Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
313. S2 - Aku pergi sementara


__ADS_3

"Tante, aku minta maaf karena tidak bisa memaafkan papa waktu itu. Aku sungguh minta maaf. Aku hanya masih teringat kejadian selama tinggal di desa. Aku menganggap semua itu karena papa. Sungguh, aku minta maaf," ucap Laily.


"Tidak perlu minta maaf. Aku tahu bagaimana perasaanmu. Kamu cukup mendoakan papamu saja agar diterima di sisi Allah," sahut Merry.


"Tentu, Tante. Hanya itu yang bisa aku lakukan kini."


Laily senang bisa mengatakan apa yang sudah ditahannya dari kemarin. Meski dia tidak bisa bicara dengan papanya langsung, tidak apa. Gadis itu bisa meminta maaf dengan mendoakan papanya. Merry melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Dia harus segera pergi, sebentar lagi pesawatnya akan berangkat.


Mereka saling bersalaman dan memberi nasehat. Merry, Khairi, dan Afrin, pergi meninggalkan apartemen menuju bandara. Jalanan cukup lenggang, memudahkan mereka sampai di tempat tujuan dengan cepat.


Begitu sampai di bandara, mereka segera turun. Khairi membawakan koper mamanya. Terdengar suara panggilan untuk pesawat yang akan berangkat dengan tujuan yang dituju Merry. Wanita itu segera pergi.


Air mata mengiringi perpisahan mereka. Afrin masih belum rela dengan kepergian mertuanya, tetapi dia tidak bisa berbuat apa pun.


"Ya sudah, Mama pergi dulu. Nanti jika kamu memiliki bayi, mama pasti akan datang menjenguk cucu Mama," ucap Merry yang diangguki Afrin.


Merry pun akhirnya pergi. Khairi memeluk sang istri dari samping sambil mengusap bahunya, guna memberi ketenangan untuk Afrin. Setelah Mama Merry benar-benar pergi, keduanya memutuskan untuk pulang.


*****


Sementara di apartemen Laily bersandar di pundak ibunya, memikirkan kehidupannya yang dulu dan sekarang. Ternyata hidup miskin dan kaya, tidak ada bedanya. Masalah tetap akan datang. Semua tergantung pribadi manusia dalam menyikapinya.


"Bu, aku tidak salah berbicara, kan?" tanya Laily pada ibunya saat tamunya sudah pergi.


"Tidak, apa yang kamu katakan sudah benar," sahut Bu Nur.


"Tapi, Bu. Aku merasa sudah sangat menyakiti hatinya."


Nur juga tidak tahu apa yang dikatakannya itu apa sudah menyakiti hati Merry atau tidak. Yang pasti dia tidak ada niat seperti itu. Wanita itu juga ingin berdamai dengan masa lalu.


"Tidak, itu hanya perasaanmu saja. mulai hari ini kamu harus banyak berdoa untuk papamu," ucap Nur mencoba menenangkan putrinya.

__ADS_1


"Iya, Bu."


Mereka kembali melakukan pekerjaan yang sempat tertunda. Nur mengerti perasaan putrinya. Wanita itu juga merasa bersalah atas apa yang sudah pernah dipikirkannya tentang ibu sambung Khairi itu. Dia tidak pernah berpikir bagaimana berada di posisinya.


*****


"Mas, aku perlu berbicara," ucap Afrin saat mereka bersiap untuk tidur.


Khairi masih duduk dengan bersandar di kepala ranjang. Sementara Afrin baru saja selesai dengan ritual alat make up–nya. Wanita itu duduk di samping sang suami agar mereka bisa bicara dengan tenang.


"Katakan saja," sahut Khairi dengan pandangan ke depan.


"Mengenai hukuman yang akan aku berikan, aku sudah memikirkannya."


Khairi segera menolehkan kepalanya. Dia penasaran, hukuman apa yang akan diberikan padanya. Pria itu berharap itu bukan hukuman yang bisa membuatnya kehilangan sesuatu yang berharga. Apalagi sampai kehilangan Afrin, wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Aku akan tinggal di rumah papa selama enam bulan dan selama itu, kamu tidak boleh berbicara denganku, Apalagi datang untuk menemuiku."


