Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
178. S2 - Bunda belum tahu


__ADS_3

Emran tahu, pasti saat ini perasaan putranya sedang tidak baik-baik saja. Dia menatap Aydin yang terlihat pandangannya kosong. Tidak ada kehidupan di sana. Semangatnya telah hilang.


"Jika kamu ingin menangis, menangislah. Luapkan semua yang kamu rasakan," ucap Emran dan benar saja Aydin langsung menelungkupkan wajahnya di meja dengan bertumpu pada kedua tangannya.


Dia menangis, menumpahkan segala kesedihan yang dirasakannya. Aydin tidak tahu harus melakukan apa setelah ini. Pria itu takut akan diminta memilih diantara kedua orang yang sangat dicintainya saat ini.


Aydin tidak akan pernah sanggup untuk melakukan itu. Nayla dan baby adalah dunianya. Jika salah satu telah pergi, bagaimana dia menjalani kehidupan selanjutnya.


Emran berjalan mendekati putranya dan berdiri di samping Aydin. Dia mengusap kepala anak laki-lakinya, pria itu tahu betapa hancur putranya kini. Aydin yang tahu kalau sang papa ada di samping, segera memeluknya dan menangis.


Dia menumpahkan air matanya dalam pelukan papanya. Sudah lama Aydin tidak melakukan hal ini. Terakhir dia seperti ini, saat sang mama meninggal. Emran pun tak kuasa menahan air matanya. Dia ikut menangis dalam diam.


Meskipun Emran seorang pria yang kuat, tetapi jika diharapkan dengan anak-anaknya, dia juga sama seperti yang lain, hanya manusia biasa yang memiliki hati dan perasaan. Apalagi dengan masalah yang kini mereka hadapi.


Cukup lama kedua pria itu menangis. Baju Emran sudah basah, mata keduanya juga sudah memerah. Aydin pun mengurai pelukannya. Mencoba untuk terlihat baik-baik saja, seperti yang dilakukan Nayla.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Pa?" tanya Aydin dengan menundukkan kepala, berusaha menghapus jejak air matanya.


"Kita sudah tidak punya pilihan lain, selain mendukung Nayla karena hanya itu jalan yang kita miliki saat ini. Kamu harus mendukungnya, jangan marah karena dia telah membohongi kita."


"Aku tidak akan pernah melakukan hal itu, Pa. Meski aku kecewa, aku tidak akan pernah bisa marah padanya."


"Baguslah kalau seperti itu."


"Pa, apa bunda juga tahu tentang hal ini?" tanya Aydin sambil menatap Emran yang dijawab dengan gelengan oleh pria itu.


"Papa tidak tahu, bagaimana cara menjelaskan pada bundamu. Kamu tahu sendiri, dia begitu menyayangi Nayla. Bagaimana perasaannya jika tahu Nayla seperti ini? Papa bingung harus menjelaskannya bagaimana?"


Aydin mengangguk. Jangankan Yasna, dia sendiri tidak sanggup menerima kenyataan ini lalu, bagaimana dengan bundanya? Dia seorang wanita yang juga pernah kehilangan bayi sekaligus kandungannya.


Sebagai sesama wanita, Yasna pasti sangat tahu perasaan Nayla. Apalagi dia pernah mengalami hal yang lebih mengerikan dari itu.

__ADS_1


"Tapi Bunda akan jauh lebih sedih, jika tahu saat semuanya sudah terlambat," ujar Aydin.


"Papa akan pikir kan nanti, bagaimana cara menjelaskan pada bunda."


Kedua orang itu terdiam. Berperang dengan pikiran masing-masing. Memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada menantu dan cucu keluarga ini.


*****


Setelah Aydin menenangkan hati dan pikirannya. Dia memutuskan untuk pulang. Pria itu sudah menyerahkan semua pekerjaannya pada papanya. Aydin hanya akan sesekali datang ke kantor.


Pria itu meninggalkan perusahaan saat menjelang siang. Bahkan saat ini belum memasuki waktu makan siang. Namun, pikiran pria itu sudah kacau. Dipaksakan bekerja pun pasti akan berantakan.


"Assalamualaikum," ucap Aydin.


"Waalaikumsalam, tumben pulang cepet, Mas? Ini juga belum waktu makan siang?" tanya Nayla usai mencium punggung tangan suaminya.


