
Kata Sah menggema di rumah keluarga Rahmi. Air mata kebahagiaan menetes dari orang-orang yang begitu tulus mencintai Rani, termasuk Yasna dan Afrin. Kedua wanita itu sudah menganggapnya seperti keluarga. Tentu mereka terharu melihat kebahagiaan yang menghampiri Rani.
Doa-doa dipanjatkan oleh seorang Ustaz untuk keberkahan pernikahan kedua mempelai. Rani mencium punggung tangan suaminya yang dibalas oleh pria itu dengan mencium kening sang istri dilanjut dengan membaca doa tepat di atas ubun-ubun Rani.
Siapa pun yang melihatnya pasti merasa terharu sekaligus iri. Sebuah pernikahan jika didasari atas cinta dan restu orang tua, memang terasa sangat indah. Semoga ini pernikahan pertama dan terakhir bagi kedua mempelai.
Seperti yang Rahmi katakan sebelumnya, acara dilanjut dengan menjamu para tetangga dan kerabat. Semua orang mengucap selamat, meski dalam hati mereka ada diselipi rasa iri terhadap Rani. Iri akan apa yang didapatkan oleh wanita itu.
"Mbak Rani!" pekik Afrin yang kemudian memeluk pengantin wanita. Dia benar-benar bahagia saat ini. "Selamat, ya, Mbak, aku terharu sekali, tadi acaranya sangat luar biasa. Aku sampai nangis, loh," ucap Afrin di sela pelukan mereka.
"Terima kasih, Non, sudah mau datang ke sini sama ibu. Sudah temenin aku dari pagi. Sudah belain nginap di rumah juga, terima kasih banyak," ucap Rani dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa, sih, Mbak, aku sudah menganggap Mbak seperti keluarga sendiri. Sudah sepantasnya aku ikut membantu," sahut Afrin yang semakin membuat Rani menangis.
"Iya, Non, terima kasih sudah menganggap saya saudara."
Rani sangat tahu di mana tempatnya berada. Merasa dimanusiakan saja dia sudah sangat bersyukur, apalagi dianggap saudara. Wanita itu juga banyak mendengar dari teman seprofesinya, jika majikan mereka sering marah-marah bahkan tak segan untuk memukul.
Itulah kenapa dia sangat bersyukur bisa bekerja di rumah keluarga Emran. Saat Rani melakukan kesalahan, Yasna akan menegurnya dengan halus tanpa ada emosi apalagi hinaan. Seperti yang teman-temannya ceritakan.
Afrin beralih menatap pengantin pria. "Kak Ivan, selamat, ya, sekarang sudah sah. Awas saja kalau nyakitin hati Mbak Rani. Aku orang yang pertama akan menghajar kak Ivan," ucap Afrin yang diangguki oleh Ivan dengan gaya malasnya.
"Kamu tenang saja, Sayang. Jika dia melakukan itu, aku akan menghajarnya untukmu," sahut Khairi yang ada di belakangnya.
"Kenapa Anda jadi ikut-ikutan, Tuan," protes Ivan.
"Tentu, dia istriku. Aku akan mendukungnya, apa pun yang terjadi."
"Memang suami istri sama saja. Aku juga tidak mungkin menyakiti istriku."
__ADS_1
"Syukurlah kalau Kak Ivan berpikir seperti itu. Aku ke sana dulu, mau cari makan. Banyak yang sudah mengantri, mau ngucapin selamat," ucap Afrin sambil menunjuk barisan orang di belakangnya.
"Sekali lagi terima kasih," ulang Rani yang dibalas senyuman oleh anak majikannya itu.
Khairi dan Afrin pun turun. Mereka mengambil makanan dan mencari tempat duduk agar bisa lebih santai menikmati makanan. Saat keduanya sedang asik berbincang, ternyata dibelakang mereka para gadis sedang membicarakan Rani dan Ivan.
"Itu Rani pakai apa, ya, bisa menggaet orang kaya seperti pria itu. Sudah ganteng, kaya lagi. Mobilnya kalian lihat, kan! Itu pasti mahal sekali."
"Iya, di kampung kita juga nggak ada yang punya seperti itu. Apalagi tadi itu yang warna putih, wow, itu keren banget seperti di TV, TV."
