Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
256. S2 - Kedatangan Luna


__ADS_3

Rumah Emran kembali sepi, Ivan sudah pulang, begitu pun dengan Afrin dan suaminya. Kini hanya tinggal Yasna yang duduk di ruang tamu bersama dengan suaminya. Sementara Aydin dan istrinya menemani Nuri tidur.


"Bunda, kenapa sekarang jadi jahil sekali?" tanya Emran dengan mencubit hidung istrinya.


"Aku tuh kesel banget sama Ivan. Sudah Rani-nya pendiam, calon suami sifatnya juga begitu. Aduh, ini mau gimana pernikahan mereka nanti, kalau nggak dikasih shocking terapi!"


"Mereka juga pasti akan mulai membiasakan diri untuk itu, Bunda. Kita lihat saja nanti."


"Tetap saja, Bunda geregetan. Bunda tuh mau Rani bahagia, Pa."


"Iya, Papa juga tahu maksud Bunda. Kita semua di sini juga sayang sama Rani."


Tanpa keduanya sadari, Rani berada di belakang mereka. Dia mendengar jelas apa yang dikatakan oleh kedua majikannya. Wanita itu terharu mendengarnya. Di sini dia hanya seorang pembantu, tetapi majikannya menganggap Rani seperti keluarga sendiri.


Hal itu, tentu membuat wanita itu merasa terhormat. Itu juga yang membuat dia tidak mau meninggalkan keluarga Yasna. Mereka orang-orang baik yang sudah mau menerima Rani, dari yang dulu tidak bisa melakukan apa pun tentang pekerjaan. Hingga ibunya mengajari semua dan menggantikan ibunya bekerja di rumah ini.


Mata Rani berkaca-kaca melihat kebaikan yang Yasna berikan padanya. Bahkan tidak jarang majikannya itu membelikannya baju atau keperluannya yang lain. Wanita itu pun berjalan mendekati majikannya.


"Bu Yasna," Panggil Rani yang segera duduk di lantai dengan bersimpuh di depannya.


"Eh, kenapa kamu duduk di bawah? Ayo, duduk di sini," ucap Yasna sambil menepuk kursi yang ada di sampingnya. Namun, Rani menggelengkan kepalanya. Dia menolak permintaan majikannya. Wanita itu menggenggam Kedua telapak tangan Yasna dan menciuminya berkali-kali. Majikannya itu merasa heran dengan sikap Rani. Dia merasa ART-nya itu bersikap aneh hari ini.


"Kamu ada apa, Ran?" tanya Yasna.


"Tidak apa-apa, Bu. Ibu begitu perhatian pada saya yang bukan siapa-siapa. Saya di sini sebagai seorang pembantu, tapi Bu Yasna memperlakukan saya layaknya sebuah keluarga. Saya merasa tersanjung akan hal itu."


"Kamu saja yang terlalu berlebihan. Saya hanya ingin melihat orang-orang disekitar Saya merasa bahagia."


"Iya, Bu. Saya tahu, karena itu juga, saya berterima kasih pada Ibu."


"Sudah, ayo, berdiri! Duduk sini, di samping saya. Saya tidak suka kamu seperti ini." Rani pun menuruti perintah Yasna. Dia berdiri dan duduk di samping majikannya itu.


"Ran, siapa pun kamu, saya tidak membedakan kamu. Asalkan sifat kamu baik dan tidak lalai dalam pekerjaan. Saya akan selalu dukung kamu."

__ADS_1


"Terima kasih Bu,"


"Yang lain ke mana? Sudah tidur?"


"Iya, Bu. Tadi Non Nuri menangis mau tidur ditemani sama Non Nayla dan Tuan Aydin."


"Syukurlah anak itu sekarang sudah sangat dekat dengan mamanya," ucap Yasna. "Ya sudah, sekarang kamu tidur saja dulu. Semoga saja besok itu kulkas bisa perhatian sama kamu," lanjut Yasna membuat Rani tertawa. Dia sangat tahu siapa yang dimaksud majikannya itu.


"Terima kasih, Bu, Tuan, saya ke kamar dulu," pamit Rani yang diangguki oleh Yasna dan Emran.


Wanita itu segera ke kamarnya. Begitu sampai di kamar, Rani membaringkan tubuhnya. Terdengar sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, segera wanita itu melihatnya dan ternyata sebuah pesan dari Ivan. Dia tersenyum sebelum membacanya.


