
"Baiklah, karena semua sudah setuju. Kita akan pergi makan siang di luar," pungkas Yasna.
Semua orang melihat ke arah Aydin seolah meminta jawaban dari pria itu. Mau tidak mau dia pun menyetujuinya.
"Baiklah, aku ikut, tapi pake topi dan masker," ucap Aydin dengan mengembuskan napas secara kasar.
"Bunda mau siap-siap dulu, ya. Nggak mungkin, kan, Bunda keluar dengan menggunakan daster begini? Bisa membuat malu Tuan Emran nanti."
"Bunda pakai daster juga sudah cantik," puji Aydin.
"Mana ada pakai daster cantik. Itu mah kamu aja yang mengada-ngada."
"Aku juga mau dandan cantik, ah. Ini pertama kalinya aku keluar sebagai putri dari Papa Emran dan Bunda Yasna. Aku mau ke dalam dulu."
Afrin dan yasna segera masuk ke dalam. Mereka ingin bersiap-siap. Sementara Emran dan Aydin masih duduk di tempat yang sama.
"Aku senang banget, Pa. Bunda mau memaafkan aku."
"Iya, Papa juga senang mendengarnya. Mudah-mudahan ini juga jadi pelajaran buat kamu agar kedepannya jangan mudah terpancing emosi. Pikirkan kembali setiap apa yang akan kamu lakukan dan apa yang akan keluar dari mulut kamu, agar tidak menyakiti orang lain. Bukan hanya keluarga kita."
"Iya, Pa. Aydin juga minta maaf karena sempat debat juga sama Papa."
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan," ucap Emran dengan menepuk bahu putranya. "Kita tunggu mereka di luar saja, ayo!"
"Iya, Pa."
*****
Restoran bintang lima menjadi pilihan keluarga Emran. Semua orang merasa sangat senang dengan kebersamaan siang ini. Mereka pun memutuskan untuk jalan-jalan di mall setelah makan, yang tentunya dengan Aydin yang masih memakai topi dan juga masker.
"Bunda ini cantik, kan?" tanya Afrin sambil menempelkan sebuah gaun ke tubuhnya.
"Nggak boleh. Cari yang lain!"
"Tapi, ini cantik, Bunda."
"Itu terlalu terbuka Afrin. Bunda nggak suka."
"Papa juga nggak suka. Kamu memang tidak memakai pakaian yang tertutup. Setidaknya jangan memakai pakaian yang terbuka seperti tadi," ujar Emran.
"Iya, Pa," sahut Afrin dengan cemberut.
Emran dan Yasna memang membebaskan anak-anaknya dalam berpakaian, tapi bukan berarti mereka bisa memskai pakaian yang terbuka.
__ADS_1
Saat mereka tengah asyik jalan-jalan, tiba-tiba seseorang menyapa Yasna.
"Yasna!"
"Tante ... apa kabar?" tanya Yasna pada orang itu yang tidak lain adalah Faida, mantan mertua Yasna.
Sudah lama mereka tidak bertemu. Dia juga tidak mendengar apa pun tentang keluarga mereka. Faida sekarang juga terlihat lebih ramah. Tampilannya juga sederhana.
"Tante, baik." Faida memandang Yasna secara saksama.
"Maaf, Tante. Ada apa ya? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Yasna yang merasa risih saat Faida menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Tidak ada apa-apa. Melihat kamu bahagia bersama dengan keluargamu, setidaknya rasa bersalah Tante sedikit berkurang."
"Maksud, Tante, apa?" Yasna dibuat bingung dengan perkataan Faida.
"Tidak apa-apa, Tante pergi dulu, ya. Semoga kamu selalu bahagia dengan keluargamu." Faida segera pergi meninggalkan Yasna.
"Siapa dia, Bunda?" tanya Aydin setelah kepergian Faida.
"Dia, ibunya Om Zahran," jawab Yasna.
Aydin mengangguk mengerti. Dia juga mengenal siapa itu Zahran. Dulu dia sudah cukup paham hubungan Yasna dan pria itu.
"Sudah, ayo, kita jalan lagi!" seru Emran.
*****
Ponsel Emran berdering. Tertera nomor yang belum dia simpan. Pria itu segera mengangkatnya.