"Aku yakin Rani pasti menggoda pria itu, sampai dia mau menikahinya. Kalian pikir saja, pria mana yang mau menikah dengan Rani, seorang pembantu, orang kampung juga."
"Tapi Rani enggak gitu, dia dari dulu pendiam. Kamu yang suka ngerayu cowok buktinya anak Pak lurah kamu rayu, sampai sekarang belum dapat juga," sela teman lainnya sekaligus mencibirnya.
"Eh, siapa bilang! Sebentar lagi juga dia akan ngejar aku. Dia cuma pura-pura aja nggak mau, padahal dia juga suka sama aku. Kamu lihat, aku itu sudah cantik, keluargaku juga kaya, punya kebun di mana-mana. Tidak mungkin anak pak lurah menolakku," kilah gadis itu.
"Sepertinya kamu harus belajar sama Rani, bagaimana caranya merayu laki-laki."
Afrin yang sudah terpancing emosinya, pun, berdiri dari tempat duduknya. Dari tadi dia sudah menahan agar tidak membuat keributan, tetapi wanita itu sudah benar-benar sudah tidak tahan. Khairi sempat ingin mencegah. Namun, dia kalah cepat dengan istrinya.
"Maaf, ya, Nona. Yang pakai cara yang tidak benar itu siapa? Jelas-jelas kamu kan yang merayu pria! Mbak Rani adalah wanita yang baik, dia tidak pernah merayu pria mana pun. Itulah kenapa Kak Ivan jatuh cinta sama dia. Bukan seperti wanita di luaran sana yang dengan murahnya mengobral dirinya agar segera untuk dinikahi. Seharusnya kamu itu malu, ngaca dulu baru membicarakan tentang orang lain."
"Kamu siapa? Kenapa membela Rani sampai sebegitunya?" tanya gadis itu dengan memandang Afrin sinis.
"Saya adalah sahabatnya Mbak Rani di kota. Mau apa kamu?"
"Kamu pembantu juga? Memang dasar para pembantu tidak tahu diri, cuma pembantu saja belagu jadi nyonya besar."
"Jaga mulutmu, kalau tidak ingin saya robek saat ini juga," sela khairi yang berada dibelakang Afrin.
__ADS_1
Sesaat para wanita itu terkesima dengan ketampanan Khairi. Hingga suara Afrin membuat mereka kembali sadar.
"Itu suami orang, woi, jangan diliatin terus, ingat dosa," tegur Afrin.
"Maaf, Non, ini ada apa? Kenapa ribut?" tanya Rahmi begitu mendekat.
"Maaf, Bik, sudah membuat keributan. Aku hanya tidak suka saja mereka bicarakan kejelekan Mbak Rani," ucap Afrin yang merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Non, itu sudah terbiasa bagi keluarga kami. Tidak usah diperpanjang, biarkan saja," sahut Rahmi.
"Kenapa, Bibi, diam saja? Mereka itu sudah keterlaluan!"
"Tidak apa-apa, Non. Lagian percuma juga marah sama mereka, nanti mereka melakukannya lagi."
"Sebenarnya dia siapa, Bik? Kenapa Bibi manggil Non? Tadi dia bilang, dia temannya Rani," tanya gadis tadi.
"Ini majikan Rani di kota, Neng," jawab Bik Rahmi dengan tersenyum meski gadis itu telah menghina keluarganya.
"Terus kenapa tadi dia bilang teman Rani?"
"Kenapa memangnya? Walaupun Mbak Rani bekerja di rumahku, tapi dia selalu menemaniku, itulah kenapa aku menganggapnya teman," sahut Afrin dengan ketus. Dia benar-benar tidak menyukai gadis yang ada di depannya.
"Sudah, Non. Ayo kita duduk lagi, kita nikmati saja makanannya," ajak Bik Rahmi.
"Iya, Sayang. Ayo, duduk lagi! Kasihan juga Mbak Rani kalau acaranya ribut seperti ini," ajak Khairi
Pria itu sebenarnya juga sama emosinya mendengar para gadis itu menjelekkan Rani, tetapi ini adalah hari bersejarah bagi Rani dan Ivan, tidak mungkin dia membuat keributan dan menghancurkan acara mereka. Hanya karena gadis-gadis yang tidak tahu diri itu. Afrin akhirnya mau menuruti perintah suaminya dengan sangat terpaksa.
.
__ADS_1
.
.