
Selesai salat subuh, Yasna ingin masak di dapur. Namun, dicegah oleh Emran. Dia ingin meminta maaf atas apa yang sudah pria itu katakan semalam. Emran tahu, pasti Yasna terluka oleh kata-katanya, tetapi istrinya itu tidak mengatakan apa pun.
"Mau kemana, Sayang," cegah Emran saat melihat Yasna akan keluar.
"Mau masak, Mas. Seperti biasanya," jawab Yasna dengan tetap tersenyum.
"Biar Rani saja yang masak. Aku ingin bicara sama kamu. Semalam katanya kamu ingin membicarakan sesuatu? Aku juga ingin minta maaf karena sudah berkata kasar padamu. Memang semalam aku benar-benar capek jadi, tidak sadar dengan apa yang aku katakan."
"Mas tidak perlu meminta maaf. Aku yang seharusnya mengerti tentang keadaan, Mas. Aku malah maksa untuk berbicara."
Yasna tahu kalau dirinya memang keterlaluan semalam. Wanita tidak mengerti keadaan Emran yang sudah lelah dan mengantuk karena itu dia tidak mempermasalahkan kejadian semalam, meski Yasna sedikit terluka.
"Sudah kalau begitu, kita bicara sekarang. Memang kamu mau bicara apa tentang Nayla dan Aydin?" Emran tidak ingin memperpanjang masalah. Biarlah, yang sudah berlalu.
"Aydin ingin melamar Naila, Mas. Dia ingin minta bantuan buat nyari alamat bibinya Nayla."
"Kenapa tidak ditanyakan langsung saja pada Nayla? Bukannya dia akan bertunangan dengan orang lain?"
"Tidak, pertunangan mereka dibatalkan karena pria itu sudah memiliki kekasih dan mereka akan menikah,"
Emran menganggukkan kepala. Dia tidak mengetahui tentang tunangan Nayla karena pria itu tidak mencari tahu tentang calon tunangan Nayla. Itu juga bukan urusannya.
"Aydin sama Nayla rencananya mau mengadakan acara lamaran kapan?"
"Sebenarnya Nayla tidak tahu apa pun. Aydin yang ingin langsung melamarnya."
"Maksudnya?" Emran sama sekali tidak mengerti. Jika Nayla tidak tahu lalu, bagaimana mereka melamarnya?
"Aydin ingin langsung melamar Nayla tanpa bertanya lebih dulu, biar nanti dia menjawab saat acara lamaran. Aydin juga sudah siap mendengar apa pun jawaban Nayla."
Emran kembali mengangguk. Dia mulai mengerti sekarang. Putranya itu sepertinya sudah sangat mencintai Nayla hingga saat ada kesempatan, Aydin langsung bergerak cepat.
"Jadi, kamu lagi minta alamat bibinya Nayla untuk segera melamarnya?"
"Tidak, aku akan pergi lebih dulu dan mengatakan kepada Mbak Rini mengenai rencana Aydin agar Mbak Rini bisa menyembunyikannya dari Nayla. Mas sudah punya alamatnya, kan?"
"Ada di laptop ruang kerja."
"Nanti kirim ke nomorku, ya, Mas. Aku mau ke rumah Mbak Rini siang ini."
"Iya, nanti aku kirim ke nomor kamu."
__ADS_1
"Ya sudah, aku mau bantu Rani. Kasihan dia sibuk sendiri," ucap Yasna sambil beranjak.
"Itu pekerjaannya, Sayang. lagi pula dia sudah cukup cekatan."
"Tetap saja harus dibantu, lagi pula aku juga gak ngapa-ngapain." Yasna segera pergi meninggalkan sang suami.
Emran mengangguk menjawab ucapan istrinya tersebut. Dia memang tidak bisa mencegah wanita itu melakukan pekerjaan rumah. Padahal dia sudah mencari asisten rumah yang lebih muda dan cekatan, tetapi tetap saja Yasna tidak mau berhenti.
*****
Yasna sudah mendapatkan alamat bibinya Nayla. Dia akan ke sana sekarang. Wanita itu yakin jika saat ini, Nayla berada di butik jadi, gadis itu tidak akan tahu kedatangannya.
Yasna menuju rumah Rini bersama dengan Pak Hari. Dalam perjalanan Yasna dilanda kebingungan, bagaimana caranya dia mengatakan pada Rini mengenai rencana Aydin? Namun, wanita itu berusaha agar tetap tenang agar semuanya baik-baik saja.
"Sudah sampai, Bu," ucap hari menyadarkan Lamunan Yasna.
"Terima kasih Pak Hari." Yasna segera turun.
Dilihatnya rumah minimalis yang terlihat begitu asri. Sepertinya Bibi Nayla sama seperti dirinya, suka menanam banyak tanaman. Terlihat bunga berjajar rapi. Yasna mengetuk pintu beberapa kali, hingga terlihat Rini membukanya.