"Halo," ucap Emran.
"Selamat malam, Pak. Saya sudah mengirimkan data wanita yang bernama Airin dan Nayla ke email Anda."
"Sebentar, saya akan memeriksanya." Emran membuka laptop dan membaca email dari orang suruhannya itu.
Pria itu dibuat terkejut saat melihatnya. Bagaimana bisa seperti itu?
"Apa kamu yakin dengan data yang sudah kamu berikan kepada saya?"
"Sangat yakin, Pak."
Emran menganggukkan kepalanya dan berkata, "Kerja yang bagus."
__ADS_1
"Apa perlu saya mengirim semuanya kepada anak Anda?"
"Tidak perlu, biarkan dia mengetahuinya sendiri. Ini juga akan menjadi pelajaran untuknya agar lebih berhati-hati dalam mengenal seseorang."
"Baik, Pak."
"Terima kasih atas kerja kerasnya. Saya akan mentransfer sisa pembayarannya."
"Terima kasih, Pak. Jangan sungkan menghubungi saya jika butuh bantuan lagi."
"Tentu." Emran segera mematikan sambungan teleponnya. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa gadis itu melakukan hal seperti itu?
"Ada apa, Mas? Sepertinya ada yang serius? Aku dari tadi ngetok pintu nggak ada yang nyahutin." tanya Yasna yang baru saja masuk ke ruang kerja Emran dengan membawa segelas teh.
"Hanya sedikit pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan oleh mereka. Biasalah, hal seperti itu, Sayang," jawab Emran berbohong. Dia tidak mungkin menceritakan pada Yasna apa yang dia ketahui. Biarlah nanti Aydin sendiri yang mengatakan, setelah mengetahui semuanya.
"Ini, Mas. Diminum dulu tehnya."
"Terima kasih, kamu selalu saja repot. Nanti juga aku ambil sendiri, Sayang. Sekarang lebih baik kamu tidur dulu. Aku masih ada pekerjaan."
"Aku belum ngantuk, kok, Mas. Aku mau nungguin kamu di sini boleh?" tolak Yasna, dia masih ingin bersama dengan suaminya. Di kamar juga dia sendirian, tidak ada siapa pun.
"Terserah kamu kalau begitu. Asal jangan ganggu aku, ya?" goda Emran dengan menjawil hidung Yasna.
"Aku nggak akan ganggu, kok. Aku duduk di sofa saja sambil baca buku."
"Iya, boleh. Aku mau selesaiin kerjaan sebentar."
Yasna segera mencari buku yang dia suka dan membacanya di sofa. Sementara Emran kembali sibuk dengan laptopnya.
Setelah pekerjaannya selesai, Emran berniat mengajak Yasna kembali ke kamar. Namun, saat dia melihat ke arah sang istri. Ternyata wanita itu sudah tertidur. Pria itu tersenyum melihatnya.
Emran segera mengangkat Yasna dengan hati-hati, takut kalau sampai wanita itu terbangun. Dia meletakkan sang istri di ranjang kemudian menyelimutinya.
"Selamat malam, Sayang. Semoga mimpi indah," ucap Emran dengan mencium kening Yasna.
Emran juga merebahkan tubuhnya di samping sang istri dan memejamkan matanya. Berharap apa pun yang akan terjadi besok, mereka bisa melewatinya dengan mudah.
Sementara itu, Aydin yang berada di kamarnya tidak bisa tidur. Sedari tadi dia mencoba menghubungi Airin. Namun, nomornya tidak aktif sejak sore hingga kini. Pria itu juga mengirim banyak pesan, tapi tak ada satu pun yang sampai.
'Kamu ke mana, sih, Airin? Jangan membuatku khawatir.' batin Aydin.
Ingin sekali pria itu mendatangi Airin ke rumahnya, tapi dia juga tahu, kalau itu sangat tidak sopan berkunjung ke rumah orang di tengah malam.
__ADS_1
'Mudah-mudahan kamu baik-baik saja.'
Meski masih dilanda kekhawatiran Aydin berusaha untuk tidur. Berharap besok dia bisa segera menemui sang kekasih dan menanyakan keadaannya.