Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
98. S2 - Kemarahan Emran.


__ADS_3

"Apa maksudmu mengatakan kalau dia simpanan pria kaya?" suara seorang pria yang baru datang, mmbuat semua orang beralih menatapnya.


"Kakak," gumam Afrin. Yang datang adalah Aydin. Dia mengantarkan bekal makanan Afrin yang terbawa olehnya. Dia ingin memberikan pada adiknya. Namun, dia terkejut melihat apa yang terjadi pada gadis itu.


Aydin tidak bisa menerima perlakuan mereka terhadap adiknya begitu saja. Dalam keluarga, tidak ada yang membuatnya bersedih apalagi menangis, tapi di sekolah. Semua orang menfitnah dan menyakitinya.


"Cepat, katakan sekali lagi! Apa yang kau tuduhkan kepada adikku?" tanya Aydin dengan berteriak, dia sangat geram pada mereka semua.


"Dia itu sekarang menjadi simpanan pria kaya," jawab Livy dengan sombongnya.


"Apa yang membuatmu menuduhnya menjadi simpanan pria kaya?"


"Kami semua memiliki buktinya." Livy membuka galeri ponsel dan menyerahkannya pada Aydin.


Aydin yang melihatnya pun terkejut. Ternyata selama ini mereka telah menfitnah adiknya, hanya karena sebuah foto. Aydin mengembalikan ponsel tersebut pada Livy.


Pria itu segera mengambil ponselnya sendiri di dalam saku dan segera mencari nomor Emran. Panggilan tersambung dan terdengar suara diseberang.


"Halo."


"Halo, Pa ... Papa harus segera ke sekolah Afrin, sekarang."


"Kenapa Papa harus ke sana? Ada apa?"


"Papa ke sini saja, cepat!" Tanpa menunggu jawaban dari Emran, Aydin segera memutuskan panggilan.


"Saya heran dengan kalian semua. Hanya karena sebuah foto, kalian menganggap adik saya sebagai simpanan pria kaya dan Anda, Bapak, Ibu Guru. Bagaimana Anda mendidik murid-murid Anda, hingga tidak bisa menjaga mulut mereka."


"Memang benar, kan? Lihat saja, dia keluar dari mobil mewah, dia terlihat seperti orang ketakutan. Pasti dia takut kalau semua orang tahu kalau dia sebenarnya simpanan pria kaya," sela Livy membela diri.


"Percuma kalian sekolah, di sekolahan yang elite, tapi mulut kalian sama sekali tidak mencerminkan senang siswi teladan," cibir Aydin.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa begitu yakin, kalau adikmu tidak jadi simpanan pria kaya? Padahal sudah jelas ada buktinya," tanya Livy.


"Kamu akan lihat nanti, tunggu saja. Mungkin sekitar 15 menit lagi, pemilik mobil yang ada dalam foto itu akan datang."


"Kak ...," sela Afrin.


"Kenapa? Sudah saatnya semua orang tahu siapa kamu, agar mereka tidak lagi memandangmu sebelah mata."


Semua murid di sana saling berbisik membicarakan tentang Afrin. Namun, gadis itu hanya diam menunduk di samping kakaknya. Tidak berapa lama sebuah mobil memasuki halaman sekolah. Benar seperti yang dikatakan Aydin, mobil itu memang sama seperti yang ada dalam foto di ponsel seluruh siswa sekolah itu.


"Benar, itu mobil yang ada di foto!" seru seorang siswa.


"Iya, benar!" sahut siswa lainnya.


Emran dan Yasna turun dari mobil dan menghampiri kedua anaknya. Afrin segera memeluknya bundanya. Dia menangis dalam pelukan wanita itu. Rasa bersalah dan malu menjadi satu. Dia tidak tahu harus berkata apa pada kedua orang tuanya.


"Maafin Afrin, Bunda. Maaf ...."


"Papa tahu nggak? Kemarin waktu papa mengantar Afrin. Ada seseorang yang mengambil gambar saat Afrin turun dari mobil dan mereka menyebar berita jika dia menjadi simpanan pria kaya," ucap Aydin tanpa menjawab pertanyaan Yasna.


Emran dan Yasna sama-sama terkejut. Bagaimana mungkin mereka bisa berpikir buruk tentang Putrinya dan siapa yang dengan begitu tega sudah menyebar fitnah itu.