[Ran, kamu harus janji padaku untuk selalu setia. Aku akan mencoba untuk berubah, asalkan kamu jangan pernah menghianatiku]


Begitulah isi pesan dari Ivan yang kemudian dibalas oleh Rani.


[Saya akan selalu setia, asalkan Mas juga memperlakukanku dengan baik dan menyayangiku setulus hati. Aku bukan wanita gampangan yang bisa dengan mudah jatuh cinta ada seorang pria]


[Rani, aku akan mencobanya. Kita sama-sama belajar untuk saling mengerti satu sama lain. Kuharap kamu juga melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan]


*****


Saat pulang dari kuliah, Afrin dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita dengan pakaian seksi yang berada di depan unit apartemennya. Dia menatap intens pada wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Maaf, Mbak mau cari siapa?" tanya Afrin pada wanita itu.


"Saya mau mencari kekasih saya yang berada di apartemen ini," jawab wanita itu.


"Maaf, Mbak, tapi ini apartemen saya. Mungkin Mbak salah alamat."


"Tidak mungkin, saya pernah ke sini bersama dengan Khairi pacar saya."


Afrin menyernyitkan keningnya dengan menatap wanita yang ada di depannya. dari penampilannya, sepertinya dia adalah wanita yang pernah Khairi ceritakan, tapi dia juga belum begitu yakin. Terpaksa Afrin mengizinkan wanita itu masuk.

__ADS_1


Dia juga punya rencana untuk wanita itu. Afrin akan membuktikan jika Khairi adalah miliknya. Selamanya hanya miliknya. Tidak akan ada yang bisa merebutnya dan menghancurkan rumah tangganya begitu saja.


"Silakan masuk, Mbak. Maaf, Mas Khairinya sedang bekerja. Mungkin pulangnya sore. Mbak mau menunggu apa pulang saja?" tanya Afrin sambil berjalan masuk ke dalam apartemennya.


"Tidak apa-apa, saya akan menunggu. Sebentar lagi juga sore, kan?" ucap wanita itu, sementara Afrin hanya menganggukkan kepalanya.


"Oh, ya, Mbak namanya siapa?" tanya Afrin.


"Nama saya Luna," jawab Luna dengan mengulurkan tangannya.


"Afrin," sahut Afrin dengan membalas uluran tangan Luna. "Sebentar, saya buatkan minum dulu, Mbak, mau minum apa?" tanya Afrin.


Bagaimanapun juga dia harus menghormati setiap tamu yang datang. Entah itu dengan tujuan baik atau tidak. Sejujurnya Afrin ingin sekali memaki dan memukuli wanita itu, bagaimana tidak, Luna sudah tahu pria yang didatanginya sudah beristri, masih saja ingin menggoda. Akan tetapi dia tidak ingin terlihat seperti wanita murahan.


Afrin harus melakukan sesuatu dengan elegan, sama seperti yang dilakukan bundanya. Dia mengirim pesan kepada sang suami agar segera pulang karena ada tamu yang sedang menunggunya. Khairi bertanya siapa yang mencarinya. Namun, tidak ada balasan. Afrin memilih untuk mematikan ponselnya. Biar saja suaminya penasaran dan segera pulang.


"Ini, Mbak, minumannya. Silakan diminum," ucap Afrin sambil meletakkan segelas jus di hadapan Luna.


"Terima kasih," ucap Luna. "Apa kalian tinggal di sini cuma berdua?"


"Iya, kami hanya berdua maklum lah, pengantin baru jadi, kami masih ingin bermesraan dulu," jawab Afrin dan Luna hanya menganggukan kepalanya.


Benar dugaan Afrin, ternyata wanita ini sudah tahu jika dirinya adalah istri dari Khairi. Namun, Luna tidak tahu malu dengan masih mendatanginya. Meski malas meladeni wanita itu, Afrin tetap menemaninya berbincang dan membicarakan beberapa hal. Biarlah wanita itu merasa menang untuk saat ini.


Tiga puluh menit kemudian, pintu depan terbuka, tampak Khairi memasuki apartemennya. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, sudah pulang, Mas?" tanya Afrin dengan senyum penuh misteri.


Khairi dapat melihat jika istrinya saat ini tengah menahan kekesalan. Dia bisa menebak siapa yang sudah membuat Afrin seperti itu. Pria itu mencoba bersikap romantis pada istrinya di depan Luna agar wanita itu sadar jika dirinya sudah ada yang memiliki dan Khairi tidak berniat berpindah hati.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2