
"Afrin cuma bercanda, Bunda," ucap Afrin yang sadar jika Yasna sedang sensitif.
Emran menggenggam telapak tangan istrinya. Dia tahu perasaan sang istri. Bahkan semalam pun Yasna sama sekali tidak tidur. Wanita itu memang memejamkan matanya, tapi pria itu tahu istrinya tidak tidur karena sepanjang malam Yasna selalu gelisah.
"Sayang, kan, ada aku. Kita akan terus sama-sama. Aku akan selamanya nemenin kamu," ucap Emran dengan menggenggam telapak tangan Yasna.
Afrin mendekat ke arah Yasna. Dia ingin meminta maaf karena tanpa sadar sudah menyakiti bundanya. Dalam hati tidak ada niat sama sekali untuk melakukan itu. Gadis itu tidak tahu jika Yasna masih berat melepaskan kakaknya pindah dari rumah.
"Bunda, maafin aku. Tadi aku cuma bercanda, aku nggak akan ke mana-mana. Aku hanya menggoda kakak."
Yasna tersadar jika dirinya terlalu berlebihan, wanita itu mencoba untuk menguasai diri. Dia tidak ingin membebani Aydin dan istrinya yang ingin mandiri. Yasna tidak ingin egois dan hanya mementingkan diri sendiri.
"Bunda yang harusnya minta maaf. Tadi Bunda terlalu terbawa suasana," ucap Yasna. "Ayo, kita lanjutkan makannya!"
"Bunda ... kalau Bunda keberatan kami tinggal di sini, kami akan pulang dan tinggal--"
Belum selesai Aydin berbicara, Yasna memotong kata-katanya.
"Tidak, Bunda tidak apa-apa, hanya kepikiran sesuatu saja," sela Yasna. "Sudah, lanjutkan makan kalian."
Aydin pun tidak bicara lagi. Dia tahu perasaan Yasna saat ini sedang tidak baik-baik saja. Pria itu pun tidak mau membuat bundanya terlalu banyak berpikir. Setelah keadaan membaik akan Aydin tanyakan.
Makan malam telah selesai. Semua orang pamit pulang pada tuan rumah. Meski keadaan hatinya sedang tidak menentu, tapi Yasna mencoba untuk terlihat baik-baik saja.
"Kalian jaga diri. Bunda dan lainnya mau pulang dulu."
"Iya, Bunda," sahut Aydin. "Bunda juga jaga kesehatan, ya. Jangan mengerjakan pekerjaan yang terlalu berat."
"Iya, Bunda pulang dulu," pamit Yasna.
"Papa juga pulang. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Selama perjalanan pulang semua orang terdiam. Tidak ada yang bicara sama sekali. Afrin pun enggan untuk membuka pembicaraan. Dia takut menyakiti perasaan bundanya.
Begitu sampai di rumah, satu persatu turun dari mobil dan memasuki rumah. Mereka pergi ke kamar masing-masing. Semua orang terlihat lelah dan ingin langsung istirahat. Yasna sedang membuat teh untuk Emran. Sebenarnya itu hanya alasan saja agar dia bisa berada di dapur dan meminum obat tidur. Sudah beberapa hari ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Bunda, lagi apa?" tanya Afrin.
"Buatin teh buat papa. Kamu mau Bunda buatin?" tanya Yasna dengan berusaha terlihat baik-baik saja. Untung dia sudah meminum obatnya sebelum Afrin datang.
"Tidak usah, Bunda. Aku mau minum air putih saja."
"Ya sudah, Bunda mau ke kamar dulu. Kamu jangan terlalu malam tidurnya, besok sekolah." Yasna merasa lega Afrin tidak mengetahui apa yang dia lakukan. Jika ada yang tahu, pasti akan menjadi masalah.
__ADS_1
Yasna membawa teh ke kamar. Dilihatnya sang suami masih duduk di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Dia juga tersenyum ke arah Emran.
"Ini, Mas, tehnya," ucap Yasna dengan meletakkan segelas teh di atas meja di samping Emran.
"Ini sudah malam, kenapa repot-repot buatin teh? Sebentar lagi juga kita tidur."
"Tidak apa-apa, barangkali Mas haus."
Yasna naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Emran yang masih duduk. Beberapa kali wanita itu menguap dan akhirnya tertidur. Sang suami yang melihat itu tersenyum. sebelumnya dia sudah menyiapkan diri jika sang istri mengajaknya begadang.
