari ketemu Hafidz, dong." Yasna menggoda Fazilah yang tampak sibuk dengan ponselnya.


"Dia ada di sana, sudah pasti ketemu. Apa sih, Na? Kamu itu jangan ngada-ngada, ya!" Fazilah tahu apa maksud dari pertanyaan sahabatnya itu.


"Aku nggak ngapa-ngapain, emang kamu nggak tertarik sama dia? Dia ganteng, loh."


"Memang kenapa kalau dia ganteng? Kamu mau?"


"Ih, Mas, aku kan nanya Fazila."


"Nggak harus muji pria lain juga, kan?"


Fazilah menahan tawa, ia tidak menyangka, bossnya yang berwibawa bisa juga cemburu mendengar istrinya memuji pria lain.


"Iya, maaf, cuma Mas yang paling ganteng, nggak ada yang bisa mengalahkan kegantengan suamiku ini. Sudah, kan?"


"Kok kedengarannya nggak ikhlas gitu?"


Yasna menghela nafas, ia merasa lebih mudah membujuk Afrin dari pada suaminya ini.


"Aku cuma menggoda Fazilah, Mas. Nggak ada maksud apapun."


"Iya, aku tahu, tapi jangan memuji pria lain, di depan atau di belakangku."


"Iya, Mas."


Yasna melirik sinis ke arah Fazilah yang terkekeh tanpa suara, awalnya ia ingin membuat sahabatnya kesal, tapi sekarang malah dia yang kesal.


Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai juga, mereka masuk dan di sambut pengacara Fazilah yang juga berada di sana.


Mereka di bawa ke sebuah ruangan yang terdapat keluarga pelaku, polisi menjelaskan jika keluarga mereka ingin meminta maaf dan ingin menyelasaikan semuanya secara kekeluargaan saja.

__ADS_1


Saat memasuki sebuah ruangan, Fazilah terkejut melihat David dan keluarganya berada di sana, ada juga pasangan suami istri lainnua di sana. Apa keluarga David ada hubungannya, dengan kecelakaan yang menimpa dirinya dan Hafidz?


"Selamat pagi, Pak David," sapa Emran.


"Selamat pagi, Pak Emran. Maaf, kami mengganggu waktu kerja Anda."


Emran hanya tersenyum menanggapinya. Mereka semua duduk saling berhadapan dengan pengacara di samping mereka masing-masing.


"Mohon maaf sebelumnya, saya pengacara dari keluarga pelaku, yang menyebabkan kecelakaan Nona Fazilah. Keluarga meminta Nona Fazilah untuk mencabut tuntutan dan menyelesaikan semuanya secara kekeluargaan."


"Boleh saya tahu siapa pelakunya? Saya tidak tahu siapa yang bapak maksud?" tanya Fazilah.


"Pelakunya adalah Nyonya Vira, istri dari Pak David," jawab pengacara.


"Saya tidak ingin berbasa-basi, saya mau kamu segera mencabut laporan, anak saya melakukannya juga karena kamu sendiri," sela seorang wanita paruh baya, dia adalah ibu dari Vira.


"Apa maksud, Anda? Memang saya melakukan apa?" tanya Fazilah.


"Kamu sudah menggoda suami orang, masih bertanya berbuat apa? Memang pelakor dimana-mana nggak ada yang mau ngaku, ya?"


Fazilah sangat geram dengan wanita itu, seenaknya saja mengatai orang lain. Dia tidak melakukan apapun, tapi dituduh seperti itu.


"Dengar Nyonya, saya tidak tahu maksud Anda itu apa dan suami siapa yang sudah saya goda. Saya tidak pernah melakukan hal itu, apalagi pada seorang yang tidak kukenal sebelumnya. Sebaiknya Anda menjaga mulut Anda, sebelum orang lain menutupnya dengan kasar."


Pintu tiba-tiba terbuka, masuklah seorang wanita dengan menggunakan pakaian yang bertuliskan tahanan dibagian punggungnya.


"Mama!" ucap wanita itu, yang tidak lain adalah Vira.


"Vira! Kamu nggak pa-pa?"


"Aku nggak pa-pa, tolong keluarin aku, Ma!"


"Iya, Mama pasti akan berusaha keluarin kamu."


"Bagaimana, Fa?" bisik Yasna.


"kita tunggu sebentar, aku ingin tahu apa yang akan wanita itu sampaikan," jawab Fazilah dengan berbisik pula.


Fazilah ingin mendengar sejauh mana wanita itu bersikap, jika memang memungkinkan, ia akan menarik tuntutan, jika tidak biar hukum yang menyelesaikan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2