
"Iya, Sayang. Tadi di kantor tidak ada pekerjaan jadi, aku sengaja pulang cepet karena aku kangen sama kamu," ucap emran dengan mencium bibir istrinya dan sedikit melum*tnya. Dia memang sengaja melakukan itu di depan Luna.
"Ada tamu, Sayang nanti malam saja," kata Afrin dengan meraih tas yang ada di tangan Khairi dan meletakkannya di atas meja di depan kamar.
Afrin ikut sang suami duduk menemani tamunya. Dia akan duduk di samping suaminya. Namun, Khairi dengan cepat meraih pinggang dan mendudukkan istrinya di atas pangkuannya. Afrin sempat terkejut, tetapi dia berusaha untuk mengendalikan diri agar terlihat biasa-biasa saja.
Tidak apa-apa, kan, menjadi murahan di depan sang suami. Mereka juga sudah halal. Afrin duduk membelakangi sang suami yang melingkarkan tangannya di perutnya. Sesekali pria itu mengendus leher jenjang sang istri, membuat Afrin menahan gairahnya.
Tanpa sadar wanita itu menutup matanya karena kegelian. Sementara Luna mengepalkan kedua tangannya. Dia benar-benar geram dengan tingkah pasangan suami istri itu. Bagaimana bisa mereka melakukan hal ini di depannya.
"Oh, iya, Nona Luna tadi katanya ada perlu, dengan suami saya?" tanya Afrin berusaha menahan gairahnya.
"Khairi, kamu lupa dengan janji kamu padaku?" tanya Luna pada Khairi tanpa menjawab pertanyaan Afrin.
"Janji apa?" tanya balik Khairi, tanpa mau menghentikan aktivitasnya dan itu semakin membuat Luna geram.
"Kamu, kan, sudah janji mau nikahin aku? Kamu jangan sampai melupakan hal itu! Aku udah nungguin kamu dari dulu," ujar Luna dengan suara yang sengaja dibuat buat agar terlihat sedih.
"Saya lupa, sudah tidak ingat lagi," jawab Khairi dengan santai.
"Mas, geli, ah," ucap afrin yang sengaja dibuat semanja mungkin.
"Kamu diam saja, Sayang. Nikmati saja apa yang aku lakukan."
__ADS_1
"Iya, tapi aku geli tahu!"
"Bisakah kalian menghormatiku sebagai tamu di sini!" seru Luna.
"Dan bisakah kamu tidak datang ke rumahku dengan mencari suami orang! Kedatanganmu mengganggu kehidupan kami. Kalau kamu tidak ingin melihat kami bermesraan, sebaiknya kamu pergi saja dari sini. Kami juga tidak mengundangmu, kan? Kamu sendiri yang datang mencari perkara dengan kami. Jangan salahkan aku jika besok karirmu hanya tinggal nama," ucap Afrin dengan tatapan yang tajam dan begitu menusuk, membuat Luna sedikit merinding. Namun, dia berusaha untuk baik-baik saja.
Luna juga tahu siapa Afrin dan keluarganya. Apa yang diucapkannya bukan hanya omong kosong belaka. Keluarga dari istri Khairi ini sangat berbahaya. Dia harus berhati-hati jika masih ingin hidup bahagia.
"Aku hanya mau menagih janji kepada Khairi," ucap Luna yang kemudian beralih menatap Khairi. "Kamu sudah janji, kan, sama aku untuk menikah denganku? Kenapa kamu mengingkarinya? kenapa malah menikah dengan wanita itu?"
"Aku tidak pernah berjanji padamu. Kalau kamu ingat, dulu kamu sendiri yang memutuskan hubungan kita, kan, kamu yang bilang untuk melupakan semua kenangan kita. Kamu lebih memilih menjadi model di luar negeri dan sekarang saat karir kamu hancur, seenaknya saja kamu minta pertanggungjawaban dariku. Dulu aku mohon padamu untuk memikirkan kembali keinginanmu itu, tapi kamu sama sekali tidak mau mendengar jadi, nikmati saja apa yang sudah kamu tanam."
