Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
321. S2 - Periksa


__ADS_3

Khairi dan istrinya sedang dalam perjalanan menuju sebuah rumah sakit. Mereka akan memeriksakan kandungan Afrin. Dalam perjalanan, pria itu selalu menggenggam tangan sang istri. Tidak sekali pun dia melepaskan genggaman itu, seolah jika terlepas maka istrinya akan menghilang seperti kemarin. Khairi tidak sabar untuk melihat bagaimana calon anaknya itu.


"Sebelumnya kamu periksa diantar siapa, Sayang?" tanya Khairi.


"Sama Mbak Rani. Waktu itu aku pikir sakit mag. Saat dokter memintaku untuk kencing, aku sudah merasa kalau hamil. Ternyata saat dokter memakai tes pack benar, hasilnya garis dua. Saat USG juga ada kantungnya di rahimku."


"Kok, sama Mbak Rani? Kenapa nggak sama Bunda atau Ibu?"


"Aku nggak tahu kalau lagi hamil saat itu, Mas. Waktu itu juga Mbak Rani lagi main ke rumah. Aku nggak mau bikin orang rumah khawatir, makanya aku pura-pura mengajak Mbak Rani jalan-jalan. Kalau ada dia keluargaku tidak akan khawatir."


Tidak terasa akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Khairi mendaftarkan istrinya terlebih dahulu kemudian duduk menunggu antrian. Pria itu melihat sekelilingnya, banyak ibu-ibu hamil yang perutnya sedikit membuncit ada pula yang sudah membesar.


Dia membayangkan bagaimana istrinya nanti, saat perutnya membesar. Pasti akan sangat lucu dan menggemaskan. Tanpa sadar Khairi tersenyum ke arah ibu-ibu, membuat Afrin mencubit pinggang sang suami.


Afrin tidak habis pikir, bagaimana bisa sang suami melihat ke arah ibu-ibu, sedangkan istrinya ada di sini. Dia mngerucutkan bibirnya karena kesal.


"Aduh," rintih Khairi sambil mengusap pinggang bekas cubitan Afrin.


"Ada apa, sih, Sayang? Kenapa dicubit?"


"Ngapain lihat ibu-ibu itu? Kamu naksir sama mereka?" tanya Afrin dengan nada sinis.


"Apa, sih, Sayang? Aku lihatin mereka sambil ngebayangin kamu! Bagaimana nanti perut kamu membesar, pasti terlihat menggemaskan. Begitu!"


"Kenapa malah mikirin ibu hamil? Siapa coba yang nggak curiga, kalau kamu lihatnya sambil senyum-senyum," ucap Afrin dengan nada sinis.


"Aduh, Sayang. Aku tuh udah cinta mati sama kamu, nggak mungkin berpaling ke lain hati. Apalagi sekarang sudah ada baby di antara kita. Tidak ada yang bisa membuatku berpaling dari kalian."


"Awas saja kalau bohong, kamu akan mendapatkan hukuman dariku lagi!" ancam Afrin sambil memicingkan matanya.


"Jangan, dong, Sayang. Kemarin baru saja selesai hukumannya, masa mau ditambah lagi!"


"Makanya jaga mata."


"Iya, ini sudah lihatin kamu aja. Enggak usah lihatin yang lain," ucap Khairi sambil menatap istrinya yang justru membuat Afrin salah tingkah.


Khairi tersenyum melihat istrinya. Dia tahu Afrin sedang malu. Namun, pria itu tetap menggodanya. Salah sendiri siapa yang sudah menuduhnya yang tidak-tidak tadi.

__ADS_1


"Mas, jangan lihatin aku terus dong, malu dilihatin sama ibu-ibu yang lain."


"Memangnya kenapa, Sayang? Mereka juga pasti akan mengerti kalau kita itu suami istri. Lagian nanti kalau aku lihat ibu-ibu yang lain kamu cemburu."


"Siapa yang cemburu?" tanya Afrin dengan nada ketus.


"Ya ka—"


Ucapan Khairi terpotong oleh panggilan seorang perawat.


"Nyonya Afrin," panggil seorang perawat.


"Iya, Sus," sahut Afrin yang segera masuk ke ruangan dokter diikuti Khairi.


Tampak seorang dokter wanita tersenyum ke arah mereka. Khairi dan Afrin duduk di depannya.


