
"Kamu jangan salah paham dulu. Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin menunjukkan padamu, bahwa di dunia ini tidak ada pria yang setia."
Ilham mencoba berkilah. Dia tidak ingin terlihat buruk di mata Nayla, tetapi sayang, wanita itu bukan orang yang mudah dihasut seperti yang pria itu inginkan.
"Termasuk kamu, kan?" sahut Nayla tanpa rasa hormat sedikit pun. "Kamu bisa mengatakan seperti tadi jika itu adalah pria lain, tapi tidak dengan suamiku. Aku sangat percaya padanya. Dia tidak akan pernah menghianatiku bahkan sekali pun aku yang memintanya," lanjut Nayla.
Tanpa diberi tahu pun wanita itu tahu, jika memang banyak pria di luar sana yang suka bermain api dengan wanita yang lebih cantik dan muda. Bahkan tidak jarang dari mereka yang mencari para wanita penghibur, untuk memuaskan hasratnya.
"Aku pasti akan membuktikannya padamu, bahwa apa yang kamu katakan itu salah."
"Terserah apa katamu dan sebaiknya kamu meninggalkan tempat ini. Aku masih banyak pekerjaan."
Nayla benar-benar geram dengan orang yang sok tahu seperti Ilham. Seolah mengatakan dirinyalah orang yang paling tahu akan segalanya. Padahal tidak sedikit pun dia tahu tentang suaminya. Bahkan pria itu tidak sadar jika sudah menjelekkan Aydin, orang yang bisa menghancurkannya hingga tidak menyisakan apa pun.
"Bagaimana dengan pesanan saya?" tanya Ilham.
"Lupakan tentang pesanan itu. Sebaiknya kamu mencari butik lain yang bisa memenuhi keinginanmu," jawab Nayla.
Pesanan Ilham memang sangat menggiurkan, tetapi dia tidak suka jika kehidupan pribadinya diusik oleh orang lain. Apalagi orang yang tidak dikenal macam Ilham.
"Baiklah, jika memang tekadmu sudah bulat untuk menolak pesananku. Aku juga tidak akan memaksamu. Padahal pesanan saya sudah sungguh menggiurkan, apalagi untuk butik yang baru seperti ini," ucap Ilham.
Jika Nayla mau, sudah dari kemarin butik ini menjadi besar. Aydin sudah menawarinya untuk memperbesar butiknya, tetapi wanita itu menolak. Menurutnya, akan lebih terasa nikmat saat dia merasakan setiap perjalanan karirnya.
"Terima kasih, Pak. Tapi aku lebih mencintai keluarga daripada pesananmu," jawab Nayla dengan mantap.
"Maaf, jika aku sudah lancang mengganggu katenanganmu. Kalau begitu saya permisi." Ilham segera beranjak dan meninggalkan butik Nayla.
"Ganggu ketenangan orang saja," gumam Nayla yang masih bisa didengar oleh Fika dan via yang ada di dekatnya.
"Ada apa, Mbak? Ada masalah dengan pria itu? Apa dia membuat masalah?" tanya Via.
"Nggak ada apa-apa, sudah lupakan saja."
Nayla bukan orang yang suka mengumbar keburukan orang lain. biarkan saja Ilham pergi. Dia tidak ingin berurusan dengan pria itu lagi.
"Bagaimana, Mbak? Jadi, dia pesan baju di butik kita?" tanya Fika.
__ADS_1
"Nggak jadi, saya sudah menolaknya," jawab Nayla.
"Kenapa, Mbak? Padahal tawarannya begitu menggiurkan," tanya Fika lagi.
"Tidak apa-apa. Aku lebih menyukai kedua anak gadisku dalam keadaan baik-baik saja," jawab Nayla seolah merasa sesuatu akan terjadi pada kedua pegawainya yang sangat baik.
Fika dan Via Saling pandang. Mereka sama-sama tidak mengerti apa maksud dari kata-kata Nayla. Seolah menyiratkan akan terjadi sesuatu jika Nayla menerima pembeli itu.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan. Sebaiknya kita kembali bekerja," tegur Nayla membuyarkan lamunan mereka.
"Iya, Mbak," jawab Fika dan Via bersamaan.
Mereka kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara Nayla masuk ke dalam ruangan pribadinya. Tiba-tiba mood-nya menjadi buruk saat bertemu dengan pembelinya tadi. Dia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya dan merilekskan otaknya terlebih dahulu, sebelum nanti siang Aydin menjemputnya.
