
"Ada apa, Sayang?" tanya Khairi saat melihat istrinya memasuki kamar dengan wajah yang sedih.
"Tidak ada apa-apa, Mas. Hanya rindu sama Bunda saja," jawab Afrin dengan berbohong.
Dia mencoba untuk tersenyum dihadapan suaminya. Tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya. Wanita itu tidak ingin, gara-gara dirinya suami dan mertuanya bertengkar. Afrin mendekati sang suami dan duduk di sampingnya.
"Kalau kamu kangen sama bunda, kita bisa main ke sana," ucap Khairi degan mengusap rambut istrinya.
"Tidak usah, Mas. Nanti aku telepon saja."
"Benar, tidak apa-apa?"
"Iya, tidak apa-apa," jawab Afrin. "Kamu lagi ngapain, Mas?" tanya afrin saat melihat Khairi berkutat dengan laptopnya.
"Ada beberapa email dari Ivan, cuma tanda tangan saja," jawab Khairi. "Kamu ambil cuti berapa hari, Sayang?"
"Besok aku ada kelas, Mas. Sebenarnya aku juga nggak ngambil cuti. Hari ini memang kebetulan saja nggak ada kelas. Semuanya, kan, mendadak jadi, aku nggak ngambil cuti."
"Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan. Anggap saja ini sebagai ganti bulan madu kita."
"Jalan-jalan ke mana?"
"Ya, ke mana saja. Sudah cepat ganti baju sana!"
Afrin pun mengambil pakaiannya di dalam koper. Dia belum sempat memindahkan baju ke dalam lemari. Wanita itu mengambil celana panjang dan kaos dan segera berlalu ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Begitu pun dengan Khairi. Pria itu hanya tinggal mengganti kaosnya saja.
Tidak berapa lama akhirnya Afrin keluar dengan penampilan santainya. Dia tampak sangat cantik, tidak akan ada yang percaya jika dia seorang yang bersuami.
"Sudah, Sayang?"
"Sudah, Mas."
"Kenapa kamu cantik sekali?"
"Mas, bisa saja."
"Baiklah, ayo, kita pergi!" Mereka berjalan keluar, baru beberapa langkah, terlihat Mama Merry mendekati anak dan menantunya.
"Kalian mau ke mana?" tanya Mama Merry.
"Mau jalan-jalan, Ma. Sebagai ganti karena kami nggak pergi bulan madu."
"Yaah, padahal Mama, kan, mau minta anterin kamu ke mall."
"Mama, kalau mau belanja aku telepon sopir saja biar pulang, bagaimana, Ma?"
__ADS_1
"Mama, sendirian dong di dalam mall! Mama, kan juga pengen ngobrol sama kamu."
Khairi merasa tidak enak menolak keinginan permintaan namanya, tetapi dia juga tidak mungkin membatalkan rencananya karena dirinya yang menawarkan terlebih dahulu. Afrin pun merasa tidak enak karena merasa seperti penghalang bagi suaminya.
"Sudah, Mas. Tidak apa-apa. Lain kali saja kita jalan-jalannya."
"Tapi, aku sudah janji sama kamu."
"Tidak apa-apa. Kamu pergi saja sama Mama."
"Bagaimana kalau kita pergi bertiga saja," usul Khairi setelah memikirkannya sejenak. Dia merasa bersalah jika harus meninggalkan istrinya di rumah. Pria itu sendiri yang tadi mengajak Afrin untuk pergi jalan-jalan, tetapi harus batal begitu saja.
"Mama, kan, cuma ingin berdua saja sama kamu, tapi kalau Afrin mau ikut, ya sudah, tidak apa-apa."
"Tidak usah, Mas. Aku di rumah saja, aku juga belum memindahkan baju ke lemari. Ada beberapa tugas kuliah juga yang harus aku selesaikan." Afrin mengerti keinginan mertuanya jadi, lebih baik dia mengalah.
"Ya sudah, aku anterin Mama dulu, ya!" pamit Khairi yang diangguki Afrin.
Gadis itu pun berlalu memasuki kamar setelah suaminya pamit.
"Ayo, kita berangkat!" ajak Mama Merry.
"Iya, Ma." Khairi pun terpaksa mengantarkan mamanya. Nanti malam saja dia mengajak Afrin keluar.
Mudah-mudahan saja sikap Mama Merry dalam tahap wajar. Jika tidak, dia tidak bisa menjamin bahwa dirinya akan mengalah.
