
Nayla tidak mau memaksa karena dia juga tahu bagaimana keadaan putrinya selama ini. Wanita itu pernah mendengar jika Nuri sangat mudah sakit karena hal sepele. Meski dia tidak disisi gadis kecil itu, tetapi Nayla selalu mengingat setiap detail informasi tentang gadis kecil itu.
Di malam hari panas Nuri sudah turun. Yasna merasa lega karena dengan begitu, dia tidak harus melihat cucunya yang akan diinfus atau diambil sampel darahnya.
Wanita itu menatap wajah gadis kecil yang tengah terlelap. Ada perasaan sayang teramat sangat yang tidak bisa diungkapkan untuknya. Yasna sangat bersyukur dengan kehadiran Nuri, Dia bisa merasakan bagaimana rasanya merawat seorang bayi.
****.
Pagi-pagi sekali Yasna ingin memasak. Keadaan sudah membaik jadi, dia bisa tenang. Ternyata di sana sudah ada Nayla. Wanita itu tersenyum karena menantunya tidak marah padanya atas apa yang terjadi kemarin.
"Kamu sudah bangun, Nay?" tanya Yasna.
"Iya. Bagaimana keadaan Nuri, Bunda?" tanya Nayla balik sambil menatap Yasna, berharap berita baik yang dia dengar.
"Sudah baikan. Panasnya juga sudah turun. Kamu jangan khawatir, dia memang sering seperti itu."
"Maafin aku, ya, Bunda. Karena kejadian kemarin Nuri jadi sakit. Aku tahu meskipun Bunda tidak mengatakannya. Aku ingat jika sebelumnya kalian pernah menceritakan tentang Nuri.
"Maafin Bunda, ya! Bunda takut menyakiti hati kamu."
"Iya, aku mengerti, Bunda."
Sejujurnya Nayla merasa sedih. Dia ingin marah, tetapi pada siapa wanita itu harus melampiaskannya. Hanya mencoba untuk ikhlas yang bisa dia lakukan, berharap ada keajaiban sekali lagi untuknya.
"Kamu lagi masak apa?" tanya Yasna mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau masak ayam, ikan sama sambal saja. Adanya cuma itu."
"Iya, kemarin kita tidak sempat belanja. Ayo, kita masak bersama!"
Mereka pun masak bersama-sama, sambil berbincang mengenai apa saja yang dilakukan Nayla di sana. Saat keduanya sibuk dengan masakan. Aydin datang, dia ingin mengambil minum di lemari pendingin.
"Nuri belum bangun, Bunda?" tanya pria itu.
"Belum, semalam tidurnya larut. Biarkan saja nanti pasti bangun agak siangan," jawab Yasna. "Oh, ya, nanti kamu pergilah ke toko mainan. Beli boneka kesukaan Nuri, nanti biar Nayla kasih ke Nuri. Kita bujuk sama-sama agar dia mau dekat istri kamu."
Yasna mencoba untuk memberi ide untuk Nayla agar bisa dekat dengan putrinya. Dia bisa merasakan perasaan menantunya yang terluka karena melihat Nuri enggan untuk digendong.
"Iya, Bunda. Ide yang bagus, nanti aku belikan."
"Aku ikut, Mas. Aku juga ingin membelikan Nuri sesuatu," sela Nayla
"Boleh, Sayang. Nanti kita pergi sama-sama," sahut Aydin. "Aku masuk dulu," Aydin segera berlalu. Dia masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan karena hari ini dia masih ingin libur sebentar.
Di siang hari seperti yang Yasna usulkan tadi. Aydin dan Nayla menuju tempat penjual mainan anak-anak. Di sana pria itu mengatakan apa saja yang disukai Nuri dengan sangat antusias, istrinya memilih beberapa boneka dan mainan lainnya.
__ADS_1
"Mas, boneka kucing ini sangat lucu aku mau membelinya untuk Nuri."
"Jangan, Sayang. Nuri sangat takut sama kucing."
"Nuri takut sama kucing?" tanya Nayla dengan mengerutkan keningnya.
"Iya, Sayang. Dia paling takut sama kucing." Nayla mengangguk dan kembali mengembalikan boneka tadi ke tempatnya.
Wanita itu sangat menyukai kucing, tetapi putrinya malah takut. Sebelumnya dia berniat memelihara hewan tersebut bersama sang putri. Kini keingingan itu harus pupus.