"Assalamualaikum, Mbak Rini."
"Iya, tadi sempat bingung juga cari ke sana-sini, akhirnya ketemu juga," bohong Yasna. Dia tidak mungkin mengatakan jika tahu alamat rumah ini dari suaminya, bisa-bisa Rini akan tersinggung.
"Mari, masuk, beginilah gubuk saya."
"Mbak Rini, terlalu merendah. Rumahnya sangat nyaman." Yasna masuk rumah dan duduk di ruang tamu.
"Sebentar saya ambilkan minum dulu." Rini segera berlalu meninggalkan Yasna seorang diri.
Yasna mengamati ruangan itu, terlihat beberapa foto Rini dengan suaminya dan seorang gadis pasti itu putrinya. ada juga foto Nayla bersama dengan keluarga itu dan ada seorang wanita yang tidak Yasna ketahui.
Mereka terlihat bahagia. Nayla juga tertawa dengan lebar, tawa yang tidak pernah dilihat olehnya. Bagi orang lain, itu tidak penting, tapi bagi Yasna sangatlah penting. Itu menandakan jika Nayla merasa nyaman dan bahagia bersama orang sekitarnya.
"Maaf, mbak, hanya sekadarnya saja," ucap Rini sambil membawa segelas teh untuk Yasna.
"Kenapa repot-repot. Air putih saja sudah cukup," sahut Yasna.
Mereka terdiam beberapa saat. Yasna memikirkan kata-kata yang tepat untuk berbicara dengan Rini. Dia tidak ingin menyakiti hati wanita yang ada di sampingnya ini. Yasna menghela napas sebelum berbicara.
"Begini, Mbak Rini. Maksud dan tujuan saya ke sini, saya ingin memberitahu, bahwa Putra saya yang bernama Aydin berniat ingin melamar Nayla. Sekiranya Mbak Rini mau membantu kami."
__ADS_1
"Maaf, Mbak Yasna. Saya masih belum mengerti maksud, Mbak? Saya membantu apa?"
"Saya ingin, Mbak Rini bilang sama Nayla bahwa ada seorang pria yang ingin melamarnya, tapi jangan bilang kalau itu adalah Aydin. Mbak Rini tidak perlu mengatakan kalau Nayla harus menjawab iya. Semua jawaban terserah Nayla mau menerimanya atau tidak, yang penting bilang seperti yang saya katakan tadi."
"Jadi, Nayla tidak tahu kalau Aydin ingin melamarnya?"
"Benar, Mbak."
"Aduh, saya merasa tidak berhak ikut campur dengan kehidupan Nayla, Mbak."
Rini terlihat bingung. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Memang wanita itu sudah menganggap Nayla seperti putrinya. Rini juga sangat menyayanginya, tetapi bukan berarti dia harus mengatur pasangan untuk ponakannya itu.
"Mbak tidak perlu memaksanya. Semua masih ada di tangan Nayla. Dia mau menerima atau menolak putra saya, keputusan semuanya ada pada Nayla. Sebenarnya Nayla sudah pernah membuka hati putra saya, tapi Aydin sudah membuat dia kecewa dan akhirnya Nayla menerima Perjodohan dengan Rizki waktu itu dan sekarang acara pertunangan itu sudah gagal jadi, Aydin tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan segera ingin menjadikan Nayla sebagai istrinya."
Rini terlihat berpikir, apa dia harus membantu keluarga Yasna atau tidak? Semua keputusan juga masih ada pada Nayla. Membantu sedikit tidak masalah bukan?
"Baiklah, Mbak Yasna. Saya akan coba untuk berbicara dengan Naila, tapi saya tidak janji dia akan mau menerimanya," ucap Rini. Dalam hati dia berdoa, mudah-mudahan Aydin pria yang baik, melihat semua keluarganya orang-orang yang sopan, baik dan sangat menghormati orang lain, seperti Yasna dan suaminya.
"Iya, Mbak. Saya mengerti,"
"Silakan diminum, Mbak. Ini ada beberapa cemilan juga."
"Terima kasih, maaf sudah merepotkan."
"Tidak, saya justru senang ada tamu ke rumah. Biasanya saya selalu sendiri, semuanya pada pergi bekerja."
"Apa Nayla sering menginap di sini, Mbak?" tanya Yasna. Dia juga ingin tahu kebiasaan yang dilakukan calon menantunya.
"Kadang-kadang saja, tidak terlalu sering. Kalau dia lagi butuh teman, biasanya nginap di sini."
Mereka membicarakan banyak hal tentang Nayla dan Aydin. Rini hanya menceeitakan seperlunya saja mengenai kehidupan gadis itu sehari-hari. Itu bukan kapasitasnya. Biarlah nanti Nayla sendiri yang bercerita.
.
.
.
.
.
__ADS_1