
"Tuan, ada telepon dari perusahaan Tuan Emran. Mereka mengatakan jika menunggu kehadiran kita di sana," ujar Ivan
"Sekarang juga?"
"Iya, Tuan."
"Baiklah, ayo, kita ke sana," sahut Khairi segera beranjak dari kursinya.
Dia menuju mobil bersama dengan Ivan. Tidak lupa juga mereka mengajak Iwan karena bagaimanapun juga awal Khairi datang bersama dengan Iwan. Dalam perjalanan Khairi merasa gugup. Padahal dia sudah sering bertemu dengan Emran, tapi entah kenapa kini dia merasa berbeda. Mungkin karena statusnya sekarang yang datang sebagai seorang klien, bukan sebagai menantu.
"Kenapa, Tuan?" tanya Ivan.
"Tidak apa-apa, hanya merasa gerah saja," jawab Khairi.
"Apa perlu saya perbesar AC-nya, Tuan?"
"Tidak perlu, fokus saja pada jalanan," jawab Khairi.
Ivan sebenarnya tahu, bagaimana perasaan atasannya itu. Dia memang sengaja ingin menggoda Khairi. Siapa pun pasti akan merasa gugup jika berada diposisi Khairi. Apalagi pria itu juga membawa banyak nasib orang.
Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai di depan perusahaan. Begitu turun dari mobil mereka sudah disambut oleh Aydin yang berada di loby. Entah sengaja menunggu kedatangan Khairi atau memang ada keperluan di sana.
"Selamat datang, Tuan Khairi," sapa Aydin dengan mengulurkan tangannya.
"Terima kasih, Kak. Eh, Pak," ucap Khairi membuat Aydin tertawa.
"Tidak apa-apa, jangan terlalu kaku."
"Aku merasa tidak enak saja."
"Tidak apa-apa, tapi nanti di ruang rapat jangan panggil Kakak, ya? Kalau tidak ada orang atau di luar seperti ini, tidak apa-apa, biasa saja."
"Iya, Kak."
"Ayo, kita ke dalam!" ajak Aydin dengan merangkul pundak adik iparnya itu.
Mereka menuju ke sebuah ruang meeting. Di sana sudah ada Emran dan orang kepercayaannya.
"Selamat siang, Pak Emran," sapa Khairi.
"Selamat siang." Mereka saling berjabat tangan satu sama lain dan memulai rapatnya.
Meeting berjalan dengan lancar. Emran menyetujui proposal yang diajukan oleh Khairi. mereka pun menandatangani surat perjanjian. Setelah semua selesai, semua orang meninggalkan ruang meeting. Hanya menyisakan Emran, Aydin dan Khairi.
__ADS_1
"Terima kasih, Pa. Sudah mau menerima proposal kami. Padahal di luar sana banyak yang menolaknya," ucap Khairi.
"Papa hanya mengikuti apa kata anak buah Papa. Mereka bilang proposal kamu bagus jadi, kenapa Papa harus melewatkannya? Lagipula kamu juga pasti tahu kenapa orang-orang di luar sana menolak proposal yang kamu ajukan."
Khairi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia merasa salah tingkah ternyata papa mertuanya ini sudah mengetahui hal itu. Memang semua yang berhubungan dengan keluarganya tidak luput dari pandangannya.
"Tapi saya senang, kamu tidak tergoda oleh wanita itu. Padahal dia kan juga cantik," lanjut Emran.
"Bagi saya, Afrin lebih cantik dari siapa pun."
"Bagi Papa juga, bunda lebih cantik," sahut Emran membuat keduanya tertawa.
"Wah, kalian memuji istri kalian sendiri. Nayla juga cantik," sela Aydin yang kemudian ikut tertawa. "Kita makan siang bareng, yuk! Kita para pria tidak pernah makan siang bersama. Selalu saja ada perempuan-perempuan itu," ajak Aydin.
"Boleh, bagaimana kamu Khairi?" tanya Emran.
Khairi berpikir sejenak sebelum mengiyakan. "Boleh, deh."
"Kenapa kamu lama sekali jawabnya?" tanya Aydin.
"Saya tadi nggak bawa mobil, Kak, tapi nggak pa-palah. Nanti bisa naik taksi. Biar Ivan sama Iwan pulang duluan."
"Kalau itu kamu nggak usah khawatir, nanti kamu bisa pakai mobilku. Biar aku ikut sama Papa."
Khairi mengirim pesan pada Ivan agar kembali ke perusahaan lebih dulu. Dia ingin pergi bersama mertua dan iparnya.
