
Hari yang ditunggu-tunggu semua orang pun akhirnya tiba. Hari di mana, pernikahan Aydin dan Nayla akan diselenggarakan dan akan menjadi hari paling bersejarah bagi mereka berdua.
Semua orang sangat bahagia dengan acara ini. Terlebih tuan rumah seorang pengusaha terkenal. Seluruh keluarga memakai baju rancangan Nayla yang sengaja memang dibuat seragam untuk setiap anggota keluarga.
Awalnya Yasna ingin mengganti dengan uang. Namun, gadis itu menolaknya. Bahkan mengancam akan membatalkan pernikahan jika wanita itu tetap memaksa memberi uang. Akhirnya membuat wanita itu mengalah dan menerimanya.
Ini pertama kalinya untuk Emran dan Yasna bertemu dengan Roni, ayah dari Nayla. Sebelumnya mereka tidak pernah bertemu.
“Apa kabar Pak Emran, maaf baru bisa menyapa Anda,” ucap Roni dengan menjabat tangan Emran.
“Justru saya yang harusnya minta maaf Pak Roni. Seharusnya saya yang menyapa Anda,” sahut Emran.
“Tidak perlu, Anda orang terhormat jangan menyapa orang seperti saya.”
“Jangan berkata seperti itu, Pak. Kita semua sama di mata Tuhan.”
Emran menatap Roni. Dia memikirkan apakah perubahan besannya ini sungguh-sungguh atau karena ada yang dia incar.
“Ternyata benar apa yang dikatakan Nayla, Anda memang orang yang baik dan saya berharap putri saya akan bahagia bersama dengan keluarga Anda. Tidak seperti saat bersama dengan saya," ucap Roni dengan menundukkan kepalanya.
“Setiap anak pasti akan lebih bahagia saat bersama dengan orang tua kandungnya, Pak Roni. Saya tidak mungkin bisa menggantikan posisi Pak Roni di hati Nayla. Hanya saja saya akan berusaha untuk memperlakukan Nayla seperti putri saya sendiri.”
“Terima kasih, Pak Emran. Terima kasih Bu Yasna.”
"Sama-sama, Pak Roni. Saya berterima kasih pada Pak Roni, sudah mau hadir ditengah-tengah acara ini," ucap Yasna.
"Nayla putri saya. Sudah sepatutnya saya datang."
Yasna mengangguk. Jujur wanita itu tidak nyaman dengan kehadiran Roni. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan olehnya, tetapi dia tidak ingin berburuk sangka. Yasna memilih diam seolah tidak memikirkan apa pun.
“Sebentar lagi acara akad nikah akan dimulai. Mari, kita ke tempat acara!” ajak Emran.
__ADS_1
“Papa ke sana saja dulu. Bunda mau melihat pengantinnya, sudah siap apa belum," ucap Yasna.
Emran menganggukkan kepala dan berlalu bersama dengan Roni. Sementara Yasna pergi ke ruang rias pengantin wanita. Di sana sudah ada Rini yang memberi wejangan kepada Nayla tentang rumah tangganya kelak.
“Cantik sekali anak Bunda! Bunda sampai pangling lihatnya," seru Yasna saat memasuki ruangan yang ditempati Nayla.
“Bunda bisa saja. Bunda lebih cantik daripada aku.”
“Kamu ini suka ngejek. Bunda ini sudah tua, di mana letak cantiknya?”
“Tapi Mbak Yasna memang cantik, kok. Walaupun anaknya sudah dua dan sekarang mau punya menantu, tapi masih terlihat muda. Bahkan Aydin terlihat seperti adik Mbak Yasna bukan seperti anak," sela Rini yang membenarkan ucapan Nayla.
“Mbak Rini, bisa saja. Mbak Rini juga cantik, kok.”
Mereka pun berbincang dan bercanda sambil menunggu penghulu datang. Yasna berusaha untuk mencairkan suasana. Dia tahu pasti Nayla saat ini sedang tegang karena itu dia mencoba menghibur calon menantunya itu.
Yasna juga menceritakan kebiasaan Aydin dan segala sesuatu tentang putranya itu. Akan tetapi, dia tidak bercerita mengenai dirinya yang seorang ibu sambung. Biarlah Aydin sendiri yang mengatakannya.