"Tidak apa-apa, hari ini tidak ada pekerjaan. Daripada di kantor nggak ngapa-ngapain, ya sudahlah, aku pulang. Di kantor juga sudah ada sekertaris aku, yang ngerjain semuanya."


"Belum, aku sengaja pulang untuk makan sama kamu."


"Tapi, aku belum masak," sesal Nayla. Dia tidak mengira jika suaminya akan pulang. Tadi dia ingin makan bubur saja di depan apartemen.


"Tidak apa-apa, kita pesan saja. Kamu jangan capek-capek, sini duduk sama aku," ucap Aydin sambil duduk di sofa ruang tamu. Nayla ikut mendudukkan tubuhnya di samping sang suami.


Pria itu menyandarkan kepalanya di pundak sang istri. Rasa sesak yang tadi sedikit berkurang, kini semakin bertambah sesak, kala mengingat betapa perjuangan sang istri, melawan penyakitnya seorang diri.


"Ada apa, Mas? Apa ada masalah?" tanya Nayla saat merasakan Aydin semakin erat memeluknya.


"Tidak apa-apa, aku hanya kangen sama kamu. Memangnya aku tidak boleh, kalau peluk kamu?"


"Boleh-boleh saja, Mas. Hanya aneh saja, kamu siang-siang sudah pulang, sekarang malah peluk." Nayla merasa terjadi sesuatu pada suaminya, tetapi apa? Dia juga tidak tahu. Ditanya pun pasti tidak akan jawab.

__ADS_1


"Oh ya, Sayang. Besok waktunya pemeriksaan baby, kan? Besok aku antar ke rumah sakit yang lebih besar saja bagaimana?"


"Nggak mau, kita 'kan sudah sepakat di rumah sakit terdekat saja."


Sebenarnya Aydin juga sekalian ingin memeriksakan keadaan Nayla, tetapi melihat istrinya yang keberatan. Dia pun menurutinya mungkin nanti pria itu bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis kanker.


Aydin ingin tahu tentang penyakit itu. Dia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada istri dan anaknya. apa pun akan dilakukannya agar mereka baik-baik saja.


Malam hari, saat Nayla Sudah terlelap. Aydin memandangi wajah wanita yang sangat dicintainya itu. Dia tidak habis pikir bagaimana Nayla menjalani hari-harinya selama ini. Menahan semua rasa sakit yang dia derita dan juga menyembunyikan kesedihannya pada semua orang, termasuk dirinya sebagai seorang suami.


Aydin merasa menjadi suami yang sama sekali tidak berguna. Untuk menjaga seorang istri saja dia tidak mampu. Bagaimana kelak dengan anak-anaknya? Setetes air mata kembali jatuh dari pelupuk matanya, dengan segera pria itu menghapusnya agar sang istri tidak melihat.


Nayla terlihat tidak nyaman dengan tidurnya. Beberapa kali wanita itu mengubah posisi tidurnya. Aydin pernah membaca artikel yang mengatakan, jika semakin bertambah usia kehamilan seorang wanita, maka mereka akan lebih sulit tidur.


Dia pun mengusap perut sang istri seperti yang dituliskan dalam artikel itu. Sampai brberapa saat istrinya itu terdiam. Pria itu merasa bahagia hanya dengan melihat Nayla tidur. Sepertinya dia sudah nyaman dengan usapan tangan sang suami.


Aydin tidak bisa tidur. Dia pergi ke balkon. Meihat pemandangan kota di malam hari. Di saat seperti ini pun orang-orang masih sibuk dengan kegiatan mereka. Seolah tidak ada waktu untuk beristirahat.


Pemandangan kota yang begitu indah dengan lampu kerlap kerlip, nyatanya tidak mampu membuat beban dalam hati Aydin terangkat. Dia hanya bisa berdoa agar Tuhan memberi mukjizat pada istrinya.


Pria itu menadahkan kepalanya melihat langit yang gelap. Hanya ada beberapa bintang. Semilir angin menembus kulit. Namun, tidak mampu membuat dia menggigil.


Aydin tidak bisa berpikir dengan jernih, seolah semua jalan yang ingin dia lalui ujungnya hanyalah jurang.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2