Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
322. S2 - Membantu


__ADS_3

"Selamat pagi, cucu Oma?" sapa Yasna kepada cucunya.


"Pagi, Oma," sahut Nuri. "Sebentar lagi ulang tahun Nuri, kamu mau pestanya seperti apa?"


"Mau cama Oma, opah, papa, Mama, Anti."


"Itu saja? Tidak ada yang lain? Nggak mau pesta mengundang teman-teman?" tanya Yasna. Nuri hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Nuri mau ikut Oma sama Mama nggak, pergi belanja buat acara ulang tahun Nuri?"


"Mau, Oma."


"Kalau begitu, sekarang Nuri ganti baju sama mama, kita belanja sama-sama."


Nuri segera berlari ke arah mamanya. Nayla pun menuruti keinginan sang putri. Dia juga senang merayakan ulang tahun anak pertamanya. Setelah semua siap Yasna, Nayla dan Nuri pergi berbelanja.


Nayla mengambil kemudi, sementara Yasna dan Nuri duduk di sampingnya. Sepanjang perjalanan, gadis kecil itu selalu berceloteh ingin ini dan itu di acara ulang tahunnya. Nayla dan Yasna sebagai pendengar, sesekali ikut menimpali dan menolak jika ada sesuatu yang tidak tepat.


Meski Nuri harus ngambek, tetapi bagi Yasna dan Nayla jika ada sesuatu yang tidak tepat, mereka harus tetap mengatakan tidak dengan cara yang halus tentunya. Meski sempat ngambek, gadis kecil itu kembali ceria saat dibujuk oleh omanya dengan berbagai cara. Tidak berapa lama mereka sampai juga di tempat belanja.


Saat mereka sedang asyik berbelanja, ternyata ada Bu Nur dan Laily. Di sana mereka juga ingin membelikan sesuatu sebagai hadiah. Namun, belum menemukan juga apa yang mereka inginkan.


"Assalamualaikum, Bu Nur. Ya ampun nggak sengaja ketemu di sini," sapa Yasna.


"Iya, Bu Yasna, Saya juga tidak menyangka bisa bertemu dengan Bu Yasna di sini. Bu Yasna sedang cari apa?"


"Lagi cari perlengkapan buat acara ulang tahun Nuri," ucap Yasna. "Bu Nur juga sama Laily datang, ya. Ini acara untuk keluarga besar juga. Siapa saja yang mau datang silakan, tapi kami juga tidak mau bersama dengan Afrin, kami tidak memaksa kami hanya senang berkumpul bersama dengan banyak orang menambah kehangatan antara keluarga.


"Iya, Bu, Yasna Anda benar sekali, Insya Allah saya dan putri saya akan datang. Mudah-mudahan kedatangan kami tidak akan mengganggu jalannya acara."


"Tentu saja tidak, justru saya senang jika Bu Nur dan Laili bisa datang. Pasti akan sangat ramai."


"Iya, Bu, insya Allah."


Mereka berbincang beberapa hal sambil memilih beberapa bahan. Setelah selesai mereka berpisah karena Yasna dan Nayla akan segera pulang. Sementara Bu Nur dan Laily masih harus mencari kado yang pas buat nuri.

__ADS_1


Hingga sampailah mereka di sebuah penjual mainan. Di sana ada berbagai mainan, termasuk juga boneka yang ukurannya begitu besar. Namun, pandangan Laily tertuju pada sebuah boneka panda yang sangat lucu.


"Bu, ini saja. Ini sangat cantik dan lucu sekali."


"Bonekanya besar sekali, apa ini tidak mahal? Ibu takut nanti kakakmu marah. Ibu 'kan nggak kerja, masa harus beli barang mahal ini?"


"Tidak apa-apa, Bu, sekali-kali. Kita juga nggak mungkin kan bawa kado yang murah? Apalagi yang jelek meskipun keluarga Bunda Yasna tidak masalah dengan hal itu, tetapi tetap saja Kita juga harus menjaga nama baik Kakak."


"Iya, kamu benar. Ya sudah, kita beli yang itu saja."


"Iya, Bu."


Laily pun memanggil seorang pegawai yang ada di sana. Keduanya sempat berbincang sebentar. Wanita itu ingin menawar. Namun, pegawai mengatakan jika semua barang yang ada di toko ini sudah harga pas, tidak bisa ditawar lagi meski kecewa, tetapi Laily masih tetap membelinya. Dia tidak mungkin pergi dengan tangan kosong.


*****


"Selamat pagi, Bik!" sapa Afrin yang baru saja turun bersama dengan sang suami.


"Pagi, Non Afrin," sahut Bik Asih.


"Apa, sih, Mas.Panggilan saja, nggak ada masalah."


Afrin menggelengkan kepalanya, dia tidak mengerti dengan suaminya. Ini hanya masalah panggilan, tidak perlu dibesar-besarkan. Dia juga tahu jika Bik Asih pasti belum terbiasa akan hal itu. Lagi pula Mama Merry juga tidak lama perginya.


"Iya, Tuan, maaf. Mulai hari ini saya akan memanggil nyonya."


"Kalau Bik Asih tidak nyaman, tidak perlu juga tidak apa-apa."


"Iya, Nyonya."


Khairi dan Afrin pun memilih untuk melanjutkan sarapan paginya. Hari ini Khairi ada meeting. Namun, sebelum itu dia harus mengantar istrinya ke rumah Bunda Yasna untuk membantu acara besok.


Setelah sarapan, Khairi mengantar istrinya ke rumah Bunda Yasna. Selama perjalanan hanya ada suara radio yang sedang memutar lagu, hingga suara Afrin memecah keheningan.


"Mas, apa tadi nggak terlalu berlebihan, meminta Bik Asih memanggilku Nyonya."

__ADS_1


"Tidak ada yang berlebihan, Sayang. Memang seharusnya seperti itu, saat ini kamu adalah Nyonya di rumah. Bukan maksud aku untuk menyingkirkan posisi Mama Merrry. Namun, dia memiliki tempat tersendiri. Begitu pun juga dengan kamu yang mendapatkan posisi Nyonya Khairi. Sementara Mama Merry juga mendapatkan posisi Nyonya sebagai Nyonya Hamdan meskipun Papa sudah meninggal, tapi panggilan itu bagiku masih milik Mama Merry."


Afri menganggukkan kepalanya. Dia mulai mengerti, apa tujuan sang suami meminta Bik Asih untuk memanggil Afrin dengan panggilan nyonya? Wanita itu takut jika asisten rumah tangga mereka ngelunjak jadi apa pun dan sekecil apa pun perlu diwaspadai.


Mobil telah berhenti tepat di depan pintu utama, Afrin berpamitan dari dalam mobilnya. setelah itu sang suami harus segera pergi karena ada meeting penting.


"Sayang aku nggak bisa turun aku ada meeting pagi."


"Iya, mas, tidak apa-apa. Nanti sore kamu jemput aku di sini, kan? Sekalian mampir dan sapa bunda sama papa."


"Iya, Sayang. Pasti nanti aku pulang ke sini. kamu jaga kesehatan. Ingat minum susunya satu hari sekali saja sudah cukup."


"Iya, Mas. Terima kasi, nanti sore kamu jemput aku kan?".


"Iya, nanti setelah pulang kerja, aku ke sini."


Afrin turun dari mobil. Sang suami pun pergi meninggalkan halaman rumah. Wanita itu melambaikan tangan hingga mobil yang dikendarai Khairi tidak terlihat. Setelah itu dia masuk ke rumah. Di dalam tampak sepi. Namun, di taman Afrin dapat mendengar suara banyak orang.


"Assalamualaikum," ucap Afrin dengan sedikit berteriak. Akan tetapi, tidak ada satu pun yang menjawab. Lebih tepatnya tidak ada yang mendengar.


"Assalamualaikum." Afrin mengulang lagi, kali ini lebih keras.


"Waalaikumsalam, kamu itu kebiasaan, suka teriak-teriak," tegur Yasna.


"Habisnya, dari tadi aku tuh panggil-panggil, tapi nggak ada yang nyaut. Semuanya sibuk sendiri-sendiri. Aku dari tadi ngucapin salam, tapi nggak dihargain sama sekali," gumam Afrin dengan cemberut.


"Iya, maaf, Bunda tidak tahu. Ayo, sini! Kamu bisa bantu hias taman ini, kan?"


Afrin mengangguk antusias. Dia paling suka menghias dekorasi ruangan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2