"Ya sudah, ayo, kita cari restoran! Mau ke restoran mana, nih?"
"Aku sih terserah saja. Aku nggak pilih-pilih makanan juga," sahut Khairi.
"Papa juga nggak pilih-pilih, tapi bagaimana kalau kita ke restoran seafood Papa sudah lama nggak makan udang. Kalian tahu, kan, bunda sangat alergi dengan udang jadi, Papa ikut nggak makan. Sekarang kita ada waktu, bagaimana?"
"Boleh, Pa. Kebetulan aku juga rindu makan udang."
"Bunda alergi udang, Pa?" tanya Khairi yang memang tidak tahu. Sepertinya Afrin lupa menceritakan hal ini.
"Iya, pernah juga masuk rumah sakit gara-gara kakak ipar kamu ini."
"Benarkah? Bagaimana ceritanya?"
"Ayo, Papa ceritakan sambil jalan."
Mereka pun berjalan bertiga menuju sebuah restoran. Banyak pasang mata yang memandang mereka, ada yang iri, ada pula yang kagum. Sudah biasa bagi ketiganya. Selama perjalanan menuju restoran Emran menceritakan pada Khairi tentang kejadian saat dulu Aydin mencoba mengerjai Yasna.
__ADS_1
"Wah, bisa sampai seperti itu, Pa!" seru Khairi.
"Namanya Aydin, begitulah. Kakak kamu saking cintanya sama Papa sampai nggak mau, Papa nikah lagi," ucap Emran membuat Aydin mendengus.
"Bukan cinta sama papa. Aku cuma nggak mau aja wanita yang nanti bakalan jadi istri Papa seperti cerita ibu tiri itu," sahut Aydin.
"Sekarang malah Kakak paling sayang sama Bunda daripada Papa," ucap Khairi.
"Iyalah, karena Bunda yang selalu ada buat aku. Sering dengerin curhatku juga, bahkan memberi saran mengenai masalahku. Papa selalu sibuk sama pekerjaan di kantor, mana ada waktu."
Mobil yang mereka tumpangi, akhirnya sampai juga di sebuah restoran seafood, seperti keinginan mereka. Ketiganya sepakat memilih tempat terbuka saja, lebih santai dan bisa menikmati pemandangan di luar.
Saat mereka sedang asyik berbincang, ada dua orang wanita yang mendekati mereka. Penampilan mereka begitu sangat seksi. Mungkin jika pria lain yang didekati, dengan senang hati mereka menerima, tapi kedua wanita itu tidak tahu siapa tiga orang pria ini.
"Selamat siang pria tampan! Bolehkan kami menemani kalian?" tanya seorang wanita yang langsung saja duduk di samping Aydin.
"Mohon maaf, sebaiknya anda segera meninggalkan meja kami. Kami hanya ingin menghabiskan waktu bersama keluarga," ucap Aydin dengan sedikit menggeser duduknya menjauh membuat wanita yang ada di sampingnya semakin ingin menggoda.
"Kenapa kamu galak begitu, sih, Mas ganteng! Nanti gantengnya hilang," ucap wanita satunya.
"Sudah pergi sana! Aku tidak ingin berbicara dengan kalian." Khairi benar-benar jengkel, sepertinya mereka harus dikasari agar segera pergi.
"Jangan gitu dong ganteng. Masa kita yang cantik-cantik seperti ini diusir."
"Kalian membuat selera makan saya jadi hilang. Kalian pergi dari sini dengan baik-baik atau mau saya panggilkan security? Saya tidak ingin mengulang kataku untuk kedua kalinya," ucap Aydin dengan penekanan.
Kedua gadis itu saling pandang memberi kode agar segera pergi saja. Mereka telah salah memilih mangsa.
"Baiklah, kalau kalian tidak ingin diganggu. Semoga kita bisa bertemu kembali." Kedua gadis itu segera pergi meninggalkan ketiga pria itu.
"Benar-benar merepotkan," gumam Aydin yang masih bisa di dengar oleh Emran dan Khairi.
"Kak, tadi itu lumayan, loh. Kenapa nggak disikat saja?" tanya Khairi yang sengaja ingin menggoda kakak iparnya.
"Kamu mau? Kalau mau aku bisa panggilkan."
"Nggak ah, bisa digoreng aku sama Afrin," sahut Khairi membuat Aydin dan Emran tertawa.
Emran senang, rumah tangga anak-anaknya baik-baik saja. Dia berharap seperti itu selamanya. Ada rasa sedih karena dia tidak bisa melihat anaknya bermanja lagi.
.
.
__ADS_1
.