"Kenapa dia sangat suka dengan boneka panda? Kalau boneka teddy bear, apa dia suka?" tanya Nayla.
"Teddy bear juga suka, tapi tidak seperti boneka panda," jawab Aydin. "Apa kamu sudah, Sayang? Kalau sudah, ayo, kita pulang!"
"Sudah, ayo! Aku tidak sabar ingin memberikannya pada Nuri."
Mereka membayar apa yang dibeli dan meninggalkan toko itu. Nayla terus memeluk boneka yang dibelinya. Mudah-mudahan Nuri mau menerima, setidaknya wanita itu bisa dekat meski tidak bisa menggendong.
*****
"Wah, ponakan Tante sudah sembuh?" tanya Afrin sambil tersenyum ke arah Nuri.
"Mamam," celoteh gadis kecil itu.
"Mam mam."
"Bentar, ya! Tunggu Oma, Tante nggak tahu kamu makannya apa hari ini."
"Tate."
"Memang kamu mau, Tante kasih ayam goreng? Itu rasanya mantap," ucap Afrin yang ditanggapi Nuri dengan tertawa, hingga membuat gadis itu gemas dan menciumi pipi anak itu secara bertubi-tubi. Nuri merasa kegelian hingga memekik.
"Afrin, jangan begitu," tegur Yasna yang baru saja datang dengan membawa semangkok nasi tim.
"Mam-mam," celoteh Nuri sambil bertepuk tangan.
"Iya, Sayang. Ini makan buat Nuri," sahut Yasna sambil menyuapi gadis kecil itu.
Nuri makan dengan begitu lahap. Gadis kecil itu memang tidak pernah menolak makanan apa pun. Semua dia makan tanpa pilih-pilih.
"Kak Nayla sama Kak Aydin tadi ke mana, Bunda?" tanya Afrin.
"Mau pergi beli sesuatu buat Nuri."
"Beli apa?"
__ADS_1
"Mana Bunda tahu, lihat saja nanti. Sebagai orang tua, mereka juga ingin membeli sesuatu untuk putrinya."
"Aku merasa kasihan lihat Kak Nayla. Dia ingin menggendong Nuri, tapi itu anak malah nangis. Padahal kalau video call mereka terlihat sangat bahagia."
"Bunda juga nggak tahu. Namanya juga anak kecil, kita tidak tahu bagaimana perasaan dia sesungguhnya."
"Nanti kalau aku punya anak, aku akan merawatnya sendiri. Aku tidak akan membiarkan orang lain merawatnya. Aku tidak mau mengalami kejadian seperti Kak Nayla."
"Kamu enggak bolehin Bunda ajak anak kamu?"
"Bukan, Bunda. Maksudku baby sitter! Aku nggak mau mempekerjakan mereka. Aku maunya mengurus semua sendiri."
"Memang kamu sudah ada niat mau menikah? Jangan-jangan kamu sudah punya kekasih?" Yasna menatap putrinya dengan intens.
"Tidaklah, aku, kan, bilangnya jika punya anak nanti. Lagipula aku ingin lulus kuliah dulu lalu, buka usaha," ujar Afrin dengan menerawang masa depannya.
"Memang kamu mau buka usaha apa?"
"Lihat nanti saja."
"Assalamualaikum," ucap Nayla dan Aydin yang baru saja datang.
"Waalaikumsalam."
Nayla berjalan mendekati tempat Nuri bermain dengan membawa sebuah boneka. Gadis itu melihat kedatangan mamanya, segera memeluk Yasna dan menyembunyikan wajahnya di dada wanita itu.
"Ayo, lihat itu! Mama bawa apa? Cantik sekali bonekanya, itu buat siapa Mama?" ucap Yasna saat Nayla duduk didekatnya. Dia mencoba membantu sang menantu untuk membujuk Nuri.
Gadis kecil itu mengintip sedikit Apa yang dibawa oleh mamanya dengan malu-malu. Yasna senang ternyata Nuri tertarik dengan apa yang dibawanya.
"Ini Mama bawain buat Nuri, mau nggak?" timpal Nayla.
"Buat Tante saja, ya? Tante nggak punya boneka yang seperti ini," sahut Afrin yang ikut membantu.
"Jangan dong, Tante! Itu kan buat Nuri. Iya, kan, Sayang. Nuri mau?" tanya Yasna pada gadis kecil itu dengan malu-malu dia mengangguk. "Ayo, cepat ambil! Nanti diambil Tante."
.
.
.
.
.
__ADS_1