Emran berjalan ke depan para guru dan murid. "Mohon maaf Bapak, Ibu guru dan semua murid yang ada di sini. Saya adalah Papanya Afrin, kalian sudah memfitnah anak saya menjadi simpanan pria kaya. Saya bahkan bisa memberikannya lebih dari apa yang bisa dia dapatkan dari seorang pria kaya jadi, mohon untuk menjaga mulut kalian, jangan asal berbicara. Hanya karena seorang gadis turun dari mobil mewah, kalian sudah membuat berita palsu lalu, masa depan seperti apa yang kalian harapkan?"


Semua orang terkejut mendengar jika Emran adalah orang tua Afrin. Termasuk ketiga sahabatnya. Mereka tahu siapa pria yang berbicara tadi karena Emran juga termasuk penyumbang dana terbesar di sekolah itu. Semua guru merasa gelisah, mereka takut jika Emran mencabut sumbangannya dan yang lebih parah pria itu akan melakukan sesuatu pada sekolah.


"Maafkan kami, Tuan, yang tidak bisa mendidik murid-murid di sini dengan baik. Kami tidak tahu jika Afrin adalah putri dari Tuan Emran," ucap seorang guru laki-laki.


"Meskipun dia bukan putriku, apa pantas kalian memperlakukan seorang gadis seperti itu? Sebaiknya kalian belajar cara menghormati orang lain. Kalian semua harus segera meminta maaf jika tidak, saya akan meratakan sekolah ini." Emran bukan hanya menggertak. Dia akan benar-benar melakukannya karena mereka sudah sangat menyakiti hatinya dan seluruh keluarganya.


"Mohon maaf Tuan Emran sekeluarga. Saya kepala sekolah di sekolah ini. Mewakili para guru dan semua murid meminta maaf kepada Tuan Emran dan sekeluarga terutama pada Afrin. Kami tidak bermaksud untuk melakukan hal itu. Saya sendiri baru mendengar berita ini tadi pagi dan melihat semua murid sudah ada di halaman sekolah dengan membawa spanduk," sela kepala sekolah.

__ADS_1


"Apa ada yang tahu siapa yang sudah menyebar foto dan menfitnah anak saya?" tanya Emran dengan melihat ke arah semua murid di sana.


"Aku tahu, Pa," sahut Aydin.


"Siapa?" tanya Emran, dia melihat ke arah putranya dengan menyernyitkan keningnya.


"Livy Bagaskara, kalau tidak salah, dia putri dari Anton Bagaskara. Benar, bukan?" tanya Aydin sambil membaca name tag yang ada di baju Livy.


"Anton Bagaskara, pemilik restoran cepat saji?"


Aydin mengangguk dengan menatap sinis ke arah Livy. Gadis itu menatap takut pada Emran. Dia yakin pasti sesuatu akan terjadi pada papanya nanti, mengingat siapa orang yang ada di depannya saat ini.


"Kamu tidak tahu, bagaimana saya bermain-main dengan keluargamu? Kita lihat saja nanti," ucap Emran.


"Jangan, Om. Saya tidak bermaksud seperti itu. Tolong jangan ganggu keluarga saya, mereka membangun restoran itu dengan susah payah." Livy beralih pada Afrin. "Afrin, tolong bilang pada Papamu untuk tidak melakukan apapun pada restoran papaku. Restoran itu adalah kebanggaan papaku. Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada papaku dan restorannya. Aku mohon, Frin." Livy memohon pada Afrin yang masih ada dalam pelukan Yasna.


Yasna mendengarnya pun naik pitam. Dia melepas pelukan Afrin dan berkata dengan nada tinggi. "Berani-beraninya kamu memohon pada anak saya! Kamu sudah menfitnahnya dan sekarang seenaknya kamu meminta maaf. Kamu tahu, selama tiga hari ini dia selalu bersedih, dia mengurung diri di dalam kamar. Saya mencoba bertanya padanya, tapi dia berusaha menutupi kebusukan kalian dan sekarang dengan mudahnya kamu memohon, tanpa minta maaf padanya. Di mana hati nuranimu? Kamu juga seorang wanita? Bagaimana perasaan kalian jika kalian yang difitnah?"


Yasna tidak pernah semarah ini pada siapapun. Kali ini dia sungguh sangat marah, ingin sekali dia menumpahkan kesalahannya, tapi dia tahu. ini hanya kenakalan anak remaja.


Emran dan Aydin saling pandang. Baru kali ini mereka melihat Yasna begitu marah. Padahal dari seluruh keluarganya, wanita itulah yang lebih memiliki kesabaran.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2