"Hanya sementara, Mas. Sampai kita benar-benar tahu hati kita sebenarnya. Apa kita benar saling menghargai dan mencintai atau hanya obsesi semata."


"Sayang, jangan seperti ini, aku sungguh mencintaimu. Bukan obsesi atau rasa penasaran saja."


Khairi tidak mengerti jalan pikiran istrinya. Dia tidak ingin berpisah dengan Afrin selama enam bulan. Sehari saja pria itu sangat rindu, apalagi harus enam bulan! Khairi tidak akan sanggup, tidak akan pernah.


"Aku tidak sedang tawar menawar. Aku sudah katakan kalau ini adalah hukuman untukmu jadi, kamu harus menerimanya. Suka atau tidak suka."


"Sayang, ja—"


Afrin mengangkat tangannya agar Khairi tidak meneruskan kata-katanya. Wanita itu juga butuh ketenangan. Akhir-akhir ini terlalu banyak masalah yang datang, hingga membuatnya pusing. Dia perlu menjernihkan pikirannya.


"Keputusanku sudah bulat, Mas. Mudah-mudahan enam bulan itu membuat kita sama-sama bisa berpikir lebih jernih dan dewasa kedepannya. Aku tidak ingin kita mengalami masalah yang sama dikemudian hari. Jika pun ada, aku harap kita bisa menyelesaikan dengan baik."

__ADS_1


Khairi menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak ingin berpisah dengan istrinya, tetapi pria itu tidak ingin memaksakan kehendaknya. Semua ini terjadi juga karena kesalahan Khairi sendiri yang tidak bisa bersikap adil.


Afrin diam dengan pandangan kosong. Dia sudah mantap dengan keputusannya, walaupun sudut hatinya ragu, apakah keputusannya sudah benar atau tidak. Untuk saat ini wanita itu ingin sendiri dalam ketenangan.


"Baiklah, jika itu kemauanmu. Besok aku akan mengantarmu ke rumah Papa Emran."


"Tidak perlu, Mas. Aku sudah meminta Pak Hari untuk menjemputmu. Mungkin pagi-pagi sekali aku akan berangkat."


"Aku saja yang antar, Sayang. Nanti aku bicara sama Bunda agar menjagamu."


"Kamu bisa bicara lewat sambungan telepon. Lagi pula Bunda sangat baik dalam menjagaku, tidak perlu diragukan lagi. Kamu harus ingat, jangan pernah datang menemuiku atau aku akan menambah massa hukuman untukmu."


Khairi menelan ludahnya. Awalnya dia berniat untuk datang dengan berpura-pura berkunjung, seperti saat dulu masih pendekatan. Kini rencana itu sudah harus dikuburnya dalam-dalam karena sang istri sudah mengancamnya lebih dulu.


"Sudah malam, sebaiknya kita tidur," tambah Afrin.


"Sayang, untuk malam ini, biarkan aku memelukmu sebelum hukuman enam bulan itu terlaksana," pinta Khairi yang diangguki Afrin.


Pria itu segera memeluk sang istri dan menjadikan lengannya sebagai bantal kepala wanita itu. Setetes air mata jatuh dari sudut mata Khairi. Buru-buru dia mengusapnya agar Afrin tidak melihatnya. Namun, dari pergerakan yang pria itu lakukan, sudah bisa terbaca.


Afrin hanya diam dengan tetap memejamkan matanya berpura-pura tidak tahu apa pun. Itu lebih baik untuknya agar tidak berat saat akan pergi besok.


Khairi merasakan kehangatan tubuh istrinya, yang mungkin tidak akan bisa dirasakannya lagi. Selama enam bulan ke depan dia hanya bisa menghirup aroma parfum milik Afrin, tetapi tidak bisa merasakan kehangatan ini. Seandainya dia bisa lebih peka lagi sebagai pria. Semua tidak akan seperti ini. Sekarang semua terasa percuma.


Kehangatan tubuh sang istri mampu menghipnotisnya. Hingga tanpa sadar sudah Khairi tertidur. Afrin membuka matanya yang memang belum tidur sepenuhnya. Wanita itu menatap wajah sang suami yang tidak akan bisa dilihatnya setelah ini.


'Maafkan aku, Mas. Aku harus memberimu pelajaran agar ke depannya kamu tidak menyepelekan orang lain,' batin Afrin.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2