*****
(Maaf, Sayang. Tiba-tiba ada meeting mendadak. Kamu nggak apa-apa, kan, di sana lebih dahulu. Nanti setelah meeting, aku akan menjemputmu.)
Begitulah isi pesan dari Aydin yang minta Nayla untuk tetap menunggu. Wanita itu berkali-kali mengatakan tidak perlu menjemputnya, tetapi suaminya tetap memaksa. Akhirnya dia diam dan membiarkannya saja.
Nayla merasa gerah, dia memutuskan mandi di kamar mandi pribadinya. Saat sudah membuka pakaian atasnya. Wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh pada ***********.
Wanita itu sangat terkejut mengetahui arti dari benjolan itu. Nayla berdoa semoga apa yang dibacanya hari ini berbeda dengan apa yang dia alami, dengan perasaan kalut, dia bersiap ingin pergi ke sebuah rumah sakit tanpa menghiraukan peringatan dari sang suami, yang sebelumnya melarang dia untuk keluar butik.
"Via, aku mau keluar sebentar," pamit Nayla.
"Mau ke mana, Mbak. Sebentar lagi Mas Aydin datang."
"Sebentar saja, kok. Habis itu balik lagi. Lagipula Mas Aydin lagi ada meeting."
"Tapi, kan, Mas Aydin tadi melarang Mbak Nayla keluar."
"Hanya sebentar, kok! Sebelum Mas Aydin datang aku juga sudah pasti ada di sini. Kamu jangan terlalu khawatir."
"Mau aku antar, Mbak?" tawar Via yang merasa khawatir dengan Nayla.
"Tidak perlu, aku perginya dekat, kok."
__ADS_1
"Baiklah, jangan lama-lama, ya!"
"Iya, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Nayla menaiki taksi yang sudah dipesan sebelumnya. Dia menyebutkan alamat rumah sakit pada seorang sopir taksi.
"Mbak, mau periksa kehamilan sendiri? Suaminya mana?" tanya sopir taksi.
"Suami saya sedang bekerja, Pak. Dia harus menabung untuk persiapan saya melahirkan," jawab Nayla berbohong. Itu hanya alasan agar semuanya tidak bertambah lebih panjang. Dia terlalu malas untuk menanggapi pertanyaan seperti itu dari orang yang tidak dikenalnya.
"Memang, Mbak, persiapan melahirkan sangat banyak. Saya saja sampai berhutang sana sini."
Nayla hanya tersenyum menanggapinya. Dia tidak menghiraukan lagi apa yang dibicarakan sopir taksi itu. Saat ini wanita itu dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Selama perjalanan wanita itu sungguh kalut. Berbagai pemikiran buruk masuk ke kepalanya. Ditambah kini dia tengah hamil. Tanpa sadar Nayla mengusap perutnya yang sudah sedikit membuncit.
Setetes air mata jatuh membasahi pipi wanita itu. Namun, segera dihapusnya. Dia tidak ingin orang lain melihat kesedihannya. Dalam hati Nayla berdoa agar semuanya baik-baik saja.
Akhirnya taksi yang ditumpanginya sampai di sebuah rumah sakit. Nayla turun dan menuju tempat pendaftaran. Dia diarahkan untuk ke tempat pemeriksaan. Wanita itu masih harus menunggu antrian.
Cukup lama Nayla menunggu. Akhirnya dia dipanggil untuk pemeriksaan. Tiba-tiba jantungnya berdetak tidak menentu. Wanita itu takut akan terjadi sesuatu pada dirinya.
Langkah demi langkah semakin membuat jantungnya tidak baik-baik saja. Begitu dia masuk ke sebuah ruangan, tampak seorang dokter menyambutnya dengan senyuman yang begitu manis. Namun, itu terlihat mengerikan untuk Nayla.
"Selamat siang, Ibu. Ada yang bisa saya bantu? Apa Anda sedang hamil?" tanya dokter itu saat melihat perut Nayla yang sedikit membesar.
Mau tidak mau akhirnya Nayla menjelaskan apa yang dirasakannya. Dia merasa takut akan terjadi sesuatu yang buruk padanya. Sesekali dia mengusap air matanya yang jatuh tanpa dikehendakinya.
.
.
.
.
__ADS_1
.