"Selamat pagi, Nyonya. Ini suami Anda?" tanya Dokter Melisa—dokter kandungan Afrin.


"Iya, Dokter."


"Langsung saja, Bu, kita periksa."


"Iya, Dok."


"Ini, Tuan, Anda bisa lihat ada kantung, ini adalah calon bayi Anda."


Khairi menatap monitor dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak menyangka bisa melihat calon anaknya. Pria itu berjanji akan menyayangi dan mendidiknya dengan baik. Tidak peduli dia laki-laki maupun perempuan. Tidak masalah untukmu asalkan istri dan bayinya selamat.


"Dia sehat, kan, dokter? Tidak kekurangan apa pun."


"Saat ini masih belum terlihat, Pak. Kalau Anda mau, bisa juga USG tiga dimensi, tempatnya di lantai tiga. Nanti akan ada dokter Iwan yang akan memeriksa dan menjelaskan segala prosesnya."


"Dokter Iwan? Laki-laki, Dok? Apa tidak ada dokter perempuan di sana? Kenapa harus laki-laki?"


"Tidak ada, Tuan, hanya Dokter Iwan yang berjaga di sana. Tidak ada dokter lain, jam prakteknya pun dari siang sampai sore saja. Kalau malam tempat prakteknya tutup," ujar Dokter Melisa.


"Kalau begitu tidak usah saja, Dok. Mudah-mudahan anak saya sehat, tidak kekurangan apa pun, istri saya pun juga selamat."

__ADS_1


Dokter Melisa mengangguk. Dia mengerti bagaimana rasanya saat seorang ceai ketemu dari seorang calon ayah.


"Iya, Tuan, kita juga harus banyak berdoa untuk kesehatan Nyonya Afrin dan juga calon bayinya," sahut Dokter Melisa. "Oh ya, Bu, ditingkatkan lagi asupan makanannya karena Ibu dari bulan kemarin sampai bulan ini tidak menambah satu ons pun. Untuk ibu hamil setiap bulannya harus ada penambahan berat badan."


"Iya, Dok. Nanti saya akan usahakan. Saya juga sering makan, tapi kenapa berat badan saya tidak bertambah?"


"Memang terkadang hal itu bisa terjadi. Kalau bisa pakai sayur dan buah, ya, Bu. Nanti akan saya beri resep agar Anda dan baby semakin sehat."


"Iya, Dok."


"Tuan dan Nyonya, apa ada sesuatu yang ingin ditanyakan lagi?" tanya Dokter Melisa sambil menatap pasien dan keluarganya.


Khairi hanya diam sambil menatap layar monitor, tanpa mengalihkan pandangannya ke arah mana pun. Dia masih fokus pada kantung yang tadi ditunjukkan oleh dokter. Itu adalah calon anaknya. Dokter hanya diam menunggu jawaban dari keluarga pasien.


"Sudah cukup, Dok. Kami sudah sangat mengerti, mudah-mudahan bulan depan berat badan saya naik."


"Amin, silakan kembali ke tempat duduk. Tunggu sebentar, saya kopi kan hasil USG-nya."


Dokter Melisa melakukan pekerjanya, Afrin mencoba menyadarkan sang suami agar menerima sesuatu dengan cara yang tidak terlalu berlebihan.


"Mas," panggil Afrin sambil menggenggam telapak tangan pria itu.


"Iya, Sayang."


"Sudah selesai."


"Oh, sudah selesai? Ayo, aku bantu!"


Khairi membantu istrinya menuju kursi yang sebelumnya sudah dia tempati. Afrin memandang wajah sang suami yang berseri-seri. Wanita itu ingin mengucapkan sesuatu pun tidak jadi.


"Ini hasil USG-nya, Tuan, ini resepnya."


"Terima kasih, Dok," sahut Khairi sambil menerima apa saja yang diterima padaku.


Khairi dan Afrin pergi meninggalkan ruangan dokter itu menuju apotek yang ada di rumah sakit juga. Tidak perlu menunggu waktu lama, akhirnya mereka mendapatkan obat. Mereka meninggalkan rumah sakit menuju rumah. Awalnya dia ingin mengajak istrinya untuk jalan-jalan, tetapi tadi Ivan mengirim sebuah email dan mengatakan jika ada sesuatu penting. Mungkin lain kali mereka bisa pergi bersama.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2