"Tapi aku masih mencintaimu. Tidak ada laki-laki manapun yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Aku mohon terima aku kembali, aku rela menjadi istri kedua kamu. Asalkan kamu mau menerimaku."
Khairi tertawa, tawa mengejek lebih tepatnya. "Aku sama sekali tidak tertarik denganmu. Satu istri sudah lebih dari cukup untukku. Kamu lihat Afrin, dia wanita yang sangat luar biasa. Tidak ada yang bisa menggantikannya. Apalagi wanita sepertimu. Kamu bilang tadi apa? Cintamu hanya untukku? Itu bullshit. Ke mana Luna yang kemarin datang ke perusahaan dengan mengancamku. Datang ke perusahaan lainnya untuk membatalkan kerjasamanya denganku. Imbalan apa yang kamu berikan pada mereka, hingga mereka bisa menuruti keinginanmu?"
Afrin turun dari pangkuan Khairi lalu menatap wanita yang ada di depannya. Dia sudah cukup menahannya dari tadi.
"Maaf, ya, Nona Luna. dari tadi saya mencoba untuk sabar dan diam saja, tapi sepertinya Anda benar-benar tidak tahu malu. Anda juga wanita, kan? Seharusnya Anda sangat mengerti, bagaimana perasaan saya saat ini, bukan malah semakin ingin membuat saya sakit hati."
"Tapi Khairi lebih dulu jadi milikku!"
"Itu dulu, kita hidup zaman sekarang dan masa depan!" sahut Afrin dengan tegas. "Sepertinya pola pikir kita berbeda, sebaiknya Anda pergi sekarang, karena saya tidak tahu apa yang bisa saya lakukan pada Anda."
__ADS_1
Afrin benar-benar sangat emosi saat ini. Dia merasa harga dirinya sebagai seorang istri sudah tidak ada lagi di mata wanita yang ada di depannya. Luna seolah tidak menganggap keberadaan dirinya, jadi untuk apa Afrin masih menghormatinya.
Luna sebenarnya masih ingin melakukan sesuatu, tetapi wanita itu tetap pergi dari sana. Dia tidak ingin membuat masalah dengan anak perempuan keluarga Emran. Luna masih ingin berjuang untuk mendapatkan Khairi kembali, tetapi untuk saat ini, dia harus mengalah lebih dulu.
"Baiklah, saya akan pergi. Terima kasih atas waktunya, saya berharap kita masih bisa bertemu di lain waktu," ujar Luna kemudian beranjak dari tempat itu. Khairi dan Afrin masih tetap duduk di tempatnya. Tidak ada yang mengantar kepergiannya.
"Kenapa kamu tadi biarin dia masuk, Sayang?" tanya Khairi.
"Aku harus bagaimana? Mengusirnya, begitu? Aku masih punya hati dan sopan santun. Aku tidak mungkin mengusir tamu yang datang. Meskipun tamu itu tidak diundang," jawab Afrin dengan emosi.
"Ya sudah, aku minta maaf. Ini semua karena masa laluku, sekarang dia mengusik ketenangan kita," ucap Khairi yang merasa sangat bersalah.
Afrin memandang sang suami. Dia merasa tidak enak karena sang suami malah merasa bersalah atas sesuatu yang tidak dilakukannya. Memang benar Luna adalah masa lalunya. Tetap saja itu bukan kesalahan dari suaminya. Wanita itu saja yang mengganggu ketenangan mereka.
"Sudahlah, Mas, tidak usah dibahas. Mungkin ini memang ujian buat rumah tangga kita agar kita berdua saling percaya dan saling menguatkan."
Khairi tersenyum dan menggenggam telapak tangan istrinya. Dia sangat beruntung memiliki istri seperti Afrin. Pria itu tidak akan pernah menyia-nyiakan wanita itu sampai kapan pun. Khairi juga tidak akan membiarkan siapa pun melukai hatinya termasuk Luna. Wanita itu perlu diberi sedikit pelajaran agar dia tidak berulah lagi.
"Terima kasih, ya, Sayang. Kamu memang istri yang luar biasa."
"Kamu terlalu memuji, nanti aku malah jadi besar kepala," sahut Afrin dengan tersenyum.
.
__ADS_1
.
.