Emran pun meletakkan ponselnya dan meminum teh buatan Yasna, kemudian ikut merebahkan tubuhnya. Baru saja memejamkan mata, ponsel pria itu berbunyi. Untung saja volumenya tidak terlalu besar jadi, tidak akan membangunkan sang istri.
Tertera nama Aydin di layar ponsel segera digesernya tombol berwarna hijau.
"Halo, assalamualaikum," ucap Emran dengan suara pelan. Dia takut membangunkan Yasna.
"Waalaikumsalam, bagaimana keadaan bunda, Pa?" tanya Aydin.
"Bunda sudah tidur, dia baik-baik saja. Kamu jangan terlalu khawatir."
"Aydin tidak bisa tenang, Pa. Melihat bunda seperti tadi."
"Bunda tidak apa-apa, mungkin tadi hanya terbawa suasana saja," ucap Emran. "Tidurlah, jangan buat istrimu khawatir. Bilang padanya bunda baik-baik saja."
"Baiklah, Pa. Aku tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Bagaimana bunda, Mas?" tanya Nayla begitu melihat sang suami.
"Tidak apa-apa, bunda sudah tidur."
"Apa tidak sebaiknya kita balik saja ke rumah?"
"Kita lihat saja nanti, ya!"
Nayla hanya mengangguk menuruti kata-kata suaminya. Dia tahu, pasti mertuanya itu sangat berat melepaskan Aydin untuk pindah rumah. Saat suaminya itu keluar kota saja, setiap malam pasti Yasna menghubunginya dan menanyakan setiap detail tempat.putranya tinggal.
Nayla berpikir, apakah nanti dia akan seperti mertuanya saat dirinya memiliki anak?
"Mas, boleh aku minta tolong!"
"Minta tolong apa?"
"Tolong ambilkan air hangat, perutku kram lagi," ucap Nayla dengan meringis menahan sakit.
__ADS_1
Aydin segera mendekati istrinya yang berada di depan meja rias. Dia mengusap perut istrinya sambil bertanya, "Apa sakit sekali? Kita ke dokter saja, ya?"
"Tidak perlu, Mas. Pake air hangat saja seperti bunda kemarin."
"Tapi, di sini tidak ada botol."
"Dikompres saja, pake handuk kecil."
"Baiklah, tunggu sebentar." Aydin segera keluar untuk mengambilkan air hangat untuk istrinya.
Tidak berapa lama Aydin kembali dengan membawa baskom yang berisi air hangat. Dia meletakkannya di atas meja dan segera mencari handuk kecil di lemari.
"Kamu tidur di ranjang saja, Sayang. Biar enak ngompresnya," pinta Aydin.
Segera Nayla berdiri dan berjalan menuju ranjang dengan dibantu Aydin. Setelah gadis itu berbaring, Aydin sedikit mengangkat baju istrinya dan mulai mengomprea perut wanita itu dengan air hangat.
"Apa tidak sebaiknya kita ke dokter?"
"Tidak perlu, Mas. Aku sudah terbiasa seperti ini. Ini tidak sesakit kemarin dan besok juga sudah tidak sakit lagi. Setiap bulan aku sering seperti ini jadi, Mas harus membiasakannya."
"Tetap saja aku khawatir, sebelum dokter memeriksamu."
"Besok aku mau ke rumah Bunda, ya. Aku ingin melihat keadaannya. Pasti Bunda merasa sangat kesepian," ujar Nayla.
"Kamu nggak ke butik?"
"Tidak, di sana sudah ada Fika yang menghandle semuanya. Sekarang juga sudah ada pegawai baru jadi, aku bisa santai."
"Sekarang sudah jadi bos besar, ya?" goda Aydin.
"Amin, mudah-mudahan jadi bos besar beneran. Bukan besar tubuhnya, ya!" sahut Nayla membuat mereka sama-sama tertawa.
"Kamu tidurlah, aku yang akan mengompresnya."
"Tidak perlu, Mas. Sudah lebih baik, kok. Mas tidur saja di sampingku sini! Aku mau peluk kamu," ucap Nayla dengan menepuk bantal yang ada di sisinya.
"Aku bisa khilaf, Sayang. Kalau tidur dekat kamu ... kamu, kan, sedang ada tamu."
Nayla terkekeh saat mendengar gumaman suaminya. Mau bagaimana lagi memang sudah waktunya datang.
.
.
.
__ADS_1
.
.