Tidak berapa lama ponsel yang ada di dalam tas Yasna berdering. Tertera nama Afrin di sana. Wanita itu segera mengangkatnya. Putrinya mengabarkan jika pak penghulu sudah datang dan dia meminta Yasna untuk membawa pengantin perempuan ke tempat akad. Yasna pun mengiyakannya.
"Iya, Bunda," jawab Nayla dengan kegugupan yang semakin bertambah. Tangannya mulai mendingin dan sedikit bergetar. Yasna yang mengerti, segera menggenggam kedua telapak tangan menantunya. Mencoba menyalurkan kehangatan dan ketenangan.
"Tenangkan dirimu dulu. Tarik napas dalam-dalam, keluarkan dengan perlahan. Ada Bunda dan Bibi Rini di sini. Kamu tidak sendiri."
Nayla tersenyum mendengarnya. Hal seperti inilah yang membuat gadis itu merasa nyaman berada di keluarga Aydin.
"Aku jadi merasa ibu juga ada di sini. Ada di tengah-tengah kita," ucap Nayla dengan mata berkaca-kaca.
"Ibumu akan selalu ada disetiap jalan yang kamu tempuh. Kamu harus yakin akan hal itu. Ridhonya selalu untukmu," ucap Yasna yang diangguki Nayla. "Sudah tenang? Ayo, kita keluar!"
Nayla mengangguk dan tersenyum. Dia keluar dengan diapit oleh Yasna dan Rini. Mereka berjalan menuju tempat diadakannya akad nikah, dengan langkah perlahan dan pasti, sang pengantin mulai memasuki ruangan. Jantung Nayla berdetak semakin cepat dalam setiap langkahnya.
__ADS_1
Sementara di tempat akad, Aydin tidak kalah gugupnya. Sedari tadi dia mengusap peluh yang hampir menetes. di depan tempat duduknya sudah ada Roni dan juga Pak penghulu.
Suasana tiba-tiba menjadi hening membuat Aydin mendongakkan kepalanya. Dia menolehkan kepala untuk melihat apa yang orang-orang lakukan dan tatapan mereka, tertuju pada satu objek pemandangan yang begitu indah. Siapa lagi kalau bukan pengantin wanita.
Aydin mengikuti pandangan mereka. Seketika dia mematung. Pria itu begitu terpanah dengan apa yang dilihatnya. Aydin tidak menyangka jika Nayla begitu sangat cantik dengan balutan kebaya berwarna putih, dengan aksen ungu.
Rambut yang sengaja ditutupi dengan hijab. Sebuah singer dan rangkaian melati yang melingkar di atas kepala, semakin menambah kecantikannya. Aydin sama sekali tidak berkedip, dia sangat terpesona dengan calon istrinya.
Emran yang berada di belakang mencubit punggung putranya itu. Aydin tersadar jika dirinya sedari tadi menatap calon istrinya. Dia mencoba menetralkan kegugupannya.
Nayla berjalan ke sebuah kursi yang sudah disediakan untuknya. Kursi itu berada disamping Aydin. Dia sama sekali tidak melihat ke arah mana pun. Sedari tadi wanita itu hanya menunduk sambil memainkan Kedua telapak tangannya yang sudah dihiasi henna.
"Bagaimana? Sudah siap?" tanya pak penghulu.
"Sudah, Pak," jawab beberapa orang secara bersamaan.
"Baiklah, mari, kita mulai! Silakan, Pak."
Pak penghulu mempersilakan seorang ustadz memulai acara dengan doa, berharap kelak pernikahan mereka langgeng hingga maut menjemput. Apa pun ujian yang akan datang pada kehidupan mereka, semoga bisa teratasi dengan mudah.
Baik Aydin dan Nayla mengaminkan semua yang terucap dari bibir seorang ustaz. Mata Yasna berkaca-kaca, akhirnya dia bisa melihat putranya menikah. Meski bukan anak kandungnya, tetapi dia merasa terharu dengan semua ini.
'Mbak Dinda, putra kita sudah menikah. Lihatlah! Dia sangat bahagia. Dia memilih seorang wanita yang tepat. Semoga, Mbak, di sana juga bahagia melihatnya,'
"Jika kamu ingin menangis, menangislah. Itu hal wajar yang dirasakan setiap ibu di dunia ini," bisik Alina ditelinga putrinya.
.
.
.
__ADS_1
.
.