Selesai membereskan kamar dan juga pakaiannya, Afrin keluar dari kamar. Dia menuju dapur karena merasa haus. Di sana ada Bik Asih yang masih berkutat di ruang dapur.
"Masih sibuk saja, Bik?" tanya Afrin.
"Seluruh penghuni rumah di sini memang selalu sibuk bukan pemalas yang hanya tidur-tiduran di kamar."
Afrin menyernyitkan keningnya mendengar jawaban dari Bik Asih. Itu seperti sindiran untuknya, padahal dirinya di kamar juga tidak hanya tidur-tiduran saja.
"Kenapa Bibi bicara seperti itu? Aku di kamar juga membereskan kamar, menata bajuku."
"Mana saya tahu apa yang kamu lakukan di sana."
Astaga, benar-benar majikan sama asisten sama saja. Gadis itu tidak mau memperpanjang masalah, dia memilih pergi keluar rumah, barangkali saja ada sesuatu yang bisa dia kerjakan.
Sementara di mall, Merry tidak jadi belanja kebutuhan pokok. Dia membeli beberapa baju untuk dirinya dan juga Khairi.
"Mama nggak beliin baju dibuat menantunya?" goda Khairi
"Bunda nggak tahu seleranya seperti apa? takutnya malah nanti dia nggak suka. Daripada nanti malah sia-sia, kapan-kapan saja belinya kalau mama sudah tahu model seperti apa kesukaan Afrin."
__ADS_1
"Iya," sahut Khairi. "kita mau ke mana lagi, Ma?"
"Ke mana, ya!" ucap Mama Merry sambil berpikir. "Kita makan, yuk! Bentar lagi waktu makan siang."
"Kita makan di rumah saja, Ma. Kasihan Afrin, pasti makan sendirian nanti," tolak Khairi. Dia tahu pasti saat ini istrinya merasa tidak nyaman dengan orang-orang baru.
"Di rumah juga ada Bik Asih dan Fatma. Mereka juga pasti nemenin dia makan di rumah."
"Ini, kan, hari pertamanya di rumah, masa udah ditinggal. Kita pulang saja, ya!"
"Mama, juga pengen sekali-kali makan siang di luar sama kamu."
" Kita juga sudah terlalu sering makan di luar bersama, Ma. Ayo, kita pulang saja! Kasihan Afrin."
Khairi memaksa mengajak mamanya pulang. Entah kenapa wanita itu seperti enggan kembali ke rumah. Akhirnya dengan terpaksa Merry mengikuti putranya pulang.
"Kamu sepertinya sayang banget sama istri kamu?" tanya Mama Merry saat dalam perjalanan pulang.
"Iya, dong, Ma. Kalau nggak cinta mana mungkin aku mau nikah sama dia. Apalagi sampai bertaruh untuk mempermalukan diri," jawab Khairi.
Mama Merry menganggukkan kepala dan tidak bertanya lagi. Wanita itu berpikir, apa dia salah bersikap pada Afrin? Perlu waktu untuk memikirkannya. Hingga sampailah mereka di rumah. Begitu Merry turun dia melihat Afrin menyiram bunga, segera wanita itu berjalan cepat mendekati menantunya.
"Ya ampun, Mama tadi pagi sudah menyiram bunga ini, kenapa disiram lagi? Bisa busuk tanaman Mama!" seru Mama Merry membuat Afrin segera mematikan keran air.
"Maaf, Ma. Aku kira belum disiram karena tadi aku lihat tanahnya kering."
"Sudah dari tadi pagi, habis subuh malah. Kalau begini tanaman Mama bisa busuk! Makanya jangan tiduran mulu, pagi-pagi bangun!" seru Mama Merry dengan nada ketus.
"Maaf, Ma. Aku tidak tahu," ucap Afrin yang merasa bersalah.
"Kamu ini, bagaimana, sih!"
"Ada apa, Ma?" tanya Khairi yang baru saja mendekat setelah memarkirkan mobilnya.
"Enggak apa-apa, ini tadi Afrin enggak sengaja nyiram bunga Mama lagi, padahal tadi pagi sudah Mama siram. Mama takutnya tanamannya busuk karena kebanyakan air."
"Maafin Afrin, Ma. Dia nggak tahu, Nanti kalau tanamannya rusak aku ganti. Ayo, kita masuk ke dalam!"
.
.
